Tampilkan postingan dengan label Indonesia Bubar 2030 - Ghost Fleet dan Prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia Bubar 2030 - Ghost Fleet dan Prabowo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

Ghost Fleet, Iklan Zaman Now, dan Blunder Gerindra

Ghost Fleet, Iklan Zaman Now, dan Blunder Gerindra
Effnu Subiyanto  ;   Senior Advisor Cikalafa-umbrella;
Direktur Koridor; Doktor Ilmu Ekonomi FEB Unair
                                              MEDIA INDONESIA, 05 April 2018



                                                           
MENCARI perhatian pada zaman now ini memang di luar framework pemikiran normal manusia. Beberapa waktu lalu seluruh media massa Indonesia dipenuhi iklan proyek properti sampai berbulan-bulan dan menyita mainstream yang mahal. Menggunakan iklan pada media sosial start-up semisal wall Facebook, Twitter, dan Instagram sudah tidak efektif lagi dan dengan cepat tampak menjadi kuno.

Namun, berbeda dengan strategi iklan buku fiksi Ghost Fleet (GF) yang menggelegar akhir-akhir ini. Pimpinan partai besar bahkan tertarik membahasnya dalam forum resmi partai, tokoh-tokoh dunia pun memberikan komentar dan kian ramai. Model penjualan buku fiksi GF ini tentu tidak biasa dan akhirnya justru memopulerkan buku GF menjadi buku yang laris.

Buku GF karya Peter Warren Singer dan August Cole yang memancing polemik itu justru menuai berkah karena diberikan 'sinopsis' gratis oleh Prabowo Subianto dan seluruh media massa Indonesia. Bahkan Darby Stratford, peneliti badan intelijen Amerika Serikat Central of Intelligent Agency (CIA), juga memberikan komentar atas novel tersebut. Komentar Stratford diunggah dalam laman resmi CIA.

Basis fiksi yang menjadi sentrum buku tersebut ialah konflik energi yang kemudian memicu perang dunia ketiga antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia. Prajurit cyber Tiongkok mampu meretas sistem militer berbasis satelit Amerika Serikat dan menjadikan Tiongkok dan Rusia unggul di medan perang teknologi.

Menarik isu energi dalam konstelasi politik global sebetulnya kini tidak populis jika melihat perkembangan harga minyak yang justru antitesis. Peneliti Stephen Leb PhD dalam bukunya, The Oil Factor (2004), dan disusul buku berikutnya, The Coming Economic Collapse (2006), memperkirakan harga minyak akan US$200 per barel pada 2010. Leb menggunakan asumsi bahwa tingkat produksi minyak beberapa negara terus berkurang. Misalnya produksi minyak AS pada 1970 mampu 9 juta bph, pada 2007 hanya mampu 5,5 juta bph. Cadangan minyak Saudi pada 1979 masih 110 miliar barel dan kini tinggal separuhnya, sementara permintaan minyak dunia per tahun naik 1,5%-2%.

Leb belum memperkirakan teknologi shale oil dan shale gas pada 2010-an dan akhirnya mengobrak-abrik harga minyak mentah pada titik terendah seperti saat ini. Riset Reuter (2007) malah benar karena meramalkan bahwa harga minyak pada 2010 hanya mencapai US$51,4 per barel akibat diversifikasi energi.

Namun, karena buku GF adalah hiburan, krisis energi yang ditarik tidak perlu dipersoalkan. Hanya perlu diketahui bahwa kedudukan Indonesia sebetulnya figuran dalam buku fiksi tersebut. Untuk menambah dramatisasi efek fiksi, Indonesia pada 2030 itu ditulis sebagai 'bekas negara Indonesia' yang maknanya negara Indonesia sudah menjadi korban terlebih dulu dari efek perang dunia maya yang sebetulnya sudah berlangsung sejak tahun-tahun ini.

Penulis Warren Singer dan August Cole tentu jeli memanfaatkan momentum GF dengan menarik 'bekas Indonesia' dalam buku fiksi karena mengetahui konstruksi psikis rakyat Indonesia yang mudah terpancing jika mendiskusikan kebangsaan. Jika saja pada buku tersebut Indonesia ditulis sebagai negara demokratis terbesar atau hal-hal yang positif dan menyenangkan, tentu buku GF tidak akan laku dibahas politisi Indonesia. Momentum waktunya juga sangat tepat karena berbarengan dengan tahun-tahun politik pendahuluan pada pilkada serentak 2018 dan agenda politik akbar 2019.

Dari sisi timing tentu penulis Warren Singer dan Cole unggul dan tentu saja sudah mempertimbangkan jumlah penduduk 250 juta sebagai pasar potensial buku tersebut. Hanya 1 juta saja penduduk Indonesia membeli atau mengunduh dalam format digital, Warren Singer dan Cole langsung seketika menjadi sangat populer.

Konspirasi intelektual

Sebuah produk fiksi yang terangkat dalam perbincangan nasional dan jagat maya memang buku GF. Semakin membuat konflik dan semakin ramai dibicarakan maka penjualannya akan semakin laris karena akan memancing psikologis seseorang untuk mengetahui duduk persoalan sebenarnya.

Beberapa tahun silam buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro juga laris manis karena keberaniannya membuka bisnis keluarga Presiden SBY ketika itu. Warren Singer dan Cole sebenarnya menggunakan metode yang tidak terlalu jauh berbeda dengan yang dilakukan George Junus dan seharusnya bukan hal yang aneh.

Yang membedakan kali ini karena bakal calon presiden 2019-2024 Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto menyitir buku itu yang jelas-jelas fiksi. Rakyat Indonesia pasti akan terjebak dalam kerangka pikir apakah Prabowo memiliki interest dengan buku tersebut ataupun atas tendensi politik semata. Sekelas politisi Gerindra, kajian politis yang dalam seharusnya dimiliki tidak serta-merta menyitir atau menyadur dari buku fiksi yang tujuan awalnya untuk hiburan.

Jika berdasarkan kajian, justru Indonesia tidak bubar pada 2030. Laporan lembaga riset internasional Pricewaterhousecoopers (PwC) September 2017 malah menyebutkan Indonesia ialah salah satu dari 21 negara dengan pertumbuhan sangat pesat. Negeri 'bekas Indonesia' pada buku GF tersebut malah berada di posisi 5 setelah Brasil, Rusia, Tiongkok, dan India.

Dari sisi PDB, Indonesia juga berada di urutan ke-5. PDB Indonesia mencapai US$5,42 triliun dengan pendapatan per kapita di atas US$18 ribu. PDB Indonesia itu di bawah Tiongkok dengan PDB US$38,01 triliun, PDB Amerika Serikat US$23,47 triliun, PDB India US$19,61 triliun, dan PDB Jepang US$5,61 triliun.

Tidak hanya PwC, Yayasan Indonesia Forum (YIF) pun memunculkan mimpi baru dengan Visi 2030. Lembaga MPR bahkan sudah menetapkan dalam Tap MPR VII/2001.

Perbedaan hasil penafsiran antara PwC dan Warren Singer yang juga peneliti politik dan perang itu tentu saja merefleksikan muatan dan kepentingan. Normal rakyat Indonesia mempertanyakan agenda buku GF yang mencerminkan interest penulisnya dan tentu saja kepentingan strategis di baliknya yang notabene pemerintah AS.

Tersirat kecemasan pemerintahan Donald Trump apabila Indonesia berbelok dari politik bebas aktif menuju ke arah poros tertentu. Warren dan Cole berlindung sebagai penulis melakukan counter-attack dengan mendiskreditkan poros tertentu dengan mendramatisasikan kapal-kapal dengan teknologi lama sebagai kapal hantu atau ghost fleet.

Warren menarik dasar psikologis bangsa Indonesia yang pernah berperang secara tradisional menggunakan bambu runcing melawan senjata api pada masa kolonial Belanda dan imperialis Jepang. Harapan Warren dan Cole tentu kasatmata, undangan menghadang ekspansi ekonomi Tiongkok yang nanti akan mengancam AS pada 2030.

Kini sebaiknya dihentikan polemik buku GF karena sangat membuang waktu. Jika Prabowo Subianto dan kandidat lainnya akan mencalonkan diri sebagai presiden alternatif, sebaiknya mengambil tema-tema baru yang orisinal dan cerdas. Memunculkan 'Indonesia Bubar' malah kontraproduktif dan blunder bagi Partai Gerindra. ●

Selasa, 27 Maret 2018

Ghost Fleet dan Prabowo

Ghost Fleet dan Prabowo
Syaefudin Simon  ;   Alumnus UGM;   Associate Leadership for Environment and Development, New York;  Tim Ahli Fraksi PPP DPR RI
                                                  KORAN SINDO, 27 Maret 2018



                                                           
JIKA sastra dan po­litik me­nyatu—kata Kennedy—dunia makin san­tun. Tapi bila du­nia sastra Amerika dan politik Indonesia menyatu, apakah kesantunan itu terjadi?

Itulah yang terjadi hari-hari ini ketika Prabowo Subianto mengutip sebagian narasi dari sastra Amerika dalam novel Ghost Fleet : A Novel  of The Next World War karya Peter Warren Singer dan August Cole. Pra­bowo mengutip sebagian narasi novel itu yang menceritakan Indonesia akan bubar tahun 2030. Kutipan kecil dari novel Ghost Fleet  itu langsung memicu kontroversi di dunia nyata dan maya. Hal yang jadi pertanyaan publik, kenapa narasi fiksi novel Ghost Fleet dikutip seakan-akan Indonesia akan bubar tahun 2030?

Jika saja Prabowo menyam­paikan “Indonesia bubar tahun 2030” ketika ngobrol di warung kopi dengan teman-temannya sambil bercanda, mungkin masalahnya tak seserius ini. Masalahnya, Prabowo me­nyam­­paikan di acara konfe­rensi nasional dan temu kader Partai Gerindra yang diunggah dalam akun resmi Gerindra, Senin (19/3/2018).

Prabowo juga pernah menyatakan hal sama di depan sivitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (18/9/2017) saat tampil men­jadi pembicara pada seminar bertema masa depan Indonesia. Saat itu, Prabowo bahkan menyerahkan buku novel Ghost Fleet  yang dibelinya di New York kepada FEB UI. Sebuah sikap meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya bersumber dari prediksi yahud.

Kenapa imajinasi dalam novel Ghost Fleet itu dapat di­per­caya orang selevel Prabowo? Alasannya, Peter Warren Singer bukan orang sembarangan. PW Singer adalah  ahli ilmu politik luar negeri yang mendapatkan gelar PhD dari Harvard University—sebuah universitas terbaik di Amerika. Mengomentari fiksi yang menjadi rujukan, teman saya Ir Masduki—pensiunan pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri menyatakan, “Sangat kecil kemungkinan fiksi men­jadi kenyataan. Namun sangat mungkin, rekayasa nyata ditulis bergaya fiksi.” Tampaknya, Ir Masduki meyakini betul bahwa fiksi dari PW Singer dan August Cole itu akan terealisasi.

Tak hanya Ir Masduki yang menganggap prediksi imaji­natif Singer dan Comte akan benar-benar terjadi. Dr James G Stavridis, pensiunan Lak­sa­mana Angkatan Laut Amerika Serikat yang kini men­jadi dekan di Fakultas Hu­bungan Inter­nasional di Tufts Uni­versity, juga meng­anggap hal sama. Stavr­idis me­nye­but­kan buku Ghost Fleet bisa men­jadi blue print untuk me­ma­hami pe­rang masa depan. “Pe­mim­­pin mi­liter di Amerika kudu me­wa­jibkan para tentara mem­bacanya,” ujarnya.

Langit Makin Mendung
Setengah abad sebelum ge­ger novel Ghost Fleet, Indonesia pernah juga digegerkan narasi cerpen Langit Makin Mendung (LMM) karya Ki Panji Kusmin. Ceritanya, majalah Sastra yang dipimpin HB Jassin, tahun 1968 memuat cerpen berjudul Langit Makin Mendung yang narasi­nya mengupas kemun­cul­an Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril di Senen, Jakarta.

Alkisah, tulis Ki Panji Kusmin, Allah mengizinkan Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril untuk turun ke bumi. Tujuannya: menyelidiki kenapa umat Islam makin banyak yang dijebloskan ke neraka.

Berkendaraan buroq, Muhammad yang didamping Jibril turun ke bumi Indonesia. Tapi celaka! Di tengah jalan, kendaraannya bertabrakan dengan Sputnik, satelit milik Rusia. Sputnik hancur. Buroq juga hancur. Muhammad dan Jibril terlempar ke awan. Lalu keduanya turun ke bumi, menyamar jadi elang. Kedua elang itu bertengger di Monas dan mengunjungi lokalisasi pe­lacuran di Senen untuk meng­amati kelakuan manusia. Kedua makhluk suci itu akhirnya tahu, kenapa manusia akhir-akhir ini banyak dijebloskan ke neraka. Penyebabnya prostitusi.

Umat Islam marah. Mereka menganggap Ki Panji Kusmin menghina Islam. Mereka me­nuntut Ki Panji Kusmin diadili. Namun, HB Jassin pasang ba­dan. Ia menyembunyikan jati diri Ki Panji Kusmin.

Siapa Ki Panji Kusmin pe­nulis cerpen itu? Sampai hari ini tak ada yang tahu. Jassin se­bagai pimpinan redaksi majalah Sastra yang bertanggung jawab atas pemuatan cerpen tersebut, saat diadili, tak mau mem­beri­tahukan hakim, siapa gerangan Ki Panji Kusmin. Jassin pun divonis bersalah: satu tahun penjara dengan masa per­coba­an dua tahun. Sampai Jassin wafat, 11 Maret 2000, sang Paus Sastra itu tetap menyem­bunyi­kan siapa gerangan Ki Panji Kusmin.

Gambaran kisah fiksi di atas sekadar menunjukkan betapa liarnya imajinasi Ki Panji Kusmin yang menulis cerpen LMM. Jelas imajinasi Ki Panji Kusmin tak patut, bahkan haram jadi rujukan ilmiah. Dalam perspektif sama, apakah narasi novel Ghost Fleet yang menyatakan Indonesia bubar tahun 2030 patut dikutip dan diunggah dalam situs resmi Gerindra, partai oposisi terbesar Rezim Jokowi? Anda pasti tahu jawabannya.

Topik utama novel Ghost Fleet sebenarnya lebih meng­ulas bangkitnya China selaku super­power yang akan melam­paui Amerika Serikat. Soal Indonesia sendiri sebenarnya hanya di­sing­­g­ung sambil lalu. Saat itu, dalam novel Ghost Fleet, China dipimpin “kelas baru” yang dise­but­­­n­ya sebagai directorate. Ini elite gabungan antara kelas pengusaha ka­kap bersama para pemimpin ten­tara. Elite ini meng­ganti­kan pemimpin partai komunis yang sudah usang.

China selain lebih kaya sumber dayanya dari AS, juga lebih cepat menemukan persen­jataan supra­modern. Di antara­nya sen­jata “cyber  attack” yang mampu melumpuhkan aneka sistem elektronik, bahkan paling canggih di Amerika sekali pun. Indonesia saat itu, tahun 2030, menjadi negara gagal (failed state). Sebuah kondisi yang mem­­buatnya bubar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia, dua negara yang hilang dalam peta (Denny, 2018).

Imajinasi Ghost Fleet ini jelas jauh bertentangan dengan pre­diksi lembaga pemeringkat Pricewaterhouse Coopers (PwC). PwC meramalkan bahwa Indo­nesia pada 2030 menjadi big emerging market. Menurut prediksi (catat: bukan imajinasi karena analisisnya berdasarkan data dan fakta) Indonesia akan menjadi negara dengan per­eko­nomian terkuat di Asia Teng­gara. Indonesia, catat PwC, setelah 2030, mempunyai kekuatan ekonomi nomor empat di dunia setelah China, Amerika, dan India.

Sekarang kembali ke negara gagal. Jika saja narasi novel Ghost Fleet yang dikutip Prabowo bah­wa Indonesia men­jadi negara gagal dan bubar tahun 2030, maka dari aspek mana imajinasinya?

Negara gagal adalah sebuah kondisi ketika kemampuan pe­me­rintah mengelola komplek­sitas negara berada pada titik nadir. Indikatornya, ekonomi hancur, kemiskinan bertam­bah, kerusuhan dan anarkisme meruyak di mana-mana. Pusat kehilangan legitimasi karena korupsi dan pembusukan moral terjadi di semua sistem kene­ga­ra­an, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Bagaimana faktanya Indo­nesia? Dalam Fragile State Index 2017, ternyata  peringkat Indonesia tetap berada di posisi aman. Kondisi Indonesia, mi­sal­nya, lebih baik dibandingkan de­ngan Iran dan Pakistan, meski lebih rentan dari Singa­pura, Malaysia, dan Brunei. Rangking Indonesia berada di nomor 94 dari 178 negara yang diukur. Dari data kuan­titatif di atas, prediksi novel Ghost Fleet itu agak ber­lebihan.

Dengan meng­ambil sisi positif­nya, anggap saja pre­diksi novel itu sebagai wake up call. Namun, jangan dijadikan alat kam­panye untuk mendiskreditkan pemerintah. Bila ini terjadi, hanya akan memanas­kan suhu politik yang merugi­kan kita semua.

Pada akhirnya, heboh Ghost Fleet sampai juga kepada penu­lis­nya, PW Singer dan August Cole. Singer dalam cuitannya di Twitter menulis: kehebohan ini sungguh tak terduga. Cole juga mencuit: This is fiction, not prediction.

Pada tahun politik memang banyak hal aneh. Fiksi tiba-tiba dianggap prediksi. Sementara realitas dianggap imajinasi. Eh, imajinasi malah dianggap realitas! Catat, seperti halnya Langit Makin Mendung, Ghost Fleet hanya imajinasi. Tak lebih dari itu! ●