Selasa, 24 Mei 2016

Ketika Negara-Bangsa Menjadi "Gila"!

Ketika Negara-Bangsa Menjadi "Gila"!

René L Pattiradjawane ;   Wartawan Senior KOMPAS
                                                         KOMPAS, 23 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam sejarah negara-bangsa Asia, ada tiga negara memiliki kekejaman terhadap bangsa sendiri yang tidak terbayangkan dan menjadi momok sejarah mengerikan. Ketiga negara ini adalah Indonesia dengan peristiwa traumatis 1965 menyebabkan kematian dan kesengsaraan yang melewati batas kemanusiaan, bukan hanya pada pertikaian ideologi dan politik, melainkan juga melebar menjadi sentimen ras Tionghoa Indonesia yang dibelenggu dari akar peradabannya.

Negara lain adalah Tiongkok dengan Revolusi Kebudayaan yang tahun ini berusia 50 tahun, ketika kegilaan ideologi dan politik merasuk seluruh bangsa, menghancurkan tidak hanya elemen-elemen kontra-revolusioner, tetapi juga menghilangkan peradaban lama merusak hubungan antarkeluarga, antarguru, antardesa, dan semua yang berbau kapitalis. Seluruh Tiongkok terhenti, Revolusi Kebudayaan yang "memakan anak sendiri" mereda sampai meninggalnya Mao Zedong, pemimpin karismatik campuran komunis, dewa, dan revolusioner.

Kekejaman Asia lainnya adalah "ladang pembantaian" di Kamboja ketika rezim Khmer Merah membantai seperlima bangsa Khmer dengan korban tewas lebih dari dua juta orang. Kediktatoran Kamboja di bawah Pol Pot ingin membangun komunis Kamboja, bercita-cita membangun dari "masyarakat titik nol" bangsa Khmer dengan membantai rakyat, elite, dan cendekiawan di penjara Tuol Sleng di ibu kota Phnom Penh atau di kawasan Choueung Ek yang tidak jauh dari ibu kota.

Apa hasil pembantaian, pembunuhan, penyiksaan, kelaparan, kesengsaraan di Indonesia, Tiongkok, dan Kamboja dalam peristiwa sekitar 50 tahun lalu itu? Di Indonesia, muncul kekuasaan militer otoriter berkuasa selama tiga dekade, memenjarakan semua lawan ideologi dan politik tanpa proses peradilan. Walaupun kekuasaan ini secara perlahan meredam kemiskinan dan bekerja keras meningkatkan kesejahteraan, kekuasaan militer otoriter mengancam kebebasan intelektual, menekan kebebasan ilmiah, dan mengancam hak asasi siapa pun.

Revolusi Kebudayaan di Tiongkok berhenti dengan wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 dan diadilinya Empat Sekawan pimpinan istri Mao, Jiang Qing. Kaum "elite mandarin" Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ditawan, disiksa, dan disengsarakan melalui kerja paksa, pelan-pelan bangkit dan kembali berkuasa di bawah Deng Xiaoping merancang modernisasi ekonomi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern Tiongkok.

Khmer Merah di bawah Pol Pot digulingkan dalam perang saudara dukungan Vietnam yang menyerang Kamboja tahun 1979. Para pemimpin Khmer Merah mulai dari Pol Pot, Khieu Samphan, dan lainnya dihukum mati atau seumur hidup melalui peradilan internasional di bawah PBB. Kepala penjara Tuol Sleng, Kaing Guek Eav, yang bertanggung jawab atas pembantaian 14.000 orang, dihukum mati pada tahun 2010.

Di Kamboja, pertikaian Khmer Merah menghasilkan aristokrasi politik baru, mengembalikan kejayaan kerajaan Champa. Hun Sen yang nama aslinya Hun Bunal sebelum menjadi Khmer Merah pada tahun 1972, menjadi politisi Asia Tenggara yang paling berkuasa dan memiliki gelar "Samdech Akka Moha Sena Padei Techo", gelar aristokrasi dan supremasi militer.

Pertikaian ideologi politik di Indonesia menghadirkan konglomerasi kerja sama kelompok militer dan pengusaha. Di Tiongkok muncul kelas kapitalis baru menjadi anggota PKT. Baik di Tiongkok maupun Indonesia, pertikaian ideologi politik menghasilkan korupsi sebagai momok baru masyarakat. Di Indonesia, komunisme menjadi "hantu merah," di Tiongkok komunisme menjadi "Chinaisme" menguasai ekonomi dan perdagangan dunia.

Benedict Anderson, Indonesianis terkenal dalam bukunya, Imagined Communities (London, 1983), mungkin benar menyiratkan bentuk yang disebut reduksionisme ideologi dalam menentang kompleksitas fenomena nasional negara-bangsa.

Menurut Anderson, rasa memiliki dan sentimen solidaritas nasional tidak dengan sendirinya membentuk komunitas nasional. Kapasitas materialisme historis ternyata tidak mampu mengatasi fenomena nasional dalam menghadapi modernisasi ekonomi dan globalisasi teknologi. Gila!