Rabu, 25 Mei 2016

Seberapa Gagah Angkatan 1998?

Seberapa Gagah Angkatan 1998?

Indra J Piliang ;    Pemimpin Redaksi Jurnal Reformasi Universitas Indonesia 1998
                                                    KORAN SINDO, 23 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sebagaimana halnya Jurnal Reformasi yang didirikan aktivis-aktivis senior gerakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), yang sebagian besar sudah sarjana waktu itu, usia gerakan mahasiswa 1998 pun hanya sebentar. Kami hanya sempat menerbitkan Jurnal Reformasi selama dua edisi. Kekurangan biaya dan terutama tulisan menyebabkan jurnal paling serius yang berdiri di tengah gejolak gerakan mahasiswa itu segera kocar-kacir. Para aktivis mahasiswa yang semula kompak kemudian bertebaran mengatasi timbangan badan yang sempat menyusut. Urusan mengisi perut dan–terutama– membalas jasa orang tua yang terkena badai krisis lebih utama ketimbang terus bersitumpu dengan nostalgia gerakan yang sudah berakhir.

Ada dua tema yang diusung dalam dua edisi itu, yakni evaluasi atas gerakan mahasiswa yang sedang berjalan sebelum Presiden Soeharto menyatakan berhenti dan formulasi pemerintahan mahasiswa (student government) ideal pasca-21 Mei 1998. Saya menulis masing-masing satu artikel terpanjang dalam dua edisi itu.

Untuk tulisan pertama lebih bersifat analisis dan refleksi pribadi, sementara artikel kedua berisi sejumlah kajian atas bentuk-bentuk student government yang pernah ada. Statuta sejumlah dewan mahasiswa saya jadikan sebagai referensi sembari menyumbangkan gagasan tentang bentuk organisasi mahasiswa yang paling mewakili semangat zaman. Beberapa pemikiran saya itu kemudian menjadi referensi bagi pembentukan badan eksekutif mahasiswa di kampus-kampus.

Hanya saja, setelah itu, tidak banyak diskusi yang terjadi. Magnet proyek-proyek demokratisasi di Indonesia menyita waktu para aktivis yang sebelumnya saling adu punggung, pegang tangan, dan berbagi nasi bungkus di jalanan. Blok-blok kepentingan baru terbentuk, terutama dalam organisasi pengawasan pemilu yang segera dihelat. Seperti cendawan di musim hujan, berbagai organisasi lahir dengan gelontoran dana yang tidak sedikit dari berbagai negara donatur.

Uang seperti tercurah dari langit, bahkan mampir ke kampus-kampus yang sama sekali tak pernah bergerak. Para mahasiswa atau sarjana muda itu mulai memegang dolar pertamanya, pun dengan telepon seluler keluaran terbaru. Bahkan, saking sinisnya, sebuah kafe di bilangan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan disebut sebagai ”kafe orang-orang kaya baru yang sebelumnya gembel”. Kafe itu dipenuhi para aktivis masyarakat sipil berpakaian perlente dan bekas mahasiswa radikal yang kemudian jadi ”herder” para jenderal.

Kafe yang kemudian tutup itu menjadi area menonton tingkah laku orang-orang yang berubah, dengan gambar-gambar besar ”perjuangan” yang tertata rapi di sudut-sudut kantor mereka. Sementara yang lain tetap curiga betapa usia kebebasan tidak akan lama. Studi-studi negara-negara transisi demokrasi dibaca. Peralihan negaranegara yang sebelumnya dipimpin militer dibicarakan.

Sebagian besar pimpinan mahasiswa yang betul-betul berlaku seperti koboi langsung menghilangkan jejak dengan cara masuk ke kampus-kampus utama di luar negeri. Mereka menghindar dari kongkow-kongkow para aktivis mahasiswa. Dalam masa-masa seperti itu, saya membantu sejumlah mahasiswa PhD dari negara-negara lain untuk menemui informan-informan penelitiannya di Indonesia.

Salah seorang mahasiswi bernama Paige Johnson Tan yang saya lacak sekarang menjadi associate professor Department of Public and International Affairs, University of North Carolina Wilmington, USA.

Sayangnya, hampir tidak ada forum tahunan yang dijadikan eks aktivis mahasiswa 1998 untuk melakukan langkahlangkah evaluasi. Ideologi gerakan mahasiswa 1998 yang belum terbentuk masih berupa visi gerakan yang dinamis, membuat gerakan 1998 baru bersifat ”pesta jalanan” yang sama sekali kekurangan ide.

Sebagai aktivis mahasiswa UI 1990-an yang banyak melakukan interaksi dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus lain, saya melihat belum ada keterpaduan antara pelaku, agenda, dan masa depan gerakan. Dampak NKK-BKK masih terasa, yakni terpecah-belahnya gerakan mahasiswa ke pelbagai agenda. Ketika ”pesta jalanan” dihelat, sesungguhnya itu bukan dipimpin aktor-aktor yang kenal-mengenal, tetapi lebih banyak dipimpin aktor-aktor yang baru saja memperkenalkan diri.

Sedikitnya ”masa bakti” mahasiswa membuat aktor-aktor gerakan berganti hampir sepanjang tahun. Sedikit sekali aktor mahasiswa yang terus berada di depan setiap gerakan mengingat mahasiswa bukanlah kelompok yang mapan dari sisi apa pun. Mayoritas mahasiswa hidup dengan tanggung jawab individual keluarga yang kuat. Mereka dituntut oleh keluarga untuk segera mengambil peran ekonomis, bukan peran sosial kemasyarakatan yang selama ini menjadi slogan yang diusung.

Karena itu tema-tema gerakan mahasiswa yang beragam itu berasal dari komunitas epistemis yang kecil. Untuk menggerakkan komunitas yang lebih besar tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama. Kini, usia gerakan mahasiswa 1998 sudah 18 tahun, menginjak masa ”pubertas” dalam arti tumbuh-kembang seorang manusia. Nostalgia kembali terbentuk setelah mengalami masa yang bergemuruh dengan arus kebebasan pers yang kuat, demokrasi multipartai hingga pemilihan langsung calon-calon legislatif dan eksekutif.

Gerakan mahasiswa 1998 sudah menjadi ”fosil” sejarah, sementara mahasiswa-mahasiswa yang berkiprah dalam 18 tahun ini sama sekali masih ”silau” atas gerakan yang dilakukan seniorseniornya. Upaya sambung rasa sedikit sekali terjadi. Hal ini berbeda dengan generasi mahasiswa 1990-an yang terus menerus dicurigai ketika aktor-aktor mahasiswa Angkatan 1966, Angkatan 1974, dan Angkatan 1978 melakukan interaksi di kampus-kampus.

Hampir tidak ada halangan sama sekali bagi mahasiswa Angkatan 1998 untuk berinteraksi dengan yunior-yuniornya di kampus-kampus. Kebebasan yang diperjuangkan sudah menjadi bagian dari napas demokrasi yang dihadirkan. Hanya saja, capaian keberhasilan bagi aktivis mahasiswa ketika menempuh kehidupan pascamahasiswa tidak berada di jalanan. Mayoritas memilih untuk menjadi kaum profesional guna menunjukkan bahwa menjadi aktivis mahasiswa hanyalah tangga sejarah yang tak bisa ditolak untuk diinjak.

Tapi terus-menerus menginjak tangga itu sama sekali tidak memberi manfaat besar bagi bangsa, negara, dan rakyat. Keberhasilan seorang aktivis tidak terletak pada posisi yang terusmenerus dalam gerakan toa, orasi, puisi ataupun pepsoden yang diolesi melingkari mata. Jadi, tatkala Angkatan 1998 dievaluasi, ditempatkan dalam laboratorium ilmu pengetahuan, tak lebih dan tak kurang itu hanyalah pancawarna kehidupan kampus yang belum menyatu.

Angkatan 1998 adalah angkatan yang sama sekali baru membentuk diri, membenturkan diri dengan kekuasaan, lalu menghadapi kenyataan betapa kekuasaan yang ditentang terlalu cepat jatuh. Pemandangan tanggal 21 Mei 1998 menunjukkan itu, betapa kalangan yang paling bersemangat hanyalah sebagian kecil mahasiswa yang berada di Gedung MPR-DPR, sementara ”ideolog-ideolog” gerakan yang sedang merancang gerakan yang lebih ideologis ternganga di depan layar televisi.

Kertas-kertas yang baru saja ditulis, disketsa, diarsir guna memunculkan gerakan yang lebih ideologis kembali disimpan. Selamanya. Dengan deskripsi di atas, sungguh belum layak Angkatan 1998 disebut sebagai gerakan mahasiswa yang berhasil. Selama arah kedaulatan negara dan kedaulatan rakyat belum mampu disetir menuju pulau harapan yang lebih adil dan makin sejahtera, selama itu pula tanggung jawab Angkatan 1998 masih berada di bahu para aktivisnya yang kini sudah berusia 40-an tahun.

Kekokohan dan kegagahan Angkatan 1998 tidaklah terletak pada sejumlah nama aktivisnya yang berada di pusaran politik dan puncak piramida ekonomi, melainkan bagaimana mereka terus-menerus berusaha agar ideologi gerakan mahasiswa betul-betul terbentuk, bergerak, dan dilarung dalam samudra gerakan yang lebih masif.