Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Idris Sardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Idris Sardi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Mei 2014

Simfoni Gado-gado Idris Sardi

Simfoni Gado-gado Idris Sardi

Denny Sakrie  ;   Pengamat Musik
TEMPO.CO, 30 April 2014

                                                                                         
                                                             
Sejak memasuki era 2000-an, Idris Sardi terlihat berbeda dalam penampilan, baik di atas panggung maupun penampilan sehari-hari. Lelaki bertubuh kerempeng ini selalu menggunakan sarung. Mas Idris-demikian panggilan akrabnya-terlihat lebih bersahaja dan sangat Indonesia. Dengan menggunakan sarung, Idris Sardi terlihat merakyat. Sesungguhnya itulah jati diri Idris Sardi, termasuk dalam sikap bermusik.

Semasa hidupnya, Idris Sardi, yang kerap dipanggil Idris Simfoni, selalu mengupayakan musik itu tak hanya dinikmati sebagian orang. Orkes Simfoni, di tangan Idris, selalu diupayakan agar merakyat.

"Di era 1970-an, TVRI menampilkan acara musik klasik Orkes Simfoni NHK Jepang yang memainkan repertoar klasik, seperti Mozart, Schubert, dan Beethoven. Tapi, begitu acara ini ditayangkan, rata-rata penonton langsung mematikan TV. Mereka nggak ngerti. Mereka merasa musik klasik itu berat untuk dinikmati. Dan ini perlu waktu untuk ke arah itu," demikian Idris Sardi bercerita perihal musik klasik di Indonesia.

"Lalu saat itu saya ditantang oleh Drs Sumadi sebagai Dirjen RTF untuk tiap bulan menampilkan orkestra di TVRI. Saya pun mengajukan konsep yang intinya ingin mengedukasi penonton. Tidak serta-merta langsung musik klasik yang berat-berat. Saya membongkar aransemen lagu-lagu daerah, lagu-lagu perjuangan, keroncong, serta lagu-lagu Barat yang sedang ngetop, seperti Feeling-nya Morris Albert. Itu saya sajikan dengan orkestra. Sudah barang tentu dengan aransemen yang disesuaikan. Responsnya ternyata baik. Ketika saya memainkan Walang Kekek dan Es Lilin, penonton terbawa dan terhanyut, karena mereka kenal dengan lagu-lagu ini," kata Idris Sardi kepada saya November 2008.

"Saya menyajikan musik seperti menghidangkan makanan gado-gado dengan menggunakan piring, garpu, sendok, dan serbet, bukan dengan beralaskan daun pisang," ujar Idris bertamsil kata.

Namun Idris banyak menuai kritik dari kritikus musik. "Saya ingat ketika Franki Raden hingga Suka Hardjana mengecam saya. Menurut mereka, orkes simfoni, ya, musik klasik. Dan menurut saya, anggapan itu keliru besar," ujar Idris Sardi. Sebab, akhirnya memang terbukti bahwa musik pop bahkan rock pun juga tetap afdol berbalut orkes simfoni yang megah.

Di paruh era 1960-an, Idris Sardi, Bing Slamet, dan Jack Lesmana diajak oleh Presiden Sukarno untuk menghasilkan musik populer yang bisa lepas dari akar Barat. Kemudian mereka menggali musik pergaulan di Maluku dan muncullah Irama Lenso, yang diupayakan menghadang pengaruh musik pop Barat.

Konsep kesenimanan Idris Sardi memang jelas: dia selalu menghadirkan nasionalisme dalam karya-karya yang sebetulnya berakar dari pola seni Barat. Proses adaptasi memang menjadi sesuatu yang mutlak dalam berkesenian. Idris Sardi telah membuktikan bahwa nasionalisme dalam bermusik itu penting untuk jati diri bangsa. Orkes Simfoni yang berasal dari Barat toh bisa disajikan dalam dialektika kita sendiri. Gesekan biola Idris Sardi, yang dijuluki biola maut, pun telah membuktikan bahwa seniman yang banyak meraup tradisi klasik Barat itu tetap menghasilkan bunyi-bunyian musik yang sarat atmosfer keindonesiaan. Pemikiran Idris Sardi ini sepatutnya diteladani oleh anak muda sekarang. Selamat jalan, Mas Idris.

Rabu, 30 April 2014

Kontroversi Idris Sardi

Kontroversi Idris Sardi

Aris Setiawan  ;   Pengajar ISI Surakarta
TEMPO.CO, 29 April 2014

                                           
                                                             
Dunia musik Indonesia berduka. Seorang maestro biola, komponis ulung, dan pakar ilustrasi musik film telah pergi untuk selamanya pada 28 April 2014. Segala hidupnya telah diziarahkan untuk musik. Ia adalah musikus yang kontroversial. Idris Sardi tak sepenuhnya berpegang pada musik klasik Barat (romantik) saja. Ia melintas batas kala bermain musik bercita rasa jazz, keroncong, hingga musik film. Kemampuannya yang dapat dengan lentur menyeberang ke haluan musik lain itu membuatnya dicibir, namun kemudian dipuja. Idris Sardi merupakan musikus multi-talenta.

Sejak belia, ia dianggap sebagai "anak ajaib". Ia mampu melenggak-lenggokkan jemari tangannya dengan piawai di atas dawai-dawai biola menuruti alur melodi musik klasik Barat. Idris yang masih ingusan telah banyak dibebani tanggung jawab berat. Pagi hari pukul 04.30 ia harus bangun, kemudian berangkat ke kantor Radio Republik Indonesia Yogyakarta untuk membuka siaran pertama radio bersama pamannya, Martono (pendidik musik), dengan memainkan lagu Humorisque karya Antonin Dvorak (Hardjana, 2004). Bahkan, pada usianya yang ke-12 tahun, ia mendapat kesempatan untuk menjadi "mahasiswa luar biasa" di Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta. Ia tak dapat bersentuhan dengan dunia anak-anak yang sewajarnya. Saat anak-anak seusianya bermain petak-umpet, ia dengan tekun dan keras melatih kreativitas bermusiknya. Kemampuan bermusik biola Idris Sardi semakin mumpuni kala ia mendapat bimbingan dari guru-guru musik profesional seperti Hendriek Tordasi, George Setet, Nicolai Varfolomijeff, Henk te Strake, Renata Vanos, Hans Botmmer, dan Gerald Kenny.

Idris Sardi mendapat caci dan hujatan kala nekat mengubah haluan dan arah musiknya. Pada dekade 1960-an, masyarakat musik Indonesia dibuat terhenyak oleh kemampuannya memainkan biola dengan gaya musik klasik Jascha Heifetz ke gaya komersial Helmuth Zackarias. Dikisahkan oleh Suka Harjana lewat Catatan Perjalanan Seorang Seniman, Idris Sardi juga nekat saat berafiliasi dengan musik keroncong (kelompok Orkes Keroncong Tetap Segar). Ia dimaki oleh banyak musikus klasik Barat. Ia dianggap tak memiliki pakem musikal yang jelas, tak berfokus pada satu genre musik. Pro dan kontra yang ditujukan kepadanya menunjukkan bahwa sejatinya Idris Sardi adalah seniman yang diperhitungkan. Segala gerak-gerik olah kreatifnya memantik perdebatan dalam dunia musik kala itu. Semakin ia dihujat, seolah semakin nekat.

Titik kulminasinya terjadi kala Idris Sardi menggarap serius musik film. Kala produksi film-film Indonesia mengalami kemerosotan dan kritik tajam, Idris Sardi justru mampu mendapat pengakuan dan penghargaan. Tak kurang dari 189 ilustrasi musik film digarapnya. Tak sembarang film dibuatkan ilustrasi musik. Ia memilih film-film yang dianggapnya bermutu dan membawa pesan perubahan. Musik-musiknya mampu memberi penguatan terhadap karakter dan dramatika film; menjadi lebih hidup dan bermakna. Ia merupakan legenda ilustrator musik film di Indonesia. Idris Sardi merengkuh penghargaan sebagai penata musik terbaik untuk film Pengantin Remaja (1971), Perkawinan (1973), Cinta Pertama (1974), dan Doea Tanda Mata (1985). Hingga detik ini, belum ada yang mampu menyamai prestasinya itu. Kini ia telah tiada, meninggalkan kisah manis dalam jagat musik di Indonesia. Ia bukan lagi seorang maestro semata, tapi juga bapak musik kita. Selamat jalan, Idris Sardi!