Selasa, 24 Mei 2016

Apa atau Siapa yang Dikebiri

Apa atau Siapa yang Dikebiri

Radhar Panca Dahana ;    Budayawan
                                                         KOMPAS, 23 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sejak lama saya mengatakan, dan kini mungkin jadi pengetahuan (baca: permisivitas) umum: mayoritas mainan anak-anak Indonesia, bahkan di usia awal pengembangan pendidikannya, 3-6 tahun, bukan lagi dalam bentuk tradisional (tak lari, petak umpet, engklek, congklak, dan sebagainya), yang bisa dikatakan lenyap dalam peradaban modern kita.

Setelah era "gimbot" (game watch) atau Tetris hingga 1980-an, kini anak-anak itu memiliki perangkat gawai (gadget) yang menciptakan atau mewujudkan bukan hanya semua jenis permainan tradisional dan modern dunia (dalam bentuk yang mengejutkan), melainkan keluasan ruang imajinasi tak terperi.

Fenomena itu bukan saja mulai jadi keumuman hingga di tepi kota, melainkan juga desa-desa yang mulai meng-"kota". Apa yang mengesankan, sebenarnya menggiriskan, permisivitas dan aksesibilitas anak-anak pada tab kian meninggi seiring merendahnya status atau kelas sosial, ekonomi, politik di mana keluarga sang anak berada. Artinya, apa yang sudah mulai Anda bayangkan sebagai dampak (negatif, destruktif) pada generasi awal bangsa ini justru terjadi makin kuat dan masif di kalangan menengah dan terutama kalangan bawah.

Kesadaran yang terkondisi

Begitukah? Tidak perlu terlalu sinikal. Ini memang baru fenomena. Tapi, kita tahu, gejala yang terjadi tanpa kita lihat dan sadari dengan baik, dalam waktu singkat ia menjadi sesuatu yang "terterima" (taken for granted) dan seiring jumlah waktu yang terus bergerak ia kemudian menjadi nasib atau hal yang secara sosiologis disebut given. Bukankah begitu? Para orangtua yang sudah pasrah, tidak mampu, atau bingung, bahkan sebagian menerima kehadiran gawai-cerdas itu bukan hanya sebuah norma atau hal yang normal, melainkan juga sebagai bagian zaman yang tak terhindarkan. Lebih jauh lagi, sebagian kecil bahkan menjadikannya simbol dari kemodernan atau tingkat keadaban seseorang.

Apa yang kemudian terjadi? Pada tingkat pribadi, misalnya, saya masih belum mengerti bagaimana ada anak umur 10 tahun menukarkan uang asing yang ia curi dari laci orangtuanya hanya untuk main games di warnet selama seminggu, sementara untuk mendapatkan tempat penukaran uang terdekat, ia harus pergi hampir 20 kilometer dari kawasan rumah/warnetnya. Atau, jangan kaget jika sekali waktu di history desktop Anda terdapat beberapa situs porno dewasa di antara puluhan situs Manga, kartun Hongkong, Disney, dan sebagainya, yang patut diduga hal itu dilakukan anak Anda. Apa yang telah terjadi itu secara otomatis membentuk ruang imaji anak, dan kemudian memberi pengaruh pada cara berpikir, merasa, atau bertindaknya di kehidupan sosial.

Apa yang disadari oleh mereka, para wakil pendidik atau transmitor nilai dalam kehidupan sosial dan spiritual kita (pemimpin informal/adat, guru/pemuka agama, dan sebagainya) ketika mereka masih dengan begitu percaya mengajarkan hal-hal yang bukan saja tradisional, klasik, bahkan arkaik-tak hanya dalam makna, simbolisasi hingga ekspresinya-pada anak didik mereka yang ruang imajinernya sudah diisi dengan padat, intens dan masif oleh data dari sebuah tablet/ipad?

Pada tingkat sosial yang masif, anak-anak (remaja) tadi bisa saja berbentuk tubuh dengan realitas biologis lebih dewasa, bahkan puluhan tahun di atasnya. Para remaja itu mungkin memiliki kematangan faali, tetapi pikiran dan imajinasinya di tingkat dependensi, keterikatan acuan, hingga penciptaan obsesi yang tinggi pada dunia virtual serta ilusif yang dihadirkan lewat perangkat gawai. Jika kemudian muncul remaja dengan senapan api membunuh 14 teman sekolahnya; anak 13 tahun di Surabaya diperkosa 13 anak seusia bahkan 4 tahun lebih muda; bayi usia dua tahun diperkosa lalu dibunuh; seorang ibu melempar anaknya dari ketinggian mal di Bekasi, dan sederet peristiwa semacam itu terjadi di negeri ini, negeri tetangga, negeri-negeri seluruh dunia? Tak terbayangkan, dunia macam apa dalam sejarah (peradaban) umat manusia.

Lalu, mengapa pikiran kita begitu cupet dan pendeknya: kebiri saja pelakunya! Termasuk anak 9 tahun yang terlibat dalam pemerkosaan di Surabaya di atas! Siapa yang gila sebenarnya?

Dengan apalagi akal sehat kita, jika satu bangsa ini mengenal dengan baik kata majemuk kuno itu, "akal sehat", harus diberi penjelasan dan argumen: dalam zaman mutakhir saat ini sesungguhnya kita bersama adalah korban. Sekali lagi, korban!

Kalau Anda dengan cara berpikir yang optimistis, progresif, positivistik serta materialistik masih memiliki semacam alasan, bahkan keyakinan bahwa kita adalah juga aktor, pelaku bahkan (turut) membentuk zaman mutakhir itu-katakanlah dengan menjadi programer, pembuat animasi untuk film terakhir Dreamworks, pebisnis start up, hingga pelaku media daring atau perekayasa perangkat kerasnya-renungkanlah dengan sebaiknya: apa sebenarnya peran yang sungguh-sungguh telah Anda mainkan?

Kita pun korban

Baik, mari kita membuka mata. Bukan mata fisik yang terbatas dan mulai lamur dan silau oleh cahaya peradaban yang kian menusuk. Tapi, dengan "mata" lain, baik di pikiran, hati, maupun batin. Dapatkah kita menyadari, hampir 100 persen dari cara hidup kita saat ini sesungguhnya tidak (pernah) kita tentukan sendiri. Bahkan, sebelum kita menyadari, memasuki ruang pendidikan anak usia dini (PAUD) saja para orangtua kita membuat pilihan yang opsi-opsinya sudah disediakan. Jangankan untuk konten atau metode pendidikannya, bahkan dari tagline alias jargon, mimpi, hingga harga yang ditawarkan. Biaya masuk PAUD saat ini banyak yang lebih mahal daripada masuk perguruan tinggi. Tapi kenapa tidak ada yayasan atau pemerintah yang menawarkan beasiswa untuk taman bermain atau PAUD?

Apa sesungguhnya arti dari semua jelujuran fakta, yang notabene belum komprehensif untuk menggambarkan keseluruhan persoalan kita saat ini? Anda sudah dapat menduga, walau mungkin agak kabur. Sejak usia dini, anak-anak bangsa ini yang akan mengambil oper tongkat republik ini sesungguhnya sudah dikondisikan untuk menerima dengan baik kenyataan-kenyataan mutakhir yang pahit dan mengenaskan yang kita lihat, baca, dan rasakan belakangan ini.

Lalu, dengan menggunakan logika tradisional paling awam, melihat sebab dari sebuah peristiwa degil itu lalu dengan enteng kita menyatakan, "terjadi dekadensi moral"; "kebejatan tidak beragama"; "pendidikan yang tidak tepat"; "pelaku yang telengas"; dan seterusnya. Lalu, dengan logika yuridis dan polisional kuno itu kita pun menangkap pelaku dan menumpahkan semua kesalahan kepadanya. Memenjara lama, mengancam hukuman mati, bahkan hendak membunuh kapasitas seksualnya (yang ilahiah itu) alias dikebiri.

Padahal, kita tahu, para pelaku itu sesungguhnya secara esensial juga korban yang sama akutnya. Bukan hanya mereka, melainkan juga kita: orangtua, pemuka, guru, jaksa, polisi, dan seterusnya. Jangan-jangan kita pun sebagai korban juga pernah melakukan satu tindak destruktif atau kriminal karena dorongan yang tidak dikenali dan ia berlangsung begitu saja? Lalu apa dan siapa yang mestinya dikebiri?

Jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya Anda sudah tahu. Retorika semacam inilah yang antara lain membuat buntu akal sehat yang saya sitir di atas. Ketika kita tahu atau sadar menjadi bagian dari sebuah penyimpangan (bias/deviasi) hingga tindak yang anormatif, kriminal hingga biadab, kita tidak memiliki kekuatan bahkan kapasitas intelektual hingga spiritual hanya untuk menegaskan, "aku turut bersalah".

Yang utama: hidup

Dengan semua alasan di atas, kita mendapat imperasi untuk berhenti menjadikan negara dan bangsa ini sebagai panggung teater dari kebodohan di atas. Dungu boleh, tapi jangan satu bangsa, apalagi pemerintahnya. Itu kesialan paling utama sebuah negara, pemerintah dungu, tapi selalu sok tahu. Sok menganggap dirinya paling tahu, pemberi solusi terbaik, dengan menggunakan hukum murahan untuk merepresi orang (rakyat)-bahkan secara koersif-agar menuruti atau meyakini peran (dungu) pemerintah itu.

Negara adalah penanggung jawab dan mesti paham ini semua. Paham bagaimana ini semua terjadi dan berproses dalam sejarah bangsa ini. Tapi mereka buta. Mata mereka tidak bekerja karena sudah terhijab, sudah dilamurkan oleh tujuan-tujuan sangat pragmatis, bahkan dengan taktik yang sangat oportunistis. Ini bukan sepak bola ala Mourinho atau Simeone, "tidak penting dengan cara, hasil adalah dewanya". Dan, kehidupan-termasuk keindahan dan kebudayaan-pun lenyap di dalamnya.

Negara tidak bisa berdiam diri. Tidak bisa! Mereka harus berbuat, mencoba menghentikan semua ini: dari akarnya, dari fondasi terdasarnya; dari buku sejarah misalnya, yang harus dirombak hampir total; dari kurikulum pandir, bahkan sejak PAUD. Terlebih gerakan heboh yang seolah heroistik hendak mem-PAUD-kan semua desa, men-daring-kan seluruh bangsa, menyadar-asuransikan seluruh elemen masyarakat. Tidak! Tak semua bentuk dan sifat kemajuan adalah sebuah kewajiban sosial, bahkan nasional, untuk diterapkan. Tak seluruh pencapaian teknologi adalah "hal yang tak terhindarkan".

Kita tahu, yang utama itu adalah hidup itu sendiri, yang memang harus kita perjuangkan bersama agar terus berlangsung, sebagaimana ia menjadi "amanah" kemanusiaan ilahiah itu. Di akhir kalimat itulah kuncinya: hidup semata untuk meng-ilahiah-kan manusia pada akhirnya, memanunggalkan jagat kecilnya dengan yang gede. Jadi, apa pun yang ada di sekitarnya, tak ada yang tak bisa ditawar, tak ada yang harus diterima atau ditolak habis-habisan. Kita punya mekanisme bahari yang superhebat untuk melakukan itu semua. Maka, apabila terjadi pembiaran sistemik dari kondisi mengenaskan bangsa kita hari ini, bahkan sejak anak-anak kita "melek budaya", tidak lain kita tahu siapa yang harus bertanggung jawab, dan siapa pula yang harus dikebiri.