Tampilkan postingan dengan label Daryono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daryono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 April 2021

Gempa Jawa Timur, Alarm untuk Kita

Daryono ; Peneliti di BMKG dan Anggota PuSGeN

KOMPAS, 20 April 2021

 

 

                                                           

Belum usai penanganan dampak Badai Seroja yang destruktif di NTT, kita dikejutkan dengan terjadinya gempa kuat yang melanda Jawa Timur belum lama ini. Gempa dengan magnitudo 6,1 yang terjadi pada hari Sabtu, 10 April 2021 pukul 14.00.16 WIB memiliki episenter pada koordinat 8,83 Lintang Selatan dan 112,5 Bujur Timur. Tepatnya di laut pada jarak 96 kilometer arah selatan Malang, dengan kedalaman 80 kilometer.

 

Zona Benioff

 

Dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa kedalaman menengah yang dipicu oleh deformasi batuan di zona Benioff.

 

Zona Benioff merupakan bagian Lempeng samudra Indo-Australia yang sudah tersubduksi dan menukik ke bawah Pulau Jawa di bawah zona megathrust. Karena pusat gempanya berada di kedalaman menengah, maka gempa Jawa Timur belum lama ini tidak termasuk gempa megathrust.

 

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa yang terjadi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Mekanisme sumber sesar naik ini sebenarnya sensitif terhadap potensi tsunami jika hiposentar gempanya dangkal dan magnitudonya besar. Patut disyukuri bahwa gempa ini berada pada kedalaman menengah dengan magnitudo 6,1 sehingga tidak cukup kuat untuk mengganggu kolom air laut dan tidak memicu tsunami.

 

Dampak gempa di beberapa daerah di Jawa Timur mencapai skala intensitas maksimum V-VI MMI yang berpotensi merusak. Estimasi peta shake map Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diinformasikan 15 menit setelah gempa dinilai akurat, karena gempa yang terjadi terbukti merusak ribuan rumah yang tersebar di 17 kabupatan/kota di Jawa Timur.

 

Gempa juga menelan korban jiwa sembilan orang meninggal dunia dan lebih dari 84 orang luka-luka.

 

Selain menimbulkan kerusakan, gempa Jawa Timur ini mengguncang wilayah yang luas, hingga Lombok dan Jawa Barat. Terjadinya spektrum guncangan yang luas ini berkaitan dengan hiposenter gempa di kedalaman menengah.

 

Bagi para ahli, terjadinya gempa merusak di Jawa Timur ini bukan hal yang aneh. Secara tektonik wilayah selatan Malang dikenal sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks. Sejarah mencatat bahwa di Malang dan sekitarnya sudah beberapa kali dilanda gempa yang merusak, yakni pada tahun 1896, 1937, 1958, 1962, 1963, 1967, 1972, dan 1998.

 

Jika kita perhatikan lokasi hiposenter gempa Jawa Timur ini berada di dalam lempeng Indo-Australia yang tersubduksi. Gempa yang berpusat di dalam lempeng semacam ini disebut sebagai “gempa intra-slab”. Peristiwa gempa Bali pada 22 Maret 2017 dengan magnitudo 5,6, gempa Tasikmalaya pada 15 Desember 2017 dengan magnitudo 6,9 dan gempa Banten pada 23 Januari 2018 dengan magnitudo 6,1 merupakan contoh gempa intra-slab di selatan Jawa.

 

Meskipun gempa intra-slab hiposenternya cukup dalam, tetapi guncangannya dapat dirasakan sangat luas, karena energi regangan (strain) yang terakumulasi diubah menjadi gelombang seismik saat gempa. Dampaknya, gempa akan meradiasikan guncangan dengan frekuensi tinggi sangat signifikan.

 

Berdasarkan kurva waktu proses rekahan yang terjadi di sumber gempa (source time function), tampak jelas bahwa besarnya energi yang diradiasikan dari rekahan sumber gempa Jawa Timur ini sangat kecil. Durasi proses rekahan sangat singkat, hanya dalam waktu 2,5 detik, tetapi mampu meradiasikan guncangan dahsyat yang sangat signifikan, hingga merusak ribuan rumah dengan guncangan meluas.

 

Hasil monitoring BMKG hingga Kamis, 15 April 2021, terjadi sebanyak 13 kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara 2,9 hingga 5,3. Jika mencermati aktivitas gempa susulan yang terjadi, tampak bahwa produktivitas gempa susulannya sangat sedikit (lack of aftershocks). Gempa-gempa di oceanic intra-slab dengan kedalaman menengah umumnya memang ‘miskin’ gempa susulan.

 

Fakta mengenai minimnya produktivitas gempa susulan yang terjadi di Jawa Timur merupakan cerminan penurunan tegangan yang besar dengan tiba-tiba saat terjadi gempa utama. Dengan mengetahui bahwa gempa Jawa Timur memiliki penurunan tegangan (stress drop) yang tinggi maka mengarah kepada dugaan bahwa gempa ini sangat kecil kemungkinan akan diikuti oleh gempa besar berikutnya. Sebaliknya, kondisi tektonik di zona gempa akan segera stabil dan normal kembali.

 

Alarm untuk kita

 

Peristiwa gempa merusak di Jawa Timur merupakan “alarm” untuk mengingatkan kita semua, bahwa potensi ancaman sumber gempa di selatan Pulau Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli adalah nyata dan tidak boleh diabaikan.

 

Secara tektonik, wilayah selatan Jawa terdapat beberapa zona sumber gempa seperti: (1) sumber gempa di luar zona subduksi (outer rise), (2) zona subduksi lempeng yang dapat memicu gempa inter-plate, (3) zona Benioff yang dapat memicu gempa intra-slab, dan (4) sesar aktif di dasar laut yang dapat memicu gempa intra-plate.

 

Terkait dengan beberapa sumber gempa ini, maka gempa kuat dan berpotensi tsunami kapan saja dapat terjadi tanpa dapat diprediksi.

 

Katalog gempa BMKG mencatat sejak 1840 hingga 2009 di selatan Jawa telah terjadi gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 8,0 sebanyak lebih dari 12 kali, sedangkan tsunami di Pantai Selatan Jawa sudah terjadi delapan kali.

 

Untuk mengantisipasi keberulangan terjadinya gempa kuat dan tsunami, para ahli sudah beberapa kali mengingatkan adanya potensi gempa dan tsunami di selatan Jawa.

 

Hasil kajian terkini menunjukkan bahwa di zona megathrust selatan Jawa terdapat beberapa area slip deficit yang mengindikasikan adanya bidang kontak antar lempeng yang terkunci. Di wilayah ini diduga sedang terjadi proses akumulasi medan tegangan yang suatu saat dapat berpotensi terjadi gempa kuat.

 

Hasil kajian ini menghasilkan skenario terburuk (worst case) estimasi guncangan gempa dan tsunami yang dapat dijadikan sebagai acuan mitigasi gempa dan tsunami.

 

Gempa Jawa Timur selain mengingatkan kita tentang adanya potensi ancaman gempa dan tsunami di selatan Jawa, juga mengingatkan agar kita lebih serius dalam upaya mitigasi bencana dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan dampak kerugian jiwa dan harta benda akibat gempa dan tsunami.

 

Korban meninggal dan luka sebenarnya tidak disebabkan oleh gempa, tetapi akibat bangunan yang roboh dan menimpa penghuninya. Banyaknya kerusakan bangunan rumah di Jawa Timur saat gempa Malang merupakan cerminan masih lemahnya mitigasi struktural kita. Untuk itu upaya mitigasi struktural dengan membangun bangunan tahan gempa harus diwujudkan.

 

Jika tidak, maka sampai kapanpun jika terjadi gempa kuat akan terus jatuh korban jiwa, karena solusi paling utama dalam mitigasi gempa adalah membangun bangunan tahan gempa.

 

Jika sebagian masyarakat kita belum mampu membangun bangunan tahan gempa, ada alternatif lain dengan cara membangun rumah dengan bahan ringan dari kayu dan bambu yang didesain menarik. Dengan mewujudkan mitigasi struktural, kita dapat meminimalkan jatuhnya korban jiwa akibat gempa.

 

Untuk mengantisipasi bencana tsunami, kita dapat lakukan dengan cara beragam seperti meningkatkan kegiatan sosialisasi mitigasi tsunami, memahami konsep evakuasi mandiri dengan menjadikan guncangan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami, membuat peta jalur evakuasi, memasang rambu evakuasi, latihan evakuasi (drill), dan menyiapkan tempat evakuasi sementara.

 

Selain itu, perlu ada upaya yang sungguh-sungguh dalam menata ruang pantai berbasis risiko tsunami, serta meningkatkan performa sistem peringatan dini tsunami. Dengan merealisasikan langkah mitigasi bencana gempa dan tsunami, maka kita tetap dapat hidup aman dan nyaman meskipun di daerah rawan bencana. ●


  

Selasa, 20 Maret 2018

Memahami Gempa “Megathrust”

Memahami Gempa “Megathrust”
Daryono  ;   Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami, BMKG 
                                                        KOMPAS, 19 Maret 2018



                                                           
Lebih sepekan terakhir, istilah gempa megathrust menjadi sangat populer di tengah-tengah masyarakat. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran berbagai media yang memberitakan adanya potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,7 yang dapat berdampak terhadap Jakarta.

Informasi potensi gempa megathrust mengemuka dan menjadi viral dimulai usai diselenggarakan acara Sarasehan Ikatan Alumni Meteorologi dan Geofisika yang bertempat di Kantor BMKG Pusat, Jakarta, pada 28 Februari 2018, dengan tema “Gempabumi Megathrust Magnitudo 8.7, Siapkah Jakarta?”

Tema sarasehan di atas tentu saja berdasarkan hasil kajian ilmiah. Rahma Hanifa (2014) dalam disertasi doktornya di Nagoya University, Jepang, yang berjudul “Interplate Earthquake Potential off Western Java, Indonesia, Based on GPS Data” menyebutkan zona megathrust selatan Jawa Barat dan Banten berpotensi memicu gempa dengan magnitudo 8,7. Sementara hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen, 2017) dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 juga mengungkap bahwa zona megathrust selatan Jawa Barat dan Banten memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum 8,8.

Pentingnya mitigasi

Pesan utama panitia sarasehan sebenarnya ingin menyoroti pentingnya upaya mitigasi gempa bumi. Dengan adanya potensi gempa kuat, diharapkan pemerintah lebih memerhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah.

Dalam konteks ini perlu ada upaya serius dari berbagai pihak untuk mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun infrastruktur. Masyarakat juga diharapkan terus meningkatkan kemampuannya dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa.

Dalam perkembangannya, informasi gempa megathrust magnitudo 8,7 malah memicu salah pengertian. Masyarakat ternyata justru lebih tertarik untuk membahas potensi kekuatan gempa yang mencapai magnitudo 8,7 daripada pesan mitigasinya.

Potensi gempa magnitudo 8,7 akhirnya terus bergulir menjadi berita meresahkan. Berita bohong (hoax) pun berkembang, seolah dalam waktu dekat di Jakarta akan terjadi gempa dahsyat dengan magnitudo 8,7.

Ramainya perbincangan mengenai gempa megathrust membuat para ahli kebumian bertanya-tanya. Apakah masyarakat sudah benar dalam memaknai arti gempa megathrust? Ternyata masih banyak yang belum tepat dalam memahaminya. Gempa megathrust seolah seperti sesuatu yang baru, yang akan terjadi di sekitar Jakarta dalam waktu dekat, berkekuatan sangat besar, dan akan menimbulkan kerusakan dahsyat. Pemahaman seperti ini tentu saja kurang tepat.

Sekadar istilah

Zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa di zona subduksi lempeng. Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua dapat menimbulkan terjadinya gempa bumi. Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra akan bergerak naik (thrusting).
Jalur subduksi ini umumnya sangat panjang, dengan kedalaman yang mencakup seluruh bidang kontak antar-lempeng. Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai sebuah “patahan naik yang besar”, yang kini populer disebut sebagai zona megathrust.

Zona megathrust sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan. Zona megathrust terdapat di beberapa zona subduksi aktif, seperti: (1) zona subduksi Sunda yang mencakup barat Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumba, dan Flores, (2) zona subduksi Banda dan Seram, (3) zona subduksi Lempeng Laut Maluku, (4) zona subduksi Utara Sulawesi, dan (5) zona subduksi utara Papua. Hingga saat ini baru 16 zona megathrust yang dapat dikenali potensinya. Seluruh wilayah ini merupakan daerah seismik aktif dan berpotensi terjadi gempa kuat.

Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust dapat disebut sebagai gempa megathrust. Gempa megathrust tidak selalu berkekuatan besar. Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Data menunjukkan, justru “gempa kecil” yang tidak berpotensi merusak lebih sering terjadi. Namun demikian, zona megathrust juga berpotensi membangkitkan gempa kuat.

Bangun literasi mitigasi

Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan dan di mana gempa akan terjadi. Maka, dalam ketidakpastian ini, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa dimaksud benar-benar terjadi.

Adanya salah pengertian di masyarakat terkait gempa megathrust merupakan bukti bahwa masih ada kesenjangan dalam komunikasi sains (science communication). Para ahli kebumian kita tampaknya masih memiliki setumpuk pekerjaan rumah dalam membangun literasi mitigasi bencana di masyarakat. Antara sains sebagai teknologi dan sains sebagai kebijakan agar dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat, tampak masih ada kesenjangan pada komunikasi sains.

Seyogyanya para pakar memiliki lebih banyak kesempatan berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Ini penting agar seluruh lapisan masyarakat menjadi tercerahkan dan tidak terjadi kesalahpahaman setiap ada informasi potensi bencana.

Selasa, 30 Januari 2018

Gempa Jakarta

Gempa Jakarta
Daryono  ;  Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan
Peringatan Dini Tsunami, BMKG
                                                      KOMPAS, 30 Januari 2018



                                                           
Mungkin kita tidak akan pernah tahu bahwa Jakarta dulu pernah luluh lantak akibat gempa jika Arthur Wichmann tidak menyusun katalog sejarah gempa Indonesia pada tahun 1918. Gempa dahsyat Jakarta—kala itu masih bernama Batavia—terjadi pada malam hari, tanggal 5 Januari 1699. Batavia mengalami bencana gempa bumi yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tak pernah dibayangkan.

Willard A Hanna dalambukunya, Hikayat Jakarta, menggambarkan lebih detail dampak gempa yang terjadi. Dikisahkan bahwa citra Batavia yang dijuluki ”Ratu Timur” menjadi pudar setelah diguncang peristiwa gempa dahsyat tersebut. Guncangan gempa yang terjadi digambarkan amat mengerikan karena disertai letusan gunung api dan hujan abu tebal. Dampak gempa disebutkan menimbulkan kerusakan parah di seluruh penjuru kota, bahkan menyebabkan kacaunya persediaan air bersih di Batavia akibat porak-porandanya sistem aliran air di seluruh kota.

Batavia ternyata tidak sekali itu diguncang gempa berskala besar. Dalam catatan Wichmann berikutnya disebutkan bahwa pada tanggal 22 Januari 1780 Batavia kembali diguncang gempa kuat yang merusak. Beberapa sumber menyebutkan gempa ini merobohkan Observatorium Mohr, yaitu observatorium pertama di Batavia yang dibangun pada 1765.

Sayangnya, kedua catatan peristiwa bencana di Jakarta tersebut kini sudah dilupakan banyak orang. Bahkan, dalam literatur kajian bahaya gempa bumi kita, kejadian tersebut jarang disebut.

Lebih dari dua abad lamanya di Jakarta tidak terjadi gempa kuat yang merusak. Artinya, hampir empat generasi pemukim di Jakarta tidak pernah mengalami peristiwa gempa dahsyat seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini tampaknya mampu membangun sebuah anggapan bahwa wilayah Jakarta merupakan kawasan aman gempa bumi. Apalagi, hingga kini belum ada bukti yang sahih mengenai keberadaan sumber gempa di wilayah Jakarta.

Anggapan Jakarta aman gempa ternyata salah. Pada tanggal 23 Januari 2018, gempa berkekuatan M 6,1 mengguncang Jakarta. Semua orang dibuat kaget dan tersadar, ternyata Jakarta juga tidak aman gempa. Dan, satu hal penting untuk dicatat, pusat gempa tersebut ternyata bersumber di Samudra Hindia, sebuah tempat yang jaraknya lebih dari 150 kilometer dari Jakarta.

Kuatnya guncangan gempa membuat semua warga panik. Mereka gagap karena tidak tahu harus berbuat apa. Kini terbukti, ternyata warga Jakarta tidak siap menghadapi gempa. Mereka banyak yang belum tahu langkah tepat saat di dalam rumah ataupun gedung bertingkat. Apakah harus memaksakan diri lari keluar atau cukup mencari tempat aman di dalam rumah? Apakah tetap bertahan di lantai gedung tempat mereka tinggal atau harus turun gedung lewat tangga?

Bingung dan panik justru dapat membahayakan keselamatan saat krisis. Sekali ini dapat dimaklumi karena selama ini warga Jakarta selalu berhadapan dengan banjir ketimbang gempa, tetapi ke depan warga Jakarta harus siap menghadapi gempa.

Gempa di selatan Banten lalu sebenarnya memberikan pesan penting kepada warga Jakarta dan sekitarnya bahwa sumber gempa dari jauh pun dapat jadi ancaman bagi Jakarta. Gempa kemarin hanya berkekuatan M 6,1, sementara hasil kajian terbaru Pusat Studi Gempa Nasional menunjukkan bahwa zona subduksi selatan Jawa Barat dan Banten mampu memicu gempa dengan kekuatan M 8,7. Jika itu terjadi, wilayah Jakarta akan terdampak guncangan dengan intensitas VI-VII MMI (Modified Mercally Intensity), yang artinya Jakarta berpotensi mengalami kerusakan.

Warga Jakarta harus memahami kesiagaan meskipun di Jakarta tidak terdapat sumber gempa karena Jakarta dapat diguncang gempa kuat dari sumber gempa sesar aktif di Jawa Barat dan Banten. Juga ancaman sumber gempa zona subduksi lempeng di Samudra Hindia.

Kini saatnya warga Jakarta dan sekitarnya harus memulai edukasi mitigasi bencana agar lebih memahami bahaya gempa bumi dan cara menghadapinya. Kegiatan sosialisasi yang melibatkan para ahli dapat dilakukan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, dan di masyarakat. Aspek keamanan bangunan juga harus diperhatikan. Perlu ada audit bangunan dan gedung bertingkat serta perlunya dilakukan penguatan jika ditemukan bangunan yang tidak memenuhi standar aman gempa bumi.

Ke depan, warga Jakarta sepatutnya menerima kenyataan akan adanya potensi bahaya gempa. Kondisi alam yang kurang ”bersahabat” ini tentu harus diterima sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik. ●

Selasa, 16 Desember 2014

Banjarnegara Memang Rawan Longsor

                     Banjarnegara Memang Rawan Longsor

Daryono  ;   Peneliti di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
JAWA POS,  15 Desember 2014

                                                                                                                       


SETELAH berakhirnya amukan topan hagupit yang menghantam wilayah timur Filipina dan menewaskan sedikitnya 27 orang, kini dinamika atmosfer menunjukkan adanya kecenderungan pertumbuhan pola tekanan rendah dan sel-sel siklon di Samudra Hindia. Kondisi itu patut kita waspadai bersama, mengingat cuaca ekstrem dapat terjadi di beberapa tempat di Indonesia.

Jumat petang (12/12) kita dikejutkan oleh berita memilukan yang datang dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Curah hujan yang mengguyur selama dua hari berturut-turut di kawasan Wonosobo dan Banjarnegara akhirnya memicu bencana. Tanah longsor telah mengubur puluhan rumah di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara.

Hingga Minggu pagi (14/12), 23 korban ditemukan dalam keadaan meninggal. Selain itu, sebelas orang mengalami luka berat dan empat korban lain terluka ringan. Sebanyak 85 orang masih dinyatakan hilang dan hingga kini terus dilakukan upaya pencarian korban di lokasi longsor.

Hujan Lebat

Bencana tanah longsor Banjarnegara didahului dengan hujan sangat lebat yang berlangsung hampir dua hari. Pada Kamis (11/12), sehari sebelum peristiwa longsor, Stasiun Geofisika Kelas III (BMKG) Banjarnegara mencatat, curah hujan memang sangat tinggi, mencapai 112,7 mm. Data tersebut diperkuat oleh sumber TRMM yang juga menunjukkan bahwa di Banjarnegara saat itu memang terjadi hujan lebat pada kisaran 100–120 mm.

Berdasar data streamline pada Jumat (12/12) pukul 07.00 WIB, di sepanjang Pulau Jawa terdapat pola konvergensi massa udara yang membawa uap air. Pergerakan massa udara itu mengalir ke arah timur dan sebagian ke arah tenggara, kemudian berputar ke kanan, menuju zona pusat tekanan rendah. Pada hari yang sama, di Samudra Hindia selatan Jawa sedang ada pertumbuhan tekanan rendah (low pressure). Gangguan tropis itulah tampaknya yang menjadi salah satu penyebab cuaca buruk di kawasan Wonosobo-Banjarnegara beberapa hari terakhir.

Menurut laporan warga yang selamat, pada Jumat pagi hingga siang, di lokasi longsor belum turun hujan deras. Namun, tiba-tiba pada petang hari, sekitar pukul 17.30 WIB, terdengar dentuman keras yang diikuti suara gemuruh panjang. Bukit Telagalele yang menjulang tinggi itu tiba-tiba longsor. Setelah terjadi longsoran pertama, hujan seketika mengguyur dengan deras, selanjutnya membuat material longsoran meluncur dan mengubur 105 rumah. Longsoran juga menutup jalan raya yang menjadi jalur penghubung Banjarnegara dengan Dieng. BMKG Banjarnegara mencatat, curah hujan hari itu 101,8 mm.

Rawan Longsor

Banjarnegara memang rawan longsor. Sebab, hampir 70 persen wilayahnya didominasi zona perbukitan dan pegunungan tua. Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, yang menjadi area longsor sekitar 10 kilometer di utara Kota Banjarnegara, sebenarnya sudah dikenal sebagai salah satu kawasan rawan longsor.

Beberapa faktor yang paling berpengaruh dalam mengakibatkan longsoran di Banjarnegara adalah kemiringan lereng yang curam serta kondisi batuan penyusun yang mendukung terjadinya longsoran. Kemiringan lereng lebih dari 40 persen dengan litologi yang punya daya serap air tinggi (endapan dari bahan rombakan gunung api) dikenal memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya gerakan tanah.

Kawasan lereng akan longsor jika mendapat gangguan kestabilan. Dalam hal ini, gaya pendorong memiliki kekuatan lebih besar daripada gaya penahan. Gaya dorong itu biasanya berupa air atau kemiringan yang curam. Sementara itu, gaya penahan sangat bergantung pada jenis tanahnya.

Berdasar hal tersebut, curah hujan dalam peristiwa longsor di Banjarnegara dapat menjadi faktor penting. Air hujan bisa menambah beban tanah. Tanah yang mengalami  kejenuhan dapat melemahkan daya ikat tanah pada lereng. Dalam hal ini, curah hujan tinggi menjadi faktor pemicu longsor, khususnya pada lereng-lereng yang labil dan kritis.

Berdasar pengamatan melalui foto-foto dari media, sepintas tampak bahwa tipe longsor di Dusun Jemblung adalah slumping (rotational slide). Namun, karena material longsoran itu memiliki kandungan air yang sangat tinggi, di bagian hilir material berubah menjadi aliran debris, tanah, batuan lapuk, dan air. Atau, bisa jadi pada awalnya ada gejala creeping (rayapan), tapi begitu dipicu hujan lebat, yang terjadi adalah slides (meluncur).

Dengan bidang luncur berupa batu lempung, saat hujan deras, batu itu bersifat tidak dapat meloloskan air dan menjadi licin sehingga berfungsi sebagai media peluncur massa di atasnya. Terkait dengan kekhawatiran akan adanya bencana longsor susulan, biasanya jika sudah terjadi longsoran besar, kecil kemungkinan terjadi slumping susulan. Soal tipe longsoran yang sebenarnya terjadi, tampaknya diperlukan kajian lebih mendalam di lokasi bencana.

Sejak akhir 2011, di wilayah Kabupaten Banjarnegara terjadi lebih dari 379 bencana tanah longsor. Bahkan, setiap tahun ada kecenderungan potensi kerawanan tanah longsor meningkat. Karena itu, memasuki musim hujan tahun ini, hendaknya para pemangku kepentingan dan relawan bencana segera memulai kegiatan sosialisasi mitigasi kepada masyarakat di tempat-tempat rawan longsor. Harapannya, dengan sosialisasi yang terus digalakkan, kita semua dapat berperan aktif dalam menekan jumlah korban dan kerugian harta benda jika terjadi bencana.

Senin, 15 Desember 2014

Gempa Jawa 1921

                                Mengungkap Gempa Jawa 1921

Daryono  ;   Peneliti Muda Bidang Geofisika
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
KORAN JAKARTA,  13 Desember 2014

                                                                                                                       


Secara tektonik, letak geografis Indonesia berada di zona pertemuan tiga lempeng utama dunia, yakni Indoaustralia, Eurasia, dan Pasifik. Konsekuensinya, Indonesia akan selalu menjadi daerah sangat rawan bencana akibat faktor geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Secara regional, zona selatan Pulau Jawa merupakan daerah dengan tingkat aktivitas kegempaan sangat tinggi.

Berdasarkan catatan sejarah kegempaan Jawa, di daerah ini sering terjadi bencana gempa bumi dan tsunami. Kondisi itu harus membuat masyarakat semakin memahami arti penting upaya mitigasi. Salah satu peristiwa yang hingga kini masih misteri karena belum banyak diungkap para ahli adalah gempa bumi Jawa 1921.

Catatan sejarah kegempaan menunjukkan, pada tanggal 11 September 1921 pukul 11.00 WIB, terjadi gempa kuat dengan episenter di Samudera Hindia, selatan Pulau Jawa. Koordinat episenter dan magnitudonya menurut Gutenberg dan Richter (1954) terletak pada itik 11o LS-111o BT dengan kekuatan M adalah 7,5 Skala Richter.

Jika ditinjau kondisi sekarang, pusatnya di antara pusat gempa bumi pembangkit tsunami Banyuwangi 1994 dan Pangandaran 2006. Selain Gutenberg dan Richter (1954), ahli seismologi lain, Visser (1922), menentukan lokasi episenter pada koordinat 12,4o LS-110,8o BT.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru, Okal (2012) telah merelokasi episenter. Dia berupaya mengungkap mekanisme sumber gempa Jawa 1921 dengan mengumpulkan beberapa data seismogram kuno, termasuk yang tercatat pada seismograf Wiechert di Stasiun Geofisika Jakarta. Selain menggunakan data seismograf Wiechert (Gambar 1) dan menyebutnya sebagai stasiun BAT (Batavia), Okal (2012) mengumpulkan data seismogram kuno lain.

Beberapa seismogram kuno yang dicari dan akhirnya berhasil ditemukan, di antaranya seismogram dari stasiun API (Apia, Samoa), CTO (Capetown, Afrika Selatan), DBN (De Bilt, Netherland). Kemudian, GTT (Gottingen), PAR (Paris), (Riverview, Australia), STR (Strasbourg, Prancis), dan TOK (Tokyo, Jepang).

Berdasarkan hasil relokasi terungkap, gempa Jawa 1921 termasuk dalam jenis intraplate dengan episenter di zona outerrise, sebelah selatan Palung Jawa pada titik koordinat 10,81o LS-111,45o BT.

Kedalamannya, hiposenter 30 kilometer. Tidak hanya merelokasi episenter, Okal (2012) juga menentukan mekanisme sumber dari gempa Jawa 1921.

Hasil analisis focal mechanism menggunakan data gerakan awal gelombang P akhirnya mengungkap bahwa gempa 1921 terjadi karena deformasi kerak bumi di dasar laut dengan mekanisme kombinasi antara sesar mendatar dan naik (dominasi pergerakan arah mendatar), dengan parameter sesar strike=150o, dip=75o, dan slip 28o.

Menurut laporan Visser (1922), spektrum getaran dari gempa Jawa 1921 ini sangat luas hingga sejauh 1.500 kilometer. Ke barat getaran dirasakan hingga Krui, Lampung Barat. Ke timur getaran hingga Taliwang, Sumbawa.

Warga saat itu merasakan guncangan kuat dari Cilacap, Jateng hingga Wlingi, Blitar. Laporan Soloviev dan Go (1984) tidak merinci kerusakan dan korban jiwa secara lengkap.

Tetapi laporan secara kualitatif menunjukkan bahwa di zona antara Cilacap dan Blitar dilaporkan banyak bangunan rumah roboh dan retak-retak.

Getaran diperkirakan selama satu hingga empat menit. Guncangan juga dirasakan para awak kapal SS Salawati yang sedang berlayar di lepas pantai selatan Malang di titik koordinat 8,68o LS-112,37o BT.

Guncangan tampaknya sebuah fenomena yang dapat diinterpretasikan sebagai gelombang tsunami yang menumbuk badan kapal. Secara singkat, tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan perioda panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan impulsif pada medium laut.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien atau gelombang bersifat sesaat. Maka, kedatangan gelombang tsunami karena gempa kuat di lautan dapat dirasakan awak kapal.

Menurut laporan Soloviev dan Go (1984), gempa bumi Jawa 1921 telah memicu tsunami yang terpantau peralatan di Parangtritis hingga Cilacap.

Data perubahan muka laut akibat tsunami tercacat dengan jelas pada peralatan pencatat pasang surut. Gelombang tsunami di Cilacap mulai pukul 12.15 WIB dengan ketinggian 10 cm. Data marigram tsunami Jawa 1921 yang didokumentasikan Visser (1922) masih tersimpan dengan baik dan dapat dilihat pada Soloviev dan Go (1984).

Data Kuno

Semua sadar akan manfaat besar data kuno hasil pengamatan para pendahulu. Data lama tidak berarti harus dilupakan atau dibuang karena warisan berharga.

Dalam hal ini, Okal (2012), ahli seismologi Amerika, berhasil memanfaatkan data gempa bumi kuno seismogram Wiechert tahun 1921. Data kuno ini untuk menentukan ulang lokasi episenter menjadi lebih akurat. Dia juga sekaligus untuk mengungkap mekanisme sumber gempa yang masih misteri bagi para ahli kebumian.

Dari sisi mitigasi, penelitian Okal (2012) yang dipublikasikan dalam jurnalnya berjudul “The South of Java Earthquake of 1921 September 11: a negative search a large interpolate thrust event at the Java Trench” telah memberi petunjuk penting, zona outerrie di selatan Jawa merupakan sumber gempa yang patut diwaspadai.

Outerrise merupakan unsur tektonik terletak di luar zona subduksi. Selama ini kita menjadikan zona outerrise sebagai kawasan sumber gempa yang terabaikan. Masih banyak misteri semesta di masa lampau yang perlu diungkap dan dicari jawabannya.

Kesungguhan dan kegigihan memanfaat data lama untuk menjawab fenomena alam masa lalu perlu digalakkan para peneliti, demi kehidupan ke depan yang lebih baik. Mengenali peristiwa bencana pada masa lalu dapat menjadi dasar strategi mitigasi jitu untuk keselamatan masa depan anak cucu.

Dengan begitu, data apa pun hasil pengamatan harus dijaga dan didokumentasikan dengan baik. Terakhir, apresiasi dan penghormatan pada Professor Emile A Okal dari Deparment Earth and Planetary Sciences, Northwestern University, Evanston, Amerika. Berkat kegigihan mencari, mengumpulkan, dan meneliti data gempa kuno Indonesia mampu mengungkap sedikit demi sedikit misterinya.

Sabtu, 23 November 2013

Badai Dahsyat dan Pemanasan Global

Badai Dahsyat dan Pemanasan Global
Daryono  ;   Doktor Peneliti di BMKG
KORAN JAKARTA,  23 November 2013



BELUM hilang dari ingatan masyarakat dunia akan bencana gempa bumi merusak M=7,2 skala richter yang mengguncang kawasan Visayas Tengah, Filipina, pada 15 Oktober 2013 lalu, kini kita sudah dikejutkan kembali oleh berita yang memilukan, yaitu terjangan badai dahsyat, Haiyan, di Filipina. 

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, badai tropis Haiyan datang pada Jumat (8/11) pukul 04.40 waktu setempat, yang selanjutnya menyapu kepulauan tengah Samar dan Leyte. Hujan deras yang disertai angin kencang memorak-porandakan seluruh wilayah yang dilewati zona badai. Banjir dan longsoran terjadi di mana-mana. Air laut bergolak dan menyeruak hingga di ketinggian 6 meter, selanjutnya menerjang pesisir pantai mirip peristiwa tsunami. 

Badai tropis Haiyan kini menjadi salah satu badai paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah. Badai ini menerjang dengan kecepatan lebih dari 235 kilometer per jam dan embusannya mencapai 275 kilometer per jam. Dengan kecepatan fantastis ini, Haiyan merupakan badai dengan kategori 5, dampaknya, banyak rumah mengalami kerusakan parah dan roboh. 

Banyak wilayah akan terisolasi akibat pohon tumbang. Listrik dan air tak dapat didapatkan dalam hitungan minggu hingga bulan, serta banyak area yang tidak dapat dihuni. Ternyata benar, Haiyan telah menghancurkan 70-80 persen bangunan perumahan di daerah-daerah yang dilaluinya. 

Kota Tacloban merupakan kota yang menderita paling parah terkena amukan Haiyan. Hingga kini belum ada laporan pasti terkait jumlah korban tewas akibat badai tersebut. Hingga tulisan ini dibuat, sumber resmi pemerintah baru mengumunkan korban tewas akibat badai mencapai sebanyak 4.000 orang.

Sejarah Badai

Ditinjau dari sejarah badai merusak di Filipina, badai Haiyan yang terjadi saat ini hanyalah sebagian dari sejarah panjang bencana badai yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Banyaknya catatan badai merusak di Filipina merupakan cermin akan kondisi geografis Filipina yang memang merupakan kawasan rawan badai tropis.

Filipina adalah negara yang paling berisiko mendapat terjangan badai tropis. Seringnya kawasan Filipina bagian timur dilanda badai hingga memengaruhi pola persebaran pemukiman masyarakatnya, misalnya, pantai timur Luzon kini sangat sedikit penduduknya. 

Berdasar catatan Christopher C Burt dalam Philippines Typhoon History, negara Filipina memang sering kali menderita akibat terjangan badai. Sejak 1617 hingga saat ini telah terjadi setidaknya 10 kali peristiwa badai yang mematikan dan menelan banyak korban jiwa. 

Catatan paling tua mengenai peristiwa badai dahsyat di Filipina dimulai sejak 1617. Badai tropis tanpa nama yang terjadi pada 10 Oktober 1617 menewaskan sekitar 1.000 orang. Sementara itu, badai tropis paling mematikan yang pernah terjadi di Filipina adalah Badai Thelma 1991. Badai ini menyebabkan banjir bandang besar dan longsoran di Kota Ormoc, Provinsi Leyte, dan menewaskan sekitar 5.000-8.000 orang. 

Sejarah badai merusak di Filipina sudah berlangsung sejak lama dan menelan korban jiwa hingga puluhan ribu orang. Beberapa peristiwa badai dahsyat yang pernah terjadi di antaranya adalah (1) Badai Angela yang tahun 1867 menyebabkan 1.800 orang tewas, (2) Badai tropis tanpa nama kembali terjadi pada 1897 menelan korban jiwa 1.500 orang tewas, (3) Badai Ike tahun 1984 menghantam kepulauan Filipina bagian tengah hingga menyebabkan sebanyak 1.492 orang tewas, 

(4) Badai Winnie yang terjadi pada tahun 2004 menelan korban 1.593 orang tewas, (5) Badai Reming tahun 2006 menelan korban sebanyak 1.399 orang tewas, (6) Badai Fengshen 2008 menelan korban 1.410 orang tewas, (7) Badai Washi yang terjadi pada tahun 2011, menghantam bagian utara Pulau Mindanao menyebabkan sebanyak 1.268 orang tewas, (8) Badai Bopha 2012 menerjang Pulau Mindanao hingga menyebabkan 1.146 orang tewas.

Secara statistik aktivitas badai di Filipina menunjukkan bahwa, frekuensi kejadian badai tropis paling rendah terjadi pada bulan Mei. Selanjutnya aktivitas kembali meningkat pada periode bulan Juni-September. Bulan Agustus menjadi bulan paling aktif terjadi badai di Filipina. Selanjutnya, aktivitas badai kembali menurun secara signifikan pada bulan Oktober. 

Pemanasan Global

Danpak dari pesatnya perkembangan teknologi adalah munculnya risiko bencana lebih besar yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh manusia. Pola kehidupan modern yang cenderung konsumtif dan dengan kebebasan mengekplotasi sumber daya alam kini telah menciptakan masyarakat yang justru hidup dalam ketidaknyamanan karena selalu berada dalam bayang-bayang ancaman bahaya. 

Peristiwa superbadai terjadi tidaklah murni semata-mata akibat proses sistem alam saja. Ada indikasi keterlibatan tangan-tangan manusia (antropogenic) yang juga ikut memengaruhi proses semakin besarnya magnitudo dan intensitas badai. 

Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan tanpa kendali, praktek illegal logging yang terus berlangsung dengan membabat habis hutan-hutan tropis telah memicu naiknya suhu di permukaan bumi. Suhu laut meningkat 0,5 derajat celsius sejak seabad terakhir merupakan dampak nyata dari pemanasan global, sementara badai sendiri terbentuk akibat tingginya suhu permukaan air laut.

Pakar pemodelan iklim dari National Center for Atmospheric Research, Colorado, Amerika Serikat, Kevin E Trenberth, menyatakan bahwa dengan suhu air laut yang lebih hangat dengan kelembapan udara di lautan 4 persen lebih tinggi akan memicu terbentuknya badai tropis yang lebih banyak dari biasanya. Ada kecenderungan badai dengan kategori 3 atau di atasnya meningkat makin sering terjadi. 

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sejak tahun 1970-an durasi dan intensitas badai besar yang melanda kawasan Atlantik dan Pasifik mengalami peningkatan. Selain itu, curah hujan akibat dampak badai kini akan menjadi 5–10 persen lebih besar dari biasanya.

Fakta tersebut di atas patut kita renungkan bersama. Jika degradasi alam terus berlangsung dan tidak ada upaya untuk menghentikannya, bisa jadi bencana alam besar akan lebih sering menghampiri kita. 

Rabu, 06 November 2013

Waspada Bencana Awal Musim Hujan

Waspada Bencana Awal Musim Hujan
Daryono   Doktor Peneliti di BMKG 
JAWA POS, 06 November 2013


SEJAK pekan pertama Oktober 2013, sebagian besar wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sebagian Sumatera Selatan sudah diguyur hujan. Hujan deras yang berlangsung beberapa hari pada pekan ketiga Oktober lalu itu telah memicu bencana alam banjir. Puluhan ribu penduduk mengungsi serta ribuan hektare sawah dan rumah terendam. 

Terjangan banjir di Sumatera sebenarnya sudah diprediksi. Berdasar prakiraan awal musim hujan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejak September 2013, tampak bahwa musim hujan 2013/2014 di Indonesia diawali dari wilayah Sumatera bagian utara, bergerak ke Sumatera bagian barat dan selatan. 

Sebanyak 22 zona musim di Sumatera mengalami musim hujan yang dimulai awal Oktober 2013. Zona itu mencakup Aceh Besar, Aceh Tengah, sebagian Aceh Timur, Aceh Tamiang, Tanah Datar, Kampar bagian barat laut, Merangin, Batanghari, sebagian besar Sumsel, Pulau Bangka, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Lampung Tengah bagian timur. 

Kita perlu siaga, belajar dari kasus Sumatera. Mengingat, lebih dari 100 zona musim di Indonesia dihadapkan pada awal musim hujan. Potensi bencana alam karena faktor hidrometeorologis seperti banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor, dan angin kencang masih tetap akan membayangi sebagian besar wilayah Indonesia selama berlangsungnya musim hujan 2013/2014.

Apakah musim hujan tahun ini di atas normal hingga dapat memicu bencana alam yang lebih luas? 

Kondisi normal hingga La Nina lemah akan dominan hingga pertengahan 2014. Jadi, berada pada kisaran normal. Sementara itu, prediksi Dipole Mode Indeks (DMI) pada Agustus-Desember 2013 berada pada kondisi normal hingga negatif kuat. Uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia berpotensi bertambah.

Diprakirakan monsun Asia akan melemah pada Maret-April 2014. Posisi Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) pada akhir Juli 2013 masih berada di sebelah utara ekuator dan cenderung mengikuti gerak tahunan ke arah selatan menuju garis ekuator. Posisi tersebut cukup sesuai dengan kisaran rata-rata sehingga potensi kejadian musim hujan di beberapa wilayah diprakirakan cenderung normal.

Sementara itu, wilayah perairan di sebelah barat Sumatera, sekitar Pulau Jawa, sebelah Selatan Kepulauan Maluku, dan Papua Barat diprakirakan tetap hangat hingga November 2013 dengan anomali suhu berkisar +0.5 C sampai +1 C, namun selanjutnya akan berada pada kisaran normal. 

 

Berdasar hasil analisis data hujan periode 30 tahun terakhir dan pertimbangan kondisi fisis dinamika atmosfer dan suhu muka laut di wilayah Indonesia tersebut, disusunlah Prakiraan Musim Hujan 2013/2014. Rata-rata awal musim hujan di Indonesia dimulai pada Oktober-November 2013. Prakiraan menunjukkan, awal musim hujan yang sudah dimulai pada Oktober 2013 terjadi di 22 zona musim di Sumatera, 61 zona musim di Jawa, 4 zona musim di Bali, 3 zona musim di NTB , 1 zona musim di NTT, 13 zona musim di Kalimantan, 12 zona musim di Sulawesi, 4 zona musim di Maluku, dan 4 zona musim di Papua.

Zona musim dengan awal musim hujan jatuh pada bulan November cukup banyak. Secara detail, zona musim itu meliputi: 6 zona musim Sumatera (Lampung Utara bagian selatan, sebagian Lampung tengah, Metro, dan Lampung timur), 43 zona musim di Jawa (Jabar bagian utara, bagian utara Pemalang/Pekalongan, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Jogjakarta, Jatim bagian utara, dan Madura), 8 zona musim di Bali (sebagian besar Jembrana, sebagian Buleleng, Bangli bagian utara, sebagian Karangasem, Bangli/Gianyar/Klungkung bagian selatan, dan Nusa Penida), 10 zona musim di NTB (sebagian besar P Lombok, sebagian besar Sumbawa Barat, sebagian Sumbawa Besar), 16 zona musim atau sebagian besar NTT, 3 zona musim di Kalimantan (Kalsel bagian timur, Kutai Timur bagian timur, Berau bagian tenggara, dan P. Laut), 11 zona musim di Sulawesi (Polewali Mamasa, Kota Majene, sebagian Enrekang, Bulukumba, Selayar, Kendari Selatan, Kota Kendari, P. Buton, dan Minahasa) dan satu zona musim di Maluku Tenggara.

Zona musim yang awal musim hujannya jatuh pada Desember kebanyakan terdapat di Indonesai bagian timur. Zona musim tersebut meliputi: 1 zona musim di Sumatera (Lampung timur bagian selatan); 1 zona musim di Jawa (Indramayu bagian utara); 1 zona musim di Bali (Buleleng bagian barat); 8 zona musim di NTB (Sumbawa besar bagian Timur Laut, Dompu, dan Raba); 6 zona musim di NTT (Sikka bagian utara, Flores Timur, Alor, dan Sumba Timur bagian utara); serta 5 zona musim di Sulawesi (sebagian Mamuju Utara, Jeneponto, P. Muna).

Selanjutnya, 6 zona musim di Maluku dan Papua (Buru bagian utara, Seram bagian utara, Maluku Tenggara bagian barat, Manokwari bagian selatan, Teluk Bintuni bagian timur, dan Merauke). Selain itu, ada beberapa zona musim lain di Indonesia yang awal musim hujannya jatuh pada Januari-April 2014, tapi sedikit.