Tampilkan postingan dengan label I Suharyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Suharyo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

Wajah Kemanusiaan yang Terluka

Wajah Kemanusiaan yang Terluka

I Suharyo ;  Uskup Keuskupan Agung Jakarta
                                                       KOMPAS, 24 Maret 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam artikel berjudul "Zaman Edan" (Kompas, Minggu, 20 Maret 2016) diceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Ayak, berusia 18 tahun, yang bernasib malang. Dia kehilangan kedua orangtuanya ketika pemberontak menyerang desanya di Sudan. Ketika berusaha menyelamatkan diri, Ayak ditangkap pemberontak dan diperkosa ramai-ramai. Karena itu, ia hamil dan mengidap HIV. Meskipun demikian, ia siap memelihara anaknya yang selanjutnya menjadi satu-satunya anggota keluarganya.

Ada sekian banyak kisah tentang kemanusiaan yang terluka ketika martabat manusia direndahkan serta hak-hak dasarnya disangkal demi kekuasaan, uang, dan berbagai kepentingan lainnya. Meskipun kehormatannya dicederai, Ayak tampil sebagai pribadi yang sungguh-sungguh bermartabat. Sementara mereka yang tampaknya berkuasa, sebenarnya menyandang luka-luka kemanusiaan yang bernanah.

Luka kemanusiaan

Luka-luka kemanusiaan seperti itu merupakan salah satu unsur dominan yang mewarnai Pekan Suci yang setiap tahun dirayakan umat Kristiani.

Pada Minggu, 20 Maret 2016, Pekan Suci dimulai. Dalam Ibadah Sabda dibacakan Kisah Sengsara Yesus (Lukas 22: 63-23: 56). Luka-luka ini tampak dalam beberapa episode, misalnya dalam diri orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-oloknya, menutupi matanya, kemudian memukulnya sambil bertanya, "Coba katakan, siapakah yang memukul engkau?"

Mereka adalah orang-orang bawahan yang biasa tidak dihargai, direndahkan, dan harus melakukan kehendak yang punya kuasa atas mereka. Ketika ada kesempatan, luka-luka mereka tampak dalam kekerasan yang mereka lakukan, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka juga punya kekuasaan.

Luka-luka seperti itu tidak hanya tampak dalam orang-orang bawahan, tetapi juga dalam diri pembesar, seperti para anggota Mahkamah Agama, Pilatus, dan Herodes. Dengan ringannya, tanpa perasaan bersalah sedikit pun, mereka mendakwa Yesus dengan dakwaan dan-tentu saja-saksi-saksi palsu.

Merendahkan martabat

Demikian juga Pilatus. Ia mempunyai wewenang penuh untuk membebaskan Yesus, tetapi tidak melakukannya karena kepentingan pribadinya.

Sementara itu, Herodes Antipas menunjukkan luka jenis lain lagi. Herodes secara harfiah berarti mulia, tetapi kelakuannya sama sekali tidak mulia. Ia, antara lain, menceraikan istrinya dan merebut istri saudaranya yang bernama Herodes Philipus.

Yang ia lakukan terhadap Yesus sama sekali tidak menunjukkan wibawanya sebagai pemimpin. Sebaliknya yang terungkap adalah luka-luka batinnya. Tokoh-tokoh ini semua sadar atau tidak sadar merendahkan martabat mereka sendiri.

Di dalam kisah selanjutnya (Lukas 23: 33-43) ditampilkan konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka dan kemanusiaan yang sejati secara amat indah. Konfrontasi ini terasa dalam dialog antara dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan Yesus yang tergantung di salib. Luka-luka kemanusiaan terbaca dalam kata-kata salah seorang penjahat yang, ketika tergantung di salib, masih menghujat dan berkata, "Bukankah engkau adalah Kristus? Selamatkanlah dirimu dan kami!"

Penjahat yang satu lagi mengungkap luka-luka kemanusiaan yang sama, tetapi dalam proses disembuhkan. Ia berkata kepada kawannya, "Kita layak dihukum sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah".

Dalam saat-saat yang sangat menentukan, terjadi konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka yang diwakili oleh penjahat yang menghujat dan kemanusiaan sejati yang tampak dalam diri Yesus yang diam. Dalam diri penjahat yang lain, konfrontasi ini menyadarkan dirinya bahwa ada kemanusiaan yang berwajah lain. Lebih daripada itu, konfrontasi ini juga menggerakkan proses transformasi dalam dirinya. Buahnya terungkap dalam kata-kata yang ditujukan dengan tulus kepada Yesus yang tergantung di salib, "Yesus, ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja". Luka-lukanya disembuhkan dan ia menjadi sahabat dalam penderitaan.

Tahun ini, umat Katolik merayakan Paskah ketika Gereja sedunia merayakan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Logo yang diciptakan dalam rangka Tahun Suci ini menyampaikan pesan amat kuat mengenai luka-luka kemanusiaan. Logo itu menggambarkan Yesus yang menggendong seseorang di bahunya. Luka-luka yang tergambar jelas pada kedua kaki dan tangan Yesus menjadi lambang luka-luka kemanusiaan dengan berbagai macam wajahnya.

Mata belas kasih

Salah satu mata dari orang yang digendong tidak tampak, berada di belakang mata Yesus sehingga, meskipun ada dua orang, mata yang tergambar hanya tiga. Pesannya jelas, yaitu agar umat Kristiani memandang luka-luka kemanusiaan itu dengan mata Yesus, yaitu mata yang berbelas kasih, mata yang berbela rasa, mata yang mencerminkan wajah Allah yang Maharahim dan menyembuhkan.

Berita sehari-hari yang termuat dalam koran dan disiarkan oleh radio dan televisi mengajak kita untuk menyadari dengan jujur bahwa banyak luka kemanusiaan dengan berbagai wajahnya, baik secara terbuka maupun tersembunyi, ada di tengah-tengah kehidupan bersama kita sebagai bangsa.

Luka-luka itu bisa disebabkan oleh peristiwa-peristiwa getir di masa lampau ataupun di masa sekarang. Semoga perayaan Pekan Suci yang berpuncak pada Paskah menyadarkan umat Kristiani akan adanya luka-luka itu dan memahaminya dengan mata bela rasa.

Dan semoga kesadaran ini mendorong terjadinya proses penyembuhan bukan hanya penyembuhan pribadi, melainkan juga penyembuhan kolektif. Selamat merayakan Pekan Suci. ●

Sabtu, 26 Desember 2015

Wajah Kerahiman

Wajah Kerahiman

  I Suharyo  ;  Uskup Keuskupan Agung Jakarta
                                                      KOMPAS, 26 Desember 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Natal 2015 ini terasa istimewa karena dirayakan pada Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah yang ditetapkan Paus Fransiskus. Berlangsung dari 8 Desember 2015 sampai 20 November 2016.

Perayaan Tahun Suci berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Setiap 50 tahun, Tahun Suci dirayakan untuk mengembalikan keseimbangan hidup bersama sebagai umat Allah. Pada tahun itu semua warga umat Allah yang menjadi hamba harus dibebaskan, semua tanah yang dijual harus dikembalikan pada pemiliknya, semua utang dihapuskan.

Gereja mengambil alih tradisi ini dan sejak tahun 1475, atas penetapan Paus Paulus II, perayaan dilaksanakan tiap 25 tahun. Selain Tahun Suci Biasa, Gereja Katolik juga merayakan Tahun Suci Luar Biasa seperti yang ditetapkan Paus Fransiskus pada tahun ini. Alasan pemakluman ini ada dalam pengalaman iman pribadinya, dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa dan dalam tindakan-tindakan simbolis yang dilakukannya.

Pengalaman pribadi Paus dirumuskan dalam semboyan yang menandai pelayanannya, miserando atque eligendo (dalam kerahiman-Nya, Ia memilih aku). Keyakinan dan pengalaman bahwa Allah adalah Maharahim mengubah dan membarui hidup pribadinya. Atas dasar pengalaman ini pula Paus Fransiskus sekarang besar-besaran membarui Gereja Katolik.

Alasan kedua dapat ditemukan dalam bulla pemakluman Tahun Suci Luar Biasa yang berjudul "Misericordiae Vultus" (Wajah Kerahiman). Di dalamnya Paus Fransiskus menyatakan, "Janganlah jatuh ke dalam pola pikir mengerikan, yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang dan bahwa, dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilainya. .Kekerasan pada orang lain demi menimbun kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun berkuasa atau tidak mati" (No. 19.1).

Korupsi dosa berat

Paus Fransiskus juga menyinggung gejala korupsi dan menulis, "Luka-luka bernanah (akibat korupsi) merupakan dosa berat yang berteriak ke surga untuk mendapat pembalasan, karena luka itu merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan. Kerakusannya menghancurkan harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah. skandal publik berat" (No 19.2).

Alasan lain dapat ditemukan dalam berbagai tindakan simbolis Paus Fransiskus. Ketika pertama kali bepergian ke luar Vatikan, beliau ke Pulau Lampedusa di Italia Selatan setelah mendengar banyak imigran mati saat menyeberangi laut dari pantai Afrika. Di tempat itu ia mengkritik "globalisasi sikap tidak peduli akibat budaya kenikmatan".

Ia mempersembahkan misa dengan piala kayu, diambil dari perahu rusak yang pernah membawa imigran dari Afrika menuju pulau itu dan banyak yang tidak pernah mencapai tujuan.

Perjalanan beliau ke Afrika mulai 25 November 2015 juga simbolis. Ia mengunjungi negara-negara yang dirundung kemiskinan, konflik dan kekerasan yang berlatar belakang agama. Ia masuk ke daerah konflik dan menyerukan perdamaian. Ia juga mengecam budaya korupsi yang menjadi akar kemiskinan. Inilah perjalanan "peziarah perdamaian dan rasul pengharapan".

Di tengah-tengah kemiskinan, pendewaan uang, korupsi, kekerasan, kerusakan alam, Paus Fransiskus mendorong pembaruan dengan seruan untuk memperdalam pemahaman dan keyakinan bahwa Allah adalah Maharahim, mengalaminya secara pribadi, menjalankan pertobatan dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata. Kalau ini terjadi, pembaruan hidup bersama dalam tataran mana pun terwujud.

Wajah kerahiman Allah

Pesan Natal bersama yang dikeluarkan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia dengan judul "Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah" adalah pesan pembaruan juga. Umat Kristiani diajak membangun hidup bersama atas dasar iman bahwa kita adalah satu keluarga Allah. Kita hidup bersama sebagai warga negara Indonesia. Kita diajak membangun hidup bersama yang damai, rukun, adil, dan saling menerima dalam keberagaman.

Kita juga hidup bersama sebagai bagian dari umat manusia di Bumi yang sama. Dalam kesadaran ini kita diajak menjaga keutuhan ciptaan. Ajakan ditujukan kepada kita semua untuk mengembangkan spiritualitas keugaharian: hidup sederhana, rela berbagi, berjuang bersama "menentang segala sistem yang menghalangi serta mengurangi hak orang lain untuk memperoleh kecukupan hidup".

Kalau itu semua dapat diwujudkan, dalam skala sekecil apa pun, pribadi kita, keluarga dan masyarakat kita akan menjadi cermin wajah kerahiman Allah.

Kamis, 25 Desember 2014

Natal dan Spiritualitas Keterlibatan

Natal dan Spiritualitas Keterlibatan

I Suharyo  ;  Uskup Keuskupan Agung Jakarta
KOMPAS,  24 Desember 2014

                                                                                                                       


YESUS  lahir ketika Herodes berkuasa di wilayah Yudea. Herodes disebut ”Agung” meskipun perilakunya sebagai penguasa sama sekali tidak agung.
Istri dan beberapa anaknya dibunuh karena dicurigai akan merongrong dan berbahaya bagi kekuasaannya. Sekian banyak orang lain dihilangkan karena alasan yang sama. Dalam rangkaian itu pula, ia memerintahkan pembunuhan anak-anak yang berusia di bawah 2 tahun, termasuk di dalamnya Yesus, seperti tersua dalam Injil Matius.

Belum cukup berkuasa dengan teror, rakyat ditindas dengan pajak yang mesti dibayarkan untuk memenuhi ambisinya melakukan pembangunan besar-besaran, termasuk Bait Suci untuk mengambil hati rakyatnya. Akan tetapi, tetap saja ia ditolak dengan berbagai alasan yang lain.

Ketika ia meninggal, kerajaannya diwariskan kepada tiga anaknya. Salah satunya bernama Arkhelaus yang mendapat bagian wilayah Yudea dan Samaria. Ternyata Arkhelaus tak mampu mengendalikan rakyat yang tetap merasa tak puas. Oleh karena itu, Pemerintah Romawi melengserkannya. Sejak itu wilayah Yudea dan Samaria diperintah oleh seorang wali negeri Romawi.

Itulah awal dari pemerintahan Romawi langsung atas wilayah tersebut, awal pergolakan-pergolakan besar yang memuncak pada dihancurkannya kota Jerusalem pada 70 M. Di tengah- tengah hiruk-pikuk kehidupan inilah Yesus lahir, bertumbuh, dan pada waktunya tampil di depan umum.

Dalam keadaan seperti itu rakyat merasa tak berdaya, bahkan putus asa. Mereka menyebut diri sebagai bangsa terpilih, dibawa masuk ke tanah terjanji yang mengalirkan susu dan madu. Namun, kenyataan—sosial, politik, ekonomi, religius—amat jauh dari yang diharapkan. Dengan sendirinya muncul penafsiran-penafsiran atas janji itu. Hasilnya adalah harapan yang kian kuat akan datangnya tokoh hebat yang mereka sebut Mesias. Kedatangan Mesias akan mengakhiri zaman yang berat ini dan akan membuka zaman baru. Ada pula kepercayaan yang didasarkan pada keyakinan bahwa Nabi Elia akan datang kembali sebagai tanda datangnya zaman baru itu.

Harapan ini antara lain bermuara pada gerakan kerohanian baru dalam bentuk hidup bertapa, menyepi di padang gurun, menarik diri dari dunia ramai sambil menantikan Mesias dengan cara hidup khusus.

Yohanes Pembaptis ikut dalam gerakan kerohanian baru ini meskipun ia tidak menarik diri dari dunia ramai dan menjalani hidup secara khas. Rupanya gerakan Yohanes ini menarik perhatian banyak orang. Maka, orang-orang bertanya, ”Siapakah engkau?” Yohanes menjawab, ”Aku bukan Mesias.” Mereka bertanya lagi, ”Apakah engkau Elia?” Yohanes menjawab, ”Bukan.” Selanjutnya ia mengatakan, ”Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”

Hidup beriman baru

Secara tersurat Yohanes tampaknya hanya menyangkal bahwa dirinya bukan Mesias dan bukan Elia. Namun, di balik itu ada kritik tajam terhadap penghayatan keagamaan yang lazim sampai saat itu. Tersirat pula ajakan untuk mengembangkan pola hidup beriman yang baru. Seakan-akan Yohanes mengatakan, tinggalkan model hidup keagamaan yang lama, mulailah yang baru.

Kebaruan itu berakar pada ”Dia yang tidak kamu kenal”, yaitu Dia yang menjelma menjadi manusia (inkarnasi). Dalam bahasa teologi Kristiani sekarang, semangat hidup  beriman yang baru ini disebut spiritualitas inkarnatoris, yang dapat disebut juga spiritualitas keterlibatan.

Spiritualitas keterlibatan memiliki sekurang-kurangnya tiga ciri. Ciri pertama adalah kontemplasi. Kontemplasi membuat mata hati semakin tajam dan nurani semakin peka terhadap berbagai peristiwa dan pengalaman hidup. Kontemplasi juga mendorong orang untuk tidak pernah puas dengan keadaan nyaman dan puas diri. Melalui kontemplasi, suara dan kehendak Allah didengar dan dilihat dalam kenyataan hidup yang riil.

Akan tumbuh dan berkembang pula kompetensi etis bela rasa yang mendorong orang untuk terlibat dalam hiruk-pikuk kehidupan dunia dan mengajukan pertanyaan yang tidak akan pernah selesai dijawab, ”Apa yang harus kita lakukan agar lingkungan kita menjadi semakin manusiawi?”

Ciri kedua adalah kecerdasan budi yang terasah. Dunia kita, sebagaimana dunia yang dimasuki oleh Yesus, tidak pernah merupakan realitas sederhana. Sebaliknya realitas itu semakin lama semakin kompleks, terdiri antara lain dari berbagai sistem yang dibangun dan mempunyai dinamikanya sendiri.

Dinamika itu dapat dengan mudah bermuara pada struktur yang tidak adil, yang dalam bahasa sehari-hari disebut mafia. Sistem-sistem serta struktur- struktur itu semakin memaksakan tuntutannya dan mempertahankan diri dengan kekerasan. Diperlukan kecerdasan yang terasah, keberanian,  dan kerja sama untuk mengurainya dan menawarkan jalan keluar.

Ciri ketiga adalah gerakan, sebagai muara kontemplasi dan kecerdasan. Yohanes mengajak pengikutnya melakukan gerakan pembaruan hidup amat nyata, yang terarah pada tata hidup bersama yang semakin adil. Yesus pun pada titik tertentu dalam hidupnya mulai mengaruskan gerakan Kerajaan Allah dengan mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera.

Harapan untuk Indonesia

Laporan akhir tahun yang dimuat Kompas setiap hari selama beberapa hari (15-23 Desember) dan beberapa hari selanjutnya menceritakan dan menelaah berbagai gerakan yang memberikan harapan untuk Indonesia yang semakin berkeadilan, berkeadaban, dan sejahtera.
Laporan itu mencerminkan nurani yang jernih, budi yang cerdas, dan keterlibatan yang tidak kenal lelah. Perayaan Natal mewajibkan umat Kristiani untuk mengembangkan spiritualitas keterlibatan karena Allah sendiri telah menunjukkan keterlibatan-Nya dalam hidup manusia dengan segala realitasnya yang amat kompleks dalam peristiwa kelahiran Yesus.

Selamat hari raya Natal dan selamat Tahun Baru 2015.

Sabtu, 19 April 2014

Transformasi Kehidupan

Transformasi Kehidupan

I Suharyo  ;   Uskup Keuskupan Agung Jakarta
KOMPAS, 19 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
PADA tahun ini umat Kristiani di Indonesia merayakan Paskah ketika bangsa Indonesia menjalani tahun politik. Kita semua berharap bahwa dengan terpilihnya para wakil rakyat yang baru dan pemimpin pemerintahan yang baru, bangsa Indonesia mampu masuk ke dalam dinamika baru transformasi kehidupan religius, sosial, budaya, politik, dan ekonomi menuju terwujudnya cita-cita bersama sebagai bangsa.

Pesan Paskah adalah pesan pembaruan, transformasi seluruh segi kehidupan manusia. Demi transformasi itulah Yesus akhirnya dihukum mati. Pada zamannya ada ribuan orang yang dijatuhi hukuman mati di salib karena dituduh melawan pemerintahan penjajah.

Apakah itu berarti bahwa Yesus pun dituduh merencanakan pemberontakan melawan penjajah? Ada alasan yang bisa membuat orang berpikir seperti itu. Salah seorang muridnya yang bernama Simon disebut orang Zelot. Kaum Zelot dikenal sebagai kelompok yang, dengan alasan politik-keagamaan, terus melakukan perlawanan bersenjata untuk mengusir penjajah. Akan tetapi, rupanya bukanlah alasan ini yang membawa Yesus pada kematian.

Dalam pengadilan, Pilatus yang mewakili pemerintah penjajah menyatakan, seperti yang tersua dalam Injil Lukas, ”Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini.”

Kemerdekaan yang sejati

Sebagai bagian dari bangsanya yang sedang dijajah, Yesus mendambakan kemerdekaan yang sejati, yang jauh lebih utuh daripada kemerdekaan dari penjajahan. Kerinduan akan kemerdekaan itu diungkapkan dalam berbagai madah, sebagaimana yang dapat kita baca dalam Injil Lukas : kelepasan, pembebasan, keselamatan dari musuh dan orang yang membenci agar bebas dari tangan musuh dan dapat beribadah tanpa takut.

Untuk sampai pada kemerdekaan yang sejati itu, Ia mengajak masyarakatnya melihat dan membaca tanda-tanda zaman. Tanda-tanda zaman jelas menunjukkan bahwa bangsanya sedang menuju kehancuran: bait Allah akan dihancurkan, kota suci akan runtuh.

Dalam kegalauan melihat masa depan itu, Yesus berkata, ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu.”

Alasan dasar yang membuat sejarah bangsanya menuju kehancuran adalah karena kelompok-kelompok di dalam bangsanya menganut dan memaksakan agama yang tanpa belas kasih. Keyakinan keagamaan seperti itu menindas dan berdampak buruk pada seluruh segi kehidupan, sosial, politik, dan ekonomi.

Kelompok Zelot, karena merasa harus menjaga hukum Allah, sampai hati membunuh saudara-saudara sebangsanya yang mereka anggap tidak setia pada hukum. Mereka ingin mengikuti contoh Pinehas, seperti yang terungkap dalam Kitab Bilangan, yang setelah membunuh saudara sebangsanya dipuji karena semangat keagamaannya. Rasa benci kelompok Esseni terhadap orang yang bukan dari kelompoknya juga didorong rasa keagamaan.

Demikian juga kelompok Farisi menyebut saudara-saudara sebangsa terkutuk, sebagaimana yang tercatat dalam Injil Yohanes, karena fanatisme keagamaan. Dengan kata-kata dan tindakan-tindakannya, Yesus mempertanyakan serta menjungkirbalikkan pendapat dan pelaksanaan hidup beragama umum yang dianggap benar dan adil itu. Ia menyatakan bahwa agama seperti itu tidak menyatakan belas kasih Allah dan, oleh karena itu, bertentangan dengan hakikat agama itu sendiri. Itulah sebabnya Yesus sering bertengkar dengan para pemimpin agama pada waktu itu.

Dengan kata lain, alasan awal yang membawa Yesus pada kematian adalah kritiknya terhadap agama yang sudah menjadi beku tanpa belas kasih. Yesus ingin mentransformasi kehidupan dengan mencairkan kembali agama yang beku itu dengan mengembalikan belas kasih yang menjadi hakikatnya karena Allah adalah Kasih. Demi dan dalam kasih itulah ia rela mati di salib dan, dengan demikian, menyatakan Allah Sang Kasih.

Agama yang diperalat

Selama hidupnya di depan umum Yesus sering bertengkar dengan orang-orang Farisi dan para ahli Kitab. Namun, ternyata pada akhirnya yang paling depan menuntut kematiannya adalah para imam. Mewakili mereka, Kayafas mengatakan bahwa lebih berguna satu orang mati untuk seluruh bangsa. Mereka adalah kelompok keagamaan yang mempunyai tanggung jawab khusus di bait suci. Rupanya tugas suci itu pun dijadikan kesempatan mengeruk untung dengan monopoli dagang hewan korban dan penukaran uang di bait suci. Lagi-lagi agama yang suci direndahkan dan disalahgunakan menjadi alat dagang dengan memanipulasi kebaktian dan kesalehan orang.

Berhadapan dengan ini, untuk memulihkan kemuliaan agama Yesus tidak hanya berkata-kata, tetapi juga melakukan tindakan yang dianggap menyerang kepentingan mereka, yaitu menyucikan bait suci. Karena itulah, seperti tersua dalam Injil Matius, ia harus mati.
Menjelang pemilu legislatif, Konferensi Waligereja Indonesia mengeluarkan Surat Gembala menyambut Pemilu Legislatif 2014. Salah satu anjuran pokok yang disampaikan adalah agar para pemilih menjatuhkan pilihannya kepada calon atau partai yang jelas menjaga dan berjuang mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan memilih orang serta partai yang jelas dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai Pancasila, kita berharap agar pemimpin dan kekuatan politik yang terpilih memastikan bahwa keimanan kita akan Tuhan Yang Maha Esa menjadi daya transformatif bagi seluruh segi kehidupan yang dirumuskan dalam keempat sila yang lain. Kalau ini terjadi, dalam keyakinan iman Kristiani, inilah makna Paskah yang nyata dalam kehidupan bangsa. Selamat Paskah.

Senin, 24 Desember 2012

Semakin Beriman, Semakin Berbelarasa


RENUNGAN NATAL
Semakin Beriman, Semakin Berbelarasa
I Suharyo ;  Uskup Keuskupan Agung Jakarta
KOMPAS, 24 Desember 2012



Sering terdengar pertanyaan seperti ini: ”Banyak tempat ibadah dibangun, ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan di negeri kita ini pun tampak semakin semarak. Namun, mengapa korupsi tidak semakin surut, kekerasan semakin sering terjadi, masyarakat terkesan semakin mudah terpecah belah?”

Pertanyaannya jelas, tetapi tentu tidaklah mudah memberikan jawaban yang memadai karena di balik pertanyaan itu tersembunyi realitas yang amat kompleks.
Sekurang-kurangnya, salah satu akar dari masalah itu ialah indikatif iman yang tampak dalam ibadah-ibadah belum melahirkan imperatif moral yang seharusnya terwujud dalam pola pikir dan perilaku yang mulia.

Kalau dibaca dengan kacamata Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa belum cukup memajukan kemanusiaan yang adil dan beradab. Belum kokoh mendasari persatuan Indonesia. Belum menjiwai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Belum menjadi kekuatan yang mendorong orang untuk memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Padahal, iman akan Tuhan Yang Maha Esa seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap dan semua warga bangsa untuk semakin kreatif menciptakan berbagai mediasi agar terjadi transformasi sosial demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.

Pesan Natal

Pada hari ini umat Kristiani merayakan Natal, hari kelahiran Yesus. Di tengah-tengah bahaya komersialisasi Natal yang dapat menjadikan perayaan ini dangkal dan hampa makna, umat Kristiani perlu bertanya, imperatif moral apakah yang mesti disambut agar perayaan Natal menjadi semakin bermakna dan berdaya untuk memperbarui kehidupan.

Makna dan daya ini ditentukan pula oleh pemahaman iman yang memadai mengenai, apakah yang sebenarnya terjadi dengan kelahiran Yesus.

Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Kristiani untuk merayakan Natal dengan keyakinan iman bahwa dalam peristiwa kelahiran Yesus, Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia.

”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Keyakinan iman bahwa Allah adalah kasih merupakan buah dari kontemplasi yang membuat orang menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan matang serta siap menyambut imperatif moral dari iman yang dipeluknya.

Imperatif Moral

Pentingnya keyakinan iman bahwa Allah adalah kasih ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI. Pada 25 Desember 2005, ia mengeluarkan ensikliknya yang pertama, yang berjudul ”Deus Caritas Est” atau ”Allah adalah Kasih”. Ensiklik ini pertama, bukan hanya dalam arti urutan pada daftar tulisan Paus Benediktus XVI.

Dengan menulis ensiklik ini sebagai yang pertama, Paus ingin memberikan perspektif karya penggembalaannya di dalam gereja. Paus ingin menempatkan semua yang ia pikirkan, lakukan, putuskan—semua karya penggembalaannya—dalam rangka mewartakan bahwa Allah adalah kasih.

Dengan demikian, ia berharap berkembanglah budaya kasih atau budaya hidup di tengah-tengah umat Kristiani pada khususnya dan di tengah-tengah dunia pada umumnya.

Mengapa ini begitu penting bahkan menentukan? Jawabannya ada dalam pengantar ensiklik itu. Di dalamnya, antara lain, dikatakan, ”Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini amat aktual dan mengena” (nomor 1).

Kalau ini yang terjadi, yang akan terbangun bukanlah budaya kasih, melainkan budaya kematian, melemah, atau bahkan hancurnya keadaban publik yang tampak dalam berbagai gejala yang merendahkan martabat dan merusak kehidupan bersama.
Imperatif moral yang diharapkan disambut secara khusus oleh umat Kristiani yang merayakan Natal pada tahun ini, dinyatakan pada akhir Pesan Natal Bersama PGI dan KWI.

Umat Kristiani diajak untuk melibatkan diri dalam berbagai usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti konflik kemanusiaan, perilaku intoleran, dan tindakan-tindakan yang menjauhkan semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa.

Peristiwa Natal mewajibkan seluruh umat Kristiani untuk berperan dalam membangun persaudaraan pada tingkatan yang berbeda-beda.

Selain itu, umat Kristiani juga didorong agar terus berkembang dalam semangat belarasa. Dikatakan, ”melalui jabatan, pekerjaan dan tempat kita masing-masing dalam masyarakat, kita ikut sepenuhnya dalam semua usaha yang bertujuan memerangi kemiskinan jasmani ataupun rohani”.

Belarasa bukan hanya tertuju kepada sesama manusia, melainkan juga terhadap alam ciptaan. Ditegaskan, ”... kita dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaan dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam”.

Perilaku tidak bertanggung jawab terhadap alam ciptaan akan menyengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini, melainkan terlebih generasi yang akan datang. Kita sambut ajakan ini dengan semakin kreatif mencari jalan untuk mewujudkannya.

Semoga dengan merayakan Natal tahun ini, kita menjadi semakin beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa. Selamat hari raya Natal dan selamat menyambut Tahun Baru 2013 dengan penuh harapan.