Tampilkan postingan dengan label Palsu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palsu. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juni 2015

Palsu

Palsu

Putu Setia  ;  Pengarang; Wartawan Senior Tempo
TEMPO.CO, 31 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
DULU yang saya cemaskan hanya uang palsu. Mencari uang itu sulitnya setengah mati, sementara saya tak ahli menerawang dan meraba untuk tahu uang asli apa palsu. Kalau gigi palsu saya tak peduli, orang bilang apa saja, saya cuek. Toh gigi palsu sangat pribadi, tak menyangkut hajat hidup orang lain.

Kini saya cemas terhadap palsu-palsu yang lain. Misalnya, beras palsu, baik yang terbuat dari plastik sejenis paralon maupun plastik lainnya. Syukurlah beras plastik itu sudah dibantah keberadaannya, meskipun saya bingung kok semudah itu mengatakan tidak ada. Kalau tidak ada, bagaimana sampai ada penjelasan yang rinci berhari-hari agar masyarakat waspada terhadap beras plastik? Beras plastik itu putih mulus, beras asli ada bintiknya, beras plastik mengambang di air, beras asli terbenam. Dan seterusnya. Lho, kalau bendanya tidak ada, bagaimana bisa membandingkan?

Oke, saya tak pakai istilah beras plastik, takut diperiksa polisi. Saya harus percaya benda itu tidak ada. Tetapi beras palsu itu tetap mencemaskan saya. Palsu, misalnya, beras merah ternyata bukan asli merah (yang umumnya organik), tetapi diberi zat pewarna. Beras pandanwangi ternyata hanya beras jenis C4 yang diberi cairan pewangi beraroma daun pandan. Saya resah karena memang ada kebutuhan untuk mengkonsumsi beras seperti itu disebabkan berbagai alasan yang panjang untuk dijelaskan.

Adapun jenis kepalsuan yang lain, yang ternyata begitu banyak belakangan ini bagai virus yang menyebar cepat, tak membuat saya resah. Cukup geli saja. Ini kan negeri paling lucu, asalkan kita pandai mencari sudut pandangnya. 

Bayangkan saja ada Keppres pengangkatan Direktur Jenderal Imigrasi yang palsu. Trauma dengan kepalsuan itu, maka seorang Dirjen di Kementerian ESDM "diusir" oleh anggota DPR karena tak membawa Keppres 
pengangkatannya. Apakah mulai saat ini setiap pejabat negara ke mana-mana harus membawa surat pengangkatannya yang asli? Tapi jangan dulu menyebut DPR itu bersih dari kepalsuan. Ternyata ada anggotanya-kalau diusut bisa jadi banyak-menggunakan gelar palsu. Waduh, kalau batu akiknya yang palsu masih bisa ditoleransi, kini banyak orang yang tiba-tiba sok tahu batu akik.

Gelar palsu ini laris karena dikaitkan dengan pangkat dan jabatan untuk seorang pegawai negeri. Semasih gelar itu dijadikan acuan naik pangkat, dan bukan prestasi yang terukur, semakin marak kepalsuan, baik palsu karena membeli dari perguruan tinggi abal-abal, maupun palsu karena penerima gelar tak "memadai ilmunya". Saya sering membantu mahasiswa menyusun skripsi, sesekali membantu menulis tesis untuk gelar master. Ketika mahasiswa itu diwisuda, saya menggerutu setengah berdoa: "Ya Tuhan, seharusnya hamba ini menyandang gelar itu."

Apa yang mau saya nyinyiri? Kepalsuan itu harus diberantas dengan dua cara: hukum ditegakkan, etika dan moral diperbaiki. Pengoplos beras harus ditindak tegas, bukan pelapornya yang diperiksa. Pengedar uang palsu harus diusut sampai ke ujungnya, siapa yang mencetak. Penjual gelar palsu harus dihukum. 

Pembeli gelar palsu juga dihukum, karena sanksi moral tak membuatnya malu.
Masyarakat harus dididik untuk menilai seseorang bukan dari gelarnya yang berderet-deret, tetapi dari intelektual kesehariannya, apa karyanya, bagaimana dia berargumentasi dan sebagainya. Kepalsuan harus dihina, kecuali gigi palsu yang memang penting untuk mengunyah makanan membantu kerja pankreas. Akan halnya pemakai akik palsu, ya, sudahlah, pasrahkan saja. Ini cuma mode, sebentar lagi dilupakan.

Palsu

Palsu

Arswendo Atmowiloto  ;  Budayawan
KORAN JAKARTA, 30 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Palsu, tidak selalu berarti menipu. Mungkin lebih dekat ke pengertian meniru. Misalnya yang berkaitan dengan anggota tubuh seperti: rambut palsu, gigi palsu, mata palsu, kaki palsu, atau orgasme palsu. Benda atau sikap palsu ini sengaja diciptakan, karena kesulitan mendapatkan yang asli. Palsu yang jahat dan merugikan yang berkaitan dengan penggunaan ijazah palsu, uang palsu, pengatur perkawinan palsu.

Sekarang yang serba palsu sedang marak diteriakkan. Segala hal bisa dipersoalkan karena dianggap palsu. Termasuk katanya ada beras palsu—atau beras plastik, atau beras sintesis, yang justru berakhir bahwa berita itu yang palsu.

Ada istilah lain yang dekat dengan kepalsuan dan tidak menjengkelkan, karena samasama mengetahui. Misalnya saja barang yang disebut KW, atau KW2, atau bahkan KW3. KW adalah istilah ucapan dari singkatan kualitas, namun maksud sebenarnya adalah justru tidak berkualitas. KW2 artinya kulitas jelek, kalah jauh dengan yang asli. KW3 lebih jauh lagi. Namun dalam pasar tertentu, untuk barang tertentu, hal ini seperti ini tidak dianggap jahat, tidak dianggap menipu. Barang-barang tiruan merek terkenal, merek yang branded, yang harganya mahal, dijual dengan lebih murah—atau murah sekali. Penjual dan pembeli sudah sama tahu ini bukan barang asli. Konon semua jenis merek terkenal ada tiruannya dan pasar di Hongkong dan Bangkok memanjakan barang jenis ini di pinggir jalan. Sebelum akhirnya menyebar ke seluruh penjuru, termasuk di sini. Kalau kemudian dianggap melanggar atau karenanya disita, lebih karena pemalsuan. Dan para pemilik merek terkenal yang merasa sangat dirugikan menggerakkan razia ini.

Yang merugikan, yang menjadi ancaman adalah kepalsuan yang menyangkut keselamatan atau kehormatan atau juga kepercayaan. Kasus ditemukan banyak ijazah palsu sesungguhnya menodai kepercayaan masyarakat luas atas prestasi seseorang. Konon pula pemilik ijazah palsu ini para elite negeri ini—dan menurun saya memang begitu. Mana ada pemulung atau opis-boi membeli ijazah palsu? Mereka ini, juga tukang ojek lebih memiliki kepercayaan diri. Untuk tidak berlindung di balik gelar tinggi dan titel mercu suar. Duluuu, pernah ada ribut nasional mengenai gelar begini. Yang dipersoalkan adalah gelar prof.

Yang dicantumkan di kartu nama, di iklan, di sebutan. Masalah menjadi berkepanjangan karena sang pemakai gelar prof menganggap itu penggunaan biasa. Bukan singkatan dari profesor, melainkan dari kata profesional. Kasusnya sempat masuk ranah hukum dan sidang di pengadilan diliput besar- besaran. Agaknya mental feodalisme masih menempel dalam ingatan di samping rasa kurang percaya diri. Yang merugikan dan jelas berbahaya adalah dokter “kecantikan” palsu yang ternyata banyak juga pasien yang menderita karenanya.

Kadang terpikir kenapa ini bisa terjadi, kenapa dokter yang bukan dokter—dan tidak mengaku sebagai dokter sekalipun, masih juga ada yang mempercayakan diri padanya dengan membayar. Agaknya mental mudah percaya dan mudah dikibuli masih menempel dalam kesadaran. Hal yang sama ketika datang ke dukun yang akan menyelesaikan semua masalah, atau kepincut iklan meninggikan badan, misalnya. Atau berbagai obat yang tidak jelas referensinya.

Para penipu masih terus berkeliaran mencari mangsa, dan mereka yang kurang informasi, kurang akses, tetap saja menjadi korban. Maka segala bentuk informasi harus dibukakan secara massal untuk jenis pemasaran kepalsuankepalsuan seperti ini dan juga variannya yang baru. Termasuk membuka kedok, kencanan dan atau rayuan palsu lewat media sosial. Saya punya pengalaman tentang kepalsuan ini. Suatu ketika di jalan, ada pengendara motor mengetuk jendela mobil. “Pak saya mau ke Pancoran, bensin habis, minta bantuan.”

Saya masih ragu dan berpikir kasihan sekali orang ini, tapi sopir saya mengatakan itu sudah biasa. Saya menceritakan ini untuk berbagi hati-hati, karena inilah langkah awal menangkal kepalsuan jenis tipu-tipu.