Jumat, 27 Mei 2016

Peran Metrologi dalam Masalah Air Bersih

Peran Metrologi dalam Masalah Air Bersih

Jimmy Pusaka  ;    Peneliti Utama pada P2 Metrologi-LIPI
                                               MEDIA INDONESIA, 27 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

WALAU sudah ada dua kementerian/lembaga yang memiliki satuan kerja setingkat eselon dua dengan nama yang mengandung kata 'metrologi', belum banyak anggota masyarakat kita yang telah mendengar sekaligus memahami tentang arti kata 'metrologi' tersebut. Apalagi, tentang Hari Metrologi Sedunia atau World Metrology Day yang diperingati setiap 20 Mei. Padahal, metrologi dapat diartikan secara sederhana sebagai ilmu tentang pengukuran dan aplikasinya.

Pengukuran dalam keseharian kita dimulai dengan membaca waktu ketika bangun pagi, mendengar laporan cuaca terutama suhu setempat, kemudian mereka yang menggunakan kendaraan sendiri ke tempat aktivitas dapat membaca kecepatan gerak kendaraannya, sementara yang menggunakan taksi akan melihat penunjuk tarif. Inikah metrologi?

Penunjuk waktu, suhu, kecepatan, dan seterusnya tergolong benda-benda metrologi, khususnya yang dinamakan alat ukur. Tanpa kehadiran instrumen jenis ini, kita akan mengalami kerugian besar. Janji-janji penting yang melibatkan kontrak proyek dapat terlambat dilakukan karena tidak adanya konsep waktu dalam kehidupan. Kapal di tengah laut akan kehilangan orientasi karena tidak ada penunjuk arah. Ringkasnya, tanpa peralatan ukur kehidupan akan seperti zaman batu.

Masalah air bersih

Salah satu topik yang dewasa ini cukup mendesak ialah masalah air bersih. Metrologi juga berperan dalam pengawalan sediaan air bersih. Setiap orang membutuhkan air bersih dalam hidupnya. Air bersih diperlukan terutama untuk minum, masak, mandi, serta membersihkan rumah, dan perabot rumah tangga. Ini belum termasuk kegiatan lain yang dilakukan sebagian anggota masyarakat, seperti menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Memang perkiraan kebutuhan air bersih bagi setiap orang sangat bervariasi. Faktor yang berpengaruh ialah kebiasaan hidup, seperti petani, olahragawan, atau pekerja kasar lainnya yang membutuhkan lebih banyak air minum. Demikian juga cuaca sekitar. Orang yang hidup di daerah tropis dipastikan lebih banyak memerlukan air minum untuk mengganti cairan yang keluar lewat keringat. esehatan tubuh juga berpengaruh pada jumlah air minum yang harus dikonsumsi.

Walau Indonesia ialah negara maritim dengan sumber air melimpah, tanpa pengendalian yang baik, air bersih dapat menjadi barang yang sangat langka. Polusi air yang diakibatkan industri, rumah sakit, dan sampah rumah tangga, dapat menyebabkan surutnya air bersih dan berganti dengan polutan. Selain itu, produk air tawar maupun laut, seperti ikan, lobster, rumput laut, dan lain-lain yang tadinya mudah didapat, terancam dengan kadar limbah beracun yang dapat menyerang kesehatan manusia. Langkanya air bersih untuk keperluan rumah tangga sangat mudah dilihat dengan adanya pihak pemasok yang menjual air bersih di tengah masyarakat.

Melihat kondisi ini, pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemerintah sebagai pihak pembuat kebijakan, pakar teknologi yang memahami cara-cara pembuatan, penyimpanan, dan penggunaan air bersih, serta juga masyarakat luas harus melakukan upaya serius untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan memelihara kelestariannya. Dari sisi teknologi, peran metrologi sangat diperlukan.

Peran metrologi

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah menetapkan syarat-syarat bagi kualitas air minum yang memberi arahan, antara lain dalam aspek mikroba, aspek kimia, aspek radiologi, dan juga aspek keberterimaan, termasuk rasa, aroma, dan tampilan. Tentu saja, standar ini akan hampa bila tidak disertai dengan tata cara dan perangkat kerja yang diperlukan untuk memeriksa kesesuaian kualitas air minum terhadap persyaratan yang telah ditentukan. Sebagai ilmu dalam bidang pengukuran, metrologi berperan besar dalam penentuan kualitas air ini.

Dengan metrologi dapat dilakukan pengukuran terhadap suhu, kadar asam-basa (pH), oksigen terlarut, potensi penurunan kadar oksigen, konduktivitas, dan kekeruhan, serta aspek-aspek lain yang telah diulas sebelumnya. Dengan demikian, dapat ditetapkan kualitas air untuk berbagai keperluan, misalnya air minum, air pelarut kotoran, air untuk keperluan laboratorium, air sungai, dan air limbah. Air yang telah ditingkatkan kualitasnya, misalnya dari air baku menjadi air minum, harus terlebih dahulu diperiksa secara metrologi sebelum dikonsumsi. Selain untuk air bersih, kecenderungan aplikasi metrologi dewasa ini juga mencakup efisiensi energi, perubahan iklim, keselamatan pangan, dan instrumentasi medis.

WMD dan Hari Kebangkitan Nasional

Kita baru saja memperingati Hari Metrologi Sedunia atau World Metrology Day (WMD) pada 20 Mei 2016 yang lalu. Bagi bangsa Indonesia, tanggal ini bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Sejarah WMD diawali dari Konvensi Meter yang terjadi pada 20 Mei 1875 dengan tujuan untuk mencapai keseragaman pengukuran sedunia.

Sementara, Hari Kebangkitan Nasional (ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908) mencerminkan bangkitnya semangat persatuan dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, momen ini tepat dijadikan penanda semangat nasional bangkitnya daya saing bangsa Indonesia melalui metrologi.

Pada 2016 ini, WMD mengambil tema Pengukuran di dunia yang dinamis. Beberapa negara telah mengadakan kegiatan untuk menyambut hari istimewa tersebut, misalnya dengan melaksanakan acara open house di Lembaga Metrologi Nasional mereka, menyelenggarakan diskusi dengan tema terkait metrologi, memberi kesempatan untuk berkonsultasi dengan pakar metrologi, serta memberi penghargaan kepada peneliti dan praktisi yang telah menghasilkan capaian metrologi yang signifikan.

Kita di Indonesia telah memperingati WMD dengan menyelenggarakan acara tahunan Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (PPI-KIM) yang diselenggarakan Pusat Penelitian Metrologi-LIPI pada 24 dan 25 Mei lalu.

Semoga metrologi dapat lebih berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa kita.