Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Prof Damardjati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Prof Damardjati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

Damardjati, Sebuah Pencarian

Damardjati, Sebuah Pencarian

Seno Joko Suyono  ;   Wartawan Tempo
TEMPO.CO,  22 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
“Kita harus mati, sebelum mati."  Tak ada lagi yang berbicara demikian di seminar-seminar. Yogya kehilangan sosok uniknya. Prof Dr Damardjati Supadjar meninggal pada usia 72 tahun, Senin lalu. Dia dikenal di forum apa pun, selalu membahas tema dalam perspektif spiritual sinkretis Jawa dan Islam. Banyak yang menganggap cara berpikirnya othak-athik. Tapi justru di situlah letak keotentikannya.

Penampilannya bersahaja. Orang sering melihat Pak Damar melintas di Bulaksumur menyetir sendiri Fiat oranye "balita" (di bawah lima juta). Ia melayani diskusi dari kelompok mahasiswa sampai pengajian ibu-ibu. Metaforanya sering "porno". Kita menjadi tahu mengapa banyak filsuf Jawa menggunakan idiom-idiom erotis untuk menjelaskan konsep perenial seputar manunggaling kawula gusti dan sangkan paraning dumadi.

Nama Damardjati menanjak sepulang belajar di Belanda pada 1980-an. Ia menjadi penasihat Sultan. Disertasi Damardjati di bawah bimbingan filsuf Belanda, Van Peursen, mengenai pemikiran kosmologi Alfred North Whitehead. Betapapun demikian, ia seolah-olah mengatakan bahwa apa yang dimaksud buku utama Whitead, Process and Reality, sesungguhnya sudah implisit ada dalam pemikiran spiritual Jawa. Di UGM sendiri, tempatnya mengajar, ia mendorong mahasiswanya menggali konsep-konsep Ketuhanan dalam berbagai teks Jawa. Bukan hanya pada "kanon-kanon" teks, seperti Wedhatama. Tapi juga dari teks-teks komunitas-komunitas kebatinan kecil.

Tak banyak yang tahu Damardjati adalah Ketua Umum Hardo Pusoro, organisasi kebatinan yang didirikan Ki Kusumowicitro di Kemanukan, Purworejo, pada 1895. Organisasi ini lebih tua daripada Subud, Pangestu, dan Sumarah. Bila kita perhatikan, Damardjati sering mengutip Serat Jati Murti, Serat Madurasa, Serat Kaca Wirangi, dan Wewadining Rasa. Teks-teks itu karangan R. Soejonorejo, murid Kusumowicitro. Seorang mahasiswa bimbingannya juga pernah menulis skripsi tentang konsep ketuhanan Serat Bayanullah karya Panji Natarata-guru  Kusumowicitro.

Bimbingannya yang lain suatu ketika membahas serat Icip Pati (Mengicipi Kematian) karya R. Indrajit Prawira. Tak diketahui siapa Indrajit karena susah memperoleh data biografinya. Tapi, menurut Pak Damar, serat Icip Pati aslinya berhuruf Jawa kuno dan pernah ditranskripsikan ke bahasa Latin oleh Panji Natarata.

Dalam kuliah-kuliahnya, Damardjati juga kerap menyinggung soal pemikir Rusia, Gurdjiev dan Ouspensky, yang dikenal luas dalam kalangan teosofi. Di Belanda, ia membaca buku Ouspensky: Fourth Dimension. Menurut Damardjati, orang Jawa juga merefleksikan dimensi keempat. Maka dari itu, saat seorang mahasiswanya membuat skripsi membahas buku Ouspensky, Tertium Organum, Damardjati gembira. Bagi Ouspensky, evolusi manusia secara fisik sudah selesai. Namun ia percaya masih terbuka kemungkinan evolusi intuisi menuju dimensi yang lebih tinggi.

Pak Damar tak henti-hentinya menganjurkan orang agar melatih kepekaan membaca epifani ayat-ayat alam, sesuatu yang susah, dan, jelas, kita tak tahu bagaimana caranya. Tapi, di tengah hiruk-pikuk politik, Pak Damar seperti oase. Saya sendiri tiba-tiba teringat, ia sering mengutip kata-kata yang tertoreh pada nisan Sosrokartono di Kudus, kakak Kartini: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Tidak tahu adakah di nisan Damardjati di Magelang terpahatkan kalimat-kalimat bijaknya.

Sabtu, 22 Februari 2014

Kearifan Prof Damardjati

Kearifan Prof Damardjati

Munawir Aziz  ;   Alumnus Pascasarjana UGM
TEMPO.CO,  21 Februari 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                                                                                       
Prof Dr Damardjati Supadjar adalah biografi tentang kearifan. Seluruh hidupnya diwakafkan untuk menyelami nilai-nilai Jawa, menyerap filosofinya, dan menyebarkan kepada murid-muridnya. Sebagai orang yang sering ngangsu kaweruh-baik melalui kuliah, seminar, maupun buku-bukunya-saya dan teman-teman UGM sangat merasa kehilangan atas wafatnya pada 17 Februari 2014.

Kisah hidup Pak Damar-begitu panggilan akrabnya-menjadi referensi bagaimana intelektual mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya. Dosen filsafat Universitas Gadjah Mada ini seakan sudah berada pada tahapan begawan, yang hanya ingin menceburkan diri pada ilmu dan memberi pencerahan kepada murid-muridnya. Sebagaimana seorang sufi, Pak Damar mampu mengelola ilmu sebagai jembatan untuk mencerahkan hati, juga jalan menuju Tuhan.

Damardjati kecil lahir di lereng utara Gunung Merbabu, Magelang, pada 30 Maret 1940. Ia tumbuh dalam tradisi kawasan Gunung, yang kaya akan pernik budaya dan kearifan hidup. Inilah fondasi utama Pak Damar dalam mencerap ilmu dan memaknai filsafat. Dari beberapa ceramah dan kuliahnya terakhir, terlihat bahwa Pak Damar mampu mengelola pengetahuan sebagai inspirasi.

Pak Damar juga kaya humor. Lelucon menjadi bingkai inspirasi dan nilai-nilai hikmah yang beliau ajarkan. Ia berujar, "Pencari ilmu itu seperti detektif yang menyelidiki sebuah fakta, gejala, peristiwa, lalu menyampaikan hipotesa, menguji, dan akhirnya menemukan hubungan antar-fakta, sehingga kemudian mengambil kesimpulan." Inilah kerangka pemikiran Pak Damar, yang menganggap ilmu sebagai-dalam istilah pesantren-manhaj al-fikr (metodologi berpikir). Pandangan Pak Damar selaras dengan apa yang disampaikan Syekh al-Mawardi dalam kitabnya, Ad-Dunya wa ad-Din, yang mengungkap filosofi ilmu.

Pak Damar, menulis beberapa karya: Kata-kata Kunci, Wulang-wulang Kejawen (1984), Etika dan Tata Krama Jawa Masa Lalu dan Masa Kini (1985), serta Filsafat Sosial Serat Sastra Gending (2001). Dalam karya terakhir, Pak Damar memaknai serat karya Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593-1645), Sang Raja Mataram. Karya ini menjadi penanda penting dari cara pandang, posisi keilmuan, dan kearifan hidup Pak Damar, dengan menganalisis secara mendalam teks serat dalam kerangka filsafat sosial. Inilah titik pijak keilmuan Pak Damar.

Dari beberapa ceramah, Pak Damar mengungkapkan: "hidup ini seperti matematika, dan kita harus belajar dari angka nol." Ia menjelaskan, "Kalau diperhatikan, selama hidupnya manusia hanya menjumlah atau menambah, misalnya nambah harta, nambah anak, atau nambah jabatan. Jika begitu, niscaya hidupnya tidak akan cepat menuju kesempurnaan, menuju infinitum." Dari ungkapan Pak Damar, jelas bahwa tujuan hidup adalah menuju infinitum (ketidakterbatasan).

Karya disertasi Pak Damar membedah pemikiran Alfred North Whitehead (1861-1947). Menukil Withehead, Pak Damar menjelaskan bahwa, "Tuhan bisa dinalar, misalnya dengan mengandaikan adanya titik bergantung pada garis, garis pada bidang, bidang pada ruang, dan seterusnya." Penalaran terhadap Tuhan ini menjadi pintu untuk memahami hidup dan kesejatian.

Selamat jalan, Sang Begawan.