Selasa, 31 Mei 2016

Mengajarkan Nilai-nilai Baik pada Anak

Mengajarkan Nilai-nilai Baik pada Anak

Kristi Poerwandari  ;    Penulis Kolom PSIKOLOGI Kompas Sabtu
                                                         KOMPAS, 28 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Kita sangat prihatin membaca berbagai berita mengenai anak melakukan pelanggaran hukum, menganiaya, memerkosa, dan membunuh teman sebayanya sendiri. Itu sangat jauh dari bayangan kita mengenai kehidupan anak yang idealnya diisi dengan kebahagiaan, antusiasme belajar, dan keceriaan bermain.

Banyak sekali pertanyaan muncul, salah satunya adalah apakah sisi afeksi dari hidup anak sungguh diisi? Helping Your Child Become a Responsible Citizen (Delattre dkk, 2013) menguraikan hal-hal amat sederhana, yang saking sederhananya, mungkin kita lupakan atau tidak kita anggap penting.

Kepedulian

Seperti juga anak harus diajar untuk dapat mengenakan baju sendiri, menulis, membaca, dan berhitung, anak perlu dituntun untuk mengembangkan tanggung jawab dan kepedulian. Delattre dan kawan-kawan memberikan contoh-contoh sederhana mengenai bagaimana orangtua mengajari anak tentang kasih sayang, kejujuran dan sikap adil, hingga kemampuan membuat penilaian dan bersikap bertanggung jawab.

- Ibu, mengapa nenek menangis?

- Oh, teman nenek baru meninggal. Coba ingat, waktu adik kehilangan kucing kita, perasaanmu bagaimana?

- Adik merasa sedih dan kesepian.

- Nah, coba kamu bayangkan bagaimana perasaan nenek, mestinya lebih sedih lagi, ya, dibanding saat adik kehilangan si belang? Mungkin adik ada cara membantu nenek?

- Oh, aku mau menemani dan mengajak nenek jalan-jalan.

- Wah, itu ide yang bagus sekali dik..

Bila anak mempertanyakan orang yang berlaku buruk, kita mengajaknya untuk memikirkan berbagai kemungkinan penyebab agar anak tidak segera mengambil kesimpulan tunggal yang bersifat menghakimi. Misal, kalau temannya mendorongnya sampai hampir jatuh, apakah temannya itu sengaja? Atau ia sedang tergesa-gesa atau banyak pikiran sehingga tidak melihat ada anak lain?

Orangtua perlu menjadi contoh figur yang jujur di depan anak.

- Ayah, mengapa ayah mengembalikan uangnya? Kan bukan kesalahan kita bahwa uang kembaliannya terlalu banyak?

- Karena, uang kembalian yang kelebihan ini bukan milik ayah, jadi tidak benar bila ayah diam-diam saja pura-pura tidak tahu. Lagi pula, nanti kasirnya rugi. Sebelum tutup toko, kasirnya akan mencocokkan jumlah uangnya. Nanti kalau ia sadar uangnya kurang, ia harus mengganti uang itu dong kalau ayah tidak mengembalikan uang yang memang bukan hak ayah?

Orangtua sekaligus mengajarkan bahwa menjadi jujur itu tidak berarti berbicara seenaknya yang berdampak menyakitkan ("kamu tuh jelek ya", "kamu orang miskin"). Orangtua memberi contoh kepada anak untuk menggabungkan kejujuran dengan kesantunan atau sikap yang menghargai orang lain.

Penghormatan pada orang lain

Anak sejak sedini mungkin perlu menghormati orang lain. Menghormati orang lain sesungguhnya merupakan bentuk penghormatan pada diri sendiri. Penghormatan tidak hanya ditunjukkan pada yang di atas kita, tetapi juga pada yang kurang beruntung, atau secara sosial dianggap di bawah kita. Kita mengajar anak meminta tolong, mengucapkan terima kasih, dan menyampaikan permintaan maaf bila telah merepotkan atau menyakiti orang lain.

- Kak, kok kakak memakai baju mama?

- Iya ma, emangnya kenapa? Tidak bagus ya kupakai?

- Bukan masalah itu. Kalau kakak mau pakai baju orang lain, bukannya kakak harus tanya dan minta izin dulu?

- Ok, kakak pikir mama tidak keberatan?

- Mama keberatannya karena kakak tidak minta izin dulu. Kakak harus tanya dan minta izin dulu ya kalau mau pakai barang orang lain, entah itu barang mama, papa, teman, atau yang lainnya.

Bila anak diajar menghormati orang lain dari hal-hal yang kecil, ia akan lebih peka mengenai perlunya menghormati orang lain untuk urusan-urusan yang lebih besar. Jangankan memerkosa, mengambil barang orang atau berlaku curang pun, anak mungkin tidak terpikir untuk melakukannya.

Kompleksitas situasi

Memang menjadi masalah bahwa banyak sekali hal di luar kekuasaan kita yang di masa kini memengaruhi hidup kita. Orangtua harus meninggalkan rumah dalam waktu lama karena jam kerja yang panjang dan rumah yang sangat jauh dari tempat kerja. Teknologi merambah ke semua sisi hidup kita, menghadirkan informasi dan cerita yang tidak dapat disaring lagi, termasuk pornografi. Narkoba sudah demikian biasa hadir di kalangan semua usia.

Bagaimanapun, kita perlu bertanya: apakah pendidikan di rumah dan di sekolah telah memberikan yang terbaik bagi anak? Apakah orang dewasa konsisten mengajarkan anak untuk menghormati orang lain, atau sebenarnya memberikan contoh perilaku curang, munafik, tidak jujur, membeda-bedakan, manipulatif, jorok, hingga mengobyekkan perempuan dan malah menyalahkan korban?

Orang dewasa perlu menjadi teladan yang nyata, dan dilihat anak menjadi figur yang nyaman dan dapat dipercaya untuk membicarakan persoalan mereka. Bila demikian halnya, pembelajaran buruk yang telanjur diperoleh anak dari sumber lain dapat diminimalkan dampak negatifnya. Misalnya, anak yang batinnya kacau karena terpapar pada seks terlalu dini dengan cara yang salah (karena pornografi atau eksploitasi seksual dari orang dewasa misalnya) dapat bercerita karena orangtua tidak cepat menghakimi atau menghukum.

Anak dapat dibantu untuk memahami apa yang terjadi, mengurai kebingungan dan kekacauan batinnya, serta mengendalikan diri. Anak diajak untuk menghormati diri sendiri dan menghormati orang lain serta menginternalisasi nilai-nilai baik yang universal, yang menjadi prasyarat hidup yang lebih beradab dan bermartabat.