Tampilkan postingan dengan label Refleksi Tahun Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Tahun Baru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Selamat Datang Tahun Baru

                                     Selamat Datang Tahun Baru

Masduri  ;    Pengelola Laskar Ambisius (LA), Peneliti Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya
KORAN JAKARTA,  02 Januari 2014
                                                                                                                       


Tahun baru selalu ditandai dengan harapan baru. Harapan untuk mencapai rencana-rencana besar selama satu tahun ke depan. Tahun baru menjadi semacam epistemologi tentang dunia baru.

Manusia seperti "lahir" kembali pada dunia yang benar-benar baru sehingga semua rantai sejarah di masa lalu seolah-olah diputus dengan epistemologi tahun baru. Pada saat itu, manusia menatap kembali hidupnya selama satu tahun ke depan.

Hal-hal buruk di masa lalu seolah-olah hendak ditanggalkan begitu saja. Sebab dalam dirinya, menggantung harapan-harapan baru. Harapan menjadi manusia sempurna, yang bebas dari perbuatan destruktif (Thomas Hobbes) dan selalu merindukan maslahat bersama (Murtadha Mutahhari) sebagai manifestasi dari kesadaran eksistensial (Jean-Paul Sartre).

Manusia hidup pada sebuah ruang dan waktu. Pemaknaan terhadap hidup selalu didasarkan pada segenap harapan yang menggantung dalam benak masing-masing. Ruang menjadi tempat manusia dalam berproses mencari eksistensi dirinya sebagai manifesitasi dari kesadaran tentang waktu.

Sedangkan waktu adalah sebuah masa tak terbatas, yang di dalamnya manusia berproses mendialogkan kesadaran diri dengan ruang tempat manusia itu ada. Ruang dan waktu menjadi semacam sejoli yang tidak pernah bisa dilepas dalam hidup manusia.

Sebab, di dalam keduanya itu manusia hidup dan menggerakkan senegap harapan sebagai wujud dari kesadaran dirinya tentang hidup.

Itulah mengapa kelompok filsuf materialisme seperti Baron von Holbach, Feuerbach, Moleschott, Buchner, dan Haeckel begitu mati-matian memperjuangan gagasannya, bahwa inti dari segala yang ada adalah materi, termasuk manusia. Sebagai buktinya, manusia butuh tempat (materi) untuk beriksistensi karena manusia itu sejatinya juga materi.

Tetapi kritik filsuf eksistensialisme terhadap materialisme menarik untuk dicermati pada awal tahun baru ini. Filsuf materialisme menyebut manusia tak ada bedanya dengan benda-benda lainnya, sebagai sebuah hasil dari proses-proses hukum-hukum alam, kimia, dan biologi, sehingga seolah-olah sama seperti hewan dan tumbuhan.

Filsuf eksistensialisme menyangkal pandangan tersebut karena hal itu mereduksi totalitas manusia. Manusia memiliki kompleksitas diri yang tak dapat diukur, misalnya ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial, seperti pengambilan keputusan, kecemasan, optimisme, takut, berani, galau, tenang, sedih, bahagia, benci, dan suka.

Momen-momen eksistensial itulah yang memengaruhi diri manusia dalam hidup. Boleh saja di awal tahun memiliki semangat yang besar dalam melakukan perubahan. Tetapi ketika dihadapkan pada sebuah realitas yang berbeda, kemudian kesadaran eksistensial manusia meresponsnya, bisa saja mereka akan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Kesadaran Eksistensial

Diktum Rene Descartes, cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), menghadirkan tatanan dunia baru yang mampu menggerakkan manusia melampaui realitas dalam hidupnya. Kesadaran untuk berpikir dan mencipta realitas menjadi euforia manusia dalam menyambut tahun baru.

Mereka merangkai segenap harapan, bahkan seolah-olah hendak menaklukkan waktu yang tak terbatas, menjadi sebuah kenyataan (kesuksesan) yang diraihnya selama satu tahun ke depan. Hal itu menandakan betapa kekuatan berpikir manusia memunyai kekuatan yang sangat besar dalam hidup.

Dengan kemampuan berpikirnya, manusia dapat melampaui realitas yang mengungkung dirinya. Bahkan, dengan imajenasi (ide) yang dibayangkan, manusia mampu menciptakan sesuatu yang dahulu belum pernah ada (Plato).

Meski demikian, kita juga jangan lupa bahwa kesadaran eksistensial kadang-kadang tidak mampu juga melampaui realitas (fenomena) yang ada. Itulah mengapa dalam hidup ini ada manusia yang sukses dan gagal.

Kesuksesan dan kegagalan dalam hidup merupakan dampak dari dialog kesadaran eksistensial dengan realitas hidup manusia. Bahkan kadang, yang menentukan kesuksesan atau kegagalan bukan kesadaran, tetapi realitas (fenomena) yang ada di dalam hidupnya (Martin Heidegger).

Oleh sebab itu, dalam mengarungi perjalanan satu tahun ke depan, bahkan hingga seterusnya, kematangan psikologi kita menjadi kunci kesuksesan hidup (Sigmund Freud). Kesiapan mental menghadapi manis-pahitnya perjalanan hidup harus menjadi pengawal setiap harapan yang kita bangun pada awal tahun.

Karena kenyataan yang ada di depan belum jelas dan buram. Manusia boleh saja mengusahakan yang terbaik, tetapi Tuhan bisa mencipta sesuatu di luar perkiraan manusia.

Kesadaran Spiritualitas

Maka, selain menggerakkan kesadaran eksistensial manusia pada tahun baru, kita perlu menggerakkan kesadaran spiritualitas kita pada Tuhan agar dalam menjalani hidup, kita tidak hampa kedamaian dan tidak mudah putus asa.

Kesadaran spiritualitas membuat manusia mampu membaca makna dan nilai hidup seutuhnya (Neck dan Milliman) sehingga tidak semua peristiwa atau realitas buruk bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas dianggapnya buruk pula. Orang yang memiliki kesadaran spiritualitas memiliki cara berbeda dalam memahami realitas sehingga kegagalan seribu kali sekalipun tidak memuat mereka berhenti memperjuangkan harapan dalam hidup.

Nilai hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas bukan pada hasil, tapi lebih pada usaha mencapai kesempurnaan hidup.

Selain itu, kesadaran spiritualitas mengarahkan manusia pada jalan yang baik dan menghindarkan manusia dari perbuatan yang buruk.

Dalam mencapai kesuksesan tidak menggunakan cara-cara curang, seperti korupsi, mencuri, dan merampok. Realitas hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi selalu diarahkan pada pencapaian yang sempurna sebab mereka sadar bahwa pencapaian apa pun yang didapatkan di dunia, pada saatnya nanti akan berlalu.

Semua yang ada hanya titipan Tuhan. Manusia hanya terus berkejaran dengan waktu, bahkan kadang seolah-olah hendak menaklukkan waktu. Semantara waktu terlampaui besar untuk ditaklukkan manusia.

Pada saatnya nanti, manusia tidak akan mampu melawan waktu karena waktu adalah keabadian, tidak memiliki batas awal dan akhir. Semua waktu sama (Aristoteles). Tahun baru sejatinya hanya "ilusi" manusia untuk menaklukkan waktu dengan memotong-motongnya menjadi keratan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.

Karena itu ilusi manusia, pada saatnya nanti semua akan berlalu sebab waktu itu sama. Tetapi atas nama ilusi, saya juga tetap berucap: Selamat Datang Tahun Baru 2014!  ●

Minggu, 29 Desember 2013

Tahun Baru

Tahun Baru

Bre Redana  ;   Kolumnis “Catatan Minggu” Kompas
KOMPAS,  29 Desember 2013


  
Tahun baru segera tiba. Banyak yang merasa, waktu berjalan begitu cepat, time flies. Ke mana saja hari? Tiba-tiba sudah akhir tahun dan di depannya tahun baru lagi.

Ah, kita semua sebenarnya ditelan kecepatan. Kecepatan adalah gejala paling menonjol dari kehidupan mutakhir kita. Kita semua pemuja kecepatan. Sesuatu yang lambat, kita keluhkan: internet lelet banget, filmnya lamban jelek, masakannya enak tapi nunggunya lama, jawabannya tidak seketika terlalu mikir, kereta pelan tak sampai-sampai....

Semua orang ingin lebih cepat dan lebih cepat lagi. Kerja lebih cepat, terhubung lebih cepat, berpikir lebih cepat, ngomong lebih cepat, bercinta lebih cepat, hamil lebih cepat—sampai tak sempat berpikir, hamil ini karena terpaksa atau suka bin senang?

Kecepatan dan konsumerisme jalin-menjalin menjadikan apa saja terasa kurang. Ada midnite shopping, liburan, clubbing, nonton bioskop, pesta, berselingkuh, ditambah entah apa lagi. Waktu tetap saja terasa cupet. Padahal, pendidikan anak sudah diserahkan kepada babu. Hidup manusia modern adalah perjalanan dari kekecewaan ke kekecewaan karena apa yang ingin dijalani dan apa yang bisa dijalani makin lebar jaraknya.

Penghayatan kita terhadap waktu bukanlah sebagai siklus. Waktu dihayati sebagai sesuatu yang linear: melesat cepat ke depan. Bersama kecepatan pula kemudian sejumlah imperatif kehidupan hilang. Taruhlah di antaranya proses. Proses diganti sukses, yang datangnya kalau bisa seseketika mungkin. Pokoknya gampang. Tinggal petik.

Bagaimana caranya? Diomongkan. Mengalirlah kutipan, uraian, fasih, diungkapkan sambil mesem-mesem, seolah hidup melulu gejala kata-kata, bukan pelaksanaan segenap aktivitas diri yang di dalamnya termasuk pikiran, tubuh, dan spiritualitas manusia. Bahwa sebagaimana gejala alam, totalitas manusia tak bisa digenjot kecepatannya semudah kata-kata para penganjur produktivitas industri kapitalis. Pret.

Ada sesuatu yang sifatnya alamiah. Tidak ada bayi yang dengan seketika bisa disuruh tegak berdiri dan langsung berlari. Harus terjadi pengondisian tubuh terlebih dahulu, sebelum tubuh bisa diperintah otak untuk melakukan gerak-gerak motorik. Atau sebaliknya, pada fase berikut, kadang dibutuhkan pengondisian otak, untuk tidak terlalu mengintervensi tubuh. Kalau otak terlalu mengintervensi tubuh, orang jadi sulit tidur, stres, mau bercinta loyo karena masih mikirin anjlognya harga saham.

Sejak awal, modernitas memang berkecenderungan mereduksi gejala tubuh. Manusia gerak menjadi manusia duduk. Kota dan metropolitan lahir.
Bersama perkembangan urbanisme, manusia terpisahkan dari alam. Manusia urban tidak mengolah alam. Mereka secara perlahan mulai lupa keterkaitannya dengan alam yang menghidupinya.

Hinterland, desa-desa di sekeliling kota sumber daya pertanian, dilupakan keberadaannya. Dalam globalisasi, keterkaitan kota-desa kian hilang dari memori. Soalnya, jarak antara produsen bahan makanan dengan piring orang kota kian jauh. Beras yang dimakan orang Jakarta berasal dari Thailand. Jeruk dari China. Kopi dari Brasil.

Kalau orang kota kembali ke desa, keinginannya bukan untuk mengolah alam, melainkan mengonsumsi romantisme desa. Banyak teman saya membeli tanah di desa-desa di kota lamanya, sebelum nantinya hengkang, karena kenyataan tidaklah seperti kenangan. Tidak tahu lagi, apa yang harus diperbuat dengan kesenyapan. Sudah terlalu terbiasa dengan kecepatan, hiruk-pikuk, dan gebyar-gebyar palsu.

Di akhir tahun seperti sekarang, kadang sulit saya menjawab pertanyaan orang: di mana tahun baru? Mau apa?

Pasti akan dianggap main-main kalau saya jawab seperti jawaban Guru: saya di sini saja. Karena saya di sini maka saya tidak di sini. Saya tidak melakukan apa-apa. Karena saya tidak melakukan apa-apa, maka saya melakukan apa-apa.... ●