Sabtu, 26 Juli 2014

Presiden bagi Rakyat Indonesia

                                Presiden bagi Rakyat Indonesia

James Luhulima ;   Wartawan Senior Kompas
KOMPAS, 26 Juli 2014
                                                


PADA tanggal 22 Juli lalu pukul 21.33, Komisi Pemilihan Umum secara resmi menetapkan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 2, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019. Joko Widodo, yang akrab disapa dengan Jokowi, dan Jusuf Kalla unggul atas pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Saat mendengar penetapan itu, pikiran langsung melayang ke kata-kata bijak yang diucapkan pada tahun 1941 oleh Presiden Filipina Manuel Quezon (1878-1944), ”Kesetiaan saya pada partai berakhir ketika kesetiaan saya pada negara dimulai (Aking katapatan sa partido ay nagtatapos kapag ang aking katapatan sa estado ay nagsisimula)”. Sengaja yang dikutip pernyataan dalam bahasa Tagalog, dan bukan bahasa Inggris, untuk menunjukkan bahwa kata-kata bijak itu diucapkan oleh seorang kepala negara dari Asia Tenggara.
Kata-kata bijak yang diucapkan Presiden Manuel Quezon itu sangat relevan bagi Jokowi ketika dilantik sebagai presiden untuk periode 2014-2019. Ia harus mengambil jarak dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan menjadi bapak bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi tidak boleh melupakan bahwa ia hanya dipilih oleh 70.997.833 orang (53,15 persen dari pemilih), di luar sana masih ada 62.576.444 orang (46,85 persen) yang tidak memilihnya. Sebagai Presiden Indonesia, Jokowi harus dapat mengayomi semuanya. Oleh karena itu, hanya dengan cara itulah Jokowi dapat membangun karisma sebagai bapak bangsa.

Namun, hal itu tentunya lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, apalagi Prabowo belum mau mengakui kekalahannya, apa pun alasan yang dikemukakannya untuk membungkusnya. Meskipun demikian, tentunya itu juga bukan berarti, hal itu tidak mungkin dilakukan.

Dalam pidato kemenangannya di atas kapal pinisi Hati Buana Setia di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, seusai penetapan KPU, 22 Juli lalu, Jokowi telah mengisyaratkan keinginan untuk menjadi presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun, tentunya, yang diperlukan bukan pernyataan, melainkan perbuatan.

Megawati Soekarnoputri pernah berada dalam posisi itu saat ia menjabat sebagai presiden (2001-2004). Tidak dapatnya Mega melepaskan diri dari PDI-P membuatnya gagal membangun karisma sebagai ibu bangsa. Itu sebabnya, ketika ia memerlukan dukungan mayoritas rakyat untuk membuatnya unggul dalam pemilihan presiden, dukungan itu tidak diperolehnya. Ia kalah dari calon presiden pendatang baru, Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, 10 tahun sesudahnya, Mega membayar kegagalannya. Ia menunjukkan kualitasnya sebagai ibu bangsa ketika ia pada akhirnya menunjuk Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan calon wakil presiden dari PDI-P untuk periode 2014-2019. Keputusan itu tentunya tidak mudah diambil Megawati mengingat pada desakan untuk mengajukan trah (garis keturunan) Soekarno amat sangat besar. Baik itu sebagai calon presiden maupun sebagai calon wakil presiden.

Mega melampaui perannya sebagai Ketua Umum PDI-P dan mantan presiden pilihan MPR ketika ia menangkap tanda-tanda zaman, yang ditunjukkan dengan fenomena Jokowi. Mega bahkan menyadari bahwa garis keturunan Soekarno itu tidak harus diartikan melalui hubungan darah, melainkan juga melalui gagasan, ide, atau cita-cita.

Saat berkunjung ke kantor harian Kompas, 11 Juli lalu, dua hari setelah dinyatakan unggul oleh hasil hitung cepat, Jokowi mengatakan, ia masih sulit mencerna fenomena perjalanan hidupnya yang tiba-tiba meningkatkan begitu cepat. Rasanya baru kemarin menjadi Wali Kota Solo, tiba-tiba sudah menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan kini menjadi presiden terpilih, jabatan tertinggi di negara ini. Sama seperti Jokowi, kita pun masih sulit mencerna fenomena itu.

Prihatin

Bersamaan dengan itu, kita juga prihatin mengikuti perilaku Prabowo Subianto. Prabowo yang sebelum pelaksanaan pemilu presiden langsung dengan gagahnya menyatakan, siap kalah, tiba-tiba menunjukkan sikap sangat berbeda ketika hasil hitung cepat (quick count) yang diadakan beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa Jokowi-Jusuf Kalla unggul.

Prabowo memilih untuk mengabaikan hasil hitung cepat yang dilakukan lembaga-lembaga yang telah memiliki reputasi yang baik dan kredibilitas yang tinggi, yang mengunggulkan Jokowi dan memilih untuk lebih memercayai hasil hitung cepat yang dilakukan lembaga yang tidak memiliki reputasi yang baik dan kredibilitas yang tinggi dalam hitung cepat yang mengunggulkan dirinya.

Sikap ini berbeda jauh dengan yang ditunjukkan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, yang dikalahkan oleh Jokowi dalam hitung cepat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012. Padahal sebelumnya, Fauzi Bowo, yang akrab disapa Foke, yakin seyakin-yakinnya bahwa ia dapat mengalahkan Jokowi. Foke bahkan yakin akan menang dalam satu putaran. Namun, ketika semua hasil hitung cepat menunjukkan bahwa Jokowi unggul, Foke langsung memberikan selamat kepada Jokowi. Padahal, pada saat itu hasil hitung cepat baru mendekati 90 persen, belum mencapai 100 persen.

”Metode hitung cepat adalah metode ilmiah yang digunakan di mana saja, kita patut menghargainya. Dari berbagai hitung cepat yang diumumkan, kami berdua tertinggal. Oleh karena itu, sambil menunggu proses final KPU DKI Jakarta, kami sampaikan penghargaan bagi pasangan nomor 3 selaku pemenang dalam hitung cepat,” kata Foke, saat itu.

Ia menambahkan, ”Kami sadar, dalam setiap kompetisi ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang terpilih dan tidak terpilih. Mari kita junjung proses demokrasi yang menentukan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017.”

Bahwa ada kecurangan atau ketidaksempurnaan di sana sini itu memang bisa terjadi, tetapi soal tuduhan bahwa kecurangan itu berlangsung secara masif dan terstruktur, itu masih memerlukan pembuktian. Namun, haruskah ia mendeklarasikan menolak pelaksanaan Pemilu Presiden 2014 dan menarik diri dari proses yang sedang berlangsung?

Kembali ke Jokowi. Ia harus menyadari, terpilih sebagai presiden baru langkah awal. Perjalanan panjang masih membentang di hadapannya. Kita berharap Jokowi hati-hati menunjuk anggota kabinetnya, jangan sampai mengulangi kesalahan dari presiden sebelumnya…. ●

Fitrah dan Islah : Damai Indonesia

                           Fitrah dan Islah : Damai Indonesia

Azyumardi Azra ;   Guru Besar Sejarah;
Direktur SPS UIN Jakarta; dan 2014 Fukuoka Prize Laureate
KOMPAS, 26 Juli 2014
                                                


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada din [agama Allah]; [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Ar-Rum 30:30).

”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, ciptakanlah islah [damaikan, perbaiki hubungan] di antara kedua [pihak] saudaramu [yang berselisih] itu; dan takwalah kepada Allah supaya kamu sekalian mendapat rahmat [Allah]” (QS Al-Hujurat 49:10).

PUASA Ramadhan 1435/2014 segera berakhir dan 1 Syawal 1435 pun menjelang, umat Islam pun sampai kepada ‘Id al-Fitr (Idul Fitri). Inilah momen ketika mereka yang puasa kembali kepada al-’id ila fitrah, kesucian. Meski fitrah yang dianugerahkan Allah SWT tidak berubah, seperti dinyatakan Al Quran Surah Ar-Rum Ayat 30 di atas, manusia sering mengotori fitrahnya dengan berbagai kesalahan, kekeliruan, dan perbuatan maksiat, baik sengaja maupun tidak.

Ibadah puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lain yang dikerjakan sepanjang hari atau sepanjang tahun pada intinya bertujuan agar mereka yang beribadah (abidin) dapat meraih kembali dan menjaga fitrah, kesucian diri masing-masing.

Dengan fitrahnya, manusia tidak hanya dapat tersucikan dalam hubungannya dengan Tuhan (habl min Allah), tetapi sekaligus dengan manusia (habl min al-nas) dan lingkungan alam lebih luas. Dengan kesucian, setiap dan seluruh individu dapat menciptakan harmoni dan kedamaian di muka bumi ini.

Pemaafan untuk damai

Dalam kesempatan kembali kepada fitrah secara individual-personal, setiap pribadi Muslimin dan Muslimat wajib memperluas kesucian itu ke tingkat sosial komunal dan masyarakat negara-bangsa Indonesia. Perluasan kesucian itu merupakan bagian integral dari prosesi ibadah Idul Fitri yang dilakukan melalui kunjungan satu sama lain dan saling meminta dan memberi maaf.

Ibadah ini merupakan shilat al-rahim, memperkuat kembali hubungan kasih sayang. Melalui semua prosesi religio-sosial dan kultural seperti ini, dapat terbangun hubungan antarmanusia yang kian erat dan fungsional dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan negara-bangsa.

Saling meminta dan memberi maaf (pemaafan) sangat urgen setelah bangsa Indonesia menyelesaikan Pemilu 2014, meliputi pemilu legislatif pada 9 April dan pemilu presiden pada 9 Juli.

Meski kedua pemilu itu secara umum berlangsung aman dan damai, masih tersisa luka dan kepedihan yang muncul sepanjang masa kampanye, pencoblosan surat suara, serta penetapan presiden dan wakil presiden terpilih pada 22 Juli. Suasana menyalahkan, menghujat, dan berprasangka buruk terhadap berbagai pihak terkait proses pilpres itu masih mewarnai proses demokrasi Indonesia terkini.

Perseteruan dan ketegangan politik-sosial di kalangan masyarakat kita nampaknya masih bakal berkelanjutan. Memang Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan pemenang Pilpres 2014, yaitu pasangan Joko Widodo-M Jusuf Kalla. Namun, menjelang akhir rekapitulasi suara pilpres berakhir (saat selesai rekapitulasi 29 dari 33 provinsi dan satu wilayah luar negeri), calon presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto—tanpa didampingi oleh calon wakil presiden Hatta Rajasa—menyatakan penolakan terhadap proses dan hasil Pilpres 2014.

Dalam konteks itu, nilai dan semangat ibadah puasa dan Idul Fitri sangat relevan. Ibadah puasa—perlu diingatkan kembali—merupakan latihan jasmani dan rohani dengan kesabaran.

Dengan begitu, orang beriman yang berpuasa dapat mencapai derajat muttaqin, orang-orang bertakwa yang terpelihara dirinya dari nafsu angkara murka, dan sebaliknya lebih banyak bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. Kemenangan dan kekalahan dalam kompetisi dan kontestasi apa pun merupakan keniscayaan, tinggal menyikapinya secara arif, bijak, dan tawakal.

Lebih jauh, memandang perkembangan politik setelah pilpres yang belum sepenuhnya menggembirakan, segenap umat beriman yang telah kembali kepada fitrahnya perlu meningkatkan semangat pemaafan. Untuk mengarah ke sana, perlu pengembangan pemahaman bahwa pemaafan tulus dan ikhlas bertujuan memperbarui hubungan antarmanusia, antarwarga Indonesia khususnya. Pemaafan bukan sekadar aktualisasi sikap moral bernilai tinggi yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan tujuan yang tak kurang mulianya, yakni perbaikan (islah) yang mencakup rekonsiliasi antarmanusia atau antarwarga yang dalam Pemilu 2014, khususnya pilpres, diselimuti kemarahan yang terlihat cenderung berkepanjangan.

Dengan kandungan nilai dan semangat begitu mulia, pemaafan secara implisit juga berarti menunjukkan kesiapan seluruh warga bangsa untuk kembali hidup berdampingan secara damai. Karena bagaimanapun, setiap mereka adalah manusia-manusia yang berbeda dengan segala kelemahan dan kekeliruan masing-masing.

Hanya dengan pemaafan, bisa tercipta kedamaian dan harmoni, yang dapat mendatangkan suasana kondusif bagi setiap dan seluruh warga untuk melakukan ikhtiar terbaik demi kemaslahatan dan kemajuan negara-bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan nasional baru.

Pemaafan mengandung beberapa dimensi dan langkah penting. Dalam pengertian umum, pemaafan berarti mengingat dan sekaligus memaafkan. Dalam Islam, proses ini disebut sebagai muhasabah, yakni saling menghitung atau menimbang peristiwa-peristiwa pahit yang telah melukai pihak tertentu. Melalui muhasabah, semua pihak melakukan introspeksi untuk kemudian dapat melakukan pemaafan satu sama lain.

Islah dan empati

Kemauan dan tindakan islah, memperbaiki hubungan dan rekonsiliasi, merupakan amal saleh yang amat mulia, seperti dianjurkan Allah SWT dalam firman-Nya yang dikutip di atas (QS Al-Hujurat 49:10) bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Jika konflik terjadi di antara mereka, perlu diupayakan islah, perdamaian di antara mereka.

Memberi maaf atau pemaafan merupakan langkah dasar bagi terwujudnya islah (rekonsiliasi) di antara sejumlah pihak yang terlibat dalam tensi dan hubungan tidak baik. Dalam konteks kehidupan sosial-politik, Imam al-Syaikh Muhammad ’Abd al-Azim al-Zarqani dalam kitab Manahil Al-’Irfan fi ’Ulum Al-Qur’an (edisi 1988), menyebut dua macam rekonsiliasi yang perlu dilakukan. Pertama, al-ishlah al-ijtima’i, rekonsiliasi kemasyarakatan melalui pengurangan ta’ashub atau sektarianisme sosial-politik. Kedua, al-ishlah al-siyasi melalui pengembangan komitmen pada keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang, serta sebaliknya menjauhi kebohongan, pengkhianatan, penipuan, dan kezaliman.

Tindakan islah pada saat sama merupakan pengejawantahan sikap empati terhadap realitas kemanusiaan. Setiap orang bagaimanapun adalah manusia biasa yang dapat terjerumus ke dalam kesalahan dan angkara murka yang merugikan masyarakat dan negara-bangsa.

Tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya tidak akan terjerumus ke dalam kesalahan atau kenistaan. Pengakuan tentang kelemahan kemanusiaan ini merupakan sikap empati yang membuka pintu pemaafan. Karena itulah, Islam sangat menganjurkan sikap empati.

Demikianlah, pemaafan yang telah menjadi bagian integral dari perayaan Idul Fitri sepatutnya tidak hanya sekadar menjadi saling silaturahim dan berjabat tangan. Sebaliknya, Idul Fitri hendaknya dapat menjadi momentum bagi pemaafan yang tulus dari seluruh warga bangsa sehingga islah, rekonsiliasi, dan perdamaian terwujud secara berkelanjutan demi Indonesia yang damai, maju, dan berkeadaban. Wallâhu a’lam bish-shawab. ●

Idul Fitri dan Halalbihalal

                                        Idul Fitri dan Halalbihalal

A Mustofa Bisri ;   Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang
KOMPAS, 26 Juli 2014



NABI Muhammad SAW pernah ditanya istri Nabi, Aisyah, mengenai doa apa yang mesti dibaca saat Lailatul Qadar, Nabi menjawab, ”Allahumma innaka ’afuwwun tuhibbul ’afwa fa’fu ’annii.” Doa ini dalam bahasa Indonesia kira-kira, ”Ya, Allah, ya Tuhanku; sungguh Engkau Maha Pengampun, suka mengampuni, maka ampunilah aku.”

Maha Pengampun-Nya Allah dan kesukaan-Nya mengampuni tidak hanya tecermin dalam asma-asma-Nya seperti Al-Ghafuur, Al-Ghaffaar, dan Al-’Afwu, tetapi juga dapat diketahui melalui banyak firman-Nya di Al Quran dan sabda Rasul-Nya dalam hadis-hadis-Nya.

Salah satu firman-Nya bahkan menyeru hamba-hamba-Nya yang berdosa agar tidak berputus harapan akan pengampunan- Nya dan menegaskan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa, semuanya (Q 39:53).

Bahkan, sedemikian sukanya Allah mengampuni sehingga Rasul-Nya—dalam hadis sahih bersumber dari sahabat Abu Hurairah dan riwayat imam Muslim—bersumpah bahwa seandainya ”kalian semua tidak ada yang berdosa, Allah SWT akan menghilangkan kalian dan menggantinya dengan kaum yang berdosa yang memohon ampun kepada Allah lalu Ia pun mengampuni mereka”.

Maka, kita melihat ”lembaga pengampunan” Allah yang dapat menghapuskan dosa, begitu banyak. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan banyak amalan sebagai penghapus dosa, mulai dari istigfar, shalat, puasa, hingga berbuat baik lainnya, semuanya dapat menghapus dosa. Ini sangat kontras sekali dengan perangai ”khalifah”-Nya di bumi yang namanya manusia ini.

Manusia—setidaknya kebanyakan mereka—dari satu sisi suka berbuat kesalahan, di sisi lain gampang tersinggung dan sangat sulit memaafkan kesalahan.

Bahkan, banyak di antara mereka yang merasa ”dekat” dengan Tuhan pun tidak tampak lebih pemaaf daripada yang lain. Malah sering kali justru lebih terlihat sempit dada dan tengik.

Yang aneh, terhadap Allah yang begitu baik dan Maha Pengampun, kita ini begitu hati-hati. Namun, kepada sesama manusia yang tersinggung dan begitu sulit memaafkan, kita malah sering sembrono. Padahal, dibandingkan dengan dosa yang langsung berhubungan dengan Allah, kesalahan terhadap sesama manusia jauh lebih sulit menghapusnya. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mempunyai kesalahan kepada saudaranya sesama manusia sebelum saudaranya itu memaafkan.

Makna halalbihalal

Ada sebuah hadis sahih yang sungguh membuat mukmin yang sehat pikirannya akan merasa khawatir merenungkannya. Yaitu, hadis sahih—dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim—tentang betapa tragisnya orang yang saat datang di hari kiamat membawa seabrek (pahala) amal, seperti shalat, puasa, dan zakat, sementara ketika hidup di dunia banyak berbuat kejahatan kepada sesama.

Digambarkan, nanti orang yang pernah dicacinya, orang yang pernah difitnahnya, yang pernah dimakan hartanya, yang pernah dilukainya, dan yang pernah dipukulnya akan beramai-ramai menggerogoti (pahala) amalnya yang banyak itu.

Bahkan, apabila (pahala) amalnya itu sudah habis dan masih ada orang yang pernah dizalimi dan belum terlunasi, dosa orang ini pun akan ditimpukkan kepadanya sebelum akhirnya dia dilempar ke neraka. Orang yang malang ini disebut Rasulullah SAW sebagai orang bangkrut yang sebenarnya.

Lihatlah, orang yang bangkrut itu disebutkan membawa seabrek (pahala) shalat, puasa, dan zakat. Berarti dari sisi ini, dia adalah orang yang taat beribadah. Namun, karena perangainya yang buruk terhadap sesama, justru hasil ibadahnya itu sirna.

Maka, bagi kaum beriman, berhati-hati dalam pergaulan itu sangat penting. Kaum beriman tidak hanya mengandalkan amal ibadahnya tanpa menjaga akhlak pergaulannya dengan sesama. Apalagi, karena bangga terhadap amal ibadahnya, lalu merendahkan dan menyepelekan sesamanya. Na’udzubillah min dzaalik.

Masih ada satu hadis sahih lagi yang senada dengan hadis di atas, yang menganjurkan kita segera meminta halal dari orang yang pernah kita zalimi (falyatahallalhu minhu), apakah itu berkenaan dengan kehormatannya atau yang lain.

Saya pikir, bertolak dari sinilah bermula istilah halalbihalal (menulisnya tidak dipisah-pisah). Anjuran Nabi untuk meminta halal dari saudara kita yang pernah kita zalimi tentunya berlaku juga bagi saudara kita.

Seperti kita ketahui, kata kita ini assembling dari bahasa Arab. Asalnya halaal-bi-halaal (dalam kamus Arab sendiri, tidak ditemukan entri halaal-bi-halaal ini). Jadi, ini murni rakitan bangsa Indonesia. Semula mempunyai makna harfiah halal dengan halal, kemudian menjadi: saling menghalalkan.

Begitulah tradisi silaturahmi (Arabnya: silaturahim), di hari raya Idul Fitri pun diisi dengan acara halalbihalal. Saling menghalalkan alias saling memaafkan. Halalbihalal-lah terutama mendorong orang bersemangat melakukan silaturahim di hari raya Idul Fitri. Sampai-sampai kemudian melahirkan tradisi lain yang kita sebut mudik.

Kalau tujuannya saling memaafkan, mengapa halalbihalal itu (hanya) dilakukan di hari raya Idul Fitri atau di bulan Syawal, tidak setiap saat?

Boleh jadi ini ada kaitannya dengan ”watak” bangsa kita yang sulit mengaku salah dan sulit memaafkan. Jadi, diperlukan timing yang tepat untuk saling meminta dan memberi maaf. Lalu, kapan itu? Nah, tidak ada saat yang lebih tepat melebihi saat setelah puasa Ramadhan.

Mengapa? Karena sesuai janji Rasulullah SAW, barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mencari pahala Allah, diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.

Tentunya ini dosa-dosa yang berkaitan dengan Allah langsung. Orang yang tidak mempunyai dosa kepada Allah karena dosa-dosanya sudah diampuni, dadanya menjadi lapang. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa setelah usai puasa Ramadhan, orang- orang Islam menjadi terbuka, ringan meminta maaf, dan mudah memaafkan.

Maka, dosa-dosa berat yang diakibatkan kesembronoan dalam pergaulan hidup dengan sesama hamba Allah diharapkan dapat dengan mudah dilebur. Nah, kesempatan bersilaturahim di hari raya Idul Fitri ini jangan sampai kita lewatkan untuk berhalalbihalal, saling menghalalkan, dan saling memaafkan. Sehingga di Lebaran ini, leburlah semua dosa-dosa kita. Semoga.

Selamat Idul Fitri 1435 Hijriah. Mohon maaf lahir batin. ●

Lebaran dan Kemajemukan

                                      Lebaran dan Kemajemukan

Asep Salahudin ;   Peneliti Lakpesdam PWNU Jawa Barat;
Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya
KOMPAS, 26 Juli 2014
                                                


IDUL Fitri secara semantik bermakna kembali kepada kesucian. Id artinya ’kembali’ dan fitri artinya ’suci’. Ramadan diimajikan sebagai modal rohaniah untuk mengembalikan rute manusia pada jalan kesadaran fitrah.

Puasa menginjeksikan sebuah keinsafan akan kelahiran manusia dari rahim Ramadhan yang bebas dari khilaf dan salah. Di titik ini akal masyarakat Nusantara dengan sangat kreatif menyinergikannya dengan konsep keagamaan yang diacukan pada khazanah kearifan budaya lokal: Lebaran. Lebaran sebagai momen ”lubar” (pembebasan/liberasi). Pembebasan dari segenap watak kebinatangan yang disimbolkan selama berpuasa dengan hilangnya keterikatan penuh terhadap ihwal pesona benda, terlepas dari keterpenjaraan hasrat tubuh, dan kemudian hanya menyisakan Tuhan dan nilai-nilai kebaikan sebagai daulat utama.

Maka, di hari raya Idul Fitri, dengan wajah cerah sambil mengulurkan tangan bersalaman, disampaikanlah minal aidin wal faizin. Ekspresi gelombang orang-orang yang kembali dan berbahagia. Kampung halaman pun dikunjungi dalam ritus kolosal mudik Lebaran. Saudara didatangi, bahkan pusara mereka yang telah lama meninggalkan alam fana diziarahi sambil membawa air dan bunga. Mudik yang telah jadi rutin lengkap dengan kemacetannya kian meneguhkan hasrat membangun kohesivitas sosial dengan hikayat masa silam yang coba dirangkai kembali untuk jadi ”energi” ketika harus balik lagi ke tempat urban.

Mungkin benar apa yang dibilang Oktavio Paz, ”Manusia tidak bisa berkelit dari riwayat silam yang menjadi asal usulnya. Untuk menyusun kelak.” Seperti diwadahi dalam kata ”arus mudik” dan ”arus balik”.

Mudik ke ”kampung halaman” dan balik ke ”kota perantauan”. Kampung halaman tempat kita lahir dan kota perantauan medan kita mempertaruhkan nasib. Mudik dan balik hubungannya dalam budaya kita tidak dikotomik, tetapi dialektik. Jadi, perubahan sosial yang dilakukan lewat gerak arkaik ”desa mengepung kota” bukan hanya kehilangan akar, melainkan juga tidak mendapatkan tautan kulturalnya. Politik desentralisasi seandainya diterapkan seperti tujuan awalnya, ini menjadi jawaban komprehensif untuk mengerem laju penyerbuan kampung ke kota.

Fitri dan persekutuan inklusif

Fitri di sini tentu tidak hanya memiliki interaksi simbolik dengan pengalaman keagamaan yang bersifat personal, tetapi juga dalam konteks kebangsaan cakupan maknanya harus diperluas sebagai sebuah panggilan iman untuk mengalami kemajemukan. Idul Fitri sebagai ikhtiar kembali hidup dalam keragaman dengan lapang. Dalam semangat ”bersalaman”. Salam itu bertalian dengan Islam yang secara generik bermakna kepasrahan kepada Yang Kudus sebagai lokus otentisitas keagamaan.

Secara sosiologis, Muhammad SAW mengajarkan, imperatif Islam itu diartikulasikan dalam sikap kesediaan menebarkan damai kasih kepada sesama. ”Sebarkan damai di antara kalian.” ”Mereka yang tidak menyampaikan kasih di bumi tidak akan meraih kasih sayang dari langit.”

Sebagaimana padanannya yang lebih inklusif, iman. Iman secara harfiah artinya percaya. Dalam tafsir sosial berhubungan dengan kesungguhan membangun bumi manusia yang dijangkarkan pada rasa aman yang mensyaratkan kesediaan mengemban sikap amanah. Iman sebagai getaran penghayatan intim dengan Zat Yang Maha Memukau. Kemudian, keterpukauan itu dipantulkan dalam wujud persekutuan inklusif, relasi manusia yang tidak dibatasi oleh perbedaan etnik, bahasa, dan pilihan agama formalnya.

Fitri tidak hanya berkelindan dengan kondisi kebatinan palung sukma yang bersih, tetapi juga sejauh mana ”kebersihan” itu dapat ditransformasikan dalam tata kelola negara penuh adab, birokrasi yang tertib, tindakan politik yang menjunjung tinggi akal budi, ekonomi yang mendistribusikan kesejahteraan, dan hukum yang tegak lurus dengan rasa keadilan.

Pemimpin baru

Melalui real count 22 Juli 2014, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla ditetapkan secara resmi sebagai pemenang Pemilu Presiden 2014 sehingga lengkap sudah Lebaran kita. Di hari Lebaran kali ini tidak hanya pakaian, sarung, dan kopiah baru, tetapi juga jauh lebih penting dari itu adalah kepemimpinan yang menawarkan harapan baru. Dalam semangat kepemimpinan nasional itu, kita mengharapkan roh Idul Fitri tecermin dalam ruang bernegara, dalam tindakan politik hariannya.

Bukan sekadar ”pemimpin”, melainkan keduanya benar-benar tampil menjadi kepala negara yang tak disibukkan dengan bersolek diri demi memburu pencitraan, tetapi dipastikan bekerja penuh kesungguhan, bebas dari korupsi, dan upaya memperkaya diri sendiri. Bukan sekadar menyusun kabinet semata demi menyenangkan kawan koalisi, melainkan menempatkan rakyat sebagai subjek utama seluruh kebijakan yang diambilnya.

Kita tidak lagi mendengar cerita negara absen karena tersandera kepentingan partai dan ormas tertentu, tetapi negara selalu hadir mendampingi kepentingan khalayak dalam semangat keragaman. Negara tidak boleh memihak, kecuali hanya kepada kebenaran dan keadilan.

Setelah negara ”merantau” selama 32 tahun Orde Baru dan 16 tahun Reformasi dengan rute membingungkan, sudah saatnya negara harus dikembalikan pada khitah ”kesuciannya” sehingga mampu mengantarkan warganya menemukan kesejahteraan (Ibnu Taimiyyah), keutamaan (Al-Farabi), kebebasan berkehendak (Nietzsche), kesetiaan memegang teguh etika (Kant), memasuki pengalaman religius Ibrahim (Soren Kierkegaard), terbuka dalam perbedaan (Empu Tantular), sekaligus menciptakan ruang demokrasi deliberatif untuk menciptakan medan musyawarah yang mengedepankan nalar diskursif dalam maqom kesetaraan (Habermas).

Setelah kegaduhan kampanye Pilpres 2014 yang membelah masyarakat dalam dua kelompok berbeda, kebencian, fitnah, dan dusta yang dirayakan sepanjang pesta demokrasi lima tahunan berlangsung, lewat Idul Fitri, saatnya semuanya dipersatukan kembali dalam lembaran semangat kebersamaan. Cita-cita luhur para pendiri bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 hanya bisa digapai manakala satu sama lain saling bersinergi.

Melalui Idul Fitri, kepemimpinan baru diharapkan mampu menghargai keragaman, bahkan masuk dalam pengalaman kemajemukan. Kemajemukan tidak lagi dijadikan sebagai ancaman, apalagi dibenturkan satu dengan lainnya dan negara hanya menjadi penonton seperti banyak terjadi dalam masa pemerintahan Yudhoyono, tetapi adalah modal sosial untuk menunjukkan bahwa kebesaran negeri ini dibangun lewat uluran banyak tangan.

Justru keterpilihan Jokowi-Jusuf Kalla karena massa punya preferensi bahwa keduanya di samping menjanjikan ”revolusi mental” yang menjadi kunci pembenahan sengkarut negeri kepulauan, juga dapat memberikan jaminan hidup berbangsa yang toleran, berdaulat, sekaligus dapat memasuki alam pikiran dan aspirasi segenap masyarakatnya. Dan, akhirnya ”Indonesia Hebat” bukan sekadar jargon, tetapi menjadi bagian sejarah pengalaman keseharian. Selamat berlebaran. Mohon maaf lahir dan batin. ●

Mudik dan Arus Migrasi

                                           Mudik dan Arus Migrasi

Chotib ;   Peneliti Lembaga Demografi FEUI
KOMPAS, 26 Juli 2014
                                                


KEGEMBIRAAN umat Islam dalam menyambut Lebaran di Indonesia memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan umat Islam di belahan dunia lain.

Jika di bulan Ramadhan secara umum umat Muslim mendapat dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dan saat menyambut hari raya, umat Muslim di Indonesia memiliki tiga kegembiraan, dengan ”ritual” mudik ke kampung halaman sebagai kegembiraan ketiga.

Menjelang hari raya umat Islam ini, kata ”mudik” menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia karena tradisi unik ini tidak hanya dilakukan umat Islam, tetapi juga sudah berkembang menjadi sebuah ”peribadatan” lintas agama.  Banyak umat non-Muslim yang juga memanfaatkan momentum liburan panjang untuk bersilaturahim dengan sanak keluarga.

Sebagai fenomena khas masyarakat Indonesia, mudik merupakan sebuah manifestasi dari masih kuatnya kohesi sosial masyarakat kita di tengah perubahan sosial menuju masyarakat industri dan pasca modernisme.  Jarak sosial dan geografis yang membentuk pelapisan sosial akibat perbedaan profesi dan struktur ekonomi  yang selama ini terjadi menjadi lebih pendek ketika arus mudik berlangsung.

Meski lebih kental nuansa sosialnya ketimbang nuansa religinya, mudik telah memberikan inspirasi dan dukungan teologis yang kuat.  Dalam Islam, misalnya, ajaran membangun silaturahim atau jaringan sosial (social capital), ukhuwah, dan saling memaafkan telah diterjemahkan dalam kultur masyarakat kita melalui peristiwa mudik.

Secara etimologis, mudik berasal dari kata Betawi yang berarti ’menuju udik’ (pulang kampung). Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata mudik yang berlawanan dengan kata milir. Jika mudik berarti pulang, milir berarti ’pergi’. Sehubungan dengan kata ini, pendapat lain mengungkapkan bahwa kaum urban di Sunda Kelapa sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap, dan pulang kembali ke kampungnya saat Idul Fitri tiba.

Sementara menurut Mahayana (2011), fenomena mudik yang kemudian dikaitkan dengan Lebaran mulai terjadi pada awal pertengahan dasawarsa 1970-an ketika Jakarta tampil sebagai kota besar satu-satunya di Indonesia yang mengalami kemajuan luar biasa. Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977) disulap menjadi sebuah kota metropolitan. 

Bagi penduduk kota-kota lain, terutama orang-orang udik, Jakarta menjelma sebagai kota impian. Dengan begitu, Jakarta menjadi tempat penampungan orang-orang udik yang di kampung tak beruntung dan di Jakarta seolah-olah akan kaya.  Boleh jadi, lebih dari 80 persen para urbanis ini datang ke Jakarta hanya untuk mencari pekerjaan.

Migrasi penduduk

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tidak ada peristiwa mudik jika tidak ada peristiwa migrasi penduduk dari luar Jakarta menuju Jakarta. Secara demografis, terdapat beberapa tipe migrasi penduduk, di antaranya migrasi seumur hidup (life time migration) dan migrasi risen (recent migration). 

Penghitungan migran seumur hidup diperoleh dari data yang memperbandingkan tempat tinggal penduduk pada saat pencacahan (dalam hal ini tinggal di Jakarta) dengan tempat kelahirannya (dalam hal ini di luar Jakarta).  Sementara migrasi risen diperoleh dari data penduduk yang pada saat pencacahan tinggal di Jakarta dan lima tahun sebelum pencacahan tinggal di luar Jakarta.

Data Sensus Penduduk (SP) 2010 memperlihatkan jumlah migran seumur hidup di Jakarta sekitar 4 juta jiwa.  Jumlah ini sedikit lebih besar daripada data yang diperlihatkan oleh SP 2000, yaitu sekitar 3,5 juta jiwa. Dari perbandingan kedua data ini, sementara dapat disimpulkan, ada tambahan penduduk yang masuk ke Jakarta  sebesar lebih kurang 500.000 jiwa selama kurun waktu 10 tahun.  Angka ini relatif mirip dengan data migrasi risen yang masuk ke Jakarta dari SP 2010, yaitu sebesar 600.000 jiwa, yang memperlihatkan adanya sejumlah penduduk yang masuk ke Jakarta selama periode 2005-2010.

Baik data sensus maupun data survei yang dilakukan Lembaga Demografi FEUI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta  (2014) memperlihatkan bahwa 90 persen migran yang masuk ke Jakarta berasal dari daerah-daerah di Pulau Jawa.  Daerah-daerah pengirim utama migran ke Jakarta adalah Jawa Tengah (37 persen), Jawa Barat (34 persen), Daerah Istimewa Yogyakarta (7 persen), Jawa Timur (7 persen), dan Banten (7 persen). Sisanya para migran yang berasal dari terutama Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Hasil survei memperlihatkan, hampir semua pemudik dari Jakarta berangkat menuju tempat kelahiran mereka sehingga dapat diperkirakan bahwa jumlah pemudik yang berangkat dari Jakarta sekitar 4 juta jiwa jika dikaitkan dengan jumlah migran semasa hidup yang masuk ke Jakarta berdasarkan SP 2010.

Namun, bisa jadi tidak semua migran tersebut pergi mudik pada tahun ini dengan berbagai alasan. Karena itu pula, hasil survei ini memperlihatkan perkiraan pemudik tahun 2014 dari Jakarta sebesar 3,6 juta jiwa.

Sejalan dengan distribusi daerah asal (tempat kelahiran) migran di  Jakarta sebagaimana disebutkan di atas, distribusi daerah tujuan mudik juga diperkirakan menuju tempat-tempat yang sama.  Para penentu kebijakan yang menangani persoalan arus penduduk ini hendaknya memperhatikan dan memfokuskan diri pada distribusi interaksi spasial antara Jakarta dan daerah-daerah lain, terutama di Jawa ini. ●

Membumikan Lailatul Qadar

                                    Membumikan Lailatul Qadar

Usep Romli HM ;   Pengasuh Pesantren Budaya Raksa Sarakan, Garut
KOMPAS, 26 Juli 2014
                                                


DALAM bulan Ramadhan terdapat satu malam yang bernilai lebih daripada seribu bulan. Malam penuh kemuliaan yang disebut Lailatul Qadar.
Pada malam itu, para malaikat, dipimpin malaikat Jibril, atas izin Allah SWT turun ke Bumi: mengatur segala urusan, menebar kesejahteraan,  dan keselamatan hingga terbit fajar (QS. 97:1-5).

Malam istimewa tersebut diperkirakan muncul pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, antara tanggal 20-30 Ramadhan. Pada saat itu, umat Islam dianjurkan untuk melakukan iktikaf: tinggal di masjid, khusus untuk melakukan ibadah.

Suatu ibadah untuk meningkatkan hubungan vertikal melalui berbagai kegiatan ritual, seperti shalat, berdoa, membaca Al Quran, yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Meski demikian, tetap memelihara hubungan horizontal dengan sesama manusia. Misalnya, melakukan shalat berjamaah, menengok orang sakit, melayat jenazah, serta memberikan santunan uang atau makanan kepada yang membutuhkan.

Iktikaf selama masa Lailatul Qadar berfungsi sebagai koreksi internal diri masing-masing (al muhasabah), sekaligus koreksi eksternal (al muamalah). Membersihkan jiwa dari berbagai perbuatan rendah dan kasar, kemudian mengisinya dengan segala perbuatan penuh keutamaan, serta berkonsentrasi penuh mengingat Allah SWT.

Dari kegiatan spritual amat individual itulah kelak terpancar daya nalar dan kehendak untuk mengaplikasikannya dalam kenyataan. Berbekal watak keutamaan yang terbentuk selama iktikaf, semangat sosial menjadi bertambah. Iktikaf menyambut Lailatul Qadar bukan lagi merupakan kenikmatan tersendiri bagi diri pribadi yang amat personal, melainkan kenikmatan bersama yang universal.

 Menurut Az-Zuhri, salah seorang ulama abad ke-14, Ramadhan mengandung dua kegiatan pokok. Kegiatan membaca Al Quran, sebagai bagian dari menegakkan ibadah malam (qiyamul lail), dan memberi makan fakir miskin (it’amuth tha’am).

Secara fisik, iktikaf menyambut Lailatul Qadar adalah mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari yang serba materi. Sebuah kondisi kontras di tengah kecenderungan konsumtif menggebu-gebu menjelang hari raya.

Itulah risiko dari penjabaran makna puasa yang bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat di siang hari. Puasa juga pembenahan otak dan hati dari ketimpangan mental akibat situasi sosial, ekonomi, politik, dan segala rutinitas realitas sehari-hari.

Iktikaf dan Lailatul Qadar membenamkan seluruh gemuruh hawa nafsu ke kebeningan kepasrahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Sebuah penempaan rohaniah yang akan menghasilkan spirit simpati, solidaritas, dan apresiasi terhadap keberagaman hidup manusia sekitar. Semakin menumbuhkan cinta kepada fakir miskin, semakin memperbesar pengertian dan pemahaman terhadap segala hal-hal yang berbeda, baik titik tolak maupun aplikasi.

Manusia yang berhasil menyelami hakikat Lailatul Qadar adalah penabur salam (keselamatan), penebar kemurahan berbagi rezeki dan kebutuhan (anith tha’am), serta pembuhul kekuatan jalinan persaudaraan yang universal (wasilatul arham).

Salam, kemurahan, dan silaturahim tanpa batas agama, kepercayaan, ideologi, serta strata sosial, itulah yang dibawa Jibril dan ribuan malaikat yang turun ke Bumi pada saat Lailatul Qadar, mulai dari gelap malam hingga merekah fajar. Itulah pesan yang harus ditindaklanjuti oleh semua orang yang menempuh puasa Ramadhan dan penemu Lailatul Qadar untuk hari-hari dan masa-masa seterusnya.

Kedamaian, kesejahteraan, apresiasi, simpati, dan solidaritas sosial yang menyatu pada watak orang-orang berpuasa, merupakan transformasi Lailatul Qadar. Itulah yang menjadi tujuan puasa Ramadhan dalam membentuk manusia bertakwa, yang siap menjalankan segala perintah Allah SWT, yaitu beriman kepada-Nya dan berbuat bajik serta santun kepada sesama manusia. Sekaligus tentu meninggalkan larangan-Nya, terutama berbuat kerusakan di muka bumi dalam segala format dan jenisnya. ●

Lebaran Kemarau Kebahagiaan

                                Lebaran Kemarau Kebahagiaan

Yudi Latif  ;   Pemikir Kenegaraan dan Kebangsaan
HALUAN, 25 Juli 2014



Seorang sahabat memohon pada pem­bantunya, “Tolonglah, Lebaran ini tak perlu mudik. Giliran saya pulang kampung. Nanti saya lipatkan gajimu.” Sang pembantu berka­ta, “Maaf tuan, saya tak mau.” Sang majikan masih merayu, “Sudah dua puluh lima tahun saya tak pulang, sedangkan kamu setiap tahun.” “Tapi, tuan bisa berbahagia setiap hari, sedangkan kebahagiaan saya hanya setahun sekali.”

Inikah gerangan yang mem­buat antrean panjang para pemudik bersepeda motor, bertaruh nyawa arungi medan hambatan, kemacetan, dan risiko kecelakaan? Apakah kehidupan Ibu Kota sebagai “ibu harapan” mengalami paceklik ke­ba­hagiaan?

Adalah William James yang menyatakan bahwa kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang. Juga dalam kehidupan beragama. Keba­hagiaan yang dirasakan orang dalam keyakinannya, dijadikan bukti kebenarannya.

Pencapaian kebahagiaan tertinggi, ujar Viktor Frankl, bukanlah dalam keberhasilan, melainkan dalam keberanian untuk menghadapi kenyataan. Berbeda dari Freud yang menjang­karkan kebahagiaan pada kenik­matan-seksual, dan Adler pada kehendak untuk berkuasa, Frankl percaya pada kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning) sebagai sumber kebahagiaan tertinggi.

Tetapi apa artinya makna hidup jika kenyataan sehari-hari senantiasa dirundung kemiskinan, kekalahan per­saingan, pungutan liar, ketidak­pastian hukum, tipu daya partai politik yang sekadar rajin kibarkan bendera tanpa keter­libatan di akar rumput, serta para pemimpin yang ke­pe­du­liannya se­batas menaik­kan gaji dan harga tanpa kesang­gu­pan me­mulih­kan hara­pan.

Dalam kesulitan menemukan makna hidup ke depan, orang-orang akan mencarinya dengan berpaling ke bela­kang. Kepu­langan ke kampung hala­man dengan segala klange­nannya sambil merembeskan rezeki pada akar jati diri merupakan meka­nisme katarsis demi mengisi kekosongan makna hidup.

Demikianlah, mudik Lebaran merupakan peristiwa yang amat heroik. Kalah dalam hidup, berani menghadapi kenyataan. Tak seberapa rezeki ter­kumpul, gembira berbagi pada sesama. Kegagalan negara menyediakan ke­rangka solidaritas fungsional bagi redis­tribusi kekayaan hingga ke perdesaan, tertolong oleh heroisme korban-korban pem­bangunan yang dengan soli­daritas emosio­nalnya mampu membawa balik nutrisi ke akar.

Drama ini tidak berhenti di situ. Partai politik dan pemimpin pemerintahan yang mestinya menjadi wahana penguatan solidaritas fungsional lewat perundangan dan kebijakan negara yang berorientasi kese­jahteraan dan pemerataan, justru lebih berintervensi secara ad hoc dalam bentuk-bentuk solidaritas emosional-karitatif. Partai dan pemimpin politik yang dalam kinerja institusionalnya lebih berpihak pada kepentingan korporatokrasi, berlomba menge­sankan populismenya secara aji mumpung seperti lewat Tarawih keliling atau bantuan terbatas kepada para pemudik.

Masih bagus, jika usaha meraih du­ku­ngan dari para kor­ban pem­ba­ngu­nan ini m­asih se­na­pas de­ngan se­mangat Idul Fitri. Semangat I­dul Fitri ada­­­lah semangat per­saudaraan u­ni­­ver­sal, bah­­wa setiap anak ma­nusia terlahir da­lam “ke­jadian asal yang suci”.

Da­­lam ke­fit­rahan ma­nu­sia,Tuhan tidak pernah partisan-memihak seseorang atau golo­ngan tertentu-melainkan kualitas keberserahan diri dan amal salehnya. Oleh karena itu, atas nama semangat Idul Fitri, semoga pemimpin politik tidak mengor­bankan para korban ini dengan mengadunya di altar pil­pres, atas nama ideologi komu­nalistik, demi kepentingan elitis.

Sebaliknya, dengan semangat Idul Fitri, semoga kasih ketu­hanan merembesi jiwa-jiwa suci ini, mengisi relung jiwa politik yang memung­kinkan suara kasih dan etik bergema dalam kehi­dupan bangsa.

Hanya dengan kemam­puan memulihkan kebai­kan cinta-kasih dan cinta-moralitas, kepadatan ber­ibad­ah selama Ramadan bisa meng­hadirkan kemenangan sejati.
Nabi Muhammad bersabda, “Maukah aku tunjukkan perbua­tan yang lebih baik daripada puasa, salat, dan sedekah? Kerjakan kebaikan dan prinsip-prinsip yang tinggi di tengah-tengah manusia.”

Para pemimpin dituntut untuk mawas diri. Dalam terang mawas diri ini, akan tampak bahwa kesulitan warga mencari kebaha­giaan disebabkan oleh tabiat para pemimpin yang melupakan (tak mensyukuri) kebahagiaan, karena rangkaian panjang keinginan yang tak pernah berakhir.

Sa’di berkisah, “Seorang raja yang rakus bertanya pada seseorang yang taat tentang jenis ibadah apa yang paling baik. Dia menjawab, ‘Untuk Anda, yang paling baik adalah tidur setengah hari sehingga tidak merugikan atau melukai rakyat meski untuk sesaat.”

Adalah tugas para pemimpin untuk menciptakan surga di dunia dengan memulihkan kebahagiaan rakyatnya. Dunia dapat menjadi surga, ketika kita saling mencintai dan mengasihi, saling melayani, dan saling menjadi sarana bagi pertum­buhan batin dan keselamatan. Dunia juga bisa menjadi neraka jika kita hidup dalam rongro­ngan rasa sakit, pengkhianatan, kehilangan cinta, dan miskin perhatian.

Thich Nhat Hanh, dalam The Miracle of Mindfulness, me­ngisahkan seorang raja yang selalu ingin membuat keputusan yang benar mengajukan perta­nyaan kepada seorang biksu. “Kapan waktu terbaik menger­jakan sesuatu? Siapa orang paling penting untuk bisa bekerja sama? Apakah perbuatan terpenting untuk dilakukan sepanjang waktu? Biksu itu pun menjawab, “Waktu terbaik adalah sekarang, orang ter­penting adalah orang terdekat, dan perbuatan terpenting sepanjang waktu adalah mem­beri kebahagiaan bagi orang sekelilingmu.”

Dengan “lebaran” (kepur­naan), semoga musim kemarau kebahagiaan berakhir. Dengan kembali rahim fitri, semoga bisa kita suburkan kembali pohon kebahagiaan! ●