Tampilkan postingan dengan label Ibnu Budiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibnu Budiman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Orang(h)utan

Orang(h)utan

Ibnu Budiman  ;   Volunteer di BOSF
OKEZONENEWS,  18 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
“Mengapa harus selamatkan orangutan?. Sementara masih banyak orang beneran yang lebih butuh untuk diselamatkan”

Sejumlah pertanyaan atau pernyataan sekitar lingkup di atas kembali bertebaran akhir-akhir ini, usai berita tentang Pelepasliaran Orangutan oleh BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation) beberapa waktu yang lalu. Hal ini memang hampir selalu terjadi bagi sebagian orang yang belum cukup paham, di setiap program pelepasliaran yang dilakukan.

Jadi, kenapa harus diselamatkan?.

Orangutan adalah "satwa penyebar biji" di alam dan penghuni serta "pemelihara hutan". Hutan kalau tak ada penghuni tentu kelangsungan hidupnya akan terbatas karena tak ada yang membantu dalam  regenerasi hutan. Orangutan membuang biji-biji buah yang mereka makan dan biji tersebut sering terjatuh di daerah yang tepat. Adalah daerah yang subur dan hanya sedikit memiliki jenis tumbuhan terkait, itulah yang kemudian tumbuh dan membuat hutan terus bertumbuh.

Wahyono (2008) menulis, fakta di lapangan yang telah dilakukan oleh Prof. Galdikas tentang penyebaran biji oleh orangutan menunjukkan bahwa kera merah ini menyebarkan lebih dari 35 jenis tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi penting bagi kehidupan umat manusia. Misalnya, berbagai jenis buah yang belum dibudidayakan, jelutung sumber karet alam sebagai bahan dasar permen karet dan berbagai jenis meranti.

Makhluk hidup yang satu tergantung dengan mahluk hidup yang lain. Bila salah satu musnah maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, musnahnya burung dodo di Kepulauan Mauritus. Dampaknya bagi kehidupan terlihat 100 tahun kemudian, yaitu dengan hilangnya tumbuhan Calvalia major, di mana pertumbuhannya memerlukan bantuan pencernaan burung tersebut.

Orangutan juga mempunyai peranan seperti di atas. Tumbuhan yang dimakan langsung ataupun tidak dibantu oleh orangutan dalam penyebarannya. Ada sebuah percobaan penanaman biji duku hutan yang jatuh langsung dan biji yang berada pada kotoran orangutan. Terbukti bahwa biji yang keluar bersama kotoran orangutan, pertumbuhan kecambahnya lebih cepat daripada yang diambil langsung dari pohon.

Contoh kecil ini dapatlah menjadi sebuah illustrasi, bahwa suatu tumbuhan memerlukan sebuah media untuk tumbuh. Benalu akan cepat tumbuh bila melalui pencernaan burung Prenjak dan sulit untuk tumbuh bila ditanam langsung dari biji yang diambil dari pohon tersebut. Masih banyak contoh kejadian alam semacam itu, satu sama lain saling menggantungkan untuk pertumbuhan.

Hutan yang lestari dan terus bertumbuh, inilah yang dibutuhkan manusia, kita. Hutan yang menyediakan sumber penghidupan yang bermanfaat dan udara yang bersih. Ini juga yang akan melindungi kita dari ancaman bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Hutan yang lestari melindungi tanah dari bahaya erosi yang menghilangkan lapisan tanah yang subur.

Singkatnya, menyelamatkan orangutan ialah demi kelestarian hutan dan hutan demi kelestarian manusia atau orang beneran. Dan apa kabar kondisi sang pemelihara hutan tersebut dan penyelamatannya hari ini?

Orangutan, satu-satunya great ape yang ada di Asia ini, hanya tersisa 55.000 individu di Sumatera dan Borneo (BOSF, 2009). Jumlah ini sudah dikategorikan sudah "sangat terancam punah" untuk Sumatera dan "langka" untuk Borneo. Sejumlah penyebabnya adalah; tekanan populasi penduduk yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan, pembakaran hutan, pertambangan, deforestasi, dan perburuan. Semua ini semakin menjadi-jadi juga dikarenakan lemahnya penegakan hukum terkait hal ini. Sementara Hutan Sumatera dan Borneo termasuk ke dalam bagian besar dari paru-paru dunia.

Sebenarnya sejak 1991, pemerintah sudah mendirikan Proyek Konservasi Orangutan di Balikpapan di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan. 1994, lalu terbentuklah Perhimpunan Pecinta Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Society). 1998, komunitas tersebut kemudian berubah menjadi: Yayasan Penyelamatan Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Survival Foundation).

1999, akhirnya berkat bantuan Lone Droscher-Nielsen, aktifis konservasi asal Denmark. Yayasan Penyelamatan Orangutan Balikpapan diresmikan dan menandatangani MoU dengan Dirjen PHKA, Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 2003, barulah kemudian nama BOSF digunakan. Lima belas tahun beroperasi BOSF sudah melepasliarkan lebih dari 200 individu orangutan sejak tahun 2009. Saat ini BOSF merehabilitasi sekira 500 individu orangutan yang diperoleh dari sejumlah sumber; dari kebakaran hutan, peliharaan manusia, hingga tangkapan penyelundupan.

Orangutan pun mulai semakin memiliki masa depan lebih baik. Namun perjalanan ini tetap tak mulus. Tetap ada beberapa pihak oknum berseragam ‘kepentingan’. Oknum pemerintah yang mestinya punya tanggung jawab utama dalam konservasi, malah berbuat ulah yang mengganggu proses rehabilitasi orangutan.

Juga tentang pendanaan, rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk hal ini relatif kecil dibanding donasi dari berbagai penjuru dunia yang terkumpul. BOSF membuka cabang di sejumlah Negara-negara Eropa, Asia, dan Australia untuk penggalangan dana.

Tentu, pemerintah mempunyai skala prioritas dalam penyusunan anggaran. Konservasi masih berada di peringkat bawah dalam prioritas itu. Tapi setidaknya dengan sudah didukung NGO, mestinya ikut pemerintah mendukung sepenuhnya hal ini, bukan setengah-setengah, apalagi acuh dan sampai malah menghambat. Adalah konflik kepentingan dengan Dinas Pariwisata salah satunya yang terjadi hari ini.

Dinas pariwisata menginginkan area yang menjadi tempat rehabilitasi orangutan sebagai objek wisata, sementara hal ini sangat bertentangan dengan objektif rehabilitasi yang bertujuan mengurangi seoptimal mungkin interaksi orangutan dengan manusia, agar mereka siap untuk dilepasliarkan. Terlihat disini ada miskoordinasi antar elemen dalam pemerintahan. Hal-hal semacam inilah yang masih menjadi kerikil dalam penyelamatan sang pemelihara hutan.

Jika orang beneran-nya malah terus menebar kerikil, maka orangutan-lah memang yang pantas diselamatkan.

Jumat, 08 November 2013

Topeng-Monyet

Topeng-Monyet
Ibnu Budiman  ;  Caraka Muda Indonesia di Kanada
OKEZONENEWS, 07 November 2013



Alangkah kaya warna-warni budayanya, first nation yang berjuang di atas tanah sendiri, dan konon ia adalah negara kepulauan terbesar atau mungkin juga terindah di dunia; kita panggil ia, Indonesia.

Berabad-abad sudah kebudayaan peradaban ini hidup dan berjuang untuk terus hidup. Salah satu kebudayaan yang giat diceriterakan ke berbagai penjuru dunia ialah kesenian. Ragam kesenian, meliputi tari, musik, teater, hingga aneka jenis lainnya.

Sejumlah kesenian tersebut dibawakan tidak hanya oleh orang-orang Indonesia dari segala umur, bahkan juga warga negara asing pun ikut membantu menyebarluaskan. Mereka mempelajarinya, sampai dengan membuka program khusus di universitas untuk menekuni hal tersebut. Begitu seriusnya mereka mencari tahu tentang suatu budaya; suatu produk peradaban yang mengandung ‘nilai’.

Nilai, ya semua macam kesenian yang dipromosikan tersebut sesungguhnya mengandung nilai dasar yang mempengaruhi tumbuh kembangnya peradaban tersebut. Terdapat ‘arti’ yang mendewasakan tata tutur hingga pola pikir mereka. Namun, apakah semua hal ini cukup dipahami oleh para promotornya; mereka yang mempromosikan?.

Not really, inilah jawaban yang sering keluar dari sebagian mereka. Ada beberapa tafsiran dari jawaban tersebut. Pertama, bisa jadi mereka cukup sedikit memahami secara umum makna dan nilai dari kesenian tersebut. Kedua, jawaban tersebut bisa jadi sebagai tameng agar si penanya tidak bertanya lebih banyak lagi, karena jika ditanya bisa jadi ia tidak tahu apa-apa soal nilainya.
 
Itulah sebagian mereka, kita tetap mengapresiasi dan berterima kasih kepada mereka karena telah bersemangat meluaskan salah satu produk kebudayaan bangsa, Indonesia. Tapi kita akan lebih bangga lagi jika mereka juga memahami dengan baik makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam ragam kesenian yang mereka mainkan.

Pemahaman kemudian akan membawa pada kesadaran pengakuan atas nilai-nilai tersebut. Berikutnya, diharapkan nilai-nilai tersebut masuk dan melekat dalam identitas pribadi, akhirnya menjadi karakter; membentuk ciri ke-Indonesiaan.

Beberapa yang terjadi hari ini ialah; sebagian penggiat kesenian Indonesia yang sering bertandang ke berbagai penjuru dunia dan bertemu kebudayaan baru di sana, tergiring dan bahkan larut oleh budaya pop di sana. Akibat dari mereka kurang atau bahkan tidak paham akan nilai dari budaya yang mereka bawa, sehingganya kesenian tersebut hanya jadi topeng bagi mereka.
 
Topeng, yang dipakai hanya ketika show dan hanya berarti sebagai properti yang tak melekat dengan diri. Di luar show, mereka tidak hidup dengan nilai dari produk budaya tersebut, mereka hidup dengan nilai ‘asing’; diluar budaya asli (seharusnya).

Bukan topeng, bukan hanya menjadi topeng mestinya semua kesenian yang mereka mainkan. Menjadi pakaian inti, itulah hendaknya cara memperlakukan makna dari kesenian tersebut. Pakaian yang ketika ia dilepaskan, maka akan memberi malu bagi pemakainya. Karena itu, ia selalu dipakai kemana pun badan berjalan. Hal ini juga kelak yang menjadikan ia ‘unik’ dan berbeda. Memahami  dengan baik apa makna, nilai dari produk budaya; bisa menjadi nilai tambah bagi perkembangan life skill individu.

Penggiat kesenian harusnya bukan sekadar menjadi penghibur yang menebar hiburan kosong dan hampa. Tak hanya saja menjual gerakan dan harmonisasi nada, gerak, warna, dan kemasan luar lainnya. Itu hanya hiburan semu yang punya daya tahan lemah terhadap godaan hiburan lainnya yang dinamis dan bisa jadi lebih menarik. Hiburan semu tersebut kering, dan akan hilang sampai lenyap dengan cepat.

Itulah, salah satu penyebab banyak budaya asli Indonesia lekas lenyap. Krisis pemahaman akan nilainya oleh si pemilik budaya. Ditambah pula serbuan budaya asing yang marak dengan kekuatan kapitalnya, lumpuh sudah budaya tua itu. Tinggallah beberapa orang yang masih mencoba memperjuangkannya, namun masih agak terlunta-lunta, kurang berkekuatan ‘nilai’.

Maka bagi para pejuang nilai-nilai ke-Indonesiaan, mari coba ketahui lebih dalam makna kebudayaan tersebut. Yakinlah ketika kita mampu menemukannya, itu akan melekat menjadi sebuah pembelajaran budaya yang sesungguhnya, yang ber’nilai’. 

Dalam skala yang lebih besar, panjang, dan luas, ini akan mampu menjadi sebuah cultural understanding; memperkaya nilai pemahaman atas ragam budaya. Lebih luas lagi, usaha di atas akan memicu mutual understanding antarkebudayaan. Ini berarti semakin mendekatkan kepada perdamaian; harmonisasi peradaban, lebih dari sekadar harmonisasi nada, gerak, dan warna.

Itulah cita-cita besar jauh di depan sejatinya yang mampu diraih oleh para penggiat promosi kesenian asli, jika mampu benar-benar memahami nilai yang terkandung di dalam kesenian tersebut dan melekatkannya menjadi identitas yang dibanggakan.

Namun, jika mereka tak kunjung berniat memahami ke arah tersebut dan terus hanya berjingkrak kosong. Maka kita khawatir, suatu hari beberapa orang akan menyebut mereka tak jauh berbeda layaknya topeng monyet, bertopeng dan hanya bertugas sebagai penghibur yang mencari bayaran dan tepuk tangan.

Jika beberapa waktu lalu santer berita tentang pelarangan topeng monyet oleh seorang kepada daerah di suatu provinsi, karena alasan eksploitasi binatang. Maka jangan sampai suatu hari nanti akan keluar berita pelarangan promosi kesenian dengan alasan ekploitasi manusia.

Sebelum kegilaan itu terjadi, mari mengenal lebih dalam kebudayaan kita. Sungguh banyak nilai kearifan yang terkandung dan bisa menjadi modal berharga bagi keberlangsungan peradaban. 

Kamis, 21 Februari 2013

Geopolitik PKS


Geopolitik PKS
Ibnu Budiman Anggota Forum Indonesia Muda
REPUBLIKA, 20 Februari 2013

Artikel dengan judul yang sama pernah dimuat di SINAR HARAPAN 15 Februari 2013


Beberapa saat setelah mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq diboyong KPK dengan status tersangka dalam kasus suap kuota impor daging sapi, jutaan kader PKS di berbagai daerah di Indonesia pun langsung bereaksi. Ada beraneka macam jenis reaksi.
Dari berbagai reaksi yang muncul, yang paling menarik adalah reaksi dari sejumlah kader muda PKS yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Mereka yang masih menyandang amanah di berbagai organisasi intra maupun ekstra di sekolah atau kampusnya masing-masing ini menunjukkan militansinya sebagai kader yang begitu mencintai PKS dengan melakukan pembelaan ha bis-habisan. 

Justifikasi bertubi-tubi di berbagai media sosial dan fitur internet lainnya yang membela LHI dan PKS pun terus berdatangan dari para kader muda tersebut. Justifikasi dari para kader muda tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan-pernyataan, poster-poster, artikel-artikel di berbagai media sosial, hingga pembuatan grup facebook yang menyatakan dukungan terhadap LHI dan pembelaan terhadap PKS. 

Hal ini menunjukkan bahwa kaderisasi PKS yang masuk melalui penetrasi ke berbagai organ intrasiswa dan mahasiswa di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, ternyata berjalan sangat sukses. Daerah-daerah yang sukses tersebut, di antaranya Depok, Bandung, Banten, Semarang, Yogyakarta, Padang, Medan, serta Aceh. Di sejumlah daerah tersebut, terdapat perguruan tinggi-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah dengan kualitas pendidikan relatif baik di Indonesia.

Daerah-daerah di atas menjadi lumbung kader muda PKS. Selain di daerah- daerah tersebut, di berbagai daerah lainnya, seperti Jawa Timur, Lampung, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan hingga Maluku, PKS juga tengah gencar melakukan penetrasi untuk menjaring pemuda-pemuda kelas menengah menjadi kader-kadernya.

Selanjutnya, usai justifikasi terhadap LHI mereda, topik pengangkatan Anis Matta sebagai pengganti LHI menjadi presiden PKS pun kembali meramaikan nama PKS di seantero Indonesia. Siapa yang meramaikan topik ini? Mereka kembali datang dari daerah-daerah di atas yang menjadi lumbung kader muda PKS. Hal ini juga ditunjukkan oleh sejumlah kader muda PKS yang membanjiri media sosial dengan pernyataan-pernyataan dukungan terhadap Anis Matta, bahkan hingga memasang foto Anis Matta menjadi foto profil dalam akun media sosialnya. Pembuktian bahwa daerah-daerah tersebut sebagai lumbung kader muda PKS semakin terbukti setelah Anis Matta menentukan daerah-daerah yang menjadi tujuan safari dakwahnya. 

Dalam melancarkan aksi justifikasinya, para kader muda PKS dibantu oleh keberadaan sejumlah media massa partisan yang dimiliki PKS. Media massa partisan inilah yang mencoba melawan arus serangan media massa besar lain yang seolah anti-PKS. Media massa partisan ini bukan hanya ada di tingkat nasional, beberapa media massa lokal juga terlihat memiliki haluan yang sama.

Beberapa media massa tersebut bertempat di daerah-daerah yang hampir sama dengan daerah-daerah yang disebutkan di atas sebagai lumbung kader muda PKS. Daerah-daerah tersebut, di antaranya Semarang, Solo, kawasan pantura, Muria, Banyumas, Kedu, hingga Jember. 

Sejumlah media massa partisan itu dalam memberitakan PKS terlihat membentuk pola berbeda dengan sebagian besar media massa lainnya. Jika dilakukan penelusuran terhadap semua berita yang terkait PKS di media itu, akan didapatkan berita-berita yang cenderung memberikan pembelaan dan berita-berita positif tentang PKS. Sejumlah berita-berita inilah yang kemudian gencar disebarluaskan oleh para kader muda PKS yang aktif di berbagai media jejaring sosial.

Dalam studi geografi politik, ada teori geopolitik heartland dan rimland.
Heartland sebagai daerah yang menjadi jantung kekuatan dari gerakan politik dan rimland sebagai daerah yang menjadi perluasan ruang gerak kekuatan dari heartland tadi. Pola menarik yang terlihat dari multiplier effect kasus LHI menggambarkan heartland dan rimland PKS saat ini di Indonesia.

Peristiwa sebelumnya yang juga memicu terlihatnya heartland dan rimland PKS adalah momentum Pemilu 2009. Dari pemilu tersebut terlihat PKS meraih suara signifikan di Sumatra, sebagian besar Jawa, hingga beberapa daerah di Kalimatan dan Sulawesi. Hal ini mengindikasikan bahwa heartland PKS ketika itu berada di Sumatra dan sebagian Jawa bagian barat. Kemudian, rimland-nya berada di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara, dari kasus LHI sekarang terlihat terjadi perubahan geopolitik PKS. Heartland PKS saat ini semakin luas hingga mencakup daerah-daerah yang dahulunya menjadi rimland-nya pada 2009. Daerah tersebut, antara lain, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Otomatis ini membuat rimland- nya pun semakin melebar hingga ke daerah Indonesia timur.

Dilihat dari daerah-daerah di atas, tampak ada sebuah karakteristik daerah yang menjadi sasaran perluasan geopolitik PKS, yaitu daerah-daerah yang memiliki perguruan tinggi dengan kualitas relatif baik di Indonesia. Pasar PKS yang menjaring kader-kader muda dari kelas-kelas menengah terdidik membuat daerah-daerah tersebut pun menjadi geostrategi PKS dalam menentukan geopolitiknya.

Masa Depan PKS

Penjaringan kader muda di daerah-daerah adalah geostrategi bawah tanah PKS yang paling sukses dibanding berbagai parpol lainnya di Indonesia. Jumlah kader muda ini diduga sudah mencapai jutaan di Indonesia. Mereka dirancang dari sekarang untuk menjadi pemimpin-pemimpin di daerah.

Kasus LHI yang menghancurkan citra PKS saat ini di mata publik secara umum, tidak berpengaruh terlalu besar terhadap kesetiaan para kader muda.

Sistem kaderisasi doktrin melalui sistem kelompok-kelompok sel di PKS membuat militansi mereka menjadi sangat kuat. Hal ini dibuktikan dari penyangkalan dan justifi kasi yang dilakukan oleh hampir seluruh dari mereka. Meski untuk 2014 kasus ini mungkin berdampak terhadap elektabilitas PKS di publik, PKS menyimpan amunisi masa depan untuk mewujudkan visi mereka. ●

Sabtu, 16 Februari 2013

Geopolitik PKS


Geopolitik PKS
Ibnu Budiman  Anggota Forum Indonesia Muda
SINAR HARAPAN, 15 Februari 2013


Di tengah ombang-ambing eksistensi PKS yang tengah menjadi bulan-bulanan berbagai pihak akibat kasus korupsi impor daging sapi yang menimpa kader terbaiknya, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), muncul sebuah pola menarik yang menggambarkan kekuatan geopolitik PKS di berbagai daerah di Indonesia.

Reaksi Kader Muda

Ketika beberapa saat setelah LHI diboyong KPK dengan berstatus tersangka dalam kasus korupsi impor daging sapi, jutaan kader PKS di berbagai daerah di Indonesia langsung bereaksi. Ada beraneka macam jenis reaksi, mulai dari reaksi menyangkal tuduhan tersebut, menyalahkan pihak lain dengan menyebut kasus ini sebagai konspirasi, menyerahkan kepada KPK, hingga setuju dengan aksi KPK dan mulai meragukan kredibilitas citra PKS sebagai partai dengan slogan bersih.

Dari berbagai reaksi yang muncul, yang paling menarik adalah reaksi dari sejumlah kader muda PKS yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah mereka yang masih menyandang amanah di berbagai organisasi intra maupun ekstra di sekolah atau kampusnya masing-masing ini, menunjukkan militansinya sebagai kader yang begitu mencintai PKS dengan melakukan pembelaan habis-habisan. Justifikasi bertubi-tubi di berbagai media sosial dan fitur internet lainnya yang membela LHI dan PKS pun terus berdatangan dari para kader muda tersebut.

Justifikasi dari para kader muda tersebut terlihat dari sejumlah pernyataan-pernyataan, poster-poster, artikel-artikel di berbagai media sosial, hingga pembuatan grup di Facebook yang menyatakan dukungan terhadap LHI serta pembelaan terhadap PKS.
Hal ini menujukkan bahwa kaderisasi PKS yang masuk melalui penetrasi ke berbagai organ intra siswa dan mahasiswa di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, ternyata berjalan sangat sukses.

Daerah-daerah yang sukses tersebut antara lain adalah Depok, Bandung, Banten, Semarang, Yogyakarta, Padang, Medan, serta Aceh. Di sejumlah daerah tersebut terdapat sejumlah perguruan tinggi-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah dengan kualitas pendidikan relatif baik di Indonesia.

Daerah-daerah di atas menjadi lumbung kader muda PKS. Selain di daerah-daerah di atas, di berbagai daerah lainnya, seperti Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan hingga Maluku, juga tengah gencar penetrasi yang dilakukan oleh PKS untuk menjaring pemuda-pemuda kelas menengah untuk menjadi kader-kadernya.

Selanjutnya, usai justifikasi terhadap LHI mereda, topik pengangkatan Anis Matta sebagai pengganti LHI menjadi Presiden PKS pun kembali meramaikan nama PKS di seantero Indonesia. Siapa yang meramaikan topik ini? Mereka kembali datang dari daerah-daerah di atas yang menjadi lumbung kader muda PKS.

Hal ini juga ditunjukkan oleh sejumlah kader muda PKS yang membanjiri media sosial dengan pernyataan-pernyataan dukungan terhadap Anis Matta, bahkan hingga memasang foto Anis Matta menjadi foto profil di akun media sosialnya.

Pembuktian bahwa daerah-daerah tersebut sebagai lumbung kader muda PKS semakin terbukti setelah Anis Matta menentukan daerah-daerah yang menjadi tujuan safari dakwahnya. Anis Matta melakukan safari dakwah ke Jawa Barat, Sumatera Utara, hingga Yogyakarta.

Dalam melancarkan aksi justifikasinya, para kader muda PKS dibantu oleh keberadaan sejumlah media massa partisan yang dimiliki PKS. Media massa partisan inilah yang mencoba melawan arus serangan media massa besar lain yang seolah anti-PKS. Media massa partisan ini bukan hanya ada di tingkat nasional, beberapa media massa lokal juga terlihat memiliki haluan yang sama.

Beberapa media massa tersebut bertempat di daerah-daerah yang hampir sama dengan daerah-daerah yang disebutkan di atas sebagai lumbung kader muda PKS. Daerah-daerah tersebut antara lain adalah Semarang, Solo, Kawasan Pantura, Muria, Banyumas, Kedu, hingga Jember.

Sejumlah media massa partisan tersebut dalam memberitakan sejumlah pemberitaan seputar PKS terlihat membentuk pola berbeda dengan sebagian besar media massa lainnya.

Jika dilakukan penelusuran terhadap semua berita yang terkait PKS di media tersebut maka akan didapatkan berita-berita yang cenderung memberikan pembelaan dan berita-berita positif tentang PKS. Sejumlah berita-berita inilah yang kemudian gencar disebarluaskan oleh para kader-kader muda PKS yang aktif di berbagai media jejaring sosial.

Heartland-Rimland PKS

Dalam studi geografi politik ada teori geopolitik heartland dan rimland. Heartland sebagai daerah yang menjadi jantung kekuatan dari gerakan politik dan rimland sebagai daerah yang menjadi perluasan ruang gerak kekuatan dari heartland tadi. Pola menarik yang terlihat dari multiplier effect kasus LHI menggambarkan heartland dan rimland PKS saat ini di Indonesia.

Peristiwa sebelumnya yang juga memicu terlihatnya heartland dan rimland PKS adalah momentum Pemilu 2009. Dari pemilu tersebut, terlihat PKS meraih suara signifikan di Sumatera, sebagian besar Jawa, hingga beberapa daerah di Kalimatan dan Sulawesi. Hal ini mengindikasikan bahwa heartland PKS ketika itu berada di Sumatera dan sebagian Jawa bagian barat. Kemudian rimland-nya berada di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi.

Sementara dari Kasus LHI sekarang terlihat terjadi perubahan geopolitik PKS. Heartland PKS saat ini semakin luas hingga mencakup daerah-daerah yang dahulunya menjadi rimland-nya di 2009. Daerah tersebut antara lain adalah Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah. Otomatis ini membuat rimland-nya pun semakin melebar hingga ke daerah Indonesia Timur.

Dilihat dari daerah-daerah di atas, tampak ada sebuah karakteristik daerah yang menjadi sasaran perluasan geopolitik PKS, yaitu daerah-daerah yang memiliki perguruan-perguruan tinggi dengan kualitas relatif baik di Indonesia. Pasar PKS yang menjaring kader-kader muda dari kelas-kelas menengah terdidik membuat daerah-daerah tersebut pun menjadi geostrategi PKS dalam menentukan geopolitiknya.

Kader Muda: Masa Depan PKS

Penjaringan kader muda di daerah-daerah adalah geostrategi bawah tanah PKS yang paling sukses dibanding berbagai parpol lainnya di Indonesia. Jumlah kader muda ini diduga sudah mencapai jutaan se-Indonesia.

Mereka dirancang dari sekarang untuk menjadi pemimpin-pemimpin di daerah dengan cara menjadikan mereka tokoh di kampus-kampus atau sekolah mereka dari sekarang. Inilah geostrategi dari PKS untuk memperluas daerah-daerah yang menjadi geopolitik mereka di Indonesia.

Kasus LHI yang menghancurkan citra PKS saat ini di mata publik secara umum, tidak berpengaruh terlalu besar terhadap kesetiaan para kader muda. Sistem kaderisasi doktrin melalui sistem kelompok-kelompok sel di PKS membuat militansi mereka menjadi sangat kuat, dibuktikan dari penyangkalan dan justifikasi yang dilakukan oleh hampir seluruh dari mereka.

Meski untuk 2014 kasus ini mungkin berdampak terhadap elektabilitas PKS di publik, namun PKS menyimpan amunisi masa depan mereka untuk mewujudkan visi mereka, melalui pergerakan para kader muda yang meng-Indonesia. ●