Tampilkan postingan dengan label Gede Prama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gede Prama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Pemimpin, Pernyataan, dan Pelayanan


Pemimpin, Pernyataan, dan Pelayanan
Gede Prama ; Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri, Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER :  KORAN TEMPO, 7 Juni 2012


Tatkala mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi, dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dilempar orang, ia tidak hanya bercerita tentang menurunnya wibawa lembaga kenegaraan, tapi juga mewartakan keprihatinan dunia kepemimpinan.

Kelangkaan pemimpin berkualitas sejujurnya bersifat interaktif. Nyaris semua persoalan berputar-putar rumit tanpa terobosan berarti. Pada saat yang sama, tuntutan masyarakat akan kualitas pemimpin juga naik. Apalagi di zaman kebebasan media, yang disebut berita adalah keburukan pemimpin, sehingga citra pemimpin tidak sebaik dulu. Dalam sejumlah keputusan penting, pemimpin malah dijadikan tontonan. Diberi tepuk tangan sambil jempol tangan ditunjukkan mengarah ke bawah sebagai tanda mengecewakan.

Tidak adil meletakkan semuanya pada pemimpin. Ada memang pemimpin yang membuat sejarah, tapi sejarah juga membuat pemimpin. Ketidakpekaan pemimpin akan tanda-tanda zaman sehingga kerap ketinggalan sejujurnya adalah hasil peradaban manusia yang mendewakan akal secara berlebihan. Akal kerap berjanji bahwa ia bisa menguasai dunia. 
Dan ternyata melalui sejumlah "kecelakaan kepemimpinan", klaim tersebut tidak terbukti. 
Dalam sejumlah kekisruhan politik yang melibatkan jumlah uang berlimpah, bagian akal yang dipilih adalah yang bisa membantu seseorang menumpuk uang dan mempertahankan kekuasaan. Ini membuat dunia kepemimpinan berwajah amat menyentuh hati. Dalam kisah Libya dengan Muammar Qadhafi malah lebih mengenaskan, pemimpin harus turun dengan cara mengenaskan. Dalam cerita Ferdinand Marcos di Filipina bahkan jasadnya pun tidak diperkenankan pulang.

Sebagai bahan penggalian, cermati dialog pemimpin dan pengikut. Sejujurnya, jarang ada dialog, yang kerap terjadi adalah monolog bertabrakan dengan monolog. Cerita ditutupnya jalur pengiriman hasil tambang di Kalimantan oleh penduduk setempat karena menuntut bahan bakar bersubsidi lebih banyak lagi menunjukkan, baik pemimpin maupun rakyat sama-sama sedang melakukan monolog. Dialog mungkin terjadi bila kedua kubu menyisakan ruang untuk orang lain. Ketegangan terjadi karena pikiran kedua kubu sama-sama didominasi keyakinan bahwa "saya benar, maka harus didengar". Telah lama manusia dicengkeram oleh keyakinan ini. Apa lagi yang ada di balik ini kalau bukan pendewaan akal secara berlebihan. Akibatnya, terjadi keterpisahan antara pemimpin dan rakyat. Sifat terbuka, rendah hati, serta pelayanan kerap dimasukkan ke kotak tolol dan menderita.

Padahal Socrates pernah berpesan, satu-satunya alasan kenapa seseorang disebut bijaksana adalah menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa. Filsuf Karl Popper lebih rendah hati lagi dengan mengatakan ia tidak tahu apa-apa. Ahli fisika di zaman Newton pernah dengan pongah menyebut bahwa tertinggal sedikit lagi pertanyaan tentang alam semesta yang belum terjawab. Tapi, saat mekanika kuantum lahir, ternyata masih terlalu banyak ketidaktahuan manusia akan alam semesta. Itu menyangkut ilmu eksakta bernama fisika, tidak terbayang apa yang terjadi dalam ilmu manusia yang jauh lebih rumit.

Dalam ilmu kepemimpinan ditulis, pikiran seperti parasut, berguna kalau dibuka. Bila parasutnya tidak terbuka (baca: pikiran tidak terbuka), pemimpin jatuh dengan tubuh yang hancur. Ini pelajaran terpenting yang ditulis Muammar Qadhafi dan Ferdinand Marcos dalam sejarah kepemimpinan. Sekaligus menyisakan pekerjaan rumah, bagaimana sebaiknya pemimpin membuka parasut pikirannya.

Sudah dicatat dalam sejarah panjang kepemimpinan, pemimpin terlalu banyak mengemukakan pernyataan, sehingga ruang untuk pertanyaan dan pelayanan tidak tersisa. Itu sebabnya, di tingkatan kepemimpinan yang lebih tinggi, pertanyaan menunjukkan kualitas seseorang. Saat krisis terjadi, pemimpin berkualitas rendah akan bertanya emosi "mau apa?", pemimpin agung dengan tersenyum tenang bertanya "ada apa?", sebagai pembuka dialog. Dialog tidak selalu membawa kepastian keberhasilan, kerap malah membawa penyadaran betapa bodohnya manusia.

Lebih-lebih bila pertanyaan dialogis dibimbing oleh spirit kepemimpinan yang menyentuh hati, jauh dari marah dan dendam. Mungkin itu sebabnya, Desmond Tutu memberi judul karyanya dengan No Future Without Forgiveness. Tanpa memaafkan, tidak ada masa depan. Mahatma Gandhi di akhir hidupnya bercerita, ia bahagia setelah hatinya tidak lagi berisi orang yang layak dimusuhi. Thich Nhat Hanh menyebut hidup yang bebas permusuhan sebagai peace is every step. Kedamaian ada di tiap langkah. Mungkin itu sebabnya, Jalaluddin Rumi menyebut agamanya dengan agama cinta.

Murid di jalan meditasi mengerti, pikiran bisa jadi kawan, bisa jadi lawan. Bila dilatih meditasi, pikiran adalah kawan mengagumkan. Bila tidak dilatih, pikiran menjadi ibu penderitaan. Nyaris semua penyakit psikis khususnya--termasuk dalam hal ini pemimpin yang mengalami kecelakaan--berkaitan dengan pikiran yang tidak terlatih. Itu sebabnya, pikiran tidak terlatih digambarkan sebagai air terjun yang ganas. Semuanya diterjang sehingga menimbulkan luka di mana-mana. Awalnya, meditasi melatih pikiran menjadi air sungai yang mengalir lembut sejuk melalui belajar menyaksikan apa saja yang muncul dengan penuh penerimaan dan pengertian. Kemudian pikiran diminta "istirahat" melalui konsentrasi. Ujungnya, meditasi membawa pikiran pulang ke samudra. Di rumah (home) samudra ia berjumpa kedalaman. Ternyata hujan tidak melakukan penambahan, kemarau tidak melakukan pengurangan (baca: pujian tidak melahirkan kecongkakan, cacian berhenti menjadi awal pertengkaran). Kendati demikian, samudra tidak pernah berhenti melayani makhluk dalam jumlah tidak berhingga. Sesampai di sini baru mungkin pemimpin berhenti menjadi tontonan, mulai menjadi tuntunan. Ia menuntun tidak dengan pernyataan, melainkan dengan pelayanan. ●

Kamis, 24 Mei 2012

Pembawa Lentera


Pembawa Lentera
Gede Prama ; Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri, Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER :  KORAN TEMPO, 24 Mei 2012


Awan gelap menutupi cahaya, itu analogi tepat bagi sebagian kehidupan kekinian. Naiknya jumlah kasus bunuh diri adalah indikasi ada awan gelap dalam sisi kejiwaan manusia. Keluarga diancam keruntuhan karena maraknya perceraian, menunjukkan adanya awan penghalang dalam hubungan antarmanusia. Lebih-lebih politik, yang gelap dibuat tambah gelap, yang terang ditutupi agar gelap. Sebagian wakil rakyat, yang panggilan alaminya membawa lentera, malah menimbulkan kegelapan melalui korupsi. Digabung menjadi satu, kegelapan hadir di mana-mana, sekaligus menghadirkan kerinduan munculnya pembawa lentera.

Salah satu simbol budaya modern adalah pesawat jet yang memungkinkan manusia bepergian secara cepat. Ini memberi inspirasi bahwa kehidupan didorong agar serba cepat. Sekolah cepat, bekerja cepat. Dan manusia kemudian mengejar. Sebagian besar yang mengejar itu tidak menjumpai apa-apa. Kalaupun ada yang dijumpai, hanya keterasingan. Sebagian orang kaya terkemuka di Barat, seperti Bob Marley, Michael Jackson, dan Whitney Houston, menjadi guru bahwa kekayaan materi menghasilkan keterasingan. Di puncak keterasingan ini, badan sakit, mental tidak stabil, bahkan ada yang mati kecanduan narkoba.

Sebagian guru meditasi di Barat yang setiap hari bergelimang murid sakit kemudian menyebut semua tersebut tipuan budaya modern. Dan yang paling menipu, apa lagi kalau bukan janji palsu kekayaan materi yang seolah-olah bisa memberikan semuanya. Sheila MacLeod dalam The Art of Starvation membuka ironi besar. Sementara di negara terbelakang seperti Afrika banyak manusia kelaparan karena miskin, di Barat, dalam jumlah yang terus naik, manusia juga tidak bisa makan. Terutama karena gangguan akibat paduan kompleks antara kebencian, ketakutan, kegagalan, ketidakberdayaan, keterasingan, serta hasrat untuk menguasai kehidupan secara berlebihan.

Pada momen seperti inilah, manusia perlu "menemukan kembali" dirinya yang telah lama terasing. Sejumlah guru tercerahkan bertutur, di titik ketika kilatan cahaya pencerahan menyala, para guru "menyentuh kembali" tubuhnya. Meminjam Reginald A. Ray dalam Touching Enlightenment, pengertian tubuh bukan hanya tubuh fisik, tapi juga mencakup tubuh interpersonal, sekaligus tubuh kosmik. Penderitaan terjadi karena tubuh manusia didangkalkan hanya menjadi tubuh fisik yang terasing. Tubuh kosmik yang menakutkan--tecermin dari banyaknya kecelakaan, gempa, tsunami--adalah cermin dari tubuh interpersonal yang penuh kekacauan. Sebagai contoh, betapa rumit membuat elite politik agar rukun membangun negeri. Tubuh interpersonal yang kacau adalah cermin dari tubuh personal yang terasing di tengah keadaan yang serba tidak puas.

Dengan demikian, inilah saatnya melakukan gerakan balik berupa keterhubungan. Antropolog sosial Gregory Bateson menyebutnya "the pattern that connects" (pola yang menghubungkan). Fisikawan Fritjoff Capra memberi sebutan "the hidden connections" (keterhubungan yang tersembunyi). Fisikawan David Bohm menyebutkan bahwa health (kesehatan) terkait erat dengan whole (keseluruhan). Sejarawan agama terkemuka Karen Armstrong menemukan bahwa intisari ajaran agama adalah compassion (belas kasih). Dan Thich Nhath Hanh menyebut perlunya inter being (proses menjadi yang saling terkait). Dengan kata lain, "menyentuh kembali" tubuh kosmik tidak hanya menjadi kearifan tua di Timur, tapi juga menjadi kebutuhan mendesak manusia Barat sebagaimana diwartakan ilmuwan.

Sebagai bahan untuk melangkah, meditasi mengenal prinsip sederhana: "pikiran cepat adalah hulu penderitaan, pikiran lambat adalah awal kesembuhan, pikiran yang hening sempurna itulah pencapaian meditasi". Artinya, memelankan pikiran melalui meditasi adalah langkah awal menentukan. Pengertian memelankan pikiran adalah belajar menyaksikan setiap bentuk pikiran, bukan diseret arus pikiran. Caranya sederhana, belajar menjadi saksi yang penuh pengertian terhadap setiap bentuk pikiran. Awalnya sulit karena, selama berkehidupan, manusia biasa diseret arus kuat pikiran. Ketekunan meditasi membuat manusia berenang ke pinggir sungai pikiran, kemudian melompat ke luar menjadi saksi yang penuh pengertian.

Ciri manusia yang sudah menjadi saksi sederhana, bisa melihat ada kebahagiaan dalam kesedihan, ada kesedihan dalam kebahagiaan. Bukankah kesedihan yang membuat kebahagiaan jadi menawan? Bukankah kesedihan hanya amplas yang menghaluskan? Seperti pesan puitik Kahlil Gibran: "Tatkala manusia bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur." Jadi, kesedihan bukan tamu, ia anggota keluarga yang sama dekatnya dengan kebahagiaan. Pesannya kemudian, kesedihan yang sering dibuang adalah awal ketidakseimbangan. Dalam bahasa Carl Jung, semua yang dibuang akan menjadi tubuh bayangan--Sigmund Freud menyebutnya alam bawah sadar--yang akan ikut ke mana pun kita pergi.

Lentera pencerahan mungkin menyala bila manusia belajar memandang semuanya sebagai sebuah totalitas. Ia serupa berjumpa gula dan garam. Tidak mungkin menyebut gula (baca: kebahagiaan) lebih baik dari garam (kesedihan). Keduanya ada tempatnya. Gula sahabatnya teh, garam temannya sayur. Hal serupa terjadi dengan kebahagiaan-kesedihan. Guncangan kosmik terjadi karena manusia hanya mau kebahagiaan menendang kesedihan. Kembali ke cerita menyentuh tubuh kosmik, lentera di dalam menyala saat manusia hidup utuh (complete, holistic, authentic) di saat ini.

Dalam bahasa kesembuhan kejiwaan, tubuh bayangan, alam bawah sadar yang berisi hal-hal yang ditendang, bila saatnya matang, ia akan muncul menimbulkan ketegangan. Tapi, di tangan manusia utuh, kesedihan diperlakukan sama dengan kebahagiaan. Akibatnya, bisa memancarkan kasih sayang baik saat senang maupun sedih. Penghormatan dunia yang besar kepada Muhammad Yunus, Mahatma Gandhi, Marthin Luther King Jr., Y.M. Dalai Lama menunjukkan bahwa dunia merindukan lentera yang penuh kasih sayang. Lentera seperti ini yang didoakan muncul nanti dalam pemilihan presiden RI tahun 2014.

Sabtu, 28 April 2012

Mendengarkan juga Membahagiakan


Mendengarkan juga Membahagiakan
Gede Prama, Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri , Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER : KORAN TEMPO, 28 April 2012


Jiwa yang berlubang, itu ciri dominan kehidupan manusia kekinian. Perhatikan, semua mengaku benar, semua ingin didengar. Ini yang berada di balik kekisruhan seperti ditolaknya kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi, pemerintah selalu disalahkan. Hakim berdemonstrasi meminta kenaikan gaji. Sebuah media lokal di Sulawesi Selatan menuliskan judul beritanya di halaman pertama begini: "70% APBD untuk Gaji". Bila demikian, untuk memperbaiki jalan, prasarana pendidikan, merawat rakyat telantar, sisa berapa?

Jika boleh jujur, kecenderungan serupa terjadi di semua belahan dunia. Wanita yang stres berat (jiwanya berlubang) kemudian mencoba menutupi lubang jiwanya dengan pergi ke dunia gemerlap. Hasilnya, lubangnya bukan ditutupi, malah ia diperkosa (dilubangi dengan lubang jiwa yang lebih besar). Pria tidak puas dengan istri, kemudian mencoba menutupi lubangnya dengan pergi ke pekerja seks. Hasilnya lebih menakutkan, tidak hanya muncul lubang jiwa baru yang lebih besar, nyawanya terancam AIDS/HIV. Pelajarannya, kebanyakan manusia mencari penutup lubang jiwanya di luar dan akhirnya kecewa.

Masyarakat dan pemerintah sesungguhnya didesain untuk menutupi lubang jiwa, seperti ketidakpuasan dan kemarahan. Tapi karena banyak elite yang masuk ke sektor publik diawali dengan niat mau menutupi lubang jiwanya (baca: mau cepat kaya, cepat berkuasa, dan motif diri sendiri lainnya), bukan mau menutupi lubang jiwa orang lain melalui pelayanan, akhirnya yang terjadi pemerintah malah menciptakan lubang baru yang memicu kemarahan.

Di titik inilah kita memerlukan banyak caregivers (manusia peduli) demi mengimbangi kecenderungan masyarakat yang ditandai oleh semakin derasnya energi untuk saling melubangi. Titik berangkatnya bisa dimulai dengan merenungkan ulang kebiasaan tua bahwa penutup lubangnya ada di luar. Guru meditasi Pema Chodron adalah sebuah lentera. Tatkala pelayanannya kepada suami selama 20 tahun harus berujung pada perceraian, ia tidak mencari penutup lubangnya lewat narkoba, apalagi bunuh diri, melainkan menutupi lubang jiwanya melalui meditasi. Dan ternyata benar, meditasi, di samping bisa menutupi lubang jiwanya, bisa membawa Pema Chodron pada kesimpulan terindah tentang kehidupan: "You are perfect as you are". Inilah tanda jiwa yang sudah tidak berlubang, semua sempurna apa adanya.

Ia serupa cerita sekolah binatang. Suatu hari binatang mendirikan sekolah. Pelajaran berenang dibimbing oleh ikan. Mata kuliah terbang, gurunya burung. Kursus berlari, instrukturnya serigala. Setelah beberapa lama, sekolahnya dibubarkan. Ternyata burung sempurna menjadi burung, ikan sempurna menjadi ikan, serigala sempurna menjadi serigala. Lubang jiwa muncul saat serigala memaksa berenang sebagus ikan, tatkala ikan memperkosa dirinya agar bisa berlari sekencang serigala. Meminjam rumus sederhana Shinzen Young dalam The Science of Enlightenment, penderitaan adalah rasa sakit dikalikan dengan penolakan. Dan meditasi berkonsentrasi pada menolkan penolakan. Bila penolakannya nol, maka penderitaan juga nol.

Dalam langkah praktis, meditasi serupa menatap aliran air sungai. Kehidupan keseharian persis sama dengan barang-barang yang hanyut di sungai. Sampah, dedaunan, semuanya hanya datang dan pergi. Penderitaan (lubang jiwa) muncul saat manusia dibawa hanyut oleh "sampah-sampah" kehidupan yang tidak kekal. Berharap agar kebahagiaan kekal selamanya, berdoa agar kesedihan lenyap selamanya. Padahal semuanya datang dan pergi. Istirahat dalam meditasi terjadi saat seseorang berkonsentrasi hanya pada melihat aliran air. Sekaligus memeluk secara alamiah--tanpa perlu menghentikan, tanpa perlu hanyut--semua mengalir apa adanya. Inilah istirahat yang sesungguhnya.

Serupa langit yang tidak bisa dipisahkan dari warna biru, manusia yang sudah istirahat dalam meditasi tidak bisa dipisahkan dari kerinduan berbagi kasih sayang. Dalam perspektif ini, bisa dimaklumi bila ada yang menitipkan pesan: "listening is nourishing". Saat mendengar, sesungguhnya kita sedang menghidupi banyak jiwa yang lapar. Ada yang berbisik: "listening is fine tuning". Tatkala mendengar seseorang sedang terhubung dengan diri yang lebih tinggi, kemudian rindu berbagi. Ada yang menemukan resep "the healing power of being deeply heard". Mendengarkan secara mendalam membuat seseorang bisa menyembuhkan.

Digabung menjadi satu, bila ada manusia yang bisa menemukan kedamaian dengan mendengar, maka tatanan kosmik akan lebih seimbang. Sebagian manusia memang mengaku selalu benar, meminta selalu didengar, mencari penutup lubang jiwa di luar, tapi mesti ada yang menjaga keseimbangan kosmik melalui listening in the service of wholeness. Mendengar sebagai pelayanan pada tatanan kosmik yang holistik. Dengan cara ini, bukan hanya diri ini sembuh, tatanan kosmik yang lama terluka oleh keterpisahan juga tersembuhkan.

Dalam tataran kesembuhan seperti ini (the ultimate healing), kesembuhan adalah terhubung rapinya tubuh ini dengan tubuh-tubuh yang lain. Lubang jiwa orang adalah lubang jiwa kita juga, kesembuhan orang adalah kesembuhan kita juga. Dan jembatan yang bisa menghubungkan keterpisahan ini bernama mendengar. Mungkin itu sebabnya, mistikus Kabir pernah bergumam: "When I silenced my mouth, sat very still, and fixed my mind at the doorway of the Lord, I soon was linked to the music of the word. And all my talking came to an end. " Tatkala mulut terkunci rapi, duduk bersahabatkan keheningan, memusatkan batin hanya pada sang Jalan, kehidupan kemudian berubah menjadi nyanyian. Dan semua suara serta doa tenggelam dalam kesempurnaan keheningan. Di Timur, tatkala kesempurnaan keheningan dipeluk lembut oleh kesempurnaan kasih sayang, ia disebut praktek Avalokiteshvara. Sederhananya, bunga spiritual baru belajar mekar saat seseorang berevolusi dari bahagia karena didengar menuju bahagia karena mendengar. Kemudian ikut mengurangi penderitaan dunia. ●

Sabtu, 24 Maret 2012

Mentari dari Bali


Mentari dari Bali
  Gede Prama, Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan; Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER : MEDIA INDONESIA, 24 Maret 2012



ENTAH mana yang benar, sejarah membuat tokoh atau tokoh membuat sejarah. Yang jelas, sulit mengingkari kita hidup di putaran waktu yang mengalami kelangkaan tokoh. Di negeri Barack Obama yang lama menjadi teladan demokrasi, sudah mulai ada orang yang berteriak ‘bohong’ saat presiden berpidato. Di Eropa, sejarah pemimpinnya mulai dinodai hal-hal tidak beradab seperti pemimpin dilempar dengan sepatu. Kita di Indonesia serupa, oleh media dan kritikus pemimpin senantiasa duduk di kursi yang disalahkan. 

Bali yang ditulis sejumlah penulis Barat dengan bahasa puitis, seperti morning of the world, juga tidak ketinggalan. Pentas media dan politik berisi terlalu banyak perseteruan. Ciri dominannya cuma satu, semua mengaku benar, semua mau didengar.

Bila digabung menjadi satu, riuh sekaligus kisruhlah kehidupan. Itu tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk berpikir jernih, tanpa memberikan tempat bagi keheningan untuk lewat kendati hanya sebentar. Ciri khas zaman ini ialah sangat langka ada manusia yang menyediakan diri untuk menjadi listening warrior. Menyediakan diri untuk mendengar tidak saja dengan telinga, tetapi juga dengan cinta. Tidak saja sepi, tetapi juga penuh empati. Kemudian merangkai serpihan-serpihan kebenaran yang berantakan khususnya oleh politik, serta mewartakan ke publik bahwa apa yang kita ributkan membuat manusia menjauh dari kejernihan dan jalan keluar.

Lebih dari itu, di zaman yang marak dengan bunuh diri dan tsunami ini, berlaku rumus sederhana: listening is nourishing. Saat mendengar, kita ikut menghidupi dan menyembuhkan banyak jiwa.

Dalam konteks listening warrior itulah Hari Raya Nyepi jadi relevan. Bagi anak muda yang masih teramat lapar akan kesuksesan dan progress, keheningan kerap disebut membuang kesempatan. Namun, setiap jiwa yang sudah tumbuh dewasa secara spiritual berpelukan lembut dengan tubuh kosmis (baca: istirahat dalam keheningan) serupa menghirup udara segar. Itu tidak hanya memperpanjang umur, tetapi juga berjumpa dengan wajah kehidupan yang semakin menyatu dari hari ke hari. Menyatu dengan alam, menyatu dengan semua ciptaan, menyatu dengan Tuhan. Tetua Bali menyebutnya tri hita karana.

Siapa yang berani menyelam ke kedalaman kehidupan seperti ini, kolam kehidupan yang tadinya keruh kemudian terang-benderang terlihat. Ternyata dari zaman lahirnya nabi sampai zaman kini, kehidupan senantiasa dialektis. Itu serupa manusia yang membangun rumah kemudian dihancurkan rayap, di mana ada orang membangun, di sana ada kekuatan lain yang menghancurkan. Di mana lahir kesucian, di sana juga lahir kekotoran. 

Bila manusia biasa dibuat kisruh oleh pola dialektis kehidupan seperti ini, para suci duduk rapi di atas pertentangan dan dualitas, menyaksikannya kemudian memutar roda kasih sayang. Hadirnya rayap yang menghancurkan rumah (baca: hadirnya penggoda di setiap zaman) bukan alasan untuk menghentikan pembangunan. Sebaliknya, itu membuat kehidupan menjadi semakin halus dan semakin halus . Serupa Mahatma Gandhi yang halus karena hadirnya penjajah Inggris, mirip Nelson Mandela yang lembut karena dipenjara 27 tahun. Mirip Muhammad Junus yang peka karena tumbuh di tengah kemiskinan Bangladesh.

Amerika memang putaran waktunya sedang turun, Eropa memang sedang dibelit krisis, Indonesia memang sedang menata ulang dirinya. Semuanya hanya manifestasi dari hukum dialektis yang sama. Ke mana pun siklus kehidupan sedang berjalan, peradaban memerlukan listening warrior. Yang bisa hening di tengah keramaian, mendengar tidak saja dengan telinga, mengumpulkan dan merangkai serpihan-serpihan kebenaran, kemudian mewartakan kepada pemimpin khususnya.

Pemimpin bukan ditakdirkan sebagai bagian dari pertentangan, melainkan diharapkan duduk rapi di atas pertentangan, melihatnya secara jernih, kemudian memutar roda keputusan hanya dengan kasih sayang. Di samping itu, dengan keheningan yang sempurna, listening warrior juga ikut mengirim vibrasi kesembuhan ke tubuh kosmis yang banyak luka sebagaimana ditunjukkan banyaknya tsunami, banjir, dan bunuh diri.

Dengan demikian, Nyepi bukan hanya berwajah penghematan energi, pengurangan emisi, memperkecil kemungkinan pemanasan global, melainkan juga menjadi momen kontemplasi yang memungkinkan manusia keluar dari kolam kehidupan yang kisruh oleh kepentingan dan kekuasaan. Itu kemudian mengizinkan ketenangan, kesejukan, dan kedamaian memberikan ruang bagi lahirnya kejernihan.

Bila listening warrior lahir, benar seperti ditulis pemenang hadiah nobel sastra Rabindranath Tagore yang sepulang dari kunjungan ke Bali kemudian menyebut Bali sebagai morning of the world. Mentari pagi dari Bali untuk Bumi, mentari keheningan yang mengetuk pintu hati banyak manusia untuk mendengar karena teramat langka manusia di zaman ini yang mau mendengar. Kendati telinga manusia dua kali lebih banyak daripada mulut, manusia tetap memerlukan perjuangan keras di zaman ini untuk bisa mendengar. Padahal, hanya di kedalaman pendengaran manusia bisa terhubung dengan tubuh kosmis, mengalami kebersatuan, kemudian bisa merasakan tidak hanya setiap tempat menjadi rumah (home), setiap waktu menjadi home, tapi juga setiap keadaan batin juga home (every state of mind is home).

Coba perhatikan sebagian peninggalan tetua Bali. Di kepala Pulau Bali, nama desanya Kubutambahan. Kubu berarti rumah, tambah berarti positif. Artinya, rumah manusia-manusia yang berpikir positif.

Di kaki Pulau Bali, tempat matahari terbit indah sekali memeluk puncak Gunung Agung, desanya bernama Sanur. Sa artinya satu, nur artinya cahaya. Ringkasnya berarti cahaya yang satu. Sebuah tempat yang amat terkenal ke seluruh dunia bisa menyembuhkan banyak manusia bernama Ubud, berarti ubad alias obat. Lokasinya di Bali Tengah.

Bila digabung menjadi satu, isilah kepala dengan hal-hal positif, langkahkan kaki diterangi cahaya yang satu. Kesembuhan pun bisa muncul kemudian.

Caranya, selalu hindari hal-hal ekstrem, istirahatlah di jalan tengah. Dari situ mungkin tangan-tangan pemimpin yang bergandengan dengan semuanya baru bisa hadir, kemudian membuat gerak kehidupan sebagai perjalanan pulang. Sekaligus, bersamasama kita sembuhkan tubuh kosmis yang sedang luka di mana-mana. Besok pagi di Hari Nyepi, matahari pemahaman seperti inilah yang terbit dari Bali. Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga semua makhluk berbahagia.

Jumat, 16 Maret 2012

Menyirami Bibit Kebajikan


Menyirami Bibit Kebajikan
Gede Prama, PENULIS BUKU SIMFONI DALAM DIRI: MENGOLAH KEMARAHAN MENJADI KETEDUHAN ; FASILITATOR MEDITASI DI BALI UTARA
SUMBER : KORAN TEMPO, 15 Maret 2012



Setelah dihukum beratnya koruptor oleh pengadilan plus disitanya semua harta pribadi menjadi kekayaan negara, banyak yang menyebut hal ini sebagai cahaya optimisme dalam pemberantasan korupsi. Membuat jera koruptor tentu baik, membimbing orang jahat agar baik tentu tidak keliru. Tapi sejarah panjang lembaga pemasyarakatan (LP), lengkap dengan hukumannya yang kejam, sudah dicatat sejarah tidak berkontribusi signifikan dalam menurunkan angka kejahatan. Masyarakat Barat berada jauh di depan dalam hal ini. Hukumnya rapi, aparatnya relatif lebih bersih. Tapi belum pernah terdengar angka kejahatan menurun signifikan. Akibatnya, muncul pertanyaan: tepatkah pendekatan menghukum dalam mengurangi kejahatan?

Sejarah pengetahuan menyimpan banyak pendekatan, sebagian bahkan saling bertentangan. Ia serupa dengan buku suci. Semua buku suci menyimpan kontradiksi. Di satu bagian, buku suci memerintahkan: "cepat minum gula, nanti mati". Di bagian lain, buku suci yang sama berpesan: "jangan minum gula, nanti mati". Yang mengerti kesehatan tahu, perintah pertama berlaku untuk mereka yang kadar gula dalam darahnya masih jauh dari cukup. Perintah kedua untuk manusia sebaliknya. Tugas berikutnya sederhana, apakah kita hidup dalam putaran waktu yang "kebanyakan gula", atau sebaliknya "kekurangan gula"? Dari sini dipetakan, apakah penjahat sebaiknya dihukum sekeras-kerasnya, atau dididik agar menyirami bibit kebajikan dalam diri?

Saluran televisi National Geographic pada 6 Maret 2012 secara indah menyiarkan temuan tentang warrior gene. Persisnya, semacam gen dalam diri manusia yang membuat seseorang demikian berenerginya, sehingga rawan bergabung dengan kelompok geng, bergerombol melakukan kekerasan. Hasilnya mengejutkan, mereka dengan gen jenis ini, bila diperlakukan dengan kekerasan, akan semakin keras. Kesimpulan ini akan semakin jujur terlihat bila kita bertanya ulang, seberapa persen mantan penghuni LP yang bisa dibikin baik setelah mendekam di sana bertahun-tahun? Seberapa banyak yang balik lagi? Membaca pemberitaan media, sebagian penghuni LP tidak hanya melanjutkan kejahatannya di sana, tapi juga malah bikin ricuh di LP. Bila demikian keadaannya, melakukan kekerasan terhadap manusia yang punya gen keras serupa dengan menyiramkan bensin ke api yang sedang terbakar. Jika terus dilakukan, bukan tidak mungkin kita semua akan terbakar!

Ini membawa konsekuensi luas tidak saja dalam mengelola LP, tapi juga bagaimana sebaiknya memperlakukan putra-putri kita di rumah yang bermasalah, bagaimana sekolah sebaiknya "mengorangkan" anak-anak nakal, bagaimana organisasi menyentuh hati pekerja yang suka melawan. Belajar dari sejarah panjang di mana hukuman lebih dekat dengan menyiramkan bensin pada api, mungkin bijaksana merenungkan menyirami bibit kebajikan dalam diri manusia bermasalah.

Perhatikan nama-nama manusia di semua agama. Tidak ada nama dengan konotasi buruk, seperti Injak, Pukul, Bunuh. Di samping itu, semua bayi dibuat oleh sepasang suami-istri yang berpelukan penuh kasih sayang, bukan pukul-pukulan. Semua ibu yang sedang hamil berbicara baik dengan anaknya dalam kandungan. Digabung menjadi satu, semua manusia memiliki bibit kebajikan dalam diri. Cuma, serupa dengan bibit pohon, bila tidak disirami, suatu waktu akan mati. Untuk itulah, sangat penting menemukan sebanyak mungkin cara untuk menyirami bibit kebajikan dalam diri. Merenung di atas sejarah panjang kesembuhan kejiwaan, umumnya manusia di zaman ini hanya mau yang positif, menendang yang negatif. Padahal bagian diri yang ditendang hanya hilang sebentar, dan nanti muncul lagi. Dalam bahasa Freud, masuk ke alam bawah sadar. Dalam terminologi Jung, ia akan menjadi bayangan yang mengikuti. Bila saatnya tiba, yang ditendang tadi akan muncul lagi sebagai gangguan.

Itu sebabnya, Carl Jung--setelah diperkaya filosofi Timur--kemudian belajar tidak serakah dengan hal positif, tidak marah dengan yang negatif. Jung menyebut terapi sebagai the work of reconciliation of opposites. Memadukan dualitas kemudian mengalami kesembuhan. Sebuah pendekatan yang mirip meditasi. Urutan langkahnya sederhana: acceptance, understanding, loving kindness, compassion. Menerima kekurangan sebaik kita menerima kelebihan, itu langkah pertama. Meminjam penemuan seorang guru meditasi: accepting without blaming is the true turning point of healing. Menerima tanpa menyalahkan adalah titik balik kesembuhan. Krusial dalam hal ini, bagaimana sebaiknya menerima manusia bermasalah sekaligus mengajak mereka menerima kekurangan hidupnya. Cahaya penerimaan lebih mudah dihidupkan bila dibangun di atas pengertian bahwa kejahatan tidak berdiri sendiri. Ada jejaring rumit berupa peradaban yang semakin gelap, keteladanan buruk elite, ketidakdewasaan orang tua, guru bermasalah, pemberitaan yang berisi terlalu banyak keburukan, lembaga agama yang mengalami krisis karisma.

Begitu sampai di tahap ini, kemudian kemarahan terhadap manusia bermasalah digantikan kerinduan untuk berbagi cinta kasih. Terutama karena manusia yang tadinya kita benci ternyata hanya korban, bukan aktor dari kerumitan kehidupan. Memarahi korban tidak hanya tak menyembuhkan, tapi juga memperumit jejaring masalah yang sudah rumit. Korban-korban ini sesungguhnya tidak membutuhkan kemarahan kita, mereka lebih membutuhkan kasih sayang (compassion). Makanya, kepada setiap murid meditasi selalu diberikan obat “sayangi, sayangi, sayangi”. Cara ini tidak hanya menyembuhkan orang lain, tapi juga menyembuhkan diri ini.

Dari sini bukan berarti kita harus membongkar jeruji besi LP, membebaskan anak-anak mengunjungi situs pornografi, membiarkan koruptor melanjutkan kejahatannya. Sebaliknya, kita harus merenungkan dalam-dalam bahwa manusia jahat tidak berdiri sendiri. Kemudian mengajak mereka menoleh ke dalam, ke bibit kebajikan yang tersedia di dalam, menyiraminya dengan penerimaan, pengertian, cinta, dan kasih sayang, adalah pekerjaan rumah kita bersama. ●