Tampilkan postingan dengan label Miss World - Kontroversi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miss World - Kontroversi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Dialog Kiai dan Sangidi

Dialog Kiai dan Sangidi
Adian Husaini  ;   Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor,
Nama-nama yang disebut dalam tulisan ini hanya fiktif belaka
HIDAYATULLAH, 16 September 2013


ALKISAH, di suatu waktu, di sebuah pondok pesantren, di pelosok Sukabumi, Jawa Barat, Kiai Marwan Syarifin tampak sedang terlibat dialog serius dengan seorang mantan santrinya.  Sangidi Riawan, sang mantan santri itu sengaja datang dari Jakarta menemui gurunya. Ia dilanda kegelisahan mendalam tentang situasi umat Islam akhir-akhir ini, terkait dengan isu Miss World. Di kampusnya, mahasiswa terbelah dua:  yang pro dan kontra terhadap penyelenggaraan kontes Miss World. Bahkan, di kalangan aktivis mahasiswa Islam, ada juga yang secara terbuka mendukung kontes Miss World.

Sangidi gelisah. Gurunya, Kiai Marwan, dilihatnya tergabung dalam demonstrasi menentang kontes Miss World. Di mata Sangidi, penyelenggara Miss World telah melakukan upaya mulia untuk kemajuan bangsa, karena telah mengubah konsep Miss World menjadi kontes tanpa bikini. Budaya dan pariwisata Indonesia pun diharapkan dapat makin meningkat.

Meski sempat mengenyam pendidikan pesantren, di bawah asuhan Kiai mumpuni pula,  pergaulan hidup dan informasi global telah mengubah pola pikirnya. Sangidi kini dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Latar belakangnya sebagai lulusan pesantren terkenal pun menambah daya tarik tersendiri. Lidahnya fasih melafalkan berbagai hujjah, dilengkapi dengan hiasan istilah-istilah Inggris dan Arab.

Meskipun sangat tidak lazim bagi seorang santri untuk mmengkritisi pendapat atau tindakan Kiai, kali ini, Sangidi memaksakan diri bertanya dan jika  perlu mengkritisi pendapat-pendapat gurunya. Tekadnya sudah bulat untuk – jika mungkin – membawa gurunya itu ke kubu pendukung kontes Miss World. Sekurangnya, tidak aktif menentangnya.

“Pak Kiai, saya mohon dijelaskan, kenapa Pak Kiai ikut-ikutan demo menentang kontes Miss World?”  Sangidi memberanikan diri menggugat Kiainya. Jantungnya berdegup cukup kencang.

“Saya tidak ikut-ikutan, Sangidi! Saya sangat sadar dengan apa yang saya lakukan. Ini kewajiban kita sebagai Muslim,” jawab Kiai Marwan.

“Kewajiban yang mana, Pak Kiai?”  tanya Sangidi, sambil memandang wajah Kiainya. 

“Harusnya sebagai lulusan pesantren kamu tahu. Ini kan kewajiban al-amaru bil-ma’ruf wal-nahyu ‘anil munkar.  Kita wajib menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.  Itu salah satu pilar ajaran agama kita. Bahkan, kata Imam al-Ghazali, itu yang menentukan hidup matinya umat Islam.  Kata Nabi kita Shallallahu ‘alaihi Wassalam, siapa yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia berusaha mengubah dengan kekuatannya. Jika tidak mampu, dengan kata-kata atau pikirannya; dan jika tidak mampu juga, cukup dengan hati. Jadi, minimal, ingkar dan tidak ridho terhadap kemungkaran.  Kamu kan paham akan hadis Nabi itu, Sangidi!

Sangidi terdiam.  Ia tampak gelisah. Kiai Marwan seperti memahami kondisi pemikiran mantan santrinya itu.  Ia menduga, mantan santrinya telah menjadi korban propaganda jaringan pendukung Miss World. Dengan kekuatan uang, media massa, dan lobi-lobi politik yang dimilikinya,  panitia Miss World cukup mampu membangun citra mulia atas tindakannya di tengah masyarakat.  Karena itu, Kiai Marwan pun tak heran jika ada sebagian organisasi Islam bahkan oknum ulama yang berselingkuh mendukung kontes Miss World

Sambil memandangi wajah dan gerak-gerik anggota tubuh Sangidi, Kiai Marwan mencoba membaca pemikiran salah satu santri yang dulu sempat dibanggakannya itu. Dibiarkannya saja Sangidi bergulat dengan pemikirannya, sampai Sangidi sendiri buka mulutnya.

 “Maaf Pak Kiai, apa yang Pak Kiai maksud dengan ‘mungkar’. Apa kontes Miss World ini termasuk mungkar? Dimana letak kemungkarannya?”  Sangidi buka mulut lagi.

“Ya, Sangidi! Justru kontes Miss World dan sejenisnya ini kemungkaran yang sangat canggih, terencana dengan rapi. Bahkan lebih parah lagi, kemungkaran ini dibungkus dengan propaganda hebat, sehingga tercitrakan sebagai sebuah kebaikan bagi bangsa kita. Bukan hanya kontesnya yang bermasalah, tapi mengkampanyekan, bahwa bentuk maksiat seperti itu adalah kebaikan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim. Ibaratnya, melacur itu dosa; korupsi itu dosa. Tapi mengatakan bahwa melacur itu adalah amal sholeh. Itu lebih besar kejahatannya. Coba kamu baca tafsir QS at-Taubah ayat 31.”
“Saya masih belum mengerti jalan pikiran Pak Kiai. Bukankah mereka sudah tampil dengan sangat  sopan dan tidak melanggar etika dan norma budaya kita?” kata Sangidi lagi.

Kiai Marwan tersenyum simpul mendengar pertanyaan sang murid.  Sangidi pun menyela, “Mengapa Pak Kiai senyum-senyum?”

“Sangidi... Sangidi…!  Kamu itu santri cerdas, yang mestinya  sudah memahami masalah seperti ini. Mengapa kamu sampai termakan propaganda-propaganda dengan logika yang dangkal seperti itu? Harusnya kamu paham tentang kiat-kiat setan dalam menipu dan menyesatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Quran.”

Sangidi masih terdiam. Wajah Kiai Marwan dipandanginya, diam-diam. Tetap saja wajah itu menyungging senyuman.

“Begini Sangidi…. Saya maklum, kamu bisa terjebak.  Ada juga pejabat yang kuliahnya di Timur Tengah pun ikut menyarankan agar peserta kontes Miss World  itu mengenakan kebaya. Ia tidak dengan tegas menolak kontesnya. Hanya bajunya yang dia persoalkan.”

“Bukankah itu saran yang bagus Pak Kiai?”

“Saran itu tidak cukup dan tidak mendasar. Yang mendasar pada masalah kontes Miss World ini adalah konsep dan cara pandang terhadap manusia dan martabatnya. Ini kontes tubuh manusia! Yang ikut kontes itu manusia; bukan anjing atau kucing. Kita orang Muslim punya cara pandang yang khas terhadap manusia. Seorang manusia disebut manusia karena akalnya, karena jiwanya. Kita memberikan nilai tinggi kepada manusia juga karena ketinggian iman, akhlak, dan amalnya. Kata Nabi saw: sebaik-baik manusia adalah yang memberikan kemanfaatan kepada manusia. Pada dasarnya, orang cantik, jelek, normal, cacat, itu kehendak Allah.  Itu bukan prestasi. Kecantikan itu anugerah dan sekaligus ujian dari Allah. Karena itu, tidak patut dilombakan! Jangan kamu buat, misalnya, kontes mulut termonyong, lomba bibir terlebar, dan sebagainya! ”

“Tapi, Pak Kiai, bukankah yang dinilai dalam Miss World bukan hanya kecantikannya, tapi juga kecerdasan dan perilakunya?”

“Ha… ha... ha… Sangidi… Sangidi…!  Cobalah pikir! Sederhana  saja! Di Indonesia ini, perempuan yang memiliki prestasi kecerdasan tinggi itu berjubel; ribuan jumlahnya. Mereka-mereka sudah mengharumkan nama bangsa di berbagai forum ilmiah internasional. Mereka melakukan riset-riset ilmiah dan sukses membuat temuan-temuan hebat di bidang ilmu pengetahuan. Prestasi intelektualnya jauh di atas perempuan yang terpilih jadi miss Indonesia itu!”

“Peserta Miss World ini juga harus punya proyek sosial, Pak Kiai, bukan kecantikan saja yang dinilai?” Sangidi masih berusaha meyakinkan gurunya.

“Itu juga bukan hal yang inti, Sangidi! Kalau mau cari perempuan Indonesia yang sangat mulia, yang berjasa besar kepada keluarga dan masyarakatnya, terlalu banyak di negeri ini. Bukan sekedar buat proyek insidental. Bukan sekedar show amal, tapi kehidupan mereka sehari-hari sudah bergelut dengan kerja-kerja mulia untuk kemanusiaan.”

Sangidi terdiam. Ia sebenarnya memahami logika Kiainya. Tapi ia belum bisa menerima logika itu sampai harus membatalkan Miss World di Indonesia. Sebab, faktanya, Miss World memang mendatangkan manfaat. Indonesia jadi lebih dikenal dunia. Peserta Miss World pun ikut mempromosikan budaya Indonesia. Jadi, kecantikan punya nilai tambah tersendiri. Cukup lama Sangidi merenung di depan Sang Kiai. Hatinya bergolak. Ia sudah terlanjur menulis dalam blog-nya, bahwa kontes Miss World di Indonesia kali ini benar-benar membawa manfaat bagi bangsa.

“Begini Pak Kiai…. Indonesia ini kan bukan negara Islam. Mengapa Pak Kiai selalu bawa-bawa Islam untuk menilai kontes Miss World? Ini kan masalah bangsa?”

“Siapa yang mengatakan Indonesia bukan negara Islam? Kalau bukan negara Islam, lalu Indonesia negara apa?  Apa negara kafir?  Kamu mikir,  Sangidi! Jangan hanya ikut-ikutan buat pernyataan seperti orang-orang yang kurang memahami sejarah bangsa kita!”

“Lho apa memangnya, Indonesia ini negara Islam, Pak Kiai?”

“Dengar baik-baik ya, Sangidi! Indonesia ini negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan sudah ditegaskan oleh para perumusnya, bahwa Tuhan Yang Maha Esa  itu adalah Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga. Juga latar belakang rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah sebagai ganti dari tujuh kata yang dihapus dalam Piagam Jakarta. Ringkasnya, Indonesia ini Negara berdasar atas Tauhid, sebagaimana konsep Islam. Itu ditegaskan dalam Munas Alim Ulama NU tahun 1983 di Situbondo!”

“Tapi Pak Kiai, itu kan menurut Pak Kiai yang Islam. Bagaimana dengan warga Indonesia yang beragama lain?”

“Kamu itu orang Islam atau bukan!? Bukankah seharusnya kamu berpikiran semacam itu, sebagai orang Islam. Kalau soal orang non-Muslim, itu urusan mereka. Kita hormati cara berpikir mereka.”

“Ya benar. Hanya saja, Pak Kiai… kita ini kan warga Negara Indonesia yang plural, tidak bisa memaksakan nilai-nilai Islam kita kepada yang lain?”

“Yang memaksakan itu siapa?  Kita tidak memaksa siapa-siapa.”

“Itu buktinya, Kiai memaksakan kontes Miss World dibatalkan!”

“Penyelenggara yang memaksakan kontes munkar itu diadakan di Indonesia. Mereka tidak sensitif dengan aspirasi umat Islam Indonesia. Di Masa Pak Harto, mengirimkan wakil ke Miss-miss-an seperti itu saja dilarang. Apalagi jadi tuan rumahnya! Ini sangat keterlaluan, mentang-mentang punya uang dan media!  Acara ini juga sangat mudah memicu prasangka dan konflik bernuansa ras dan agama. Ini yang tidak kita kehendaki. Karena itu, jauh-jauh sebelum acara ini berlangsung, saya sudah mengingatkan penyelenggara, baik lewat tulisan atau pun lobi.  Jangan teruskan acara ini! Jangan merusak dan memecah belah bangsa kita dengan cara-cara yang akan memunculkan kontroversi. Karena itu, kami para pimpinan pesantren,  tidak tinggal diam! Itu makanya saya turun langsung berdemonstrasi memprotes acara Miss World ini!!!!!”  suara Kiai Marwan agak meninggi.

“Apa Pak Kiai mau memaksakan untuk dibatalkan, padahal pemerintah pun sudah melokalisasi acara ini di Bali!”

“Orang seperti saya ini tidak punya kuasa. Bagaimana mau memaksakan? Yang memaksakan itu yang punya uang, yang punya televisi, yang punya keberanian menantang Tuhan! Yang bertanggung jawab dunia akhirat itu ya Pak SBY dan para pejabat di bawahnya.  Saya hanya menyampaikan aspirasi sekuat tenaga dan pikiran. Terserah pemerintah dan panitia penyelenggara mau dengar atau tidak!” 

“Maaf, Pak Kiai, apa tidak sebaiknya Pak Kiai menerima kenyataan, bahwa masyarakat kita sekarang sangat sulit menerima pemahaman seperti Pak Kiai ini. Pak Kiai akan dianggap makhluk aneh, karena pada umumnya manusia senang melihat tontonan yang melibatkan orang-orang cantik.  Bahkan, sekarang, artis-artis jauh lebih popular daripada ulama. Apa Pak Kiai tidak bisa berkompromi sedikit?”

“Kebenaran itu, Sangidi, tidak bisa dikompromikan.  Kita harus menyatakan yang haq itu haq, yang benar itu benar. Katakan saja, meskipun itu pahit; begitu pesan Nabi kita, Nabi Muhammad saw. Dan saya yakin, kebenaran itu pasti ada pendukungnya. Mungkin tidak banyak. Tapi, yang sedikit itu, jika serius, akan mampu memimpin yang banyak. Anak babi itu banyak; anak singa sedikit. Tapi, anak singa makan babi… he he he….”  Kiai Marwan tertawa lirih sambil senyum-senyum memandangi Sangidi yang mulai salah tingkah.

“Kamu kenapa sih Sangidi…. Kok kelihatan gelisah. Kamu kan tidak ada hubungan apa-apa dengan panitia Miss World?”

“Maaf… maaf… Pak Kiai, benar-benar saya minta maaf ya Pak Kiai…. Saya ke sini sebenarnya ada maksud membawa amanah dari seseorang yang meminta saya melunakkan pendapat Pak Kiai soal Miss World ini…”

“Ya, saya sudah menduga… tidak biasa-biasanya kamu datang ke sini, sejak lulus pesantren dua tahun lalu…saya menduga pasti kamu membawa misi sesuatu! Terus, … kamu sendiri bagaimana sikapmu terhadap kontes Miss World ini.”

 “Saya coba pikir-pikir Pak Kiai. Saya baru mendengar hujjah yang agak jelas tentang masalah ini.”

“Begini Sangidi, kuncinya ada di hatimu; kuncinya pada kejujuranmu. Apa kamu jujur?  Apa kamu jujur kalau kamu Muslim? Apa kamu jujur dengan ikrarmu, dengan syahadatmu; bahwa Allah itu Tuhanmu, bukan cukong penyandang danamu; bukan hawa nafsumu! Apa kamu masih jujur dengan ikrarmu. Apa kamu masih mengakui Nabi Muhammad saw itu suri tauladan dan idolamu; apa idolamu sudah berubah menjadi Che Guevara atau Hartawijaya?

“Ya Pak Kiai, saya jujur insya Allah! Tapi, kan ini masalah bangsa Pak Kiai? Bukan sekedar masalah agama saja! Ada yang bilang, secara hukum positif di Indonesia, tidak ada yang dilanggar dalam kontes Miss World. Bagaimana itu Pak Kiai?”

“Saya tidak habis pikir, jika yang ngomong seperti itu orang Islam.  Di Indonesia ini, menurut hukum positif, berzina saja – asal suka sama suka dan sama-sama dewasa – tidak melanggar hukum positif. Apa lalu orang boleh berzina, karena tidak melanggar hukum positif? Cari pasal dalam KUHP, apa ada larangan masuk masjid dengan mengenakan bikini!!! Sudahlah Sangidi… kamu harusnya sering-sering silaturrahim ke sini. Kamu sudah terlalu banyak bergaul dengan orang-orag liberal, sampai pikiranmu mulai rusak; tidak bisa lagi membedakan mana yang salah dan mana yang benar.  Hati-hati, kamu sepertinya sudah mulai terbuai dengan pujian dan sedikit popularitas yang kamu nikmati sekarang!”
Sangidi terdiam. Ia tak sanggup lagi menatap wajah gurunya. Kata-kata Kiai Marwan seperti menyayat-nyayat perasaannya. “Doakan saya Pak Kiai, semoga saya masih bisa istiqamah!”

“Saya selalu mendoakan. Tapi, kamu sendiri harus punya niat untuk tidak sesat!”

“Baik, Pak Kiai… saya mohon ijin untuk pamit,”  Sangidi mengakhiri ucapannya.

“Ya, jaga diri. Ingat orang tuamu, berharap kamu jadi anak shalih!”

Sejurus kemudian, sebuah sedan hitam metalik, membawa Sangidi meninggalkan pesantren. ●

Jumat, 13 September 2013

Miss World Rendahkan Harkat Perempuan

Miss World Rendahkan Harkat Perempuan
Siti Nuryati  ;   Alumnus Pascasarjana Fakultas Ekologi Manusia
SUARA KARYA, 13 September 2013


Seperti ramai diberitakan, Indonesia akan menyelenggarmenyelenggarakan pemilihan Miss World 2013 pada bulan September ini. Pantitia penyelenggara menyebut bahwa acara itu bukan sekadar ajang kontes kecantikan perempuan karena membawa konsep baru, beauty with purpose, selain 3B (beauty, brain and behaviour). Karena itu, menurut mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, apalagi sesi penggunaan bikini juga telah dihapus pada acara tersebut. Selain itu, acara ini dinilai sebagai cara yang jitu untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Meski demikian, tetap saja tidak bisa ditutupi bahwa penyelenggaraan Miss World dan kontes kecantikan sejenis tidak lebih dari kontes pencarian perempuan tercantik fisiknya untuk dieksploitasi demi mendongkrak pendapatan industri fashion, kosmetik dan rating media. Kriteria penilaian berupa konsep beauty with purpose, dam 3B hanya kedok bagi legalisasi eksploitasi tubuh perempuan. Terlebih lagi miss world adalah kontes tertua yang telah mengilhami lahirnya kontes-kontes kecantikan serupa lainnya.

Slogan brain, beauty, and behaviour sebetulnya adalah slogan pemanis untuk eksploitasi perempuan. Kalau memang brain yang dijadikan tolok ukur, seharusnya pelajar-pelajar puteri berprestasi dalam bidang olimpiade fisika atau matematika tingkat dunia lebih pantas menyandang gelar miss universe. Kalau memang brain yang dijadikan tolok ukur, untuk apa menyertakan sesi aksi ukur-ukur lebar dada dan lingkar betis segala. Mungkin itulah beauty yang mereka maksud. Belum lagi syarat peserta yang harus berusia muda, tinggi badan tertentu dan wajah menarik/cantik. Syarat intelektualitas, itu hanya tameng agar kontes kecantikan terlihat elegan dan bergengsi. Namun, ukuran yang dipakai dalam ajang ini tetap saja tubuh ramping, badan molek, dan kulit mulus.

Sementara, behaviour, bagaimana bisa perilaku (keramahan, sikap terhadap sesama teman kontestan lain, kelembutan) hanya dinilai selama dua minggu masa karantina saja. Bagi seseorang yang pintar acting, bukan hal sulit untuk menampilkan perilaku seanggun "putri salju". Bagaimana bisa, cara duduk, meletakkan kaki, tangan dan bahu dijadikan ukuran untuk menilai kepribadian seseorang. Padahal perilaku adalah sebuah pola sikap yang muncul dari kepribadian seseorang yang didapat dari sebuah kebiasaan yang ditanamkan secara terus menerus. Tidakkah ini naif?

Tidakkah kita sadar bahwa Kontes Miss Universe yang kali pertama berlangsung pada 1952 itu tujuannya memang mencari gadis cantik untuk dijadikan model swimsuit dan beberapa produk make up yang menjadi sponsornya? Tidakkah kita sadar bahwa kontes kecantikan adalah bagian dari industri kapitalisme, di mana tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi penyelenggara dan para sponsor berbagai produk, khususnya produk wanita seperti pakaian dan kosmetik?

Salah satu perusahaan yang tidak pernah absen menjadi sponsor adalah produsen swimsuit. Misalnya, Catalina yang menjadi sponsor miss universe pertama 1952 sampai 1991. Setelah itu sponsor dari produk swimsuit berganti-ganti diantaranya Oscar de la Renta, Endless Sun Apparel dan BSC. Juga terbukti, dalam kontes kecantikan sekelas miss universe memperlihatkan kemolekan tubuhnya dengan berpakaian minim adalah peraturan wajib.

Meski dalam perkembangan selanjutnya, miss universe kemudian didaulat dengan tugas-tugas "mulia" seperti menjadi duta wisata, pengemban misi sosial seperti pemberantasan HIV/Aids, narkoba, lingkungan hidup, pendidikan, anak cacat dan sebagainya, namun tetap saja para ratu kecantikan dunia itu diorbitkan dalam rangka memenuhi pundi-pundi para pemilik modal di belakangnya. Mereka didanai besar-besaran dan mendapat fasilitas mewah karena dianggap berjasa mendongkrak image sebuah produk/merek para sponsornya.

Bagaimana dengan jasa para ratu itu dalam mendatangkan wisatawan, mengharumkan nama bangsa, menekan penggunaan narkoba, meminimalkan HIV/Aids, meningkatkan pendidikan anak-anak dan seterusnya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa peran mereka sangat signifikan dalam hal tersebut.

Meminjam istilah Kuntowijoyo, bangsa ini telah menjadi bangsa klien yang mengabdi setia pada patron. Kontes miss universe adalah salah satu produk yang "dijual" oleh kaum patron itu. Anehnya, kita pun senantiasa setia untuk "membeli" produk itu. Menerima tawaran sebagai tuan rumah ajang yang "menjual" martabat bangsa seperti ini tidak saja merupakan pilihan yang tidak cerdas, tetapi juga akan melukai ke-beragama-an umat Islam di Indonesia sebagai penganut agama mayoritas.

Dengan demikian, alasan penolakan terhadap penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia sangat masuk akal. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dimana Islam memang melarang kontes kecantikan semacam ini. Kontes miss world jelas merupakan ajang eksploitasi tubuh perempuan sehingga acara itu sangat merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Perempuan harus dijaga harkat dan martabatnya sebagaimana visi dan misi penciptaannya oleh Sang Khaliq. Yakni, sebagai perempuan yang mulia sehingga membawa kebaikan bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. ●  

Ke-Indonesia-an Miss World 2013

Ke-Indonesia-an Miss World 2013
Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati  ;   Anggota Komisi I DPR
Fraksi Partai Hanura
KORAN SINDO, 13 September 2013


Miss World adalah wacana terkini yang menarik untuk dibicarakan. Menjelang dilaksanakannya event, setiap elemen masyarakat membincangkan perihal Miss World 2013. 

Event ini tiba-tiba menjadi pembincangan sakral di berbagai lapisan masyarakat. Namun menjelang event ini digelar, muncul berbagai pro dan kontra dalam penyelenggaraannya. Jika kita menyimak pembukaan perhelatan Miss World di televisi beberapa waktu lalu, ada fenomena unik dan menarik sekaligus kagum ketika kita menyaksikan, ternyata pakaian adat yang kita punyai dari 33 provinsi itu sangat indah dipakai dengan aneka warna yang dikenakan oleh para kontestan Miss World 2013. 

Secara tidak langsung, ada perasaan kagum dan terkesima pada bangsa sendiri yang ternyata memiliki keanekaragaman budaya yang dicerminkan melalui pakaian adatnya. Tentu saja hal ini menarik karena perempuan-perempuan dari negara lain dengan ”sukarela” mau mengenakan pakaian tersebut ketika ajang ini diselenggarakan di Indonesia. Rasa nasionalisme semakin meningkat ketika kita, bangga, dan menghargai apa yang kita punyai.

Selama ini perempuan-perempuan di dunia sudah terbiasa dengan memakai pakaian bikini berlenggak-lenggok di ajang Miss World, namun di Indonesia ada pemandangan lain yang paling tidak cukup menggembirakan kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sisi apa yang membuat kita merasa mendapat kesempatan ketika ajang Miss World diselenggarakan di Indonesia? 

Mari kita cermati, selama ini ketika kita ke luar negeri yang ada dalam benak mereka tentang Indonesia dengan bertanya, Indonesia? Sebelah mana Bali ya? Tentu kita mendapat pertanyaan itu sangat prihatin ternyata orangorang di dunia lain lebih mengenal pulau Bali ketimbang Indonesia. Bahkan sangat memprihatinkan lagi ketika kita lebih dikenal sebagai negara terkorup di dunia. 

Beberapa nilai positif, ajang Miss World 2013 diselenggarakan di Indonesia. Event ini merupakan kesempatan bangsa Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa kita merupakan negara yang kaya akan budaya dan potensi dalam peradaban manusia. Hal ini akan membuat bangsa Indonesiadikenallebihluas, sehingga bahwa kesan Bali lebih terkenal dibandingkan Indonesia tidak lebih dominan, justru dengan ajang ini ingin membuktikan kepada dunia luar bahwa Bali merupakan salah satu dari banyak tempat dan budaya yang ada di Indonesia. 

Dalam perspektif feminis, Miss World merupakan salah satu wadah bagi perempuan sebagai pihak yang selama ini mengalami subordinasi dari kaum-kaum superordinat yang masih menganggap perempuan merupakan pihak yang posisinya berada pada level tertindas. Pada ajang ini, kaum perempuan diberikan kesempatan untuk menampilkan artikulasinya. 

Dengan ajang ini, perempuan yang berasal dari aneka ragam negara dan budaya dapat mengaspirasikan suaranya untuk memperjuangkan perubahan sosial dan budaya di masyarakat yang masih memandang perempuan sebagai ”hal yang sepele” . Hal yang perlu menjadi titik pandang adalah langkah awal kita memperkenalkan kepada dunia bisa dilakukan melalui simbolisasi dengan memperkenalkan tatanan budaya yang ada di Indonesia. 

Dalam teori komunikasi, kita mengenal teori interaksi simbolik. Teori ini menekankan bahwa interaksi manusia dalam pergaulan bisa dilakukan melalui sebuah presentasi diri melalui simbol-simbol yang akan mencirikan simbol tersebut menjadi sebuah ciri untuk membina hubungan dengan manusia lainnya. Dalam konteks Miss World, penunjukan simbol-simbol kepada dunia tentang Indonesia coba diusung oleh penyelenggara dalam memberikan gambaran tentang Indonesia yang lebih utuh. 

Kesempatan untuk mempresentasikan diri kepada dunia tentang siapa diri kita melalui ajang Miss Worldmerupakan upaya yang patut diapresiasi, sepanjang ajang ini tetap menghargai budaya yang ada di Indonesia. Pertimbangan kearifan lokal tentu saja dikedepankan faktor ciri khas perempuan Indonesia tak bisa di pudarkan hanya karena citra Miss World yang selama ini negatif. 

Menerjemahkan event ini dalam konteks keindonesiaan dalam hal ini harus dilihat secara utuh, citra negatif tentang penyelenggaraan Miss World mesti dibarengi dengan bagaimana kegiatan ini dikemas oleh penyelenggara. Muatan-muatan budaya Indonesia bisa disusupkan melalui ajang ini, kondisi riil memperkenalkan masyarakat Indonesia seutuhnya bisa memanfaatkan ajang ini. 

Jika dikaji secara mendalam, tampaknya event ini bukan sekadar event untuk mempertontonkan diri kaum perempuan secara fisik, tapi perempuan justru diangkat secara utuh dalam arti perempuan yang ikut terlibat adalah mereka-mereka yang terpilih secara fisik dan intelektual. Mereka di uji kepekaan sosialnya, diasah pemikiran intelektualnya, dan digali potensi keterampilannya. 

Oleh karena itu, kita tidak bisa melihat masalah ini hanya dari satu sisi secara sempit. Tapi kita harus melihat dalam konteks luas. Namun, tentu saja penyelenggaraan ini harus mengedepankan norma-norma yang berlaku di negara kita sebagai penyelenggara pada tahun ini. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia harus tetap menghargai kehadiran ”tamu-tamu” asing yang justru antusias memberi kesempatan kepada bangsa ini untuk menunjukkan diri sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang memesona. 

Hal yang harus kita lakukan adalah memberikan kesan kepada bangsa-bangsa lain bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memiliki adab dan norma, menghargai kaum perempuan untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan budaya dan norma yang selalu dijunjung tinggi oleh bangsa kita. Tantangan bagi peserta Miss World terutama dari Indonesia, bagaimana mereka mampu menunjukkan bahwa mereka muncul tidak secara parsial dan hanya dilihat sebagai objek, namun lebih pada bagaimana mereka merupakan bagian dari perempuan-perempuan cerdas dan kreatif yang mengedepankan personality yang utuh. 

Oleh karena itu, kesan yang harus dimunculkan dalam penyelenggaraan kegiatan ini adalah menepis kekhawatiran berbagai pihak bahwa ajang ini akan melunturkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Justru dengan ajang ini merupakan tantangan untuk menunjukkan bahwa kekhawatiran itu tidak perlu diperbesar. Bagaimana hal ini bisa dilakukan? Rangkaian kegiatan ini bisa dikemas dengan menonjolkan sisi keindonesiaan, dalam arti bahwa kita perlu lebih komprehensif menampilkan sosok-sosok perempuan Indonesia yang memang memiliki ciri khas di banding negara-negara lain. 

Selain itu, kita juga bisa menunjukkan secara lebih luas nilai-nilai ketimuran kita yang tetap akan menjadi jati diri bangsa. Para pendahulu bangsa kita amat menyadari bahwa keanekaragaman budaya bangsa ini pada dasarnya menjadi satu kebanggaan, tentu akan lebih bangga lagi jika filosofi ini lebih dikenal di mancanegara melalui Miss World 2013. Harapan kita sebagai bangsa yang berbudaya tentu ajang ini akan memberikan peluang positif dalam memperbaiki citra bangsa ini di ajang internasional. 

Tanpa mengesampingkan hal-hal yang mungkin akan menjadi kekurangan dalam ajang ini, tentu saja bisa diperbaiki dengan konsep yang mengedepankan keluhuran budaya dan nasionalisme Indonesia. Sebagai sebuah upaya anak bangsa yang ingin berniat baik untuk mengangkat negeri ini pada kancah internasional sekali lagi kita perlu melihat sejauh mana pembuktian pentingnya momen ini bagi bangsa Indonesia menjadi harapan semua pihak. ●  

Kamis, 12 September 2013

Miss World dan Refleksi Identitas Kita

Miss World dan Refleksi Identitas Kita
Said Aqil Siradj ;    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
KOMPAS, 12 September 2013


Miss World, dua kata ini kembali hadir dalam suasana riuh. Hampir-hampir keriuhannya menutupi gejolak tempe dan tahu yang harganya melonjak.

Terjadilah gegeran yang terus berulang saban perhelatan wanita cantik sedunia itu mengemuka. Ada pro-kontra, bahkan tuntutan mengadakan ”sidang itsbat” dengan mengumpulkan semua ormas Islam menyatakan penolakan terhadap Miss World. Miss World akhirnya tetap digelar di Bali dan aman-aman saja.

Fetisisme

Dominasi perspektif yang menjalari kepala orang amat meriah. Masyarakat sekonyong-konyong tersedak atas cangkokan atau sosialisasi isu ini-itu. Betapapun tak jadi bagian apa-apa dari masyarakat, ia hadir bagai tak tertahan.

Ini bukan soal ekonomi semisal anak yang kekurangan gizi atau warga yang makan nasi tiwul lantaran tak mampu beli beras. Atau, kasus seorang lansia yang mati mendadak saat mengambil BLSM dan ternyata jatahnya sudah ditilap orang lain. Fakta ini begitu mudah dilupakan.

Coba tengok, masyarakat dibuat asyik sibuk memelototi berita sensasional selebritas yang menampang hampir setiap hari di berbagai media. Gegarnya seakan-akan melebihi kepentingan nasional. Skandal asmara berbaur seks selebritas papan atas telah menenggelamkan berita politik, budaya, dan ekonomi yang tak kalah panasnya tengah menggedor jantung kehidupan bangsa ini. Apatah kata, publik bangsa ini memang mudah tersengat oleh perhelatan selebritas dibandingkan dengan kisah mencerahkan.

Di sisi lain, kisah anak bangsa yang berhasil mengukir prestasi dan dedikasi dalam logika pasar publik yang semacam ini laksana kapas yang mudah diterbangkan dan disaput habis oleh terjangan angin, betapapun hanya sepoi-sepoi. Sebut saja kisah para jawara olimpiade fisika yang menangguk prestasi di arena internasional. Atau, kisah mereka yang bergelut dalam pendidikan masyarakat desa dan anak jalanan, menciptakan energi alternatif, atau pula kisah mereka yang menyuntuki kebudayaan dalam sebuah gerakan sunyi demi menguak tabir hegemoni. Kisah itu dipandang kurang sedap dan seksi: tak perlu diplototi serius dengan bangga.

Ada apa dengan bangsa ini? Globalisasikah yang membuat bangsa ini justru tak berdaya? Kita tampak tiarap dibandingkan dengan China dan India yang, mengutip Joseph Stiglitz, menjadi contoh negara yang sukses memerdayai globalisasi sehingga mampu menggenjot ekonominya dan mengelola kebudayaannya.

Kita kerap gemborkan bahwa negeri kita kaya dengan kemajemukan budaya, tetapi coba kita tatapi, dalam berbagai iklan yang setiap hari tayang di media massa: yang disebut cantik itu orang berambut lurus, bertubuh langsing, dan berkulit putih meski harus merombak penampilannya. Padahal, kita sungguh penuh dengan ragam konsep kecantikan yang berasal dari kebudayaan yang ada. Akibat penyeragaman dan komodifikasi, banyak konsep kecantikan yang multikultural terpelanting, bahkan hanya menjadi tayangan ”primitif”. Pinjam ungkapan Theodore Adorno, inilah cerita hidup dalam masyarakat kapitalis ketika produksi dan konsumsi budaya sudah terstandardisasi.

Nah, dalam situasi seperti ini, masuk akal jika penampilan wajah ayu yang berkriteria global dan terstandardisasi menjadi idol yang tak habis-habisnya dipuja. Sebuah gaya hidup yang amat mudah menghinggapi gempita benak orang. Inikah budaya populer yang membuat masyarakat dipicu mengingkari upaya berpikir rasional dan menciptakan respons sentimental mereka sendiri? Mereka digiring melawan rangsangan intelektual dan dijadikan sebagai sasaran empuk kekonsumtifan, iklan, impian, dan fantasi yang laku dijual.

Banyak ruang yang dipersembahkan dan sebagai penyalur sempurna bagi pelampiasan hasrat kekonsumtifan dan fetisisme. Fetisisme adalah praktik pemujaan yang membuat nilai substansial dari sesuatu jadi hilang hingga yang terjadi kemudian: nilai tukar semata. Terlebih lagi, karena masyarakat kita masih terbiasa dengan budaya lisan, budaya menonton terlebih seputar selebritas yang tampil di sejumlah ruang publik akan menjadi kenikmatan tak tertandingi. Kita memuja idola-idola lebih dari diri kita sendiri. Dalam fetisisme komoditas, asas manfaat dari sifat memuja diambil alih oleh asas pertukaran. Balasannya, mereka puas dan bangga.

Darurat identitas

Namun, secara tak sadar, pada saat itulah mereka hanya mengalami euforia semu dan kesadaran palsu. Konsumen ”dijebak” dan ”dikurung” dalam lingkaran pemujaan sehingga mereka menjadi pasif, lemah, dan rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi. Kita menjadi ”mati suri” dalam pemujaan semu. Manfaat tak lagi bisa mendapat tempat pada masyarakat yang telah diracuni sifat fetis. Lagi-lagi mengutip Adorno, inikah ”rahasia sejati” keberhasilan konspirasi kapitalisme lewat budaya populer? Jadilah kita korban fetisisme komoditas manakala relasi sosial dan apresiasi budaya diobyektifikasi melalui pemujaan. Alhasil, ia bisa menyamarkan dirinya sebagai obyek kenikmatan.

Sejak krisis multidimensional, bangsa ini selalu dirundung masalah. Dan, masalah yang paling berat adalah krisis identitas dan kemanusiaan. Khalayak lebih mudah mendewakan penampilan lahiriah, termasuk dalam hal keagamaan dengan meniru-niru budaya asing.

Krisis identitas inilah yang kemudian membutakan mata hati kita melihat kebenaran dan keadilan. Identitas yang tak jelas membuat kebenaran dilihat secara abu-abu, tak lagi jelas kebenarannya. Kebenaran menjadi abstrak. Keadilan dimaknai tunggal sebagai keadilan individu. Keadilan untuk masyarakat banyak hanyalah mimpi di siang bolong. Dan kini, sebagaimana kita saksikan dalam keriuhan Miss World, semua berebut simpati dan berdebat mengenai kebenaran dan keadilan.

Popularitas dapat diibaratkan lampu kilat kamera yang tiba-tiba menyilaukan, tetapi lenyap seketika. Popularitas adalah produk budaya instan yang mengagungkan pesona lahir yang sesaat dan mengabaikan keluhuran akal budi yang bersifat kekal.


Budaya pop telah memasuki segala hal dalam kehidupan kita, mengonsep serta mengorupsi pemikiran dan laku budaya masa kini. Termasuk pula dalam ihwal spiritualitas dan religiositas. Pada akhirnya orang sulit membedakan mana versi yang direkayasa untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Esensi dan simbol saling dipertukarkan secara bebas. Kita jadi sangat sulit membedakan yang maya dari yang nyata atau fakta dari fiksi. ●  

Rabu, 11 September 2013

Miss World (4.088) - Rhenald Kasali

Miss World
Rhenald Kasali  ;    Guru Besar FEUI; Pendiri Rumah Perubahan
JAWA POS, 11 September 2013


Meski dipindahkan ke Bali, akhirnya kompetisi Miss World jalan juga. Ancam-mengancam, rupanya, masih mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Padahal, beberapa hari lalu pergelaran musik Metallica bisa berjalan aman, berbarengan dengan pawai akbar ulang tahun Front Pembela Islam (FPI). 

Hari itu di Jakarta hanya ada dua warna. Yang satu berjubah putih dan satu lagi berkaus hitam menghibur diri.

Ribuan remaja putri Jakarta yang sudah lama menunggu untuk menyaksikan ajang kompetisi itu di Jakarta tentu kecewa. Demikian juga ormas yang sudah siap menyerang. Maklum, ongkos orang-orang Jakarta untuk buat ribut di Bali terlalu mahal. Sudah begitu, beberapa tokoh Bali sudah bersiaga. Di media sosial, saya membaca ulasan Putu Setia.

Putu menulis, kontes itu sudah mendapat restu dari Jero Gede Suwena, ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali. Harap maklum, MUDP membawahkan ribuan pecalang (petugas keamanan desa adat). ''Rasanya tak mungkin FPI datang ke Bali dan main uber-uberan???,'' tulisnya.

Jadilah ajang itu berita dunia. Tetapi, bukan soal Miss World-nya, melainkan soal ''uber-uberan'' dan gontok-gontokan tersebut. Kalau Anda baca berita yang ditulis media-media asing, jelas apa yang terjadi di sini menjadi perhatian dunia. Tidak pasti, tetapi akhirnya pasti juga. 

Ada Miss World, ada Miss Universe, dan tentu saja ada banyak ajang kompetisi global lain yang menarik perhatian dunia. Jangankan pemilihan putri cantik, penetapan lokasi adanya keajaiban dunia saja seperti Pulau Komodo selalu menarik perhatian dunia.

Dunia tengah bergulir menuju kontes-kontes kamera dan beralih penampilan fisik-physical appearance (cameragenic) kepada kemampuan memesona dalam berinteraksi (auragenic).

Adalah keliru menyuarakan kontes-kontes kecantikan dengan pameran maksiat, apalagi bila kita hanya berfokus pada, maaf, bentuk tubuh, ukuran buah dada, bentuk tubuh bagian belakang, dan seterusnya. Tak jugakah kita membuka mata bahwa Britain's Gots Talent telah mampu melahirkan penyanyi Susan Boyle, 47, yang jauh dari seksi, bahkan tambun dan lebih cocok menjadi nenek kita? Hanya kitalah yang masih memilih ''goyang itik'', ''ngebor'', dan ''ting-ting'' yang berkonotasi negatif.

Kita juga tengah bergeser dari capres yang ganteng ke capres-capres yang genuine, lincah, dinamis, dan berani menghadapi risiko. Kita juga menyaksikan audience TV mulai lebih suka melihat mereka yang tidak tampan namun authentics seperti Slank, Uya Kuya, Tukul Arwana, atau bahkan Azis dan Sule. Di sini dan di seluruh dunia di mana pun manusia tengah beralih, dari melihat fisik menjadi melihat kejujuran, kesejatian, keaslian, serta keanggunan.

Membaca arah audience adalah bisnis. Ajang Miss World sama dengan ajang menampilkan grup-grup band. Motifnya hanya satu: bisnis. Serang-menyerang, ancam-mengancam, meski dibalut serban agama, mohon maaf, itu juga bermotif sama saja: bisnis.

Saya masih ingat saat mahasiswa saya, seorang polisi bintang satu, mengatakan alasan di balik keributan penolakan kehadiran pergelaran Lady Gaga di sini. Semua mahasiswa mengajukan alasan moral dan agama. Tetapi, polisi senior itu dengan berani menunjukkan fakta-fakta bahwa semua itu berawal dari kurangnya ''sesajen''. Panitia penyelenggara tidak bisa memenuhi keinginan para penekan sehingga kesepakatan pun gagal.

Sebuah gerai modern yang buka 24 jam tahun lalu juga banyak diberitakan menjual miras sehingga didemo berulang-ulang oleh ormas beserban agama. Belakangan, demo itu hilang sendiri. Sewaktu saya tanya, pemilik gerai waralaba tersebut mengatakan, ''Sudah kami selesaikan.'' Mereka ternyata hanya meminta jatah lahan parkir. Itu sedikit merepotkan karena sebelumnya ada kelompok ormas lain yang mendapat jatah di lokasi lain.

Di luar negeri, ajang Miss World dan Miss Universe adalah ajang bisnis. Ketika jutaan mata memandang, di situ ada kontrak iklan, sponsor produk, kontrak artis jangka panjang, nilai besar yang harus dibayar penyelenggara lokal, dan sebagainya.

Seorang mantan Putri Indonesia yang baru pulang dari kontes Miss Universe di luar negeri bercerita, bagaimana mungkin dirinya bisa menang kalau panitia lokal tidak berani ''deal bisnis'' dengan Donald Trump? ''Sejak awal saya sudah melihat ke mana arah mata pemilik program dan dialah pemenangnya,'' ujarnya.

Ketika semua orang membanding-bandingkan kecantikan dan kecerdasan, kita lupa bahwa di balik semua itu ada orang yang meng­ambil keputusan mutlak. Mereka juga punya deal bisnis dengan para manajer yang bisa menjanjikan kontrak-kontrak besar. ''Cantik'', sama dengan ''pintar'', bisa direkayasa karena semua ada di benak orang dan sugestinya bisa dibuat melalui televisi serta media sosial. Demikian pula, kesan religius bisa direkayasa. 

Tetapi, satu hal yang sering dilupakan, dunia pun tidak gelap-gelap amat. Mata batin tidak pernah tidur dan ''aura'' tak bisa direkayasa. Auragenic adalah sesuatu yang original, yang membuat kita paham siapa juara yang sebenarnya dan siapa yang beragama dalam arti yang sebenarnya. Siapa saja yang benar-benar menjalankan prinsip-prinsip moralitas. Biasanya, semakin luas ancaman disuarakan, semakin jelas motif di belakangnya.

Indonesia perlu lebih berani melawan tekanan-tekanan bisnis yang dibungkus simbol agama. Indonesia juga harus lebih berani melihat motif-motif ekonomi di balik semua kepentingan. Seperti kata Tim Burton, ''One person's craziness is another person's reality''.  ●  

Selasa, 10 September 2013

Tontonan dan Tuntunan Miss World

Tontonan dan Tuntunan Miss World
Arifah Suryaningsih  ;    Guru SMKN 2 Sewon,
Alumnus Manajemen Kepengawasan Pendidikan di MM UGM
SUARA KARYA, 10 September 2013


Perhelatan akbar Miss World terus melenggang, di tengah hiruk-pikuk pro dan kontra atas pelaksanaannya. Kontes ratu sejagad tersebut tentu akan menyita perhatian mayoritas penduduk di 160-an negara seluruh dunia. Terlebih, bagi masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah, suka tidak suka selama beberapa hari ke depan masyarakat kita akan disuguhi gebyar kontes ratu sejagat yang memenuhi ruang-ruang media di seantero Nusantara.

Pemerintah mengklaim bahwa satu sisi positif dari pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai ajang memperkenalkan Indonesia di kancah dunia. Sedangkan menurut saya, inilah cara instan yang ditempuh untuk mencuatkan nama Indonesia di kancah internasional. Bukan dengan menciptakan prestasi, tapi cukup menjadi tuan rumah Miss World saja.

Sementara yang terjadi, Indonesia tetaplah negara peringkat terbawah di bidang pendidikan, tetap menjadi negeri nomor tiga terkorup dunia, dan masih juga jarang mencetak prestasi di event-event dunia. Munculnya Indonesia sebagai tuan rumah dengan kemolekan Pulau Bali-nya seolah mengabarkan kepada dunia, meskipun negeri ini sedang dirundung banyak permasalahan, namun tetap cantik di mata dunia.

Perhelatan ini bahkan diadakan ketika dunia pendidikan kita sedang diterpa berbagai permasalahan, mulai dari kurikulum baru yang belum juga menunjukkan arah yang jelas, buku-buku ajar yang berbau kekerasan, pornografi, tawuran pelajar, ditambah lagi kasus yang memiriskan, yaitu ratusan guru di Indonesia terindikasi melakukan tindak amoral dengan ditemukannya pemalsuan ijazah yang mereka miliki. Ketika kita miskin tuntunan dan keteladanan, kehadiran tontonan-tontonan yang menghibur dan menyenangkan hati akhirnya akan dijadikan tuntunan.

Bahkan ketika remaja kita sedang resah dengan kehadiran kuesioner yang mempertanyakan ukuran alat vitalnya, ketika mereka berada pada masa yang paling penting untuk mengembangkan kepribadian dan fisik yang sehat, televisi-televisi di ruang keluarga mereka sedang menyiarkan kemolekan dan lekuk tubuh sempurna para finalis Miss World. Maka, kegamangan akan mempengaruhi kehidupan remaja kita, ketika pada saat fisik mereka mulai bertumbuh dan keinginan mengembangkan daya tarik mulai hadir. Sehingga, persepsi remaja terhadap kecantikan akan bermuara pada aspek lahiriah semata.

Gaya hidup masyarakat kita sudah terlalu banyak dijejali dengan siaran-siaran televisi yang selama ini telah mereduksi moral serta minim keteladanan terutama bagi para remaja kita. Syahputra, 2013 menyebutnya sebagai 'rezim media'. Menurutnya, televisi sebagai bagian dari rezim media telah menentukan gerbang di mana informasi - budaya, sosial, ekonomi, politik dan bahkan isu agama, senantiasa mengalir membentuk lingkungan yang dibaca, dipercaya dan disikapi (diskurtif). Di sinilah akhirnya tontonan yang disajikan dalam media (termasuk ajang Miss World) akhirnya akan menjadi tuntunan, masyarakat khususnya kaum remaja akan menerima semua informasi tersebut sebagai sesuatu yang sah dan tanpa masalah.

Kontes kecantikan apa pun namanya, kegiatan semacam ini lebih kental dengan glamour dan hedonis. Apa yang dipertontonkan kepada publik hanyalah gemerlapnya, lenggak-lenggoknya dan bahkan mereka dilekati dengan berbagai macam produk kosmetik serta fashion yang diprediksi akan menguasai pasar mode ke depannya. Para wanita akan berkiblat kepada apa yang mereka kenakan.

Menengok sejarahnya, tujuan awal kegiatan ini adalah demi kepentingan kapitalis belaka. Eric Morley, perancang sekaligus koseptor kapitalisme global di London, sejak 1951 telah mengenalkan Festival Kontes Bikini. Acara ini dilaksanakan untuk memperkenalkan pakaian renang yang disebut oleh media sebagai ajang Miss World. Akhirnya melalui event inilah, Miss World menjelma menjadi sebuah bentuk waralaba (franchise). Ada 130 negara telah membeli waralaba yang akan menghasilkan keuntungan materi yang menggiurkan.

Pelaksanaan Miss World memiliki konsep 3B, brain (kecerdasan), beauty (kecantikan) dan behavior (keperibadian). Namun, kita tahu bahwa mereka lolos memasuki gerbang adu 3B ini atas dasar pesyaratan huruf B kedua, yaitu beauty - cantik secara fisik menjadi persyaratan mutlak mengiringi 2B yang lain. Artinya, ajang ini menjadi tuntunan yang keliru ketika para remaja kita memaknai kecantikan harus mengikutkan fisik di dalamnya.

Padahal, perempuan dengan kecantikan yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa memberikan energi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, kriteria perempuan yang cantik bukan lagi fisik, melainkan perempuan yang memiliki kemampuan dan prestasi tinggi, yang dapat memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan orang lain. seperti yang dikatakan oleh Ainna Amalia. (Baca: 
'Kecantikan dalam Perangkap Kuasa')

Maka, wanita-wanita tangguh, cerdas, berkepribadian luar biasa dan menginspirasi harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang publik kita. Kolektivitas yang melibatkan media dalam memberikan role model bagi generasi kita perlu dibangun, bukan semata untuk kepentingan kapitalisme yang mampu meraup keuntungan dolar maupun rupiah. Remaja kita harus segera disadarkan dengan keteladanan. Bahwa menjadi cantik itu harus terdidik. Karena, melalui pendidikan, sebuah peradaban akan dibangun untuk mengangkat harkat dan martabat diri, keluarga dan juga bangsanya. ●  

Senin, 09 September 2013

Paradoks Logika Anti-Miss World

Paradoks Logika Anti-Miss World
Azis Anwar F ;   Esais, Peneliti di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya,
UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
SINAR HARAPAN, 09 September 2013


Setidaknya ada empat argumen yang berulang-ulang disampaikan pihak-pihak yang menolak—bahkan berupaya membatalkan—penyelenggaraan Miss World di Indonesia. Argumen-argumen itu tampak indah, namun menyisakan sejumlah paradoks.

Argumen pertama, Miss World bertentangan dengan nilai budaya Indonesia. Argumen ini janggal. Para kontestan Miss World tidak akan hanya memakai bikini—itu pun kalau kita menyepakati premis mula bahwa berbikini bagi perempuan bukan budaya Indonesia.

Para kontestan Miss World juga akan memakai baju adat Bali. Bukankah ini adalah apresiasi Miss World terhadap budaya Indonesia?

Problem utama dalam argumen ini ialah, apa itu maksud dari “budaya Indonesia”? Adakah budaya yang benar-benar “asli” Indonesia? Kalau kita tarik ke belakang bahwa apa yang disebut “asli” Indonesia itu bermula sejak zaman Majapahit, saya kira semua tahu, perempuan zaman dulu banyak yang memakai kemben.

Simbah-simbah dan simbok-simbok di desa sampai sekarang masih pakai kemben sambil petanan (mencari kutu rambut) dan nginang (mengunyah daun sirih).

Belum lagi bila kita bawa persoalan keaslian budaya ini ke kawasan timur Indonesia. Yang jadi paradoks dalam hal ini ialah, kalau argumen ihwal tak berkesesuaiannya Miss World dengan budaya Indonesia diteruskan ke fenomena lainnya, maka ia bisa jadi bumerang: berbalik menyerang semua jenis cara berpakaian yang tak sesuai dengan budaya “asli” Indonesia.

Misalnya, perempuan memakai cadar. Kalau seluruh orang Indonesia di-voting misalnya, saya yakin banyak yang tak sepakat bahwa cadar adalah budaya perempuan Indonesia.

Bahkan jilbab (yang lebar) belum bisa dipastikan “asli” Indonesia. Kalau parameter untuk menentukan suatu adat istiadat bisa disebut budaya “asli” Indonesia adalah seberapa lama adat istiadat itu ditradisikan di Indonesia, jilbab lebar bukan “asli” Indonesia.

Jilbab lebar baru mulai marak di Indonesia sejak beberapa dekade mutakhir, terutama sejak menyeruaknya gerakan “kebangkitan Islam” (ash-shahwah al-Islamiyyah) sebagai bagian dari efek Islam-global. Di tahun 1970-an ke bawah, bahkan para ibu, nyai di pesantren-pesantren tradisional masih memakai jilbab model kerudung, yang masih kelihatan sebagian rambut dan lehernya.

Sayangnya, belum ada institusi khusus untuk menentukan mana budaya asli Indonesia dan mana yang bukan. Mungkin ini perlu diadakan, agar bisa jadi rujukan MUI.

Kecantikan Bukan Kesalahan

Argumen kedua, kepentingan di balik Miss World hanyalah kepentingan bisnis-kapitalis. Argumen ini juga janggal. Bahwa suatu acara memiliki kepentingan bisnis, tak bisa jadi landasan untuk membubarkan acara itu.

Kalau argumen ini diteruskan ke fenomena lain, betapa banyak yang juga dibubarkan. Pertandingan sepak bola nasional, misalnya, juga terancam dibubarkan, karena disponsori oleh iklan rokok. Premisnya: rokok itu mudarat, berbahaya, dan oleh sebagian ulama dihukumi haram.
Kepentingan di balik sponsor rokok di sepak bola hanya bisnis-kapitalis, dan karena itu sepak bola mestinya dibubarkan. Alangkah menggelikan jika logika ini dipakai.

Logika itu bisa diteruskan ke hal lain. Misalnya, acara konser musik atau bahkan iklan di televisi. Itu semua kepentingan bisnis. Tapi, tentu tak bisa serta-merta dibubarkan, bukan?

Argumen ketiga, Miss World mengeksploitasi perempuan. Di ajang Miss World, kata sebagian penentangnya, perempuan hanya dinilai dari kecantikannya. Ini tentu saja tak benar. Lha wong jelas bahwa yang dinilai bukan kecantikannya (beauty) saja, tapi juga isi otak (brain) dan perilaku (behavior).
Bahkan, kalau yang dinilai cuma kecantikannya tak sepenuhnya jadi soal. Kecantikan bukanlah sebuah kesalahan.

Nabi Muhammad SAW pun menyatakan bahwa dalam memilih kriteria istri agar memperhatikan empat aspek: agamanya, nasabnya, hartanya, dan  kecantikannya. Sepertinya tak mungkin akan dikatakan bahwa Nabi juga mengeksploitasi tubuh perempuan gara-gara mempertimbangkan sisi kecantikan dalam memilih istri.

Argumen keempat, Miss World merusak moral generasi muda. Maksudnya ialah, dengan menonton Miss World, banyak lelaki yang pikirannya jadi mesum.

Argumen inilah yang agak bisa diterima, meski tetap menyisakan sejumlah kejanggalan. Paradoksnya: tak usah dengan Miss World pun moral generasi muda Indonesia sudah potensial untuk rusak, entah karena lingkungan pergaulannya, atau malah terpengaruh ulah pemimpinnya, termasuk para ustaznya. Miss World diadakan tak begitu lama dan disiarkan dalam tayangan televisi tak sampai berbilang bulan.
Hal-hal lain yang lebih potensial merusak dari Miss World, kalau diandaikan kita setuju dengan premis argumen keempat ini, ada lebih banyak.

Hampir tiap hari di televisi dijajakan iklan produk kecantikan. Iklan kecantikan, mau tak mau, tetap memperlihatkan kemolekan tubuh perempuan. Tapi, saya yakin, hanya lelaki yang jorok otaknya yang kemudian ingin memerkosa  perempuan karena habis menonton iklan kecantikan. Hampir tiap bulan ada pertunjukan dangdut-koplo, yang dikonsumsi oleh segala lapisan.

Miss World hanya ditonton secara live oleh sebagian orang berduit saja. Tiap hari pula, pemuda kita bisa mengakses situs porno dan itu lebih potensial merusak ketimbang Miss World. Di samping itu, faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya tindak mesum bukanlah berada di sisi perempuannya yang berpakaian seronok, tapi di isi otak lelakinya.

Bersikap Kompetitif

Sikap yang elegan untuk menyikapi perhelatan Miss World ini, menurut penulis, bukanlah dengan membubarkannya, tapi memandangnya secara adil dan kompetitif. Maksud dari adil adalah bersikap fair: kalau Muktamar Khilafah yang jelas berisi “pemberontakan halus” ke ideologi NKRI saja boleh diselenggarakan, mengapa Miss World hendak dibubarkan?


Juga bersikap kompetitif. Ruang demokrasi menyediakan kesempatan luas untuk itu. Pemikiran, bahkan yang paling liar dan destruktif sekalipun, disaingi dengan pemikiran. Buku dibalas buku. Musik-pop yang mengumbar kemesuman disaingi dengan musik religi, misalnya; dan kontes kecantikan disaingi dengan kontes pula. ●  

Menyoal Miss World

Menyoal Miss World
Ali Mustofa ;   Pemerhati Sosial-Politik
DETIKNEWS, 09 September 2013


Kontes Miss World yang digelar di Indonesia tahun ini benar-benar menyedot perhatian publik. Hampir seluruh elemen umat Islam termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia) menolak tegas diselenggarakannya kontes ratu sejagat ini.

Komnas Perlindungan Anak pun juga menyayangkan dihelatnya kontes ini. Setelah melalui pertimbangan, akhirnya pemerintah memutuskan Miss World hanya digelar di Bali, 8-28 September 2013 (detik.com 07/09).

Adapun keputusan ini sejatinya tidak menyentuh substansi persoalan. Sebab masyarakat menginginkan supaya ajang adu cantik ini dibatalkan.

Apalagi kontes inipun rencananya bakal ditayangkan di stasiun televisi sehingga mudah diakses oleh seluruh masyarakat yang mayoritas muslim di negri ini.

Jangankan di Bali yang notabene masih wilayah Indonesia. Bahkan di luar negeri sekalipun apabila menengok sejarah negri ini, kontes jual aurat selalu mendapat counter sosial yang begitu besar dari masyarakat.

Sehingga berujung pada munculnya beberapa peraturan negara. Seperti keputusan Gubernur DKI Jakarta, No. 3554/VIII/1980, yang berisi larangan penyelenggaraan putri Indonesia dan pengiriman ke ajang pemilihan putri Internasional.

Atau seperti peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0237/U/1984 yang berisi larangan kegiatan ratu atau sejenisnya yang memiliki dampak negatif.
Penjajahan Budaya
Menurut laman Wikipedia, Kontes Amerika modern pertama dipentaskan oleh P.T. Barnum pada 1854, namun kontes kecantikan itu ditutup karena adanya protes publik.

Ia sebelumnya memegang kontes kecantikan anjing, bayi, dan burung. Dia digantikan Daguerreotype untuk menilai, praktik ini cepat diadopsi oleh koran-koran.

Koran mengadakan kontes kecantikan foto selama beberapa dekade: Pada tahun 1880, "Kontes Kecantikan Mandi" pertama berlangsung sebagai bagian dari festival musim panas untuk mempromosikan bisnis di Rehoboth Beach, Delaware.

Di Indonesia, kemunculan kontes serupa sudah dimulai sejak massa kolonial Belanda. Tahun 1938 Ibu Sejati di gelar Semarang guna menjaring siapa wanita idaman. Intensitas kontes adu cantik semakin meluas disekitar tahun 1950-an yang digelar di hampir seluruh kota besar di Indonesia.

Pada massa Orde baru, pemilihan Miss Indonesia kemudian dilanjutkan dengan pengiriman ke kontes multinasional seperti pada ajang Miss Universe, Miss International, Queen of the pacific, miss Asia Quest. Meski pada massa ini muncul larangan dari pemerintah, namun tidak maksimal.

Indonesia berkali-kali berhasil meloloskan kontestannya untuk mengirimkan jagoannya ke ajang international. Hal ini dipicu oleh adanya latar belakang politik dan ekonomi dari kontestan, panitia, sponsor, maupun berbagai stackholder lain.
Pada tahun 1998 Indonesia tidak mengirimkan kontestan dikarenakan negri ini sedang diguncang krisis moneter. Tak perlu diragukan lagi bahwa ajang MissWorld ini adalah salah satu bentuk budaya barat yang dijajahkan ke Indonesia.

Meski juga tak sedikit kritikus barat yang tidak setuju dengan ajang seperti ini. Sebagai contoh adalah Sherry Argov, penulis beberapa buku-buku Best Seller, mengatakan; "Ajang adu kecantikan itu mirip sekali dengan pertunjukan hewan ternak. Para peternak tersebut memamerkan sapi-sapi mereka dengan cara yang sama dengan para kontestan kecantikan. Mereka menggiring sapi juaranya ke tengah panggung di depan penonton dan juri, dan mungkin bahkan memerintahkan sapi mereka beraksi sedikit di tengah panggung menunjukkan kebolehannya" (Sherry Argov, Why Men Marry Bitches).

Miss World sudah seharusnya ditolak karena jelas ia bertentangan dengan ajaran Islam. Mengajarkan gaya hidup hedonistik, pamer aurat, bertabarruj, dst.

Namun tidak berhenti disitu, kenapa gaung penolakannya sebegitu besar disebabkan ia akan menjadi inspirator kemunkaran bagi khalayak umum. Aquarini Prabasmoro; Simbol-simbol kecantikan dalam kontes kecantikan) yang diciptakan pun seakan menjadi simbol-simbol ideal dan diinginkan oleh para perempuan. (A. Priyatna Prabasmoro, Representasi ras, kelas, feminitas, dan globalitas).

Disamping itu ajang ini juga nihil manfaat. Terbukti misalnya negara pemenang maupun penyelenggara tidak memiliki korelasi terhadap peningkatan sektor pariwisata. Fakta empiris menunjukan hal itu.

Nilai (value) Miss World

Pertama; Eksploitasi wanita. Tak ada yang salah jika Allah anugerahkan seseorang dengan wajah nan cantik. Namun akan lain ketika kecantikan itu kemudian dijadikan sebuah komoditi yang diperdagangkan. Baik itu terkait bisnis kosmetika, rumah mode, salon kecantikan, dsb.

Kedua; Kampanye kesetaraan gender. Miss World juga bernilai kampanye kesetaraan gender, Mereka mencoba menampilkan image ideal wanita sedemikian rupa di ranah publik.

Sinyalemen ini misalkan dapat tercermin dari perkataan Julia Morley, Chairwoman of Miss World Organization ini berujar; "penyandang gelar Miss World itu tidak hanya wanita yang cantik tapi juga memiliki hati yang baik dan bisa bekerja keras dengan baik selama satu tahun ke depan semasa gelarnya".

Selain itu kita bisa lihat seperti apakah wanita ideal yang diinginkan Miss World dan bagaimana kiprahnya setelah terpilih menjadi pemenang.

Ketiga: Benturan ideologi. Tak luput ketika Samuel Huntington memprediksikan terjadinya benturan peradaban. Keberadaan Miss World ini sebagai perwujudan benturan budaya barat vs Islam.

Budaya bukan dari Islam yang coba disajikan negri mayoritas penduduk muslim ini. Padahal simbol-simbol seperti apa wanita ideal yang digambarkan niscaya berimplikasi pada rusaknya generasi umat Islam untuk menjauhi ideologinya.

Syariah dan khilafah solusi komprehensif
Kontes Miss World adalah salah satu bentuk liberalisasi perempuan yang merupakan kemunkaran dari sekian banyak kemunkaran akibat negara menerapkan sistem kapitalisme-liberal.

Rasulullah Saw bersabda: "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya (kekuasaan). Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman". (HR. Muslim)

Sikap dan solusi dalam menyikapi masalah Miss World ini ialah; Pertama; dakwah individu. Allah Swt berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." (QS. Al-Hajj: 41).

Setiap muslim wajib melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Ia mesti menyatakan penolakan dan berusaha mencegah berlangsungnya ajang Miss World.

Kedua; dakwah kelompok. "Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).

Hendaknya ada segolongan umat menyeru pada Al-Khair (ittiba' Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagaimana menurut Ibnu Katsir dalam tafsir ibu katsir), serta melakukan amar ma'ruf nahi munkar.

Kelompok ini haruslah melakukan gerak dakwah dalam barisan yang teratur dan terorganisir. Counter sosial yang digalakkan secara terorganisir tentu dapat memberikan tekanan lebih pada penyelenggara maupun pihak berkompeten lain yang berwenang membatalkan Miss World.

Ketiga; dakwah negara; mencegah kemunkaran dengan kekuasaan (tangan) adalah upaya ter-kaffah. Karena dengan ini seluruh potensi dapat dipotimalkan. Sayangnya penguasa dalam sistem kapitalisme-sekuler tidak terlalu peduli dengan kontes kemunkaran semacam ini.

Kalau ia peduli maka ia jelas akan melarang tegas kontes demikian karena ia punya wewenang. Begitu pula dengan menggunakan kekuasaaannya ia harus berusaha mencegah kemunkaran dalam segala bidang. Baik kemunkaran pada sektor politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.

Karena seorang penguasa akan dimintai pertanggung jawabann kelak atas berbagai urusan umat. Rasul saw bersabda: "Seorang imam adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas gembalaannya". (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga jelaslah negri ini membutuhkan diterapkannya syariah Islam dalam bingkai Negara khilafah untuk solusi komprehensif liberalisasi perempuan.

Negara khilafah bertugas memberikan solusi preventif maupun solusi efek jera. Solusi preventif semisal; ketika khalifah melegislasi hukum-hukum syara' maka negara melarang berbagai aktivitas kontes kecantikan, negara juga menyelenggarakan kurikulum pendidikan yang berbasis akidah Islam bertujuan untuk menciptakan generasi yang berpegang teguh pada Islam, menyetop beredarnya food, fans, fashion yang bertentangan dengan hukum syara', dst.

Sedangkan solusi efek jera, seorang khalifah akan menindak tegas dan memberi sanksi pihak-pihak terkait yang nekat mengikuti dan menyelenggarakan kontes kecantikan.

Dengan menerapkan Islam, maka kemuliaan kaum wanita benar-benar terpelihara. Begitulah, Islam adalah solusi atas segala problematika kehidupan, karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam. Kata Allah: "Wama attakum ar-rasulu fakhudhuhu wama nahakum anhu fantahu". (QS. Al-Hasyr: 07). ●