Tampilkan postingan dengan label L Wilardjo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label L Wilardjo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2021

 

Imperatif Kategoris

L Wilardjo ;  Pengajar Filsafat Ilmu, PDIH Undip

KOMPAS, 16 Mei 2021

 

 

                                                           

Diberitakan di media massa bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membuat konsep atau draf peta jalan pendidikan Indonesia. Peta jalan pendidikan Indonesia diteriaki kritik alim-ulama dan agamawan, sebab kata agama atau frasa yang memuat kata itu tidak terdapat di dalamnya.

 

Saya belum melihat peta jalan pendidikan tersebut, apalagi mencermatinya. Namun, katanya di dalamnya ada pendidikan Budi Pekerti. Saya yakin bahwa di dalam pendidikan Budi Pekerti itu ada—kendati hanya tersirat—pendidikan agama.

 

Namun kalau publik, terutama tokoh-tokoh agamawan, menghendaki penyebutan agama secara eksplisit dalam peta jalan pendidikan, apa salahnya? Kalau kata agama dikhawatirkan kurang inklusif karena hanya mengacu ke agama-agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah, boleh juga pada kata agama itu ditambahkan frasa ”dan kepercayaan kepada Tuhan YME”. Tak perlu ada WNI yang menaruh keberatan, sebab ”Ketuhanan YME” adalah sila pertama dalam Pancasila.

 

Budi Pekerti

 

Kalau—lebih tepatnya: bila—agama disebutkan secara eksplisit, maka budi pekerti kita maknai sebagai telaah tentang nilai-nilai kebaikan dan kejahatan, tentu dengan anjuran untuk memilih kebaikan. Amar makruf nahi mungkar.

 

Pendidikan Budi Pekerti dapat pula disebut pendidikan Etika, atau Achlaq, atau Moral. Inilah unsur yang kedua dari trilogi aksiologi (logika, etika, dan estetika). Kedua unsur lainnya dari aksiologi, yakni logika dan estetika, diliput dan dicakup di dalam konten pendidikan lainnya—utamanya dalam TRIMS (teknologi, rekayasa, ilmu, matematika, dan seni).

 

Kita mengikuti kecenderungan di negara-negara maju, yang program pendidikannya ditekankan pada STEAM (science, technology, engineering, art, mathematics). Porsi terbesar dari telaah tentang nilai-nilai keindahan dan kejelekan tentulah ada dalam unsur S (seni) dari TRIMS.

 

Pendidikan Agama (dan Kepercayaan kepada Tuhan YME) dan pendidikan Budi Pekerti merupakan ejawantahan (manifestasi) sila-sila ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dalam Pancasila.

 

Agama

 

Pendidikan Agama itu, walaupun intinya sama untuk agama-agama apa pun, yakni: mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan sepenuh hati, dengan sepenuh jiwa, dan dengan sepenuh akal budi kita, pelaksanaannya disesuaikan dengan akidah dan tata ibadah dalam agama kita masing-masing, dan kita harus menghormati—dan bertenggang rasa terhadap—agama-agama lain yang bukan agama kita sendiri. Tuhan kita semua toh sama, yakni Tuhan YME yang Mahapengasih, yang juga Tuhan yang memerintahkan kita untuk mengasihi-Nya?!

 

Bertenggang rasa terhadap perbedaan antara agama kita sendiri dan agama-agama lainnya tersirat dalam perintah Tuhan agar kita mengasihi sesama kita, manusia, seperti diri kita sendiri. Di dalam Pancasila, itulah sila kedua: Kemanusiaaan yang Adil dan Beradab.

 

Mengamini Prof Bambang Hidayat (”Pendidikan dan Kepemudaan” (Kompas, 9 Maret 2021), pendidikan ”moralitas (baca: budi pekerti) memang harus selalu menjadi perhatian.” Di sini ”budi pekerti” ditekankan pada etika, tanpa mengabaikan etiket. Tentulah etika itu semesta (universal), sedangkan etiket (tata krama/sopan-santun) sedikit atau banyak tentu gayut-budaya setempat.

 

Intinya, budi pekerti ialah usaha yang kita lakukan sekuat-kuatnya untuk menghadirkan summum bonum commune (kebaikan tertinggi bagi kehidupan bersama) untuk sebanyak-banyaknya liyan dan diri kita sendiri, tanpa mengorbankan siapa pun sebagai tumbal.

 

Kedua sila yang pertama dalam Pancasila itu unversal dan berlaku bukan saja bagi bangsa kita, Indonesia, tetapi juga dapat berlaku untuk bangsa-bangsa lain yang mana pun. Itu amanah atau perintah ”harga mati” yang tidak kita pertanyakan atau kita tawar-tawar. Itulah kategorischer Imperativ. ●

 

Selasa, 11 Mei 2021

 

Anta dan Asa

L Wilardjo ;  Pendekar Bahasa, Fisikawan

KOMPAS, 10 Mei 2021

 

 

                                                           

Kompas edisi Kamis, 22 April 2021, memberitakan hilang-kontaknya kapal selam KRI Nanggala-402 pada pukul 03.00 WITA, Rabu, 21 April 2021. Komandan beserta semua ABK-nya bersemboyan ”Wira Ananta Rudira”, yang artinya ’tabah sampai akhir’. Saya tidak tahu, tetapi menduga-duga bahwa wira ’berani’. Entah rudira itu apa. Berbekal pengetahuan minim, plus arti semboyan tersebut, saya menduga-duga lagi bahwa ananta itu berarti ’sampai akhir’. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V, ananta ’tak terhingga’. Saya sendiri sudah puluhan tahun memakai ananta sebagai padanan tak berhingga, bukan tak terhingga seperti tersua dalam KBBI itu.

 

Ada yang ”meringkas” istilah tak berhingga menjadi tak hingga. Kata Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), tak hingga itu sudah lazim  dipakai di kalangan orang-orang Matematika, tetapi saya merasa risih apabila mendengar kata itu. Istilah itu pada hemat saya tidak ”baik dan benar”; tidak memenuhi patokan ISO bahwa istilah teknis-ilmiah harus linguistically-proper.

 

Ada teman tak hingga, yakni tak benda, seperti dalam frasa ”warisan budaya tak benda”, yang sering dipakai di media massa. Menurut saya, seharusnya bukan tak benda, melainkan bukan-benda. Wayang adalah warisan budaya bukan-benda. Prof Dr Ir H Johannes, fisikawan yang pernah menjadi rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), meringkas bukan logam (sebagai padanan non-metal) menjadi tanlogam. Syukurlah ringkasan yang ditawarkan Prof Johannes itu ”tidak laku”. Beliau adalah guru saya yang sangat saya hormati, tetapi ”tan” itu wanda (syllable) akhir dari ”datan” atau wanda awal dari ”tanpa”, dan kedua-duanya tidak sama maknanya dengan ”bukan” (datan ’tidak’; tanpa ’tidak dengan’, atau without dalam bahasa Inggris).

 

Semoga anta dan ananta dipakai secara umum, bukan sebagai istilah teknis yang dipakai di kalangan orang-orang Fisika saja. Semoga istilah tak benda diluruskan menjadi bukan-benda. Jangan dibiarkan menjadi istilah yang salah kaprah.

 

Sejak masih duduk di bangku SR atau Sekolah Rakyat (sekarang disebut SD), saya sudah tahu bahwa putus asa itu berpadanan/bersinonim dengan putus harapan. Jadi, asa bersinonim dengan harapan. tetapi asa itu tidak pernah (atau sangat jarang) berdiri sendiri sebagai sepatah kata tunggal. Munculnya hampir selalu sebagai bagian dari kata majemuk putus asa. Sekarang asa sudah sering bediri sendiri dan itu baik!

 

Akan tetapi, baik harapan maupun asa adalah padanan dari hope (Inggris). Terjemahan/translasi untuk expectation belum/tidak ada. Yang sudah ada dan sering dipakai ialah alih-ejaannya (transkripsi), yakni ekspektasi. Adakah di antara kita yang mau mengusulkan kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang ”pas” dijadikan padanan untuk expectation? Dengan sudah mantapnya asa sebagai hope, maka berasa itu hopeful dan nirasa atau anasa, ya, hopeless. ●

 

Rabu, 24 Maret 2021

 

Berbenah Makna

 L Wilardjo  ;  Fisikawan, Pendekar Bahasa

                                                        KOMPAS, 23 Maret 2021

 

 

                                                           

Dalam wawancara di TV-One, Rabu,  20 Desember 2020, Duta Besar Republik Indonesia di Selandia Baru Tantowi Yahya mengatakan (kira-kira): ”Ada desakan dari sektor bisnis agar Selandia Baru mengendurkan lockdown dan membuka pintu masuk/keluar, baik bagi WNA maupun bagi warga negaranya sendiri, tetapi pemerintah tidak bergeming.” Yang dimaksudkan Pak Dubes, pemerintah Selandia Baru bersikukuh tidak mau beringsut sedikit pun dari keputusannya memberlakukan lockdown.

 

Mungkin Tantowi Yahya salah-ucap. Maksudnya mau mengatakan ”bergeming”, tetapi keseleo-lidah menjadi ”tidak bergeming”. Bagi beliau, yang bertugas dan tinggal di Selandia Baru, salah-ucap tersebut wajar terjadi sebab dalam bahasa Inggris, orang yang ”tidak mau bergeser dari posisinya” itu doesn’t budge from one’s position, dan posisi di  sini bisa berarti ’tempat’, bisa pula berarti ’sikap’ atau ’keputusan'.

 

Dulu saya juga mengira bahwa ”bergeming” itu  to budge. Baru setelah membuka KBBI-IV, saya tahu bahwa ”bergeming”— dan bukan ”tidak bergeming”—yang berarti 'tidak beringsut’ atau ’tidak bergeser’.

 

Makna yang dibalik menjadi kosok-bali atau lawan katanya itu juga pernah terjadi pada kata ”semena-mena”. Semula, ”tidak semena-mena” berarti ”berat sebelah”, ”tidak mengindahkan hak orang lain”, atau ”semau-maunya sendiri saja”. Di KUBI-V (Balai Pustaka, 1976) masih tertulis begitu.  Namun,  di KBBI-IV, ”semena-mena” artinya sama dengan ”sewenang-wenang”. Jadi arti ”semena-mena” di KUBI-V (1976) sudah dibalik 180ยบ di KBBI-IV (2008).

 

Penyesuaian arti dan pencantuman arti yang baru di dalam kamus standar itu mengikuti kebiasaan yang hidup dalam masyarakat pengguna bahasa. Dan itu—pada hemat saya—baik. Dalam hal kosakata kita sebaiknya bersikap deskriptif: masyarakat pengguna bahasa adalah raja!

 

Seandainya makna ”bergeming” dibalik, seperti ”semena-mena” yang sudah dibalik (di KBBI-IV), saya akan senang sebab sesuai dengan cita rasa atau selera berbahasa saya. Namun,  tentu saja saya tunduk kepada KBBI-IV. Mengikuti kehendak masyarakat adalah demokratis. Seperti telah saya katakan, tadi, dalam hal kosakata kita demokratis; kita bersikap deskriptif. Namun,  dalam hal tata bahasa kita preskriptif, mengikuti ”resep” atau preskripsi para munsyi yang memiliki otoritas, di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Dengan begitu kita tidak merusak bahasa kita.

 

Ada lagi kata yang perlu dipertimbangkan apakah maknanya sebaiknya dibalik atau tidak. Misalnya ”acuh”. Yang bersepadan/bersinonim dengan ”cuek” itu ”tak acuh”-kah, atau ”acuh”? Semula ”cuek” berarti ”tak acuh” atau ”tidak memedulikan”, tetapi belakangan banyak yang memakai ”acuh” sebagai padanan ”cuek”.

 

”Nyali” oleh masyarakat sekarang ini dimaknai sebagai ”keberanian”. Namun,  ”nyali” juga berarti ”ginjal”—kata Prof Dr Mien A Rifai (yang ada sumbangannya pada penyusunan dan penyuntingan/editing KBBI). Barangkali ini karena dalam bahasa Inggris ”keberanian” itu selain terjemahannya courage/valor/bravery juga ada ”slang”-nya, yakni gut(s). Dan gut juga berarti 'intestine', yang adalah ”organ-dalam”, ”jerohan”.

 

Sebaiknya ”nyali” yang berarti ”ginjal” kita jauhkan saja, atau bahkan kita buang. Kita lupakan saja. Biarlah ”nyali” berarti ’keberanian’ saja. ●

 

Jumat, 22 November 2019

Lalatnya Sancho Panza

KOALISI PEMERINTAHAN
Lalatnya Sancho Panza

Oleh :  LIEK WILARDJO

KOMPAS, 22 November 2019


Artikel M Nurhasim (LIPI) di rubrik opini (Kompas, 13/11/2019) bagus. Ilustrasinya, berupa karikatur, juga ”pas”. Nurhasim kritis dan tajam, tetapi kecamannya membangun.

Selasa, 12 November 2019

Cincin Palapa dll

BAHASA
Cincin Palapa dll

Oleh :  L WILARDJO

KOMPAS, 12 November 2019


Jaringan internet di seluruh Indonesia–meliputi Paket-paket Barat, Tengah, dan Timur–diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. Nama “Palapa Ring” itu baik sebab pinggir terluar dari jaringan sistem komunikasi itu, yang dapat dianggap sebagai bingkai dari keseluruhan jaringan itu, seperti cincin,  lengkungan yang temu-gelang. Dengan sistem interkoneksi telekomunikasi itu kita semua, bangsa Indonesia, dipersatukan. Jadi sesuai dengan arti palapa dalam “Sumpah Palapa” Mahapatih Gajah Mada di Kerajaan Majapahit dulu. Namun,  daripada terkesan keinggris-inggrisan, mengapa infrastruktur telekomunikasi itu tidak kita namakan “Cincin Palapa” saja?

Senin, 28 Oktober 2019

Penggabung ”a-” dan ”Luncas”

BAHASA

Penggabung ”a-” dan ”Luncas”

Di rubrik Bahasa edisi 20 Agustus 2019, Bambang Kaswanti Purwo menjelaskan makna kata aneka. Menurut Bambang, kata ini berarti ’banyak dan ada kemiripan antara satu dan lainnya’. Arti sebenarnya kata aneka itu adalah ’banyak’ atau ’setidak-tidaknya lebih dari satu’. Aneka merupakan kombinasi  a(n)- dan  eka; a  ’tidak’, eka ’satu’.

Selasa, 27 Agustus 2019

Akronim dan Istilah

BAHASA

Akronim dan Istilah

Di rubrik Bahasa ini dua pekan lalu Andrรฉ Mรถller menulis tentang bermacam-macam akronim baik yang berasal dari bahasa-bahasa Eropa–seperti Swedia, Eslandia, Inggris, Jerman, dan Belanda–maupun yang dari bahasa kita sendiri. Daripada akronim glamping (glamorous camping), katanya, lebih baik kita memakai padanannya saja:  kemah mewah. Mengapa akronim Inggris itu tidak dipadankan dengan akronim juga? Kemah mewah dapat diakronimkan menjadi kewah.

Selasa, 18 April 2017

"Plus" dan Kearifan

"Plus" dan Kearifan
L Wilardjo  ;   Guru Besar Fisika dan Dosen Filsafat Ilmu,
Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro
                                                        KOMPAS, 17 April 2017


                                                                                                                                                           

Dr Florentin Smarandache adalah Guru Besar Matematika di Universitas New Mexico. Kira-kira sembilan tahun lalu, ia memperkenalkan teori Neutrosofi yang digagasnya sendiri dalam seminar di Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Neutrosofi ialah teori tentang terjadi atau tidak terjadinya suatu perubahan, baik melalui proses yang panjang maupun secara serta-merta, berdasarkan tinjauan atas semua faktor yang dianggap relevan.

Neutrosofi tentu jauh lebih rinci daripada logika Barat klasik, yang hanya mengenal dikotomi antara "benar"/sahih atau "salah"/tak sahih dan tunduk pada kaidah larangan tengah (the rule of excluded middle). Neutrosofi bahkan lebih njelimet daripada Logika Samar (Fuzzy Logic)-nya Zadch.

Smarandache menerapkan teori Neutrosofi-nya pada evolusi spesies berdasarkan observasinya pada ekologi di tujuh pulau dan pulau kecil di Galapagos, Ekuador. Kita tahu bahwa teori evolusi-nya Charles Darwin juga didasarkan pada risetnya di Galapagos. Smarandache juga melakukan riset literatur yang komprehensif di bidang ekologi dan perubahan spesies.

Hasil studi dan risetnya lalu diterbitkan dalam jurnal Progress in Physics, No 2, Volume 13 (April, 2017) dengan judul "Introducing a Theory of Neutrosophic Evolution: Degrees of Evolution, Indeterminacy, and Involution". "Plus" yang diberikan kepada "evolusi" dalam teori asal-muasal spesies-nya Darwin ialah "involusi" dan "indeterminasi" (ambiguitas).

Artikel ini tidak membahas teorinya Florentin Smarandache itu, tetapi mengomentari sikap penerbit terhadap teori tersebut dan penciptanya. Juga akan kita bicarakan perihal "plus" yang ditambahkan pada apa-apa yang sudah ada.

"Plus"-nya ditampik

Rupanya (sebelumnya) naskah artikel Teori Evolusi Neutrosofik itu oleh Smarandache dikirim ke jurnal ArXiv, tetapi ditolak. Penolakan naskah itu hal yang biasa. Kalau suatu naskah dinilai tidak memenuhi standar, wajar tidak diterbitkan.

Yang keterlaluan ialah sikap ArXiv yang tidak hanya menolak naskah Smarandache itu, tetapi juga memberikan peringatan dengan nada mengancam. "They averted me that I should not try to submit again, because I'll loose the right to submit no article anymore," kata Smarandache. Komentar saya kepadanya: "Rejecting an article is all right, but threatening the author is unacceptable" (Menolak artikel itu boleh saja, tetapi mengancam pengarangnya tak bisa diterima).

Padahal, Smarandache tidak melawan teori Charles Darwin (1809-1882) yang bertumpu pada evolusi. Ia hanya memberikan "plus", yakni involusi dan ambiguitas. 

Dalam kampanyenya sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno berjanji akan melanjutkan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta  Sehat-nya Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dengan KJP-plus dan KJS-plus. Niat pasangan calon nomor 3 itu tidak perlu kita sikapi dengan sinis.

Tentu boleh saja kita bertanya, "plus"-nya apa dan bagaimana itu akan dilaksanakan (dan dibiayai) kalau pasangan itu terpilih. Gagasan KJP-plus dan KJS-plus itu justru menunjukkan apresiasi Anies-Sandi terhadap programnya Basuki (dan sebelumnya, Jokowi). Apakah "plus"-nya itu akan membuat program KJP dan KJS menjadi lebih baik, dapat kita kaji sekarang dan kita sikapi dengan wait and see kalau pasangan calon nomor 3 itu dipilih warga DKI Jakarta.

Ada contoh-contoh yang menunjukkan bahwa "sedikit" tambahan bisa sangat berarti. James Clerc Maxwell, fisikawan Skotlandia (1831-1879), menambahkan satu suku pada persamaan yang menyatakan hukum Ampere. Hukum Ampere ialah kebalikannya hukum Faraday. Singkat kata, hukum Faraday ialah "perubahan magnet menimbulkan listrik" (asas dinamo), sedang hukum Ampere ialah "perubahan listrik menimbulkan magnet" (asas motor).

Suku itu ialah rapat arus pergeseran (displacement current density). Ternyata bukan saja itu membuat elektromagnetisme menjadi suatu teori yang konsisten, melainkan juga ternyata kemudian bahwa teori Maxwell itu sudah nisbian (relativistik) meski pada waktu itu Albert Einstein (1879-1955), yang kemudian menciptakan Teori Relativitas (1905), belum lahir! Mengingat hal yang luar biasa itu membuat Dr The Houw Liong, Guru Besar Fisika di FMIPA-ITB, "merinding".

Contoh lain ialah tambahan pencatuan (kuantisasi) yang dilakukan Max Planck (1858-1947) pada teori Rayleigh dan Jeans tentang radiasi termal dari benda hitam. "Plus" yang diberikan Max Planck (1901) ternyata 3/4 bersama dengan efek fotoemisi-nya Einstein (1905) 3/4 "melahirkan" teori kuantum.

Bacon vs Foucault

Sekarang ada ramai-ramai di Rembang. PT Semen Indonesia beradu otot dan otak melawan petani kaki Pegunungan Kendeng yang meliputi pula Sedulur Sikep, trah-nya Mbah Samin Surosentiko, yang sekarang ditokohi Gunretno. Demo pasung kaki di cor-coran semen dibalas dengan "petisi" kertas kantong semen 300 meter oleh para pendukung Semen Indonesia.

Semen Indonesia mengandalkan iptek modern. Mereka meyakini diktum Francis Bacon (1561-1626) bahwa pengetahuan adalah kekuasaan (Knowledge is power). Mereka (dan sebagian warga Rembang) juga menerima ideal Bacon, yakni "ilmu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat". Dengan ilmu dan teknologi kita memberantas wabah penyakit, mengatasi bencana alam, menghindari paceklik, dan sebagainya.

Sebaliknya, Sedulur Sikep meyakini diktumnya filsuf pasca-modernisme Michel Foucault: "Kekuasaan adalah pengetahuan" (Pouvoir c'est savoir). Hanya kalau kaum marjinal diberdayakan, kita dapat belajar dari kearifan lokal yang sudah ada pada mereka secara run-temurun. Para petani di daerah kaki Pegunungan Kendeng tahu bahwa air yang diperlukan untuk sawah mereka hanya bisa lestari kalau bukit-bukit kapur tidak digempur menjadi bahan produksi semen.

"Plus" yang diberikan Foucault kepada diktum Bacon ialah membalikkan diktum itu. "Pengetahuan ialah kekuasaan," kata Bacon. Ini dibalik oleh Foucault: "kekuasaan ialah pengetahuan".

Janji Semen Indonesia untuk membangun embung-embung dan bahwa teknologi itu bisa menggantikan fungsi bukit gamping sebagai penjamin ketersediaan air sulit diterima karena pembuktiannya berjangka panjang. Lagi pula, kalau ternyata klaim itu tidak terbukti, "nasi akan sudah menjadi bubur". Ekosistemnya sudah rusak dan tak bisa dipulihkan.

Lebih masuk akal pembuktiannya secara empiris dilakukan dengan mencermati apa yang terjadi di Tuban, yang sudah dieksploitasi Semen Indonesia dan sekarang sudah ditinggalkan.

Senin, 24 Oktober 2016

Memutus Simpul Gordius

Memutus Simpul Gordius

L Wilardjo ;   Guru Besar Fisika dan Dosen PDIH Universitas Diponegoro
                                                      KOMPAS, 20 Oktober 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sabtu, 15 Oktober 2016, Kompas memasang karikatur sebagai pembuka rubrik Opini. Dalam karikatur itu (tokoh yang mirip) Jokowi memotong pethit naga dengan kelewangnya. Yang tertebas hanya ujung ekor naga itu, sedangkan mulut naga tersebut, dengan gigi-gigi dan taringnya yang tajam, mengancam si pemotong pethit.

Karikatur itu mengiringi pelantikan Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM dan Arcandra Tahar sebagai wakilnya. Barangkali karikaturis Kompas hendak menyiratkan tidak tuntasnya penyelesaian kontroversi ”angkat-pecat-angkat”-nya Arcandra Tahar.

Sesuai tekad Jokowi untuk membuat Indonesia tidak lagi ”memunggungi laut”, Arcandra yang punya keahlian dan pengalaman dalam eksploitasi migas laut-dalam dipanggil pulang dari Amerika, lalu diangkat jadi menteri ESDM. Namun, setelah resmi melepaskan kewarganegaraan AS-nya. Arcandra menjadi nirnegara (stateless) karena kewarganegaraan Indonesia-nya otomatis hilang ketika ia bersumpah setia kepada AS.

Maka, diskresi diterapkan untuk mengembalikan status Arcandra sebagai WNI tanpa proses permohonan yang antara lain mempersyaratkannya untuk bertempat-tinggal di Indonesia selama lima tahun. Lalu hak prerogatif dipakai Presiden untuk mendudukkan Arcandra di kursi Wakil Menteri ESDM.

Masih adakah yang mempertanyakan keabsahan penyelesaian sama-sama menang ini dengan memakai UU tentang kewarganegaraan dan tentang pejabat negara? Semoga tidak!

Kalau naga yang kepalanya mbanggel itu menyiratkan soal integritas, ya, wajar, asal pembicaraan tentang integritas itu tidak menimbulkan kegaduhan politik. Dalam Perang Bharatayudha, ada tahap ketika pihak Pandawa terdesak dan terjepit oleh siasat senopati Kurawa, Pendeta Durna. Resep botoh Pandawa, Prabu Sri Batara Kresna, untuk ke luar dari situasi genting itu dua. Pertama, Abimanyu dikorbankan demi membedah kepungan pasukan Kurawa. Kedua, Durna dibikin linglung dengan menyiarkan berita bohong bahwa Aswatama mati.

Aswatama ialah putra kesayangan Durna. Sebenarnya yang mati bukan dia, melainkan gajah bernama Hestitama. Prabu Puntadewa, raja Amarta, dan sulungnya Pandawa diminta Kresna agar melirihkan kata ”Hesti2 jika menyebutkan nama gajah tersebut. Dengan begitu, Durna mengira bahwa Puntadewa mengatakan ”Aswatama”. Puntadewa yang seumur hidupnya belum pernah berbohong terpaksa mau menuruti muslihat Kresna demi mengatasi situasi kritis yang mengancam pihak Pandawa. Dia melakukan penyesatan. Dia melakukan the sin of omission. Dia tidak menyatakan kebenaran, kebenaran yang sepenuhnya, dan tiada lain selain kebenaran.

Arcandra dan Einstein

Arcandra jujur ketika ia mengaku sebagai orang Indonesia dari Padang yang bahasa Indonesianya medhok. Namun, ia tidak mengatakan bahwa dirinya bukan lagi WNI sejak bersumpah setia kepada Amerika. Mungkin dia tidak tahu bahwa ke-WNI-annya sudah tanggal. Namun, ia juga tidak mengatakan apa yang diketahuinya, yakni bahwa ia berkewarganegaraan Amerika. Ia melakukan dosa omisi seperti Prabu Puntadewa. Presiden Jokowi memaafkan dosa omisi itu dan memulihkan ke-WNI-an Arcandra serta memperbantukannya kepada Ignasius Jonan sebagai Wakil Menteri ESDM.

Di UUD AS, ada amandemen ke-5 yang membenarkan saksi menolak memberi kesaksian dengan alasan kesaksiannya itu akan membuat dia terlibat dalam perkara yang sedang disidangkan di pengadilan. Sebagai warga negara Amerika, wajar kalau Arcandra mengetahui amandemen itu sehingga ia memilih untuk tidak memberi kesaksian tentang status kewarganegaraannya.

Kasus Arcandra Tahar dapat dibandingkan dengan kasus Albert Einstein, Webner von Braun, dan Kurt Goedel. Karena kehebatannya dalam fisika teori dan sikap pasifis (cinta damai) dan anti militerismenya, Einstein diundang Pemerintah AS untuk menjadi warga negara Amerika dengan kedudukan sebagai guru besar di Institute of Advanced Theoretical Physics, Universitas Princeton, New Jersey. Itu seusai Perang Dunia I. Einstein tiba di Pelabuhan Boston pada 1921.

Wehrner von Braun ialah ahli peroketan Jerman. Seusai Perang Dunia II, ia diundang untuk jadi warga AS dan diminta ikut mengembangkan teknologi peroketan AS. Kurt Goedel ialah logikawan yang hebat. Ia orang Jerman kelahiran Ceko. Dulu Ceko-Slowakia memang menjadi bagian dari Kekaisaran Jerman Raya. Einstein dulu juga diundang dari Zuerich, Swiss, tempat ia bekerja sebagai guru besar di ETH (Sekolah Tinggi Teknologi Federal, Swiss), untuk jadi guru besar di Universitas Jerman di Praha.

Goedel tidak diberi kewarganegaraan AS secara otomatis. Dia harus melalui prosedur biasa, termasuk menempuh ujian lisan melalui wawancara di Dinas Layanan Imigrasi dan Naturalisasi. Ketika menempuh ujian lisan itu, ia ditemani Einstein dan guru besar lain dari Universitas Princeton, yakni Oskar Morgenstern.

Arcandra dipanggil dari Amerika ke Indonesia oleh Presiden Jokowi karena keahliannya dibutuhkan Indonesia. Pada masa Orde Baru, BJ Habibie dipanggil pulang dari Jerman oleh Soeharto karena keahliannya di bidang desain dan manufaktur pesawat terbang dibutuhkan negara kita. Bedanya, Habibie hanya berstatus sebagai petinggal-tetap (permanent resident), pemegang kartu biru (blaue Karte) di Jerman. Sementara Arcandra bukan hanya pemegang kartu hijau (green card). Tanpa diketahui sebelumnya oleh Presiden Jokowi, ia berstatus sebagai warga negara Amerika.

Arcandra dan Gordius

”Memotong pethit naga” serupa (tetapi tidak setuntas) ungkapan ”menetak simpul Gordius” yang ada dalam pelajaran sejarah sewaktu saya SMP dulu. Dalam legenda Yunani, seorang nujum bernubuat bahwa siapa pun yang pertama memasuki negara-kota Phyrgia dengan pedati, ia akan jadi raja Phyrgia berikutnya. Gordius, seorang petani yang lugu, kebetulan memasuki Phyrgia itu dengan pedatinya. Maka ia pun dinobatkan oleh warga negara-kota itu menjadi raja.

Gordius sangat bersyukur. Ia lalu mempersembahkan pedatinya kepada para dewa. Dilepaskannya sapinya. Ia lalu menambatkan gerobaknya ke sebatang tonggak di tengah kota Phyrgia, dengan simpul yang sangat rumit. Tak ada seorang pun yang dapat mengudari simpul itu. Ramalan berikutnya, juga dari seorang nujum, menyebutkan bahwa siapa pun yang mampu menguraikan simpul Gordius itu akan menjadi raja Asia.

Pada 333 SM, seorang penakluk masuk ke Phyrgia. Ia menebas simpul Gordius dengan pedangnya yang tajam. Maka terurailah simpul Gordius itu, dan—benar saja—satria penakluk itu kemudian jadi penguasa Asia-Eropa. Dia adalah Iskandar Zulkarnain, yang kemudian disebut Iskandar Yang Agung.

Dengan keputusannya yang tegas untuk memasukkan kembali Jonan-Arcandra ke dalam kabinet kerjanya, Jokowi bertindak bagaikan Iskandar Zulkarnain yang menebas simpul Gordius dengan pedangnya. Dengan keputusan yang tegas, terurailah keruwetan masalah pengisian kursi Menteri ESDM.

Kamis, 18 Februari 2016

Menjinakkan Limbah Nuklir

Menjinakkan Limbah Nuklir

L Wilardjo  ;  Fisikawan
                                                     KOMPAS, 17 Februari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Dalam epos Ramayana, Dasamuka adalah tokoh utama. Ia melambangkan keangkaramurkaan titah marcapada. Sebagai putra sulung Dewi Sukesi dan cucunda Prabu Sumaliraja, ia kemudian menjadi Raja Alengkadiraja.

Dasamuka sangat perkasa dan sakti mandraguna. Walau dibunuh sehari tujuh kali pun, begitu jasadnya menyentuh bumi ia bangkit dan hidup lagi. Itu karena ia memiliki aji pancasona yang diberikan gurunya, Resi Subali.

Dalam perang tanding melawan Rama Regawa, Dasamuka tewas terkena panah pusaka Guwawijaya yang dilepaskan titisan Dewa Wisnu itu, tetapi Raja Alengka itu hidup kembali. Dalam pertempuran yang berlangsung lagi, Dasamuka ditimbun gunung yang dicabut Anoman lalu dihunjamkan padanya.

Dalam pewayangan versi Jawa, gunung yang ditimpakan pada Dasamuka itu disebut Gunung Sumawana. Dasamuka tak mati, tetap terkungkung di dalam gunung. Namun, Dasamuka tetap jadi sumber gangguan. Manakala terjadi retakan di dinding gunung itu, setipis rambutpun, Dasamuka dapat lepas dari kungkungannya. Ia pun mengumbar nafsu angkara murkanya sampai ditangkap Anoman lagi dengan kekuatan aji Mandrinya, lalu dikembalikan ke dalam Gunung Sumawana.

Setelah terkungkung di Gunung Sumawana, Dasamuka sering disebut Dasakumara atau Godayitma. Dasakumara (roh Dasamuka) alias Godayitma (roh penggoda) dapat dipakai sebagai metafora limbah nuklir radioaktif beraras tinggi.

Limbah dan penyimpanan

Di seluruh dunia sekarang lebih dari 400 reaktor dalam PLTN beroperasi. Dalam beroperasi selama 55-60 tahun sampai sekarang di Perancis, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Korea, Rusia, Tiongkok, Swiss, dan negara lainnya 400-plus reaktor itu menghasilkan limbah nuklir yang telah menumpuk sampai ratusan ribu metrik ton. Semua masih teronggok di tempat penyimpanan sementara. Usaha menemukan atau membangun tempat penyimpanan akhir yang permanen belum berhasil. Timbunan limbah nuklir radioaktif beraras tinggi itu ternyata masih dapat merembes ke luar dan bermigrasi. Padahal, limbah itu sudah diamankan dengan dipadatmampatkan dan "dibalut" menyatu dengan bahan kaca, lalu balok- balok vitrifikasi limbah nuklir itu disimpan di TPS-nya yang alami (tambang garam) atau yang buatan (bungker berdinding beton tebal berlapis timbel). Limbah radioaktif itu tetap masih berisiko bagi lingkungan dan manusia, seperti Dasamuka.

Anoman harus menjaga Dasakumara tetap di dalam kungkungannya sampai senapati yang sudah madeg pendhito itu menikahkan warengnya Arjuna. Wareng ialah cucunya cicit. Berarti terhitung sejak generasinya Arjuna, Anoman masih harus menunggu sampai enam generasi, sebelum boleh kembali ke alam nirwana yang baka. Enam generasi adalah sekitar 200 tahun, dan ini cuma sebentar saja.

Penelitian dan penelaahan ilmiah memperkirakan bahwa batas kemampuan masyarakat modern menjamin keamanan limbah nuklir di TPS-nya adalah 100 tahun. Ini jelas amat tak cukup. Lebih lama dari itu tak dapat dijamin sebab tak dapat diketahui peristiwa dahsyat apa saja yang mungkin terjadi di kawasan tempat limbah nuklir itu diamankan. Bisa terjadi bencana alam yang memorakporandakan TPS itu. Atau pecah peperangan dengan teknologi militer canggih dan senjata pemusnah massal.

Peta geopolitik juga dapat berubah sehingga menyingkirkan otoritas yang bertanggung jawab mengelola dan memantau TPS itu. Lihat saja ulah Negara Islam di Irak dan Suriah yang sengaja menghancurkan warisan peradaban lama yang tak ternilai dan tak dapat dikertaaji dalam dollar atau euro. Menurut ahli nuklir yang pro PLTN, Alvin Weinberg, limbah nuklir radioaktif beraras tinggi baru akan mulai tak ndrawasi lagi setelah dikungkung sampai 200.000 tahun. Ini kira-kira delapan kali umur-paruh salah satu isotop yang sangat "maut" dalam limbah itu, yakni plutonium-239.

 Baru-baru ini National Geographic mengeluarkan rekaman video tentang perkembangan dalam pengelolaan limbah nuklir. Dalam video itu tampil seorang wanita doktor ahli perekayasaan nuklir. Ia Leslie Dewan, 31 tahun, di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang mengembangkan apa yang disebutnya reaktor garam leleh. Reaktor itu merupakan versi modern dari reaktor yang 50 tahun yang lalu dirancang di Oak Ridge National Laboratory, Tennessee.

Dewan menyatakan bahwa reaktor yang masih dalam pengembangan itu akan mampu mengolah ulang limbah nuklir. Berbekal lebih dari 300.000 ton limbah nuklir yang ada, akan dihasilkan energi  elektrik yang cukup memenuhi kebutuhan dunia selama 72 tahun. Hebatnya lagi, limbah nuklir yang masih tersisa dari pengoperasian reaktor garam leleh itu sudah jadi pendek umurnya, hanya ratusan tahun. Namun, Dewan mengatakan bahwa masih dibutuhkan waktu dan kerja keras sebelum reaktor rancangannya bisa beroperasi.

Kalau klaim Dewan itu bukan hoax (sensasi bohong-bohongan), maka kabar tentang reaktor garam leleh itu bagai secercah cahaya di ujung terowogan. Ada harapan, manusia akhirnya akan bisa menjinakkan limbah nuklir yang berbahaya dan bandelnya luar biasa.

Namun, kehebatan ahli perekayasaan nuklir dari MIT itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan prestasi anak bangsa Indonesia. Dalam berita di TV, 29 Januari 2016 petang, disebutkan bahwa seorang ahli nuklir di Universitas Gadjah Mada berhasil merancang kotak penyimpanan limbah nuklir yang mampu mengamankan limbah itu selama 10.000 tahun. Luar biasa! Konon ia ditawari pekerjaan di AS memanfaatkan temuan itu, tetapi ia tak tertarik.

Jiwa nasionalisnya membuatnya ingin mengabdikan diri bagi bangsa dan negaranya. Semoga klaim ahli nuklir di UGM itu bukan hoax. Sebaiknya Batan, BPPT, dan Kemenristekdikti memverifikasi temuan sangat hebat itu. Verifikasi dengan uji coba dan pengukuran selama likuran tahun yang datanya dijadikan basis telaah ekstrapolatif dapat dilakukan. Siapa tahu, temuan ahli nuklir UGM itu klimaks dari usaha lebih dari setengah abad?