Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Tahun Baru

                                                             Tahun Baru

Victor Litaay  ;   Wartawan/Kontributor Sinar Harapan (?)
SINAR HARAPAN,  31 Desember 2013

                                                                                                    
                                                                             
  
Saya hampir berani memastikan, satu lagu yang akan diperdengarkan di pergantian tahun adalah Auld Lang Syne karya seorang penyair Skotlandia, Robert Burns, yang dibuat pada 1788.

Konon, Burns tidak menulisnya sendiri. Ia mengadopsinya dari karya orang lain. Auld Lang Syne berkisah tentang persahabatan, menyiratkan pentingnya mengenang dan merenungkan apa yang telah dilewati.

Lalu, apa yang layak kita kenang dari 2013? Di pagi hari, saat melintas di pusat kota, dari jendela bus, saya menyaksikan pembuatan panggung dadakan tepat di tengah jalan. Seakan membaca pikiran para penumpang, seorang bapak di samping saya berkomentar, “Wah bakal macet besok nih,” gumamnya, mungkin untuk dirinya sendiri.

Setiba di kantor, saya sempat membaca berita bahwa seorang artis papan atas Indonesia mengakui, honornya menghibur masyarakat penonton di malam tahun baru ini bisa ratusan juta rupiah.

Di lingkungan rumah saya, para tetangga jauh-jauh hari sudah saling bertanya, siapa saja yang ada di rumah dan tidak pulang kampung. Ini penting agar rencana acara barbekyu-an, alias bakar-bakar jagung, ikan, ayam, dan sebagainya lancar. 

Lokasinya pun sudah ditetapkan. Demikian pula daftar bahan yang harus dibeli.
Setidaknya masih ada beberapa hal yang bisa mewarnai persiapan pergantian tahun, seperti kembang api dan trompet. Saya menduga, saat pulang ke rumah nanti, saya bisa mendengar lengkingan trompet yang baru dibeli para orang tua, ditiup anak-anak, bahkan sebelum tahun baru.

Namun, mungkin karena kebiasaan, saya dalam beberapa tahun terakhir ini mengamati akan adanya apa yang saya namakan “pertanyaan standar” yang akan ditanya para reporter di TV, radio, atau surat kabar, khusus untuk menyambut Tahun Baru.

Itu kira-kira berbunyi, “Apa resolusi Anda di Tahun Baru?” Jawabannya pun penuh semangat dan kelihatan bersungguh-sungguh. Sampai ada media yang merasa perlu menyusun daftar resolusi terbaik di tahun tertentu, tidak masalah terpenuhi atau tidak.

Hiruk-pikuk persiapan terjadi di sekitar saya. Bahkan, saat menulis ini masih muncul reminder pesan otomatis akan paket promo akhir tahun produk A, diskon menginap dan merayakan Tahun Baru di Hotel B, belum lagi cuci gudang akhir tahun, dan sebagainya.

Bahkan, kalau mau, Anda bisa memperoleh paket murah perjalanan ibadah yang konon didiskon atas dasar Tahun Baru. Semua pihak punya alasan mengambil manfaat dari Tahun Baru.

Tidak ada salahnya pelaku ekonomi menawarkan banyak hal pada konsumen. Toh, mereka juga perlu hidup. Mendulang rezeki dalam suasana hati konsumen yang bergembira adalah wajar. Konsumen juga perlu bergembira.

Kalau boleh jujur, konsumen banyak yang mulai menyiasati kegiatan mereka. Tanpa perlu ke luar negeri, di dalam negeri saja rata-rata hotel, restoran, dan tempat hiburan yang bisa dipesan sudah mendekati, jika tidak bisa dibilang, habis terjual atau terpesan.

Dengan siap dibelanjakannya rupiah untuk konsumsi akhir tahun, semoga kenangan akan rupiah yang terus menurun terhadap dolar AS di Agustus akan menjadi pertimbangan.

Tidak ada faedahnya jika setelah hingar-bingar Tahun Baru, kegiatan ekonomi lesu karena semua sibuk memperbaiki cash flow rumah tangga. Apalagi jika sebagian orang merasa perlu minta tambahan ke tempat kerja dengan alasan harga-harga membumbung tinggi. ●

Minggu, 29 Desember 2013

Tahun Baru

Tahun Baru

Bre Redana  ;   Kolumnis “Catatan Minggu” Kompas
KOMPAS,  29 Desember 2013


  
Tahun baru segera tiba. Banyak yang merasa, waktu berjalan begitu cepat, time flies. Ke mana saja hari? Tiba-tiba sudah akhir tahun dan di depannya tahun baru lagi.

Ah, kita semua sebenarnya ditelan kecepatan. Kecepatan adalah gejala paling menonjol dari kehidupan mutakhir kita. Kita semua pemuja kecepatan. Sesuatu yang lambat, kita keluhkan: internet lelet banget, filmnya lamban jelek, masakannya enak tapi nunggunya lama, jawabannya tidak seketika terlalu mikir, kereta pelan tak sampai-sampai....

Semua orang ingin lebih cepat dan lebih cepat lagi. Kerja lebih cepat, terhubung lebih cepat, berpikir lebih cepat, ngomong lebih cepat, bercinta lebih cepat, hamil lebih cepat—sampai tak sempat berpikir, hamil ini karena terpaksa atau suka bin senang?

Kecepatan dan konsumerisme jalin-menjalin menjadikan apa saja terasa kurang. Ada midnite shopping, liburan, clubbing, nonton bioskop, pesta, berselingkuh, ditambah entah apa lagi. Waktu tetap saja terasa cupet. Padahal, pendidikan anak sudah diserahkan kepada babu. Hidup manusia modern adalah perjalanan dari kekecewaan ke kekecewaan karena apa yang ingin dijalani dan apa yang bisa dijalani makin lebar jaraknya.

Penghayatan kita terhadap waktu bukanlah sebagai siklus. Waktu dihayati sebagai sesuatu yang linear: melesat cepat ke depan. Bersama kecepatan pula kemudian sejumlah imperatif kehidupan hilang. Taruhlah di antaranya proses. Proses diganti sukses, yang datangnya kalau bisa seseketika mungkin. Pokoknya gampang. Tinggal petik.

Bagaimana caranya? Diomongkan. Mengalirlah kutipan, uraian, fasih, diungkapkan sambil mesem-mesem, seolah hidup melulu gejala kata-kata, bukan pelaksanaan segenap aktivitas diri yang di dalamnya termasuk pikiran, tubuh, dan spiritualitas manusia. Bahwa sebagaimana gejala alam, totalitas manusia tak bisa digenjot kecepatannya semudah kata-kata para penganjur produktivitas industri kapitalis. Pret.

Ada sesuatu yang sifatnya alamiah. Tidak ada bayi yang dengan seketika bisa disuruh tegak berdiri dan langsung berlari. Harus terjadi pengondisian tubuh terlebih dahulu, sebelum tubuh bisa diperintah otak untuk melakukan gerak-gerak motorik. Atau sebaliknya, pada fase berikut, kadang dibutuhkan pengondisian otak, untuk tidak terlalu mengintervensi tubuh. Kalau otak terlalu mengintervensi tubuh, orang jadi sulit tidur, stres, mau bercinta loyo karena masih mikirin anjlognya harga saham.

Sejak awal, modernitas memang berkecenderungan mereduksi gejala tubuh. Manusia gerak menjadi manusia duduk. Kota dan metropolitan lahir.
Bersama perkembangan urbanisme, manusia terpisahkan dari alam. Manusia urban tidak mengolah alam. Mereka secara perlahan mulai lupa keterkaitannya dengan alam yang menghidupinya.

Hinterland, desa-desa di sekeliling kota sumber daya pertanian, dilupakan keberadaannya. Dalam globalisasi, keterkaitan kota-desa kian hilang dari memori. Soalnya, jarak antara produsen bahan makanan dengan piring orang kota kian jauh. Beras yang dimakan orang Jakarta berasal dari Thailand. Jeruk dari China. Kopi dari Brasil.

Kalau orang kota kembali ke desa, keinginannya bukan untuk mengolah alam, melainkan mengonsumsi romantisme desa. Banyak teman saya membeli tanah di desa-desa di kota lamanya, sebelum nantinya hengkang, karena kenyataan tidaklah seperti kenangan. Tidak tahu lagi, apa yang harus diperbuat dengan kesenyapan. Sudah terlalu terbiasa dengan kecepatan, hiruk-pikuk, dan gebyar-gebyar palsu.

Di akhir tahun seperti sekarang, kadang sulit saya menjawab pertanyaan orang: di mana tahun baru? Mau apa?

Pasti akan dianggap main-main kalau saya jawab seperti jawaban Guru: saya di sini saja. Karena saya di sini maka saya tidak di sini. Saya tidak melakukan apa-apa. Karena saya tidak melakukan apa-apa, maka saya melakukan apa-apa.... ●