Tampilkan postingan dengan label The Look of Silence - Film Pembantaian 1965-1966. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Look of Silence - Film Pembantaian 1965-1966. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2015

Senyap

Senyap

Musyafak  ;   Staf di Balai Penelitian dan Pengembangan  Agama Semarang
KORAN TEMPO,  08 Januari 2015

                                                                                                                       


Film Senyap (The Look of Silence) garapan Joshua Oppenheimer layak masuk dalam kaleidoskop sejarah 2014. Film dokumenter berlatar sejarah kelam pembantaian 1965 tersebut melengkapi sudut pandang bagaimana kita memahami sekaligus memaknai sejarah berdarah yang terjadi hampir setengah abad lalu.

Namun ikhtiar “meluruskan sejarah” yang telah dibengkokkan oleh rezim Orde Baru itu masih berhadap-hadapan dengan tekanan kelompok-kelompok tertentu yang tak ingin kebenaran tersebut tersibak terang. Buktinya, acara pemutaran film Senyap di beberapa kampus pada Desember lalu dilarang dan dibubarkan paksa, seperti terjadi di Malang, Yogyakarta, ataupun Padang. Bahkan Lembaga Sensor Film pun melarang pemutarannya, keputusan yang kemudian disesalkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (viva.co.id).

Diakui atau tidak, kata “komunis” masih menjadi label haram jadah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Kata “komunis” begitu nyinyir didengar telinga dan kerap diucapkan secara sinis. Komunisme sebagai sebuah paham dalam ilmu sosial-humaniora dipandang secara sempit sebagai gerakan pemberontakan semata sebagaimana gerakan PKI yang dinarasikan sekehendak Orde Baru. Hari ini, orang masih keukeuh menganggap paham komunis tidak boleh berkembang di Indonesia. Agama, juga Pancasila, kerap dijadikan dalil politis untuk membonsai pemikiran-pemikiran komunisme.

Senyap berbeda dengan karya Oppenheimer sebelumnya, Jagal (The Act of Killing) yang menceritakan peristiwa pembantaian PKI dari sudut pandang para pelaku. Senyap mengisahkan pedih-perih sebuah keluarga korban tragedi pembantaian massal yang zaman gelap 1960-an yang berlatar di Deli Serdang dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Adi Rukun, tokoh dalam film itu, melihat kebencian mendalam sang ibu terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan sang kakak bernama Ramli. Sekian lama sang ibu hidup di dalam kenangan pahit yang tak berhenti merambat, juga kebencian yang kian menambat di sanubarinya.

Adi menemui para “tukang jagal” saat itu yang masih hidup, di antaranya Inong (komandan pembantaian tingkat desa). Di satu sisi, para mantan pembunuh merasa tidak berdosa dan tidak bertanggung jawab atas penjagalan yang dilakukannya. Dalihnya, pembantaian itu dilakukan sebagai laku membela negara. Di lain sisi, keluarga mantan penjagal itu enggan dikaitkan dengan peristiwa pembantaian PKI tersebut. Justru kata maaf dari mereka kepada Adi menjadi momentum resolusi sosial antara keluarga pelaku dan keluarga korban pembantaian.

Sayang, jika misi rekonstruksi hubungan sosial antara korban dan pelaku pembantaian PKI yang diusung Senyap dilewatkan oleh kalangan penentang film itu. Senyap adalah upaya kultural untuk menyembuhkan luka sosial yang selama ini belum selesai diobati dengan langkah-langkah politik. Kedua sekuel karya Oppenheimer, Jagal dan Senyap, bisa dipahami sebagai ikhtiar “mendialogkan sejarah” agar perspektif generasi terkini lebih lebar dalam memandang sejarah 1965 beserta akibat-akibat yang ditimbulkan.

Senyap memberi tahu kita bahwa korban tidaklah tunggal, yakni orang-orang yang dibunuh atau keluarga yang ditinggalkan. Namun pada waktu yang sama, para Jagal juga korban dari propaganda sebuah rezim yang berhasil memperalatnya untuk memuluskan jalan ke tampuk kekuasaan.

Senin, 22 September 2014

Adi

Adi

Goenawan Mohamad  ;   Esais; Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
TEMPO.CO, 22 September 2014
                                      
                                                      

Laki-laki tua yang jangkung dan bermuka keras itu, yang hidup dengan seekor monyet kecil di sebuah gubuk, bercerita dengan suara yang masih ganas tentang bagaimana ia membunuh. "Aku tebas buah dada perempuan itu; dari akar putingnya mengalir air susu. Lalu aku potong lehernya...."

Dokumentasi tentang kekejaman di Indonesia sekitar 1965 bertambah-dan bisa bertambah. The Look of Silence, film baru Joshua Oppenheimer, semacam sambungan dari filmnya yang terdahulu, The Act of Killing, kini sudah beredar secara terbatas. Dalam rekaman seperti yang saya kutip, dari ingatan, 
Oppenheimer menunjukkan keunggulannya sebagai pembuat film dokumenter dan keunggulan seseorang yang datang mengusik hati kita dengan pertanyaan.

Tentu ia bukan orang pertama dalam perkara ini. Pada Agustus 1969, majalah Horison memuat tulisan Usamah, "Perang dan Kemanusiaan". Tulisan ini, nonfiksi, begitu menarik perhatian hingga diterjemahkan ke dalam jurnal akademik Indonesia dari Cornell University. Di dalamnya kita baca kesaksian seorang muda, penulis yang antikomunis, yang dengan hati terbelah terlibat dalam penangkapan, penyekapan, dan pembunuhan orang-orang yang dituduh komunis-termasuk teman-temannya.

Buat menerbitkan kesaksian seperti ini ketika "Orde Baru" mulai efektif perlu keberanian tersendiri. Tapi waktu itu Horison tampak ingin membuka pintu Indonesia yang luas. Di sana pula terbit cerita pendek Umar Kayam, "Musim Gugur Kembali di Connecticut", yang dengan kalimat-kalimat pendek dan tenang menyentuh hati: seorang intelektual kiri yang tak berbuat apa-apa dibunuh dalam pembasmian yang meluas di tahun 1960-an itu.

Sastra Indonesia tampaknya medium yang memulai pengungkapan sejarah yang tragis setengah abad yang lalu itu: ada novel Yudhistira A.N.M. Massardi Mencoba Tidak Menyerah, trilogi Ahmad Tohari, dan kemudian, dua tahun lalu, Pulang Leila S. Chudori dan Amba Laksmi Pamuntjak. Luar sastra menyusul: majalah Tempo 1-7 Oktober 2012 merekam pertemuan dengan para pelaku pembantaian....

Bahwa The Act of Killing yang paling menyentak kita, mudah dipahami: film selalu lebih menjangkau orang banyak, dan sebuah film dokumenter tentang sejarah yang setengah terpendam selalu mengejutkan, apalagi datang dari luar. Maka The Act of Killing lebih menarik perhatian ketimbang Sang Penari, film Indonesia pertama yang, berdasarkan fiksi Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, menampilkan kekerasan "anti-gestapu" tahun 1960-an.

The Look of Silence agaknya tak akan kalah kontroversial ketimbang pendahulunya-dan bagi saya lebih menggugah.
Kebuasan yang digambarkannya di Deli Serdang, Sumatera Utara, tidak hanya dilakukan satu orang. Berbeda dengan The Act of Killing, ia tak diselingi khayal surealistis dengan humor yang seram dan potret-potret preman hari ini; dalam The Look of Silence tak ada permainan antara imajinasi dan rekonstruksi. Bahan utamanya wawancara, praktis tanpa intermezo. Kata-kata terus terang, telanjang, brutal.

Sepasang laki-laki tua mendemonstrasikan bagaimana mereka, hampir setengah abad yang lalu itu, mengerat kemaluan korbannya dari pantat, sebelum menikam merihnya dan menyepak tubuhnya ke sungai. "Aku minum darah orang yang aku potong," kata seseorang yang lain, "agar aku tidak gila." Darah manusia manis-manis asam, katanya dengan muka yang selalu tegang. "Aku minum dua gelas. Kuambil dari bagian tenggorokan."

Di manakah selama ini bagian yang terpendam, ganas, dan merisaukan dari sejarah Indonesia ini? Malukah kita mengakuinya? Atau takut? Atau tak tahu? Atau tak peduli?

Tokoh di pusat The Look of Silence adalah Adi. Di masa penuh darah itu kakaknya, Ramli, ditangkap dan dibantai dengan bengis. Adi, yang lahir setelah pembunuhan itu, hanya mendapat ceritanya dari ibunya yang masih menyimpan dendam yang getir. Pada suatu hari Adi melihat rekaman pengakuan dua laki-laki yang membunuh orang-orang komunis. Kita tak tahu bagaimana ia mendapatkan video itu, tapi sejak itu laki-laki itu pun mencari jawab, menemui orang yang terlibat-dan tak mendapatkan apa-apa, selain kisah kebiadaban yang dilakukan sesamanya.

Adi, seperti kita, menuntut penyesalan para pembunuh. Tapi sia-sia. Dan itulah yang merisaukan. Bagi kita kekejaman mereka secara universal patut dikutuk, tapi jangan-jangan antara kita dan mereka tak ada dasar bersama untuk menuntut sesal. Jangan-jangan apa yang biadab, apa yang beradab, ada di kepala dengan dunia masing-masing.

Film ini tentu tak bertolak dari asumsi itu. Bagi Adi dan Oppenheimer, kebuasan itu sangat terbuka, sangat terang-benderang, buat dihakimi. Tapi tampaknya tak segampang itu. Ada dunia lain yang belum tertembus.

The Look of Silence amat kuat berbicara tentang apa, kapan, dan bagaimana. Tapi film ini tak cukup menggambarkan mengapa dan siapa. Tak banyak informasi tentang latar sosial Adi dan Ramli. Penonton yang berbahasa Jawa akan tahu, orang tua Adi datang dari Jawa, tapi justru akan bertanya mengapa mereka hidup di Deli Serdang dan apa yang mereka lakukan. Apa yang Ramli lakukan? Adakah ia seorang aktivis komunis-dan apa artinya itu bagi para pembunuhnya: bagaimana genealogi kebuasan itu? Dari mana datangnya? Hanya karena perintah dan propaganda aparat kekuasaan? Mungkinkah laku yang sekeji itu-yang terus mereka banggakan-terbit tanpa kebencian yang bersemai dalam pribadi dan tubuh sosial?

Hari-hari ini kebencian masih berkecamuk dan kita tak tahu kenapa, kebiadaban masih dibanggakan dan kita tak tahu apa sebabnya. The Look of Silence akan berjasa besar jika bersamanya kita ingat, ada pertanyaan yang gawat dan belum terjawab itu. Tak hanya di Indonesia. ●

Minggu, 07 September 2014

Dan Senyap Pun Mengetuk

Dan Senyap Pun Mengetuk

Aryo Wisanggeni G  ;   Wartawan Kompas
KOMPAS, 07 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

SUTRADARA film ”The Act of Killing”, Joshua Oppenheimer, kembali menyuguhkan film tentang pembantaian 1965-1966. Film itu, ”The Look of Silence”, memberi gambaran beratnya beban kemanusiaan keluarga algojo ”membaca” pembantaian 1965. Terlebih beban ”dosa sejarah” yang terus dilekatkan kepada penyintas dan keluarga mereka.

The Look of Silence adalah sebenar-benarnya film sekandung The Act of Killing atau Jagal. Namun, film terbaru Oppenheimer itu memilih cara bertutur yang sama sekali berbeda dari Jagal.

Jagal hadir bak sebuah perayaan pembantaian 1965 yang diperkirakan menewaskan 300.000 hingga 2,5 juta jiwa. Jagal mencokolkan pertanyaan, kenapa seorang pembunuh bisa bangga mengisahkan laku membunuh entah berapa manusia? Alasan pemaaf seperti apa yang melingkupi mereka hingga berpuluh tahun mereka merasa diri pahlawan?

Tidakkah para pembunuh itu sebagai anak manusia bersua dengan para penyintas—anak manusia lain yang dicap ”komunis” dan selamat dari pembantaian 1965? Pada pertanyaan terakhir itulah The Look of Silence bertutur.

The Look of Silence yang dalam bahasa Indonesia berjudul Senyap adalah film dokumenter tentang Adi. Tukang kacamata keliling itu adalah adik dari Ramli, salah satu korban pembantaian 1965-1966 di salah satu desa perkebunan terpencil di Sumatera Utara. Lahir pasca pembantaian 1965-1966, Adi tumbuh dalam keluarga yang secara resmi dinyatakan ”tidak bersih lingkungan” karena kakaknya, Ramli, dianggap simpatisan PKI. Bersama Adi, Oppenheimer mengumpulkan para korban dan penyintas pembantaian 1965-1966, mendokumentasikan kesaksian mereka tentang sejarah pahit itu.

Di tengah proses itu, terjadi intimidasi kepada para penyintas. Mereka diminta diam dan tidak memberi kesaksian kepada Oppenheimer. Para penyintas mencari siasat, lalu mendesak Oppenheimer mewawancarai sejumlah tokoh yang terlibat pembantaian itu, yang mungkin akan menceritakan sendiri pembantaian mereka.

Oppenheimer ragu siasat itu bisa berjalan, dan menjadi terkejut ketika ternyata mereka yang terlibat pembantaian 1965-1966 bangga menceritakan bagaimana mereka membunuh para korban. Siasat di tengah jalan itulah yang melahirkan film Jagal yang diluncurkan mendahului Senyap.

Setegang fiksi

Oppenheimer melanjutkan proyek film dokumentasi kesaksian para penyintas dengan menunjukkan rekaman wawancara itu kepada Adi. Dalam Senyap, tampak Adi menonton kesaksian para pembunuh. Adi tercenung, diam, tetapi terus menonton rekaman wawancara yang diabadikan pada April 2003 yang memperlihatkan orang yang tertawa-tawa bangga mengisahkan ”kepahlawanan” mereka membunuh.

Adi mencoba memahami kejumawaan ”para pahlawan” pembantaian 1965-1966. ”Mungkin semua itu terjadi karena penyesalan yang begitu dalam atas pembunuhan yang dia lakukan pada waktu itu. Karena rasa penyesalan yang begitu dalam, saat memperagakan pembunuhan itu, (mereka) seperti mati rasa,” ujar Adi lirih.

Oppenheimer juga bertemu dengan dua orang yang mengaku sebagai pembunuh Ramli. Keduanya, Amir Hasan dan Inong, memperagakan bagaimana mereka membunuh Ramli di pinggiran Sungai Ular. Film dokumenter itu menjadi setegang film fiksi, ketika menyuguhkan adegan Adi menemui Inong, menawarkan kacamata untuk mata Inong yang rabun.

Sambil mencari ukuran lensa kacamata yang cocok untuk mata Inong, Adi bertanya masa lalu Inong. Adi terus mengejar, memantik marah Inong. ”Maksud saudara bertanya apa? Saudara menanyakan terlalu dalam. Bicara soal politik, saya tidak suka.” Inong begitu marah dan meminta Oppenheimer berhenti merekam pertemuan itu. Wajahnya menegang dengan tatapan hampa. Bukan hanya marah yang muncul dari adegan itu. Terasakan, penyangkalan Inong atas sesal adalah jalan, mungkin satu-satunya jalan Inong, untuk melanjutkan hidup.

Kemarahan juga tercuat ketika Adi menemui keluarga almarhum Amir Hasan. Dua anak Amir Hasan marah mendengar Adi menuturkan isi buku Embun Berdarah karangan ayah mereka yang merinci pembunuhan 32 korban pembantaian, termasuk Ramli. Kisah pahlawan yang ditulis sang ayah tiba-tiba terasakan menjadi tuduhan ketika dituturkan Adi, adik Ramli.

”Sekarang ini terbuka luka. Dikarenakan Joshualah, mengambil ini semua, data mendiang pun dibukakan sejarahnya semua, akhirnya terbuka. Kalau tidak, mana adik (Adi) tahu sama kami, kan?” Salah satu putra Amir Hasan bertanya kepada Adi.

”Tahu,” jawab Adi. ”Tahu, aku tahu persis keluarga ini. Siapa saja yang keluarganya dibunuh pasti ingat. Tapi ingat bukan dalam artian dendam.” Istri Amir Hasan dengan sepenuh hati berujar lembut, meminta maaf Adi.

Bagi masa depan
                                                             
Untuk apa mengungkit sesuatu yang telah berlalu, itulah yang dinyatakan Inong, keluarga Amir Hasan, juga sejumlah tokoh pembantaian 1965-1966 lain yang bersuara dalam Senyap. Mengungkit yang lalu mengoyak luka lama. Senyap secara tak terduga menuturkan bahwa mereka yang membunuh pun terluka, melukai kemanusiaan mereka. Luka itu mereka lupakan dengan penyangkalan dan euforia kepahlawanan yang rapuh.

Senyap juga menuturkan bahwa Adi—berikut ratusan ribu hingga jutaan keluarga penyintas lainnya—masih dilukai hingga luka itu terus basah. Luka Adi basah menerima pertanyaan anaknya yang pulang sekolah, mengisahkan cerita guru mereka tentang kekejaman PKI. Adi bersabar menjelaskan sejarah keluarga dan sejarah Indonesia kepada sang anak. Adi marah, belajar tidak mendendam, tetapi negara terus mengoyak lukanya.

Oppenheimer mengibaratkan Senyap sebagai puisi tentang kesenyapan. ”Puisi tentang kesenyapan yang lahir dari teror, sebuah puisi tentang pentingnya memecah kesenyapan itu, tetapi juga tentang trauma yang datang ketika kesenyapan itu dipecahkan. Kita harus berhenti, mengakui kehidupan yang telah dihancurkan, dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan yang menyusulnya,” ujar sang sutradara.

Kerendahan hati menjadi kunci mendengar kesenyapan itu. Kerendahan hati Adi berikut ratusan ribu hingga jutaan keluarga yang menjadi korban pembantaian 1965-1966, kerendahan hati orang-orang seperti Inong dan keluarga Amir Hasan, ataupun kerendahan hati negara. Senyap sudah mengetuk, akankah kita menoleh dan berdiam sejenak?