Minggu, 22 Mei 2016

Stres Traumatis Sekunder

Stres Traumatis Sekunder

Agustine Dwiputri ;   Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
                                                         KOMPAS, 21 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saya, 28 tahun, bekerja sebagai konselor di sebuah organisasi nirlaba yang menangani korban kekerasan pada perempuan dan anak. Setelah bertugas selama lebih dari dua tahun, saya merasa seperti sia-sia saja semua yang saya lakukan.

Saya juga jadi mudah marah, sering malas berangkat ke lokasi kerja. Padahal, saya tahu bahwa klien-klien saya memerlukan kehadiran saya. Saya sedang berpikir, kok, saya jadi mengalami hal-hal yang juga dirasakan oleh para korban, seperti mimpi buruk dan tidak bisa tidur. Apakah saya juga telah mengalami stres? Apakah ini yang disebut stres sekunder? Mohon penjelasan Ibu. Terima kasih.

W di M


Benar Saudari W, dari surat yang saya ringkas di atas, tampaknya Anda memang terpapar apa yang disebut sebagai stres traumatis sekunder. Mari kita simak bersama uraian mengenai hal itu.

Saakvitne dan Pearlman (1996) mengatakan bahwa stres traumatis sekunder atau vicarious traumatization adalah transformasi pengalaman batin konselor/terapis sebagai hasil dari keterlibatan empatik dengan klien/korban trauma dan materi traumanya. Stres traumatis sekunder sulit dihindari karena merupakan hasil dari bekerja dengan korban trauma dengan cara peduli dan empati. Ini adalah konsekuensi alami dalam merawat dan membantu orang yang mengalami trauma, karena itu penting untuk tidak melihatnya sebagai tanda kelemahan.

Jika stres traumatis sekunder tidak dapat dihindari, tenaga profesional dan konselor yang membantu mereka yang mengalami peristiwa traumatis perlu belajar untuk menerima dan mengakui hal ini sebagai bagian tak terpisahkan dari pekerjaan mereka, kemudian mulai menyusun berbagai strategi serta sumber daya untuk bertahan dalam jangka panjang agar dapat bekerja secara sehat di bidang ini.

Pengaruh stres traumatis sekunder cenderung berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu dan sering tidak mudah melihat bahwa konselor tengah dipengaruhi oleh hal tersebut sampai terjadi sesuatu yang menyoroti perubahan kepribadian dan gaya hidupnya. Stres traumatis sekunder dapat berdampak terhadap semua bidang kehidupan dan efeknya dapat berkisar dari ringan sampai mengganggu.

Berbagai tanda dan gejala

Claudia Herbert dan Ann Wetmore (2001) menjelaskan beberapa tanda stres traumatis sekunder untuk diwaspadai, di antaranya:

- Kurangnya motivasi dan perasaan tidak punya waktu untuk diri sendiri.

- Kesulitan dengan pasangan Anda atau dengan hubungan dekat lainnya.

- Mempertanyakan pilihan kariernya, merasa tidak berguna.

- Berkurangnya kontrol diri, meningkatnya kemarahan, ketidaksabaran, hubungan yang tegang dengan orang lain.

- Kehilangan kepercayaan kepada orang lain.

Ada pula berbagai gejala stres traumatis sekunder yang dirinci dalam beberapa area:

Area emosional - mati rasa atau berjarak; perasaan berlebihan atau bahkan mungkin putus asa.

Area fisik - memiliki energi yang rendah atau merasa lelah.

Area perilaku - perubahan pada rutinitas atau terlibat dalam mekanisme merusak diri sendiri.

Area profesional - mengalami kinerja rendah dari tugas dan tanggung jawab pekerjaan; merasa semangat kerja yang rendah.

Area kognitif - mengalami kebingungan, konsentrasi berkurang, kesulitan mengambil keputusan; mengalami bayangan trauma dengan seperti melihat peristiwa berulang-ulang.

Area spiritual - mempertanyakan makna hidup atau kehilangan kepuasan diri.

Area interpersonal - secara fisik menarik diri atau menjadi emosional dengan tidak adanya rekan kerja atau keluarga Anda.

Jika konselor melihat salah satu perubahan tersebut pada diri sendiri, akan sangat membantu jika dia berbagi dengan orang lain dan mengidentifikasi cara-cara di mana konselor dapat mengendalikan dampak dari beberapa perubahan tersebut. Konselor perlu melihatnya sebagai peringatan bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki keseimbangan dalam pekerjaan dan kehidupannya.

Mengelola stres traumatis sekunder

Kesadaran adalah kunci untuk mengelola stres sekunder bagi organisasi maupun bagi individu. Suatu komunitas dapat berbagi informasi tentang tanda-tanda stres sekunder sehingga anggota kelompok mengenali tanda-tanda dalam diri mereka sendiri dan orang lain. Pengecekan dalam kelompok kecil secara teratur dapat menjadi jalan keluar bagi munculnya perasaan frustrasi dan stres. Mengakui adanya kondisi stres secara administratif dapat membantu konselor merasa didengarkan.

Para konselor perlu menyadari bahwa bekerja dengan para korban trauma bisa sangat sulit ketika:

- tidak ada ketentuan bagi konselor untuk beristirahat;

- konselor membawa beban kasus yang terlalu berat;

- tidak tersedia supervisi atau konsultasi yang memenuhi syarat;

- organisasi gagal untuk mengenali nilai pekerjaan trauma atau dampak yang mungkin terjadi pada konselor;

- liburan tidak memadai;

- konselor masih baru atau kurang kualifikasinya untuk jenis pekerjaan ini;

- konselor mempunyai harapan yang terlalu tinggi dalam bertugas.

Menurut Saakvitne dan Pearlman (1996), jika konselor telah menyadari berbagai potensi faktor risiko di atas, cobalah mengidentifikasi untuk diri sendiri:

1. Manakah dari hal-hal di atas yang mungkin berlaku untuk Anda?

2. Apa yang dapat Anda lakukan untuk mengubahnya?

3. Bagaimana dan kapan Anda akan membuat perubahan ini?

Nilailah berbagai kebutuhan dan catat bagaimana Anda telah memperolehnya dan bagaimana Anda akan mengatasi di masa depan potensi efek stres. Misalnya, Anda perlu merawat diri, menjalankan suatu kegiatan, berlibur maupun berbagai cara menghindar lainnya, menciptakan makna dalam pekerjaan dan kehidupan, menantang keyakinan dan asumsi negatif, serta perlu kegiatan sosial.

Konselor juga dapat melindungi diri dan mengelola stres traumatis sekunder dengan berlatih perawatan diri melalui olahraga teratur, diet makanan sehat, dan tidur yang cukup. Kegiatan seperti yoga atau meditasi dapat membantu mengurangi stres secara umum. Penting bagi konselor untuk menjauh dari situasi yang menstimulasi stres. Menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman-teman, atau fokus pada suatu kegiatan atau hobi dapat membantu.

Suatu hal yang akan membantu adalah dengan menemukan seorang "mitra kerja", mungkin rekan profesional, dengan siapa Anda bisa mendiskusikan perubahan yang telah direncanakan dan memonitor kemajuan Anda.

Salam sukses untuk pekerjaan mulia Anda.