Rabu, 25 Mei 2016

Menjadi Jembatan

Menjadi Jembatan

Mudji Sutrisno ;    Guru Besar STF Driyarkara; Dosen Pascasarjana UI; Budayawan
                                                    KORAN SINDO, 24 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketika lagu tahun 70-an dari Simon and Art Garfunkel berjudul Bridge Over Troubled Water masih menggema sampai hari ini, ia menjadi “klasik”. Nyaris melegenda karena mampu menyentuh hati generasi yang dahulu dan berikutnya.

Tetapi, makna mendalam dari lagu itu justru sudah tersurat dalam judul “jembatan”. Dan, tersirat makna menjadi jembatan, saat melalui air bergejolak dan laut bergelombang, ibarat hidup yang krisis. Dalam syairnya tertulis penawaran sikap hidup mau menjadi “jembatan” manakala krisis melanda, kehampaan pudar nilai merasuk. Lalu terjawab, mengapa lagu ini menjadi klasik bermakna.

Karena, membahasakan kebutuhan manusia untuk panggilan, rela menjadi jembatan bagi situasi keterputusan dan keterputusasaan menjalani hidup. Kita sebagai bangsa yang majemuk penuh kekayaan warnawarni ini sedang mengalami “krisis acuan nilai hidup bersama” di sana-sini. Tidak hanya karena sebab dari dalam secara kultural, namun pula karena empasan dari luar.

Bagai troubled water (riak air deras jadi gelombang) karena mentalitas “minder” tidak mampu mengapresiasi perbedaan sesama, ataupun menghormati prestasi dan kerja keras mereka. Yang muncul selalu saja dicela, di-bully, atau dirusak. Padahal, para pendiri bangsa seperti Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Karno, Tan Malaka, Agus Salim, dan Cokroaminoto sudah merumuskan bahwa mental budak dan koeli, karena kolonialisme dan penundukan kepatuhan untuk perlakuan para hamba, membuat sikap harus ditransformasi melalui pendidikan.

Bahasa konstitusi Bung Hatta gamblang jelas, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, kalau acuan hidup mengenai kebaikan, kebenaran, kesucian, keindahan mengalami retak dan krisis acuan, jalan keluar yang harus ditapaki adalah jalan transformasi pendidikan.

Krisis kurikulum yang kini mulai diperbaiki serta batu uji integritas tidak mencontek dan kebocoran soal ujian (meski sudah ditanggulangi sekuat daya), menjadi “fakta” indikator betapa jalan transformasi pencerdasan bangsa ini belum menemukan buahnya setelah 70 tahun merdeka. Lebih tragis lagi, saya selalu sedih dan pilu setiap peristiwa ujian nasional.

Meskipun baru saja diklaim tidak menentukan kelulusan siswa, setiap peristiwa ujian, pengawalan soal-soal ujian tetap dikawal aparat keamanan polisi. Ketika menyeberang pulau membutuhkan penakutnakutan senjata untuk security - nya. Soal-soal ujian tidak bocor dan toh masih bocor. Meskipun ujian nasional dengan sistem ujian nasional berbasis komputer (UNBK) relatif semakin mengurangi ketidakjujuran dan jumlah pesertanya meningkat drastis, bisakah UNBK disebut “jembatan”?

Teman saya tertawa terbahak karena pengertian jembatan jadi amat teknis dan tidak substantif. Indikasi mental budak yang sudah masuk bawah sadar ini karena harus survival , maka ekspresinya bertingkattingkat. Tingkat pertama, ia muncul manakala keminderan itu menemukan wewenang yang seharusnya wewenang bertanggung jawab pada tugas yang di pidato-pidato atau khotbah dengan bibir manis diucapkan sebagai amanah.

Namun, praksis nyatanya, muncul dengan gaya menghayati wewenang sebagai “kekuasaan”. Lihatlah, begitu resmi memakai seragam satpam, tampilan mengatur wilayah kuasa akan menampilkan gaya “bos”. Dan, tidak kebetulan kita mengawetkannya dan senang menikmati bila dipanggil “bos” untuk pelayan-pelayan.

Lihat pula, kuasa guru yang setelah lulus doktor pegang ujian, serta setelah berwenang “menentukan” hidup-mati mahasiswa dan karyawankaryawannya. Ia menikmati menjadi “dosen killer “ atau atasan yang minta dibawakan tas kerja, atau dikawal rombongan untuk upacara. Ketika Anda mengemudi truk besar militer atau mobil, cermatilah cara Anda memperlakukan motor dan kendaraan yang lebih kecil.

Paling terakhir, karena saya pejalan kaki di trotoar, harus geleng-geleng kepala dan berhenti diam, berdiri tegak menghambat sepeda-sepeda motor, yang saat jalanan macet mereka naik ke trotoar dan bersepeda motor di situ. Teman-teman peneliti saya dan saya sendiri sepakat, untuk berujar pada kelas menengah yang diharapkan dalam teori-teori sosial pembangunan, ternyata menampilkan diri sebagai pelanggar lalu lintas nomor satu.

Maka itu, ketika proses awal-awal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, generasi pendiri bangsa mewujudkannya dalam “cermin pertama” negatif ini melalui latihan rasionalitas kritis, terbuka berdasar argumentasi budi sehat. Dan, sikap diskusinya, hati boleh panas emosi, namun budi dengan akal sehat tetap dingin.

Lihatlah gerakan mereka ini dalam dokumen sejarah koran perjuangan Bung Hatta dan Sjahrir untuk Pendidikan Nasional Indonesia dengan nama dahsyat visi mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu Daulat Rakyat. Sebuah majalah untuk polemik debat sehat akal budi, justru di titik api perjuangan melawan mentalitas bangsa minder yang berperilaku menghamba- hamba, tunduk patuh tanpa reserve.

Yang tiap kali menjawab tuan-tuan “penjajah” dengan “hamba-tuan” dengan mata tunduk ke bawah, tak berani menatap yang mengajak bicara, karena merasa “kecil”, minder! Daulat Rakyat adalah berdaulatnya rakyat. “Jongos koeli “ini karena proses transformasi pencerdasan kehidupannya keluar dari tindasan ketundukan kuasa “kolonial”, dan perilaku-perilaku tuantuan dan bos-bos sampai hari ini.

Mereka menjawab persoalan pendidikan mentalitas dalam transformasi dengan saling memanggil setara yang akrab bersahabat dengan panggilan “Bung”. Inilah generasi Bung yang mempraktikkan sikap hidup berkepribadian, untuk keluar dari keminderan justru dengan belajar menjadi orangorang berdaulat untuk dirinya dan dihadapkan pergaulan sosialnya.

Tidak hanya itu, praktik kedaulatan diri untuk mengatasi mentalitas minder menjadi seorang Bung yang akrab, tapi siap berdebat, menjadi tidak mendendam atau menyimpan luka bila tersinggung atau dikritik. Lihatlah dokumen sejarah debat antarmajalah para pendiri bangsa baik Daulat Rakyat, Suluh Indonesia, maupun yang lain. Dengan terbuka, Bung Hatta mengkritik tajam agitasi massa Bung Karno untuk menanamkan sikap “persatuan”.

Kritik Hatta rasional dan melengkapi substansi persatuan karena hakikat mau bersatu dalam perbedaan suku dan pemikiran adalah sikap mau menghormati keragaman, mau mengapresiasi dengan tetap berdaulat, untuk berani menjadi pribadi mandiri. Karena itu, persatuan yang benar adalah bukan “persatean” manakala satu tangkai bambu untuk membuat sate, yaitu satu tusuk sate hanya menyatukan semu daging-daging itu.

Paling menarik dicatat, praxis mereka keluar dari mental minder untuk belajar berbudi jernih dan tidak dendam emosi dalam debat-debat adalah fakta bahwa di sidang-sidang dan rapat-rapat mereka berbeda pendapat, berdebat tajam rasional. Tetapi, setelah rapat, mereka tetap berangkulan bersahabat. Bahkan, beda agama pun tidak memisahkan dan membuat kubu.

Semisal IJ Kasimo yang Katolik dibantu mencarikan tempat kost oleh Moh Natsir, dan begitu sebaliknya. Generasi Bung ini pula yang memberi ingatan positif hormat menghormati. Meskipun di kekuasaan Bung Karno berseberangan, bahkan memenjarakan “Bung Sjahrir”, saat berobat ke Swiss, izin tetap diberikan.

Dan, saat meninggal, Bung Sjahrir tetap dihormati sebagai pahlawan dengan pemberian gelar itu. Belum lagi bila Anda baca kesaksian putri Bung Hatta dalam buku mutakhir Tiga Putri Hatta: Gemala, Meutia, dan Halida Hatta (Gramedia, 2015) yang memuat fakta-fakta menyentuh hati dan manusiawi sekali, yaitu persahabatan antara Soekarno dan Hatta.

Meskipun Hatta dengan integritasnya mundur pada 1957 sebagai wakil presiden, saat-saat Bung Karno sakit dan ketika sudah tidak presiden lagi, mereka terus saling bertemu. Saat-saat terakhir tanpa bahasa verbal, tetapi melalui bahasa tatap mata yang menyentuh, mereka berdua bahkan saling berpamitan.

Generasi Bung Karno pula yang memberi contoh seorang Bung Hamka yang pernah dipenjara Bung Karno. Ketika Bung Karno meminta Bung Hamka yang memimpin doa penghantaran jenazah Bung Karno sebagai wasiat, toh Buya Hamka memenuhi permintaan itu.

Dari fenomena-fenomena peristiwa di depan, bisakah para pendiri bangsa dengan visi mencerdaskan kehidupan bangsa kita sebut sebagai “jembatan”— yang menghubungkan jurang lembah mentalitas minder— melalui keteladanan kehidupan berbangsa dan rupa-rupa metode pendidikan watak, pendidikan mengasah sikap kritis, pun gentleman fairness.

Sehingga, mengolah idapan “penyakit” mental “boedak “ diproses menjadi merdeka budi dan merdeka jiwa (mentalitas)? Jawabannya langsung dua ranah. Ranah pertama berbunyi “ya”. Artinya, sejauh buah-buah proses menjembatani itu membuahkan anak-anak bangsa yang setelah merdeka fisik, kini sungguh-sungguh merdeka jiwa!

Orang-orang yang dalam acuan nilai cinta negeri tanpa pamrih, menjadi relawan-relawan yang peduli kenestapaan, keterbelakangan, kemiskinan sesamanya, lalu bergerak tanpa pamrih kuasa, atau kepentingan cari uang, muncul dalam perjuangan-perjuangan kemanusiaan, apalagi pejuang-pejuang kehidupan.

Tujuh tahun bersama dengan Komarudin Hidayat, Imam Prasodjo, Julianti, saya sampai tersentuh haru dan malu saat menjadi tim penilai para pahlawan-kehidupan di Kick Andy Heroes. Sepertinya mereka-mereka ini, seperti Bung Andy mengatakan, para pahlawan-pahlawan kehidupan ini seperti dikirim dari langit sebagai “malaikatmalaikat” untuk warta baik seperti simbol “bulu burung” yang melayang dari langit sampai ke kita.

Saya sampai merenung, justru mereka yang tidak lengkap secara badan, mereka ini yang bermodalkan kerelaan dan kepedulian terhadap anakanak yang telantar tak terdidik, terhadap orang-orang gila yang di jalanan, lalu dirawat dengan modal perhatian dan kepedulian seperti “menjewer telinga” atau “mengiris nurani” dan menggugat budi kita yang “lengkap”, punya semuanya.

Dari mereka inilah makna jembatan pencerahan dan pencerdasan diberi bahasa kepedulian saat ini. Ketika kelas menengah yang highly thinking but low commitment berperilaku dan kalah dengan relawanrelawan pejuang kemanusiaan, untuk melanjutkan visi pencerdasan kehidupan bangsa generasi pendiri RI.

Jawaban keduanya mengatakan “tidak”, apabila retas-meretas mentalitas minder masih merajalela dalam ekspresi kekinian, yaitu jalan pintas sama dengan mau meraup hasil tanpa mau susah payah keringatnya. Mentalitas menerobos yang terus diungkapkan tak hanya dalam korupsi dan penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri akan terus menjadi kelanjutan “gagalnya” wujud-wujud dan kurikulum yang “gagal” dalam memberantas sikap mencontek.

Selama ujian, soal-soalnya masih butuh dikawal polisi dan ujian dengan komputer untuk “kejujuran” bisa “imparsial”, tetap ada yang mau membocorkan atas kepentingan cari uang. Di sana lagu Bridge Over Troubles Water masih harus merasuk menjadi sikap mentalitas dan bukan hanya lagu merdu. Semoga.