Tampilkan postingan dengan label Joseph E Stiglitz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joseph E Stiglitz. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Ebola dan Ketidaksetaraan

                                       Ebola dan Ketidaksetaraan

Joseph E Stiglitz  ;   Peraih Hadiah Nobel Ekonomi
KORAN TEMPO,  25 November 2014

                                                                                                                       


Krisis ebola yang terjadi saat ini sekali lagi mengingatkan kita akan segi-segi buruknya globalisasi. Krisis ebola ini juga mengingatkan kita akan pentingnya pemerintah dan masyarakat madani. Kita tidak berpaling kepada sektor swasta untuk mengatasi maraknya suatu penyakit seperti ebola, melainkan kepada lembaga-lembaga seperti Centers for Disease Control and Prevention (CADS) di Amerika Serikat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Médecins Sans Frontières, kelompok doktor dan juru rawat yang rela menyabung nyawa demi menyelamatkan nyawa orang lain di negara-negara miskin di seantero dunia.

Pemerintah mungkin tidak sempurna dalam menangani krisis-krisis seperti ini, tapi salah satu alasan mengapa pemerintah tidak berbuat banyak seperti yang kita harapkan ialah bahwa kita tidak cukup mendanai lembaga-lembaga terkait di tingkat nasional dan global.

Episode ebola ini memberikan banyak pelajaran. Satu alasan mengapa penyakit ini menyebar begitu cepat di Liberia dan Sierra Leone adalah karena keduanya adalah negara-negara yang dilanda perang. Sebagian besar rakyatnya hidup dengan gizi yang buruk dan sistem layanan kesehatannya porak-poranda.

Lagi pula, di mana sektor swasta memainkan peran yang esensial, yaitu dalam pengembangan vaksin, tidak ada insentif baginya untuk mencurahkan sumber daya yang ada pada upaya mengatasi penyakit-penyakit yang melanda rakyat miskin atau negara miskin. Hanya ketika negara-negara maju terancam barulah ada cukup dorongan untuk melakukan investasi pada pengembangan vaksin-vaksin melawan penyakit-penyakit seperti ebola.

Ini bukan kecaman terhadap sektor swasta. Bagaimanapun juga, perusahaan-perusahaan farmasi itu in business, bukan karena kebaikan hati, dan tidak ada uang untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita rakyat miskin itu. Apa yang dipertanyakan dalam krisis ebola ini adalah ketergantungan kita terhadap sektor swasta untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya paling baik dilakukan oleh pemerintah. Dengan dana publik yang lebih besar, suatu vaksin ebola tampaknya sudah bisa dikembangkan bertahun-tahun yang lalu.

Gagalnya Amerika dalam hal ini menarik perhatian khusus-begitu khusus sehingga beberapa negara Afrika telah memperlakukan para pengunjung dari Amerika dengan langkah-langkah pencegahan khusus. Tapi semua ini cuma merupakan gema dari suatu masalah yang lebih mendasar: sistem layanan kesehatan Amerika yang sebagian besar dikendalikan swasta itu sudah mengalami kegagalan.

Benar, pada puncaknya, Amerika memiliki beberapa rumah sakit, universitas riset, dan pusat-pusat medis terkemuka di dunia. Tapi, walaupun AS membelanjakan dana yang lebih besar per kapita, dan menurut persentase PDB-nya dalam layanan medis lebih besar daripada negara-negara mana pun, hasilnya benar-benar mengecewakan.

Harapan hidup pria Amerika setelah dilahirkan dinilai paling buruk di antara 17 negara berpendapatan tertinggi di dunia, hampir empat tahun lebih pendek daripada pria Swiss, Australia, dan Jepang. Dan kedua terburuk bagi wanita Amerika, yaitu lebih dari lima tahun di bawah harapan hidup wanita di Jepang. Metrik kesehatan lainnya juga sama mengecewakannya.

Banyak faktor menyumbang terhadap rendahnya layanan kesehatan di Amerika, yang memberikan pelajaran yang relevan bagi negara-negara lainnya Misalnya, akses memperoleh obat-obatan. AS termasuk di antara sedikit negara-negara maju yang tidak mengakui akses ini sebagai hak asasi manusia yang mendasar. Tidak mengejutkan bahwa banyak warga Amerika tidak memperoleh obat-obatan yang mereka butuhkan. Walaupun Undang-Undang Perlindungan Pasien dan Layanan Kesehatan yang Terjangkau (Obamacare) telah memperbaiki keadaan, cakupan asuransi kesehatan tetap rendah. Hampir separuh dari 50 negara bagian AS menolak memperluas Medicaid, program layanan kesehatan bagi warga miskin.

Ketidaksetaraan yang meluas juga merupakan faktor yang kritis bagi rendahnya layanan kesehatan, terutama jika digabung dengan faktor-faktor tersebut di atas. Dengan meningkatnya kemiskinan dan semakin banyaknya orang tanpa akses ke layanan kesehatan, perumahan, pendidikan, serta ketidakamanan pangan (sering mengkonsumsi makanan murah yang menyumbang obesitas atau kegemukan), tidak mengherankan bila outcome kesehatan Amerika itu buruk.

Kesehatan yang baik itu merupakan berkah. Tapi bagaimana negara membangun struktur layanan kesehatannya-dan masyarakatnya-sangat berarti dalam hasil akhirnya. Amerika dan dunia membayar mahal atas ketergantungannya yang berlebihan terhadap kekuatan pasar dan kurangnya perhatian terhadap nilai-nilai yang lebih luas, termasuk kesetaraan dan keadilan sosial. ●

Sabtu, 22 Maret 2014

Dampak Inovasi pada Pertumbuhan

Dampak Inovasi pada Pertumbuhan

Joseph E Stiglitz  ;   Peraih Hadiah Nobel Ekonomi
TEMPO.CO,  22 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Di seantero dunia, ada antusiasme yang kuat pada jenis inovasi teknologi yang dilambangkan Silicon Valley. Dalam pandangan banyak orang, inovasi teknologi Amerika ini mencerminkan keunggulan komparatif sebenarnya negara itu yang berusaha ditiru negara-negara lain. Namun ada teka-teki yang sulit dijawab: sulit mendeteksi manfaat yang dibawakan inovasi ini dalam statistik Produk Domestik Bruto (PDB).

Apa yang terjadi saat ini analog dengan perkembangan yang terjadi beberapa dekade lalu, pada awal era komputer pribadi. Pada 1987, ekonom Robert Solow, yang dianugerahi Hadiah Nobel atas karya ilmiahnya mengenai pertumbuhan, mengeluh bahwa, "Anda bisa melihat era komputer ini di mana-mana, tapi tidak dalam statistik produktivitas." Ada beberapa penjelasan yang mungkin dapat dikemukakan mengenai hal ini.

Mungkin PDB tidak benar-benar menangkap adanya peningkatan dalam taraf hidup yang dibawakan inovasi era komputer. Atau mungkin inovasi itu tidak begitu signifikan seperti yang diyakini mereka yang antusias mengelu-elukannya. Ternyata, sedikit-banyaknya ada kebenaran pada kedua perspektif ini.

Ingat bagaimana beberapa tahun yang lalu, sesaat sebelum ambruknya Lehman Brothers, sektor finansial yang membanggakan inovasi yang mereka bawakan. Mengingat lembaga-lembaga keuangan telah menarik minat tenaga-tenaga terbaik dan tercemerlang dari seantero dunia, orang pasti mengharap banyak.  Tapi, setelah dicermati lebih dekat, ternyata sebagian besar dari inovasi yang mereka bawakan tidak lebih daripada merancang cara-cara yang lebih baik untuk menipu, memanipulasi pasar tanpa tertangkap (setidak-tidaknya sekian lama), dan mengeksploitasi kekuatan pasar.

Pada periode ini, ketika banyak sumber daya mengalir ke sektor "inovasi" ini, pertumbuhan PDB merosot lebih tajam daripada sebelumnya. Bahkan, di saat-saat terbaik, ia tidak berujung pada peningkatan taraf hidup (kecuali bagi para bankir), dan ia pada akhirnya berujung pada krisis yang baru sekarang kita melepaskan diri dari lilitannya. Kontribusi sosial neto semua "inovasi" ini negatif.

Begitu juga gelembung dot-com yang mendahului periode ini ditandai oleh inovasi--situs-situs web yang memungkinkan orang bisa memesan makanan dan minuman online. Paling tidak era ini mewariskan search engines yang efisien dan infrastruktur optik serat.

Dua hal jelas adanya. Pertama, profitabilitas dari suatu inovasi mungkin bukan ukuran yang bagus untuk menilai kontribusi netonya pada taraf hidup kita. Dalam ekonomi di mana pemenang memperoleh segala-galanya, seorang inovator yang mengembangkan situs web yang lebih baik dalam penjualan makanan, hewan piaraan, termasuk delivery langsung ke tempat pemesan, mungkin menarik setiap orang di dunia yang menggunakan Internet untuk memesan makanan demikian. Sang inovator, dengan begitu, bisa meraup laba yang cukup besar. Tapi, tanpa layanan delivery itu, sebagian dari laba itu bakal jatuh ke tangan orang lain. Kontribusi neto situs web ini pada pertumbuhan ekonomi sebenarnya relatif kecil.

Lagi pula, jika inovasi, seperti ATM dalam perbankan, berujung pada meningkatnya PHK, tidak satu pun dari ongkos sosial--tidak juga penderitaan mereka yang di-PHK atau meningkatnya biaya fiskal untuk membayar pesangon mereka yang di-PHK--tecermin dalam profitabilitas perusahaan.

Begitu juga metrik PDB kita tidak mencerminkan ongkos meningkatnya ketidakamanan yang mungkin dirasakan individu-individu dengan meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan.  Tidak kurang pentingnya, ia sering tidak mencerminkan dengan akurat peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dibawakan inovasi.

Bagaimanapun, kita tidak bisa menghindari kegelisahan bahwa, pada akhirnya, kontribusi inovasi akhir-akhir ini pada pertumbuhan taraf hidup mungkin jauh lebih rendah daripada yang diklaim mereka yang antusias itu. Banyak upaya intelektual telah dicurahkan untuk merancang cara-cara yang lebih baik untuk memaksimalkan anggaran iklan dan pemasaran--dengan target konsumen terutama mereka yang berada, yang mungkin membeli produksi bersangkutan. Tapi taraf hidup mungkin meningkat lebih tinggi jika semua bakat yang inovatif itu dialokasikan pada penelitian yang lebih mendasar, atau bahkan pada penelitian terapan yang bisa menghasilkan produk-produk baru.

Ya, adanya hubungan satu sama lain dengan lebih baik melalui Facebook atau Twitter sangat berharga. Tapi bagaimana bisa kita membandingkan inovasi-inovasi ini dengan inovasi-inovasi seperti laser, transistor, mesin Turing, dan pemetaan genom manusia, yang masing-masing telah menyebabkan banjir produk-produk transformatif?

Sudah tentu ada alasan untuk merasa lega. Walaupun kita tidak tahu seberapa besar inovasi-inovasi akhir-akhir ini memberikan kontribusi pada kesejahteraan kita, setidak-tidaknya kita tahu bahwa tidak seperti gelombang inovasi finansial yang menandai ekonomi global pra-krisis, efeknya positif. ●

Senin, 13 Mei 2013

Hak Paten yang Dipertanyakan


Hak Paten yang Dipertanyakan
Joseph E Stiglitz  ;  Peraih Hadiah Nobel Ekonomi,
Guru Besar pada Columbia University
TEMPO.CO, 13 Mei 2013


MAHKAMAH Agung Amerika Serikat baru-baru ini mulai membahas kasus yang menyoroti suatu persoalan yang sangat problematik mengenai hak kekayaan intelektual. Mahkamah harus menjawab pertanyaan berikut ini: Bisakah gen manusia dipatenkan? Dengan kata lain, pantaskah seseorang diberi hak, katakan, menguji apakah Anda punya gen yang menunjukkan probabilitas di atas 50 persen bahwa Anda seorang wanita yang bakal terjangkit kanker payudara.

Bagi mereka yang tidak mengenal seluk-beluk hak kekayaan intelektual, jawabannya jelas: tidak. Anda pemilik gen Anda sendiri. Suatu perusahaan mungkin memiliki kekayaan intelektual yang mendasari suatu tes genetik dan, karena penelitian serta pengembangan yang diperlukan untuk mengembangkan tes itu menelan biaya cukup besar, perusahaan itu berhak mengenakan biaya untuk melakukan tes tersebut.

Tapi suatu perusahaan yang berkantor pusat di Utah, Myriad Genetics, mengklaim hak yang lebih luas. Ia mengklaim punya hak atas setiap tes yang dilakukan untuk mengetahui adanya dua gen kritis yang berkaitan dengan kanker payudara—dan telah dengan keras memberlakukan hak itu, walaupun tes yang mereka lakukan tersebut tidak sebaik yang dilakukan Yale University dengan biaya yang lebih rendah. 

Konsekuensinya tragis: tes yang menyeluruh dan terjangkau yang mengungkapkan risiko yang dihadapi seorang pasien bisa menyelamatkan nyawanya. Menghalangi dilakukannya tes semacam ini bisa menghilangkan nyawa seseorang. Myriad merupakan contoh perusahaan di Amerika yang menempatkan laba di atas semua nilai lainnya, termasuk nilai nyawa manusia itu sendiri.

Kasus ini sangat memilukan. Ekonom umumnya berbicara mengenai trade-offs: hak kekayaan intelektual yang lemah, demikian argumentasinya, merusak insentif berinovasi. Ironisnya, penemuan Myriad ini, bagaimanapun juga, bakal terjadi berkat upaya internasional dengan dana publik untuk memecahkan rahasia semua genom manusia sebagai pencapaian sains modern yang luar biasa. Manfaat untuk masyarakat dari penemuan yang sedikit lebih dulu oleh Myriad ini dikerdilkan oleh bahaya yang dikenakannya demi mengejar laba yang tidak sepantasnya.

Ada pengakuan yang semakin kuat bahwa paten, seperti yang dirancang sekarang, tidak hanya mengenakan ongkos sosial yang luar biasa besarnya, tapi juga tidak membantu memaksimalkan inovasi—seperti yang ditunjukkan oleh paten gen yang diklaim Myriad. Bukankah Myriad bukan penemu teknologi yang digunakannya untuk menganalisis gen tersebut? Jika teknologi ini telah dipatenkan, Myriad mungkin tidak akan menemukan apa yang ditemukannya itu. Monopoli penggunaan paten yang telah didaftarkannya itu menghambat pengembangan tes yang lebih baik dan lebih akurat oleh pihak lain dalam mendeteksi adanya gen tersebut. Persoalannya sederhana: semua penelitian bertumpu pada penelitian sebelumnya. Sistem paten yang dirancang dengan buruk, seperti yang ada sekarang, bisa menghambat penelitian berikutnya.

Itulah sebabnya mengapa kita tidak mengizinkan adanya paten untuk pengetahuan-pengetahuan dasar di bidang matematika. Dan inilah sebabnya mengapa penelitian menunjukkan bahwa mematenkan gen sebenarnya mengurangi kemungkinan ditemukannya pengetahuan baru mengenai gen: masukan paling penting dalam penemuan-penemuan baru terletak pada pengetahuan sebelumnya yang terlambat oleh adanya paten.

Untungnya, apa yang mendorong kemajuan paling signifikan dalam penemuan-penemuan baru bukan laba yang dikejar, melainkan pengejaran pengetahuan itu sendiri. Ini berlaku pada semua pengetahuan dan inovasi—DNA, transistor, laser, Internet, dan seterusnya.

Kasus yang terjadi di Amerika itu sudah menunjukkan bahaya monopoli berbasis paten, yaitu korupsi. Dengan harga yang jauh melampaui ongkos produksi, ada laba besar yang diperoleh dengan membujuk perusahaan farmasi, rumah sakit, atau doktor untuk bergeser ke produk-produk yang Anda hasilkan.

Baru-baru ini jaksa distrik bagian selatan New York menuduh raksasa farmasi Swiss Novartis melakukan hal itu dengan memberikan sogokan, honorarium, dan manfaat-manfaat lainnya kepada para doktor—persis apa yang dijanjikan tidak akan dilakukannya ketika ia menyelesaikan kasus serupa di pengadilan tiga tahun yang lalu. Menurut kalkulasi Public Citizen, dalam suatu kelompok advokasi di Amerika saja industri farmasi telah membayar miliaran dolar akibat keputusan pengadilan dan penyelesaian sengketa finansial antara perusahaan farmasi, pemerintah federal, dan negara bagian.

Sayangnya, Amerika bahkan mendesak diberlakukannya rezim kekayaan intelektual di seluruh dunia. Rezim seperti ini akan membatasi akses negara-negara miskin dalam memperoleh pengetahuan yang mereka butuhkan untuk pembangunan negeri mereka—dan akan menutup pintu obat generik yang bisa menyelamatkan nyawa ratusan juta orang yang tidak mampu membeli obat dengan harga monopoli perusahan farmasi.

Persoalan ini akhirnya menjadi bahasan dalam sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kesepakatan WTO mengenai kekayaan intelektual yang disebut TRIPS awalnya mengharapkan diberikannya “kelonggaran-kelonggaran” bagi 48 negara miskin, di mana pendapatan rata-rata per kapita per tahun rakyatnya di bawah US$ 800. Kesepakatan awal sangat jelas: WTO akan memberi  “kelonggaran-kelonggaran” ini atas permintaan negara-negara miskin tersebut. Sementara negara-negara itu sekarang sudah menyampaikan permintaan tersebut, Amerika dan Eropa tampaknya enggan memenuhinya.

Hak kekayaan intelektual itu merupakan aturan yang kita ciptakan—dan yang seyogianya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi rezim kekayaan intelektual yang tidak seimbang telah menyebabkan terjadinya inefisiensi, termasuk monopoli laba dan tidak dimaksimalkannya penggunaan pengetahuan yang diperoleh, yang menghambat inovasi. Dan, seperti ditunjukkan pada kasus Myriad, ia bahkan bisa mengakibatkan hilangnya nyawa yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Rezim kekayaan intelektual yang diberlakukan di Amerika—dan rezim yang diberlakukan dengan bantuan Amerika di seluruh dunia melalui kesepakatan TRIPS—tidak seimbang. Kita semua berharap, dengan keputusan yang diambilnya dalam kasus Myriad, Mahkamah Agung Amerika bakal memberikan sumbangan pada terciptanya kerangka yang lebih wajar dan lebih manusiawi. ●

Senin, 28 Mei 2012

Peluang Terobosan untuk Kesehatan Global


Peluang Terobosan untuk Kesehatan Global
Joseph E Stiglitz ; Guru Besar pada Columbia University; Peraih Hadiah Nobel Ekonomi
SUMBER :  KORAN TEMPO, 28 Mei 2012


Setiap tahun jutaan orang meninggal dunia akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati, terutama di negara-negara miskin. Dalam banyak kasus, obat-obat yang bisa menyelamatkan nyawa manusia ini dapat diproduksi dengan murah secara massal tapi dijual dengan harga yang tidak terjangkau oleh mereka yang membutuhkannya. Banyak orang meninggal dunia semata-mata karena tidak ada obat atau vaksin, karena sedikit sekali riset yang berharga, dan sumber daya yang terbatas itu tercurah pada upaya menangani penyakit-penyakit masyarakat miskin.

Semua ini merupakan bukti gagalnya ekonomi dan hukum yang perlu dikoreksi segera. Berita baiknya, sekarang terdapat peluang untuk melakukan perbaikan, dan yang paling menjanjikan melalui upaya Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) untuk memperbaiki rezim hak atas kekayaan intelektual yang telah menghambat pengembangan dan ketersediaan obat-obat yang murah.

Ada dua masalah utama yang membatasi ketersediaan obat saat ini. Pertama, bahwa obat sangat mahal; atau, lebih tepatnya, harga yang dikenakan untuk obat-obat itu sangat mahal, walaupun ongkos produksinya cuma sekian persen dari harga yang dikenakan itu. Kedua, pengembangan obat diarahkan pada maksimalisasi keuntungan, bukan manfaat sosialnya, yang menyelewengkan upaya menciptakan obat-obat yang dibutuhkan untuk kesejahteraan manusia. Karena rakyat miskin tidak punya banyak uang untuk dibelanjakan, maka perusahan farmasi, menurut pengaturan yang berlaku saat ini, tidak terdorong melakukan penelitian mengenai penyakit-penyakit yang banyak menjangkiti rakyat miskin.

Sebenarnya tidak perlu begitu. Perusahaan farmasi berargumentasi bahwa harga yang tinggi perlu untuk mendanai program penelitian dan pengembangan yang mereka lakukan. Tapi, di Amerika Serikat, sebenarnya pemerintahlah yang membiayai sebagian besar dari penelitian dan pengembangan yang terkait dengan kesehatan masyarakat--secara langsung melalui bantuan pemerintah (National Institutes of Health, National Science Foundation), dan secara tidak langsung melalui pembelian obat oleh pemerintah, baik dalam program Medicare maupun program Medicaid. Bahkan bagian yang tidak dibiayai pemerintah itu pun bukan pasar konvensional. Sebagian besar dari pembelian obat dengan resep dokter yang dilakukan individu-individu tertutup oleh asuransi.

Pemerintah membiayai riset layanan kesehatan, karena tersedianya obat-obat yang lebih baik adalah untuk kebaikan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dari riset ini memberi manfaat bagi setiap orang dengan dihentikannya epidemi dan dibatasinya korban manusia serta kerugian ekonomi akibat menyebarnya penyakit. Efisiensi mensyaratkan dibagi bersamanya hasil penelitian ini seluas dan secepat mungkin. Tomas Jefferson mengibaratkan pengetahuan itu dengan lilin: bila digunakan untuk memberikan penerangan bagi orang lain, ia tidak mengurangi penerangan bagi orang yang menyalakannya. Sebaliknya, ia membuat segalanya lebih terang.

Namun, di Amerika dan di kebanyakan negara di dunia, harga obat masih mencekik leher dan pengetahuan mengenai obat ini tidak tersebar luas. Itu karena kita telah menciptakan sistem paten yang memberikan kepada penemu obat monopoli sementara atas apa yang mereka temukan. Hal ini mendorong mereka menyembunyikan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Jika tidak, pengetahuan itu bakal menguntungkan dan digunakan pesaing mereka.

Walaupun sistem paten ini memang memberikan insentif dilakukannya penelitian tertentu yang menghasilkan inovasi yang menguntungkan, ia bisa digunakan perusahaan farmasi untuk mendongkrak harga. Dan insentif itu tidak seimbang dengan manfaat yang dibawakannya untuk masyarakat. Dalam sektor layanan kesehatan, lebih menguntungkan mencurahkan penelitian pada obat untuk kebaikan semua daripada mengembangkan pengobatan yang luar biasa. Sistem paten bahkan bisa membawa dampak buruk pada inovasi karena ia mendorong orang merahasiakan penemuannya, walaupun masukan paling penting dalam setiap penelitian adalah gagasan-gagasan baru.

Jalan keluar untuk mengatasi harga yang tinggi dan penelitian yang salah arah ini adalah dengan menggantikan model yang berlaku sekarang dengan suatu sistem hadiah. Dengan sistem hadiah ini, mereka yang membawa inovasi diberi hadiah untuk penemuan baru mereka, tapi tidak memegang monopoli atas pemanfaatannya. Dengan cara begitu, kekuatan pasar yang bersaing bisa menjamin bahwa setelah dikembangkannya suatu obat, ia tersedia dengan harga yang serendah mungkin--bukan dengan harga monopoli yang menggelembung.

Untungnya, beberapa anggota Senat AS telah menunjukkan minat yang kuat pada pendekatan ini. Suatu rancangan undang-undang, Prize Fund for HIV/AIDS Act, yang diajukan Senator Bernie Sander, merupakan inisiatif semacam itu. Rancangan undang-undang yang diajukannya ini mengandung ketentuan yang bertujuan mendorong adanya penelitian dengan sumber yang terbuka, yang bakal menggantikan model penelitian dengan hasil yang dirahasiakan dengan model penelitian yang dibagi bersama.

Tapi, secara global, sistem inovasi yang berlaku sekarang ini perlu perubahan yang lebih besar. Upaya WHO untuk mendorong reformasi pada tingkat internasional memang penting. Musim semi ini, WHO menerbitkan laporan yang merekomendasikan solusi serupa dengan RUU yang diajukan dalam Senat AS, tapi pada tingkat global.

Laporan yang berjudul "Research and Development to Meet Health Needs in Developing Countries" itu merekomendasikan pendekatan yang menyeluruh, termasuk sumbangan wajib dari pemerintah untuk riset mengenai kebutuhan kesehatan di negara-negara berkembang, koordinasi internasional mengenai prioritas layanan ketahanan dan pelaksanaannya, serta pengamatan global yang akan memantau di mana paling banyak dibutuhkan bantuan. Pada akhir Mei ini, masyarakat internasional bakal memperoleh peluang mulai melaksanakan gagasan ini dalam Sidang Kesehatan Dunia WHO--suatu momen harapan bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Mereformasi sistem inovasi ini bukan cuma soal ekonomi. Ia, dalam banyak hal, merupakan persoalan hidup-mati. Karena itu, penting memutuskan mata rantai yang menghubungkan riset dan pengembangan dengan harga obat, dan lebih memajukan bagi bersama pengetahuan ilmiah.

Bagi Amerika, RUU yang diajukan Sanders itu menandai kemajuan yang penting. Bagi dunia, rekomendasi yang diajukan WHO itu merupakan peluang sekali dalam satu generasi untuk menghentikan ketidakadilan yang sudah lama berlangsung dalam layanan kesehatan, dan, lebih-lebih lagi, untuk menetapkan model pengaturan global bagi kebaikan publik sesuai dengan era globalisasi. Kita tidak sepantasnya menyia-nyiakan peluang ini. ●

Senin, 09 April 2012

Bank Dunia, Siapa Punya?


Bank Dunia, Siapa Punya?
Joseph E Stiglitz, Guru Besar di Columbia University, Peraih Hadiah Nobel Ekonomi, Pengarang Buku Freefall: Free Markets and The Sinking of The Global Economy
SUMBER : KORAN TEMPO, 09 April 2012



Dicalonkannya Jim Yong Kim sebagai Presiden Bank Dunia oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama disambut baik--dan memang seharusnya demikian, terutama dengan adanya nama-nama lain yang disebut-sebut juga sebagai calon. Dalam diri Kim, seorang guru besar kesehatan masyarakat yang sekarang menjabat Rektor Dartmouth University dan sebelumnya memimpin departemen HIV/AIDS pada Organisasi Kesehatan Dunia, Amerika telah mengajukan seorang calon yang kuat. 
Tapi kebangsaan calon dan negara yang mencalonkannya--baik yang kecil dan miskin maupun yang besar dan kaya-–seharusnya tidak berperan dalam menentukan siapa yang akan memegang jabatan itu.

Kesebelas orang direktur eksekutif Bank Dunia yang mewakili negara-negara berkembang dan negara-negara emerging market telah mengajukan dua calon yang tidak kurang kuatnya, yaitu Ngozi Okonjo-Iweala dari Nigeria dan Jose Antonio Ocampo dari Kolombia. Saya telah bekerja sama yang erat dengan kedua calon ini. Keduanya kelas satu, pernah menjabat menteri dengan berbagai portofolio, menunjukkan kinerja yang pantas dikagumi dalam posisi-posisi puncak di lembaga-lembaga multilateral, dan memiliki keterampilan diplomasi serta kecakapan profesional untuk jabatan yang diperebutkan itu. Mereka memahami seluk-beluk keuangan dan ekonomi, yang merupakan inti tugas Bank Dunia, serta memiliki jaringan koneksi yang bakal meningkatkan efektivitas tugas Bunk Dunia.

Okonjo-Iweala memiliki pengetahuan mengenai Bank Dunia sebagai seorang insider, sedangkan Ocampo, seperti Kim, memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai seorang outsider. Ocampo, guru besar yang dikagumi di Columbia University, sangat akrab dengan Bank Dunia. Ia sebelumnya menjabat bukan hanya menteri ekonomi dan keuangan, tapi juga pertanian-–suatu kualifikasi yang sangat penting, mengingat sebagian besar rakyat miskin di negara-negara berkembang bergantung pada pertanian. Ia juga memiliki kredensial yang mengesankan mengenai lingkungan, dan menangani suatu kepedulian sentral lainnya dari Bank Dunia.

Baik Okonjo-Iweala maupun Ocampo memahami peran lembaga-lembaga keuangan internasional dalam menyediakan kebutuhan global akan public goods. Sepanjang karier mereka, hati dan pikiran mereka tercurah pada pembangunan, dan pada pencapaian misi Bank Dunia untuk mengentaskan masyarakat miskin. Mereka telah meletakkan perintang yang tinggi bagi setiap calon yang diajukan Amerika.

Banyak hal yang dipertaruhkan. Hampir 2 miliar orang masih hidup dalam kemiskinan di negara-negara berkembang, sedangkan Bank Dunia tidak mampu memecahkan masalah ini sendirian, tapi ia memainkan peran utama. Walaupun dinamakan demikian, Bank Dunia terutama merupakan lembaga pembangunan internasional. Spesialisasi Kim di bidang kesehatan masyarakat sangat penting, dan sejak dulu Bank Dunia sudah mendukung prakarsa yang inovatif di bidang ini. Tapi kesehatan masyarakat cuma merupakan bagian kecil dari “portofolio” Bank Dunia, dan ia khasnya bekerja di bidang ini bersama mitra yang membawakan kepakaran di bidang kedokteran.

Ada rumor yang mengatakan Amerika kemungkinan besar akan ngotot mempertahankan proses seleksi yang tidak wajar ini, dengan ia yang menentukan siapa yang akan menjabat Presiden Bank Dunia semata-mata karena, dalam tahun pemilihan presiden di Amerika sekarang ini, pesaing-pesaing Obama akan membesar-besarkan hilangnya kendali Amerika atas Bank Dunia sebagai tanda kelemahan. Dan, bagi Amerika, dipertahankannya kendali pemilihan Presiden Bank Dunia itu lebih penting daripada direbutnya kendali itu oleh negara-negara berkembang.

Sesungguhnya negara–negara emerging market yang lebih kuat di antara mereka sadar bagaimana hidup dalam sistem yang ada sekarang, dan mereka mungkin akan memanfaatkan kenyataan ini. Mereka sebenarnya akan memperoleh IOU, surat pengakuan utang, yang bisa mereka uangkan untuk sesuatu yang lebih penting. Kenyataan politik pada saat ini tidak memungkinkan terjadinya perebutan kepemimpinan Bank Dunia. Amerika pada akhirnya akan tetap menguasai Bank Dunia, tapi dengan harga seberapa besar?

Andai kata Amerika ngotot mengendalikan proses seleksi, maka Bank Dunia itu sendiri yang akan menderita. Selama bertahun-tahun efektivitas kerja Bank Dunia telah diperlemah, karena ia dianggap sebagai alat pemerintah di negara-negara Barat dan sektor keuangan serta korporat di negara-negara tersebut. Ironisnya, bahkan kepentingan jangka panjang Amerika bakal diuntungkan dengan komitmen-–bukan cuma dalam ucapan, tapi dalam perbuatan-–pada merit system, kualifikasi, dan kinerja serta tata kelola yang baik.

Satu prestasi yang katanya dicapai G-20 adalah kesepakatan mereformasi tata kelola lembaga-lembaga keuangan internasional-–yang paling penting terutama bagaimana pemimpin lembaga-lembaga itu dipilih. Mengingat kepakaran mengenai pembangunan terutama terdapat di negara-negara berkembang dan emerging market–-bukankah merekalah yang menghayati pembangunan-–maka tampaknya wajar kalau Presiden Bank Dunia datang dari negara-negara itu. Mempertahankan suatu cabal, kelompok rahasia di antara negara-negara maju, dengan ditetapkan bahwa yang memilih Presiden Bank Dunia adalah Amerika dan yang memilih ketua Dana Moneter Internasional (IMF) adalah Eropa, tampaknya sangat anakronistik dan membingungkan pada saat ini ketika Bank Dunia dan IMF sudah berpaling ke negara-negara emerging market sebagai sumber dana.

Sementara itu, Amerika, masyarakat internasional, dan Bank Dunia sendiri berkali-kali menekankan pentingnya tata kelola yang baik, suatu prosedur seleksi yang de facto meletakkan penunjukan Presiden Bank Dunia di tangan Presiden Amerika merupakan penghinaan terhadap pentingnya tata kelola yang baik itu. Okonjo-Iweala mengemukakan hal ini dengan kuat dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times: yang dipertaruhkan ini adalah persoalan kemunafikan. Integritas negara-negara industri maju yang memiliki mayoritas suara di Bank Dunia sekarang sedang diuji. ●