Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi - Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya Nyepi - Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2015

Nyepi dan Revolusi Mental

Nyepi dan Revolusi Mental

I Ketut Parwata  ;  Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
KORAN SINDO, 21 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Bagi umat Hindu Indonesia, Nyepi Tahun Baru Saka 1937 yang jatuh bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2015, merupakan Nyepi pertama ketika bangsa ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dengan panggilan akrabnya Jokowi.

Sejak jauh sebelum dan setelah terpilih sebagai presiden RI ketujuh, Jokowi mengembuskan Nawacita yang merupakan sembilan agenda prioritas untuk mewujudkan visi dan misinya sebagai pemimpin salah satu negara besar di dunia. Dalam poin ke-8 Nawacita tersebut, disebutkan ”Melakukan revolusi karakter bangsa melalui penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.”

Sesungguhnya revolusi karakterbangsayangseringdisebut sebagai revolusi mental dapat ditempuh tidak saja melalui penataan kurikulum pendidikan, tetapi dapat juga dilakukan secara menyeluruh dan masif kepada masyarakat luas tanpa mengenal usia, status, dan lainnya. Karakter yang dalam KBBI dipadankan dengan budi pekerti akan memengaruhi sikap dan sikap akan membentuk perilaku.

Perilaku yang berulang kemudian akan menjadi kebiasaan dan akhirnya kebiasaan menjadi budaya. Budi pekerti yang luhur niscaya akan melahirkan budaya yang adiluhung. Sebaliknya, budi pekerti yang kurang terasah akan melahirkan kebiasaan yang tidak berbudaya.

Akhir-akhir ini bangsa kita sedang dilanda oleh degradasi moral yang diikuti dengan semakin menipisnya budi pekerti. Penipisan budi pekerti atau karakter manusia Indonesia tampak dari perilaku dan kebiasaan yang tidak mencerminkan budaya adiluhung yang sejatinya menjadi jiwa bangsa Indonesia selama ini. Perilaku tersebut di antaranya:

Pertama, permisif, semua bisa diatur dan boleh-boleh saja asalkan memberi keuntungan kepada seseorang atau sekelompok orang tanpa menghitung dampak negatif yang ditimbulkannya. Termasuk dengan melanggar etika dan peraturan perundang- undangan yang ada.

Kedua, hipokrit, munafik (tidak satunya pikiran, perkataan, dan perbuatan). Tentu kita masih ingat dengan jargon politik ”katakan tidak pada korupsi”, namun pada akhirnya beberapa orang darinya terbukti melakukan tindakan tak terpuji itu. Pengetahuan agama dan ekspresi keagamaan tidak jarang hanya dipakai untuk menutupi kebusukan yang dilakukannya.

Ketiga, machiavelis, tujuan menjadi segala-galanya. Apa pun tujuan yang ingin diwujudkan akan dicapai dengan menghalalkan segala cara tanpa menghitung kepentingan pihak lain. Tipu daya, menerabas, sogok, dan suap menjadi hal biasa dalam mencapai tujuan.

Keempat, egoistis, mau menang sendiri. Bila orang lain yang menang, berbagai upaya dilakukan untuk menghalangi kemenangan mereka. Orientasinya hanya kepada dirinya sendiri, yang penting aku menang dan senang, peduli amat pada orang lain. Dalam kondisi ini, yang kuat akan selalu mengalahkan yang lemah, termasuk dalam perebutan sumber daya ekonomi. Rasio gini yang semakin meningkat menunjukkan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat Indonesia.

Kelima, materialistis, menempatkan uang dan materi di atas segala-galanya. Sebuah kalimat satiris menggambarkan perilaku tersebut yakni ”keuangan yang maha esa,” demikian sering kita dengar. Sebagian orang, dengan berbagai cara yang tidak terpuji, mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya, entah dengan menilap uang rakyat atau dengan sekadar mencopet di angkutan umum atau menipu rekan bisnis. Gelimang materi dan kekayaan memiliki daya tarik dan daya pikat yang luar biasa. Meski sudah banyak koruptor yang menjalani sebagian hidupnya dipenjara, perilaku korup tetap merebak dan meruyak di segala bidang dan lini.

Keenam, hedonistis, hidup berfoya-foya danhura-hura. ”Hidup hanya sekali, nikmati sepuas- pusanya” begitulahprinsip hidup yang digenggamnya. Tanpa peduli dari mana uang yang digunakan, yang penting happy. Narkotika dan penyalahgunaan obat terlarang menjadi sarana untuk memenuhi gelora jiwa tak terkendali. Minuman keras (termasuk oplosan) menjadi pemuas dahaga, dan seks bebas (cinta satu malam) menjadi teman setia sampai langit ketujuh.

Ketujuh, sarkastis, kata-kata kasar sudah menjadi bahasa sehari- hari. Saling umpat tidak hanya terjadi di dalam rumah, tetapi juga di ruang publik bahkan di gedung wakil rakyat yang sangat terhormat. ”Bahasa menunjukkan bangsa” yang menuntut kesantunan berbahasa tidak lagi menjadi kebanggaan.

Kedelapan, sadistis, berbuat kejam tidak berperikemanusiaan. Hanya karena persoalan sepele seperti uang parkir yang kurang atau ”diomeli” oleh majikan, nyawa menjadi penggantinya. Hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan atau keinginan memiliki telepon tangan (handphone), nyawa tak ada artinya. Melalui media (cetak, elektronik, maupun sosial) hari-hari kita selalu diisi dengan berita pembunuhan (kadang disertai mutilasi) dengan berbagai latar belakang dan motifnya.

Kesembilan, fatalistis, semakin banyak yang ”berani mati, tetapi tidak berani hidup.” Hanya karena tidak punya baju sembahyang, hanya karena tidak diberi uang jajan, hanya karena tidak memiliki seragam sekolah, hanya karena cinta ditolak, bunuh diri menjadi solusi satu-satunya. Angka bunuh diri di berbagai daerah menun-jukkan peningkatan yang signifikan. Ini menjadi indikator semakin menurunnya penghargaan terhadap hak hidup, termasuk hidupnya sendiri.

Setelah melakukan introspeksi terkait kondisi seperti tersebut di atas, menjadi sebuah kebutuhan sekaligus kewajiban bersama untuk mendukung ”Revolusi Mental” yang digaungkan dan dicanangkan oleh Presiden Jokowi. Tanpanya, dikhawatirkan pada suatu saat bangsa ini akan menjadi bangsa barbar yang kehilangan keadaban.

Diperlukan kesadaran bersama bahwa bangsa ini dapat jatuh mencapai titik nadir peradaban apabila tidak ada upaya serius untuk membenahinya. Hendaknya ditumbuhkembangkan kesadaran bahwa sejatinya kita yang dilahirkan sebagai manusia, dibekali dengan Tri Pramana (Tiga Kemampuan Dasar) yaitu budhi (nurani), manah (pikiran), dan ahamkara (naluri).

Budhi (nurani) dan pikiran kita harus mampu mengendalikan naluri yang ada dalam diri dan tidak membiarkannya bergerak bebas tanpa kendali. Salah satu momentum untuk mengembalikan kesadaran kita adalah saat menyelesaikan satu putaran waktu seperti ketika memasuki tahun baru, termasuk Tahun Baru Saka bagi umat Hindu.

Pada tanggal 1 Waisaka (bulan pertama Kalender Saka) yang tahun ini bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2015, umat Hindu melaksanakan Nyepi sebagai wahana kontemplasi, melakukan introspeksi, refleksi, dan retrospeksi dengan sejenak menoleh ke belakang guna menelaah dan mengevaluasi perbuatan, termasuk perilaku kita setahun terakhir.

Kemudian dengan tekad bulat dan kuat kita membuat resolusi untuk berbuat lebih baik dengan mengurangi bahkan menghilangkan perilaku yang menyimpang dari tuntunan ajaran agama, merugikan orang lain dan lingkungan, serta merendahkan harkat dan martabat sebagai makhluk yang ber-budhi dan menyandang predikat manusia.

Selamat Tahun Baru Saka 1937, semoga senantiasa mendapat tuntunan dan anugerah Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Kuasa. ●

Jumat, 20 Maret 2015

Usaha Memahami “Goa Hati”

Usaha Memahami “Goa Hati”

Raka Santeri  ;  Wartawan; Tinggal di Bali
KOMPAS, 20 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Fokus sentral dari tradisi Nyepi adalah kedalaman kontemplatif. Pada kedalaman kontemplatif tersebut, manusia berusaha memahami ”goa hatinya”, yang dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Brahman (Tuhan) di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, sejak awal Rsi Patanjali telah menegaskan, ”Yoga adalah pengekangan benih-benih pikiran (citta) dari pengambilan berbagai wujud (perubahan, wrtti).” Santo Paulus memberikan istilah sebagai ”berjalan dalam roh ketika berbaliknya pikiran dan hati menuju kehidupan baru”.

Adalah Raja Kaniska I pada suatu saat di tahun 77 Masehi tercenung memahami goa hatinya. Penguasa Dinasti Kusana yang termasyhur itu selalu berdiri tegak di atas kemenangan setelah dapat mengalahkan musuh-musuhnya.

Namun, tiba-tiba pada suatu malam yang gelap, ketika bulan mati, dia tercenung dari kemegahan egonya. Dengan rendah hati, dia bertanya kepada diri sendiri, ”Apakah arti kemasyhuran dalam hidup jika selalu diwarnai dendam dan diancam pemberontakan? Adakah yang lebih indah dalam hidup ini selain kedamaian?”

Pengalaman memahami goa hati itulah yang kemudian melahirkan hari raya Nyepi sebagai saat untuk melihat ke dalam diri sendiri sambil menundukkan ego yang telah dikuasai berbagai hal bersifat material-profan. Setidaknya pada saat Nyepi seperti ini, seseorang berusaha mengimbangi keserakahan egonya dengan visi kebersamaan yang lebih bermakna bagi keselamatan umat manusia.

Ke dimensi spiritual

Banyak orang yang percaya bahwa abad XXI akan ditandai dengan tren munculnya berbagai gerakan spiritual. Manusia seolah ingin kembali menengok ke dalam dimensi spiritualnya yang selama ini ditinggalkan. Karena itulah spiritualisme dan budaya akan terus menguat.

Misalnya, Capra mengutip sosiolog Pitirim Sorokin yang sudah sejak tahun 1940-an memperkenalkan ”tiga sistem nilai dasar”. Ketiga sistem nilai dasar itu melandasi semua manifestasi suatu kebudayaan.

Sistem nilai indrawi yang pertama berdiri di atas realitas ultim. Fenomena spiritual dianggapnya hanya merupakan suatu manifestasi dari materi. Semua nilai etika bersifat relatif, tetapi persepsi indrawi merupakan satu-satunya sumber kebenaran.

Kedua, sistem nilai ideasional (ideational). Dalam sistem ini realitas yang sejati justru terletak di luar dunia materi, yaitu pada alam spiritual. Bahkan, pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman batin.

Sementara sistem nilai ketiga merupakan sintesis kedua sistem nilai terdahulu. Namun, sangat diyakini, transformasi yang kita alami saat ini akan berlangsung jauh lebih dramatis dan lebih cepat daripada yang pernah dialami manusia sebelumnya.

Keyakinan para ahli itu mulai dan terus mewujud sekarang. Gerakan yang dianggap paling menonjol pada akhir abad XX dan awal abad XXI ini adalah gerakan new age untuk melawan modernisme yang didominasi peradaban Barat. Namun, new age hanya melangkah sejauh berpaling dari agama Barat untuk kemudian menyelami agama Timur, seperti Hindu, Buddha, Zen, Taoisme, dan agama-agama asli di Amerika.

Perlawanan yang lebih keras sekaligus lebih kejam terhadap modernisme muncul dalam bentuk radikalisme, antara lain Al Qaeda, Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dan Boko Haram. Gerakan ini bersifat menyempit terhadap ajaran agama yang dianut dan menganggap agama lain, bahkan pemeluk agama sendiri yang tak sepaham, sebagai kafir.

Kearifan spiritual

Para bijak menyebut, transformasi memang menimbulkan sakit dan penderitaan. Karena itu, tetua di Bali selalu menandai transformasi, bahkan setiap perubahan dalam siklus hidup manusia dan alam, dengan melangsungkan upacara memohon keselamatan. Namun, transformasi memang tidak bisa dihindari, sebaliknya harus disambut dengan kearifan spiritual: membiarkan yang lama semakin surut dan menata yang baru menggantikan untuk tumbuh.

Karena itu, sekarang kita bisa memahami mengapa seorang Ahmed al-Tayib, Imam Besar Al-Azhar, menyerukan reformasi ajaran agama di negara Muslim untuk mencegah penyebaran ekstremisme agama.

Dan, bagaikan gayung bersambut, Nahdlatul Ulama juga akan mengukuhkan Islam Nusantara pada muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, awal Agustus. Islam Nusantara yang dibangun akan saling memperkuat Islam dan nasionalisme serta diharapkan menjadi model keislaman dunia.

Seolah melengkapi ide Nahdlatul Ulama, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ”Kita harus bisa memberikan alternatif kepada dunia bahwa untuk melihat dan mempelajari Islam itu tidak hanya bertumpu ke Timur Tengah, tetapi juga ke Indonesia.”

Secara kebetulan, itulah yang telah dilakukan umat Hindu. Umat Hindu di seluruh dunia tidak akan pernah sama dalam menerapkan ajarannya karena selalu disesuaikan dengan budaya setiap daerah. Ketika membentuk World Hindu Parisad dua tahun lalu di Bali, tokoh-tokoh Hindu dunia mengagumi keanekaan Hindu di Indonesia sehingga sepakat menjadikan Bali sebagai pusat kerja sama umat Hindu sedunia.

Ya, spiritualitas, goa hati, tampaknya sedang bergerak untuk menyatukan seluruh umat beragama. Bukan hanya intern umat beragama, melainkan juga antarumat beragama. Dalam kerukunan seperti itu, setiap pemeluk agama harus terus berusaha menghidupkan agama atau keyakinan yang mereka anut masing-masing.

”Setiap orang harus mengetahui bahwa agama mempunyai tubuh dan jiwa. Apa pun tubuh agama yang Anda sentuh, Anda harus menyentuh jiwanya. Namun, jika Anda menyentuh jiwanya, Anda telah menyentuh tubuh agama,” ujar sufi Hazrat Inayat Khan. Dia menyebut agama yang benar ada di dalam hati yang terbuka, dalam pandangan yang luas, dan dalam agama yang hidup. ”Carilah Tuhan di dalam hati umat manusia,” ujarnya.

Karena itu, marilah pada hari suci Nyepi ini kita belajar memahami suara di dalam goa hati kita masing-masing. Selamat merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1937. ●

Rabu, 02 April 2014

Nyepi dan Penyambutan Pemilu

Nyepi dan Penyambutan Pemilu

I Nengah Segara Seni  ;   Wartawan Suara Merdeka
SUARA MERDEKA, 01 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
OMSwastiastu. Selasa (1/4) ini, umat Hindu merayakan Ngembak Nyepi Tahun Baru Saka 1936, setelah sehari sebelumnya melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, dari pukul 24.00 hingga esoknya.

Ngembak adalah kegiatan sima krama atau dharma shanti, yaitu saling memaafkan dan mengunjungi sanak keluarga, handai taulan, teman sekerja, tetangga dan sebagainya.

Seperti halnya umat Islam merayakan Idul Fitri maka umat Hindu, setelah menjalani rangkaian Hari Raya Nyepi, ingin kembali suci, bersih, dengan pendalaman spiritual yang mantap. Perayaan Tahun Baru Saka merupakan rangkaian upacara yang dijalani secara khidmat oleh umat Hindu melalui catur brata (empat pantangan), yang terdiri atas melasti atau mekiyis, tawur, sipeng (nyepi), dan ngembak nyepi (geni).

Melasti adalah melaksanakan upacara untuk angamet sarining bhuana, angelebur malaning bhumi atau mengambil sari-sari bumi dan membersihkan kotoran dunia. Adapun tawur adalah upacara di perempatan jalan, pada pusat pemerintahan (provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa) untuk menetralisasi keadaan bhuana agung (jagat raya) dan bhuana alit (tubuh manusia).

Sehari setelah upacara tawur, barulah dilaksanakan puncak acara, yakni sipeng (nyepi), yakni inti dari peringatan pergantian tahun. Ada empat hal yang selalu menjadi titik perhatian dari catur brata (empat pantangan), seperti amati geni (tak menyalakan api), amati karya(tak bekerja), amati lelungan(tak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).

Inti dari semua pantangan itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa, harus menjalani puasa secara utuh, baik secara aktivitas duniawi maupun rohani.

Hari Raya Nyepi, salah satu hari raya umat Hindu juga menganut nilai-nilai budaya yang di dalamnya ada yadnya, kekuatan spiritual untuk dapat membentuk jati diri manusia. Selain itu, sebagai wahana pengendalian diri dan dapat sebagai penguat integrasi dalam arti yang sangat universal.

Dalam hal ini dikenal istilah Tri Hita Karana, atau tiga penyebab tercapainya kebahagiaan. dan dalam kandungan universal tersebut, menyangkut hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Semua itu saling terkait, dan hubungan itu berpedoman saling menghargai aspek sekelilingnya.

Karena itu, hubungan selalu didasari atas keseimbangan dan keselarasan, sehingga tercapai hidup tenteram, damai, dan sejahtera. Perayaan Nyepi kali ini terasa berbeda dari tiga tahun terakhir. Pasalnya, kali ini Hari Raya itu terjadi bersamaan dengan ingar-bingar kampanye Pileg 2014. Karena itu, atas kebijakan pemerintah setempat/Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), ada penyesuaian kegiatan.

Di Bali, khususnya di Badung, tahun ini tidak ada kegiatan pawai ogoh-ogoh karena tidak mau dikotori oleh kegiatan politik. Misal ada titipan ëísponsoríí terselubung dari parpol atau caleg yang menumpang dalam pawai tersebut.

Harmoni Nusantara

Ogoh-ogoh sebenarnya perwujudan dari butha kala (sifat kekerasan, keangkaramurkaan atau keburukan lain), yang kemudian ditampilkan dalam dimensi lain oleh peserta pawai. Misal ada penggambaran Inul Daratista goyang ngebor, atau Anas Urbaningrum menuju ke Monas membawa tali gantungan.

Model lain, ada tokoh ber-udeng (ikat kepala khas Bali) yang digambarkan sebagai koruptor. Berkaitan dengan berbarengannya masa kampanye pileg, panitia pelaksana peringatan Tahun Baru Saka 1936 membatasi diri. Sebaliknya mereka justru memberi tema-tema khusus. Untuk Jateng, sebagaimana dikatakan Ketua PHDI Jateng, I Nyoman Surahata, fokus pada ”Melaksanakan Dharma Negara - Mewujudkan Harmoni Nusantara”.

Pemilihan tema itu tidak lepas dari situasi dan kondisi negeri yang tengah menyambut pesta demokrasi. Dalam kaitan dengan Tri Hita Karana maka manusia wajib memberi sumbangsih kepada negara yang saat ini sedang membangun (memilih) wadah/pemimpin bangsa untuk lembaga legislatif.

Ia hanya mengingatkan jangan sampai ada umat Hindu yang golput. Memilih pemimpin juga melaksanakan tugas negara, dan secara tidak langsung berarti melaksanakan perintah agama dalam mencari pimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri, golongan ataupun partai semata.

Kala keprihatinan yang sangat mendalam menerpa negeri ini, rasanya tepat jika kita mengutip ''suara sati'' Ida Pendanda Gede Made Gunung: Dalam kesetiaan matahari menyinari bumi yang tak pernah surut, mudah-mudahan mampu memberi penerangan kepada manusia yang penuh kegelapan agar mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Kala Pertiwi sudah sangat sabar menopang makhluk yang bertubuh manusia dan berperilaku binatang/manusia cemer (kotor) -- maka jangan salahkan ada kegemparan gempa, banjir bandang, tsunami, longsor dan bencana lain-- kita berharap masih ada pengampunan dari-Nya.

Ketika umat Hindu telah selesai melaksanakan Catur Brata Penyepian, hendaknya bisa menjalani ruang dan waktu kehidupan sesuai tuntutan etika dan tuntunan agama. Mudah-mudahan ada secercah sinar yang memberi harapan untuk menjadi lebih baik pada masa mendatang. Om Shanti, Shanti, Shanti... Om!

Minggu, 30 Maret 2014

Nyepi di Tengah Gemuruh Politik

Nyepi di Tengah Gemuruh Politik

Raka Santeri ;   Wartawan; Tinggal di Denpasar, Bali
KOMPAS, 30 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
Pelaksanaan Nyepi tanggal 31 Maret 2014 (Saka 1936) ini berlangsung di tengah ”gemuruh politik” Indonesia dalam pesta demokrasi menjelang Pemilu Legislatif 9 April dan pemilu presiden pada Juli mendatang.

Untuk menghormati umat Hindu menjalankan ibadah penyepiannya, di Bali tidak akan dilakukan kampanye terbuka pada hari-hari melasti (prosesi ke laut dan sumber-sumber mata air), tawur ka sanga, nyepi, dan ngembak geni selama lima hari.

Pergantian tahun Saka, yang dimulai pada 78 Masehi, sejak awal mengusung pesan kebudayaan untuk meredakan nafsu perang antarsuku di Asia Selatan, menggantinya dengan pesan-pesan perdamaian.

Suku Saka yang mengawali pesan perdamaian itu merupakan suku pengembara yang sangat tangguh sehingga suku-suku lain segera ikut menyambutnya.

Ternyata dari rahim perdamaian itu lahir toleransi serta karya sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan yang dikagumi sampai kini, seperti, misalnya, Nagarjuna dengan doktrin Buddha Mahayana-nya, penyair Raja Sekhara dengan kitab Kavyamimamsanya, dan Mathara dengan pemikiran strategi politik.

Maharaja Kaniska I yang mencanangkan lahirnya Tahun Saka itu ikut membina perkembangan agama Buddha meskipun dia sendiri beragama Hindu. Toleransi yang masih kita dambakan pada abad ke-21 ini ternyata sudah hidup subur di Asia Selatan pada awal Masehi.

Timbul pertanyaan, bisakah keheningan menyapa hiruk-pikuk kepentingan nafsu manusia? Atau sebaliknya, hiruk-pikuk nafsu manusia membelai keheningan batinnya sendiri? Tuhan yang meniupkan keheningan dari sumber diri-Nya ternyata telah mempertautkan perbedaan dalam kesatuan. Maka, bersabdalah Tuhan dalam Yayurveda XL.6: ”Seseorang yang melihat Dia dalam setiap makhluk, dan melihat semua makhluk dalam Dia, akan memahami kesatuan dan tidak membenci yang lain.”

Yang lahir dan yang batin, yang riuh dan yang sunyi ternyata masih terangkai dalam satu kesatuan. Kepicikanlah yang memisahkannya. Namun, bagi siapa saja yang mau mendaki, akan menemukan keheningan di setiap puncaknya.

Hiruk-pikuk politik, nafsu-nafsu kekuasaan, serta keserakahan pada harta-benda hanya merupakan luapan ego manusia yang mengapung dangkal di permukaan. Manusia tidak akan pernah bahagia dengan semua itu. Manusia juga tidak akan mampu bertahan hidup dalam situasi krisis dan perang, atau di atas bara permusuhan dan kebencian.

Karena jauh di dalam batinnya mengalir keheningan yang melumuri kasih sayang, kejujuran, dan persaudaraan. Itulah sebabnya, setiap saat kita perlu berhenti sejenak, merenungi suara batin kita masing-masing, lalu meneguk air kesadaran dari sumber keheningan.

Menunduk dan bersyukur
Prof Arysio Santos (2010) menyatakan, Indonesia pernah menjadi kekaisaran dunia, sumber segala peradaban besar seperti dikisahkan zaman Atlantis. Bisakah ini membuat kita bersyukur sambil menundukkan kepala memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa? Beberapa kali kemudian bangsa ini telah menunjukkan lagi kehebatannya. Sriwijaya pada sekitar abad ke-7, menyusul Majapahit pada sekitar abad ke-14. Tidak mustahil Indonesia akan berjaya kembali pada abad ke-21 ini.

Visi Indonesia 2030, misalnya, merumuskan ”cita-cita, imajinasi, dan mimpi menjadi bangsa yang kuat, lebih dari sekadar meneruskan keadaan seperti saat ini”. Meskipun baru ”mimpi”, Visi Indonesia 2030 itu diklaim telah dibangun dengan optimisme yang rasional, dan dengan cara memandang masa depan yang lebih baik. Intinya, Visi Indonesia 2030 ingin membangun ”Negara Maju yang Unggul dalam Pengelolaan Kekayaan Alam”.

Pengelolaan kekayaan alam memang menjadi masalah besar bangsa kita selama ini. Kebijakan kuno di Bali memandang alam sebagai cerminan wajah Tuhan. Dalam filosofi Tri Hita Karana, dikaitkan hubungan harmonis antara manusia dan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Itulah penyebab timbulnya kebahagiaan.

Ketika alam dieksploitasi hanya sebagai obyek, pada saat yang sama manusia telah merendahkan derajatnya sendiri, serta mengingkari kekuasaan Tuhan. Ketidakseimbangan yang terjadi pada akhirnya akan memusnahkan manusia sendiri.

Tentulah berkali-kali kita sebagai bangsa pernah tersandung, jatuh, dan sakit sejak kemerdekaan sampai sekarang. Namun, kita selalu bangkit. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang dikisahkan pernah menjadi pusat peradaban dunia, sudah seharusnya pula kita bisa menghargai para pemimpin kita, mulai Bung Karno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono sekarang ini. Apa pun kelebihan dan kekurangan mereka, mereka tetap merupakan pemimpin bangsa yang pernah kita miliki. Tan hana wwang hayu sinulus, tidak ada manusia yang sempurna.

Justru dengan kesadaran tidak ada manusia yang sempurna itulah pula pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2014 ini menjadi semakin penting. Lebih dari tahun-tahun sebelumnya, tahun 2015 ke depan akan menjadi tahun-tahun dengan tantangan semakin berat bagi bangsa-bangsa di dunia.

Dunia yang kini telah dipersatukan oleh teknologi informasi akan lebih tertantang lagi dengan robohnya batas-batas perdagangan, industri, dan jasa manusia. Bukan hanya bangsa, pribadi-pribadi pun kini dituntut semakin cerdas, terampil, berkarakter, dan berdaya saing tinggi.

Pemimpin seperti apa yang bisa tegak berdiri di depan bangsa menghadapi tantangan seperti itu? Tidak mudah menjawabnya. Diperlukan kecerdasan intelektual, kepekaan sosial, bahkan keheningan spiritual untuk memutuskan pilihan-pilihan. Jangan sampai hasil pemilu nanti justru menjadi titik balik kemajuan bangsa, meminjam istilah Presiden Boston Institute for Developing Economics Gustav F Papanek dalam paparannya di kantor Redaksi Kompas, Rabu (12/3).

Hari raya Nyepi mungkin bisa jadi salah satu momentum untuk merenunginya. Namun, dalam wacana pesan-pesan politik yang semakin riuh, kita pun perlu lebih sering lagi tenggelam dalam ”nyepi-nyepi” yang lain agar selalu mendapat bimbingan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Nyepi Mengintip Saldo “Rekening” Kehidupan

Nyepi Mengintip Saldo “Rekening” Kehidupan

I Ketut Parwata  ;   Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia
KORAN SINDO, 29 Maret 2014
                                     
                                                                                         
                                                             
Hanya atas kasih-Nya Hanya atas kehendak-Nya Kita masih bertemu matahari Kepada rumpun ilalang Kepada bintang gemintang Kita dapat mencoba Meminjam catatan-Nya Sampai kapankah gerangan Waktu yang masih tersisa

Syair lagu Masih Ada Waktu ciptaan Ebiet G Ade di atas mengingatkan kita bahwa ”waktu” adalah mutlak milik Tuhan Yang Mahakuasa. Bilakah kita memulai dan mengakhiri keberadaan kita, sepenuhnya menjadi kehendakNya. Yang Mahakuasa pula yang memegang catatan ”rekening” atas perilaku dan perbuatan setiap orang. Setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup, memiliki catatan atas perbuatan (karma) dan hasil perbuatannya (karmaphala) sebagai sebuah hubungan sebab akibat.

Perbuatan baik akan mendatangkan pahala yang baik, sedangkan perbuatan yang tidak baik pasti mendatangkan pahala yang juga tidak baik. Sisa atau saldo hasil perbuatan (karmaphala) setiap makhluk berupa sancita karmaphala akan menjadi takdirnya dalam kehidupan berikutnya. Dalam pandangan Hindu, kelahiran sebagai manusia sungguh sangat utama. Manusia yang dibekali dengan tri pramanaya itu budhi (nurani), manah (pikiran), dan ahamkara (naluri) dalamdirinya memiliki kekuasaan untuk merancang masa depannya.

Selain itu, manusia juga diberi kekuatan dan kemampuan berupa bayu (hidup, bertumbuh, dan berkembang), sabda (berkomunikasi), dan idep (kesadaran). Hanya makhluk yang berbudi dan berkesadaran yang memiliki kemampuan untuk mengingat dan mencermati perjalanan hidupnya yang tercatat dalam ”rekening” tersebut. Dengan meminjam catatan ”rekening” yang ada, kita dapat mengintip berapa besar saldo yang akan menjadi bekal kita menuju keabadian.

Kesempatan terbaik untuk meminjam dan mengintip saldo ”rekening” kita adalah saat mengakhiri dan memulai satu putaran waktu. Karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi umat Hindu untuk menggunakan satu hari khusus dalam satu tahun sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi, refleksi, dan retrospeksi atas perjalanan hidup kita selama satu tahun terakhir sekaligus membuat resolusi untuk satu tahun ke depan.

Hal tersebut tentu akan berjalan dengan baik manakala dilakukan dalam suasana tenang, hening, dan sepi. Untuk itulah, umat Hindu melakukan Nyepiselama sehari penuh dalam mengawali kedatangan tahun baru yaitu Tahun Saka. Nyepi dengan berbagai rangkaian kegiatan ritualnya sejak melasti/melis/mekiis, mecaru/tawur/tawur agung, nyepi, dan dharma santi merupakan sadhana atau disiplin diri yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesucian diri (bhuwana alit) dan lingkungan alam semesta (bhuwana agung).

Penyucian diri adalah proses pendakian spiritual. Dengan menjaga kesucian diri dan lingkungan, niscaya akan tercapai harmonisasi antara manusia-alam- Tuhan Yang Maha Esa sebagai tiga penyebab kebahagiaan (tri hita karana).

Nyepi yang dilaksanakan dengan catur brata (amati gni–– tidak menyalakan api/lampu, amati karya––tidak melakukan pekerjaan fisik, amati lelungaan–– tidak bepergian, dan amati lelanguan–– tidak menikmati hiburan) serta upawasa–– tidak makan dan minum, mona–– tidak berbicara, dan jagra–– tidak tidur selama sehari penuh dimaksudkan sebagai cara untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita selama satu tahun terakhir sebelum memasuki tahun baru.

Setelah melakukan perenungan, sejenak menoleh ke belakang dan mawas diri (mulat sarira), kita kembali menatap masa depan dengan penuh harapan bahwa apa yang telah dicapai pada tahun yang lalu akan menjadi jauh lebih baik pada tahun yang akan datang sehingga saldo ”rekening” kita semakin bertambah.  

Harapan itu tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Harihari ke depan akan semakin berat dengan semakin besar tantangan, rintangan, dan godaan yang mengiringi perjalanan hidup umat manusia. Godaan materi dan kekuasaan kadangkala melemparkan umat manusia ke jurang kenistaan. Dengan menghalalkan segala cara, manusia berebut kekuasaan yang menjanjikan gelimang harta dan materi.

Oknum penguasa dengan berbagai cara berusaha mengambil sebanyak-banyaknya, termasuk yang bukan menjadi haknya. Korupsi dalam berbagai bentuk dan modus semakin menyebar. Kendati demikian, meski dalam keadaan dan situasi yang semakin sulit, hendaknya kita tetap berusaha untuk senantiasa eling lan waspada, dengan landasan moral, etika, dan agama hendaknya mampu memilah mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang hak dan mana yang batil, kemudian dengan keberanian yang kita miliki, kita dengan penuh kesadaran memilih yang benar (dharma) dan meninggalkan yang tidak benar (adharma).

Momentum

Nyepi hendaknya dijadikan sebagai kesempatan terbaik untuk bertransformasi menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, bagaikan ulat yang mampu mengubah dirinya menjadi kupu-kupu yang indah dan menawan agar catatan ”rekening” kita senantiasa bertambah baik.  

Ajaran Hindu tidak melarang umatnya untuk memiliki harta (artha) dan memenuhi keinginan-keinginannya (kama) karena sesungguhnya tubuh ini sarana untuk mendapatkan harta dan keinginan tersebut sebagaimana dinyatakan di dalam kitab Sarasamuscaya, dharmartakamamoksanam sariram sadhanam. Namun, upaya, usaha, dan cara pemenuhan tersebut harus berlandaskan dharma agar harta dan kama yang diperoleh membawa kita kepada kebahagiaan sejati (moksa).

Demikian pula, bagi umat Hindu yang sedang mendapat kepercayaan sebagai penguasa, hendaknya kekuasaan tersebut digunakan semata-mata sebagai wahana pengabdian dan pelayanan kepada sesama manusia, masyarakat, bangsa, dan negara. Akhirnya, kepada umat Hindu di mana pun berada, mari kita tinggalkan Tahun Saka 1935 dengan berbagai romantikanya dan kita sambut Tahun Saka 1936 dengan penuh harapan dan optimisme.

Seperti lagu Ebiet G Ade tersebut di atas, kita tidak dapat menjawab, sampai kapan waktu yang masih tersisa bagi kita untuk menambah saldo ”rekening” yang kita miliki. Untuk itu, mari gunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Nyepi/Tahun Baru Saka seperti toleransi, persaudaraan, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936, semoga semua makhluk berbahagia (sarwa prani hitangkarah).