Jumat, 27 Mei 2016

Menyiapkan Generasi Y dan Z untuk Presiden 2045

Menyiapkan Generasi Y dan Z untuk Presiden 2045

Suko Widodo  ;    Dosen FISIP Universitas Airlangga;
Pengurus Koalisi Kependudukan Jawa Timur
                                                        JAWA POS, 26 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SERATUS Tahun Indonesia Merdeka (2045), diprediksi negara ini bakal berjaya dan berkemakmuran. Prediksi yang sejatinya lebih bermuatan ”klaim” itu memang diperlukan sebagai upaya mendorong arah pengelolaan negara agar lebih jelas.

Jika 100 tahun setelah merdeka, atau 20 tahun lagi Indonesia Berjaya, diperkirakan pula presiden yang memimpin adalah generasi yang saat itu berusia 45 sampai dengan 55 tahun. Mereka, para pemimpin Indonesia 2045, berasal dari mereka yang terlahir pada 1990–2000.

Dalam teori generasi, mereka sangat mungkin masuk kategori generasi Y dan Z. Sebuah generasi yang saat ini tengah hidup dalam kebudayaan teknologi komunikasi interaktif.

Menurut teori generasi, ada lima generasi yang lahir setelah Perang Dunia Kedua dan berhubungan dengan masa kini. Pertama, generasi baby boomer (lahir 1946–1964), sebuah generasi yang lahir setelah Perang Dunia II.

Mereka memiliki banyak saudara karena banyaknya pasangan yang berani mempunyai banyak keturunan. Generasi yang adaptif, mudah menerima, dan menyesuaikan diri.

Dianggap sebagai orang lama yang mempunyai pengalaman hidup. Kedua, generasi X (lahir 1965–1980), sebuah generasi terlahir di era awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, TV kabel, dan internet.

Penyimpanan datanya pun menggunakan floppy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa itu. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Jane Deverson, sebagian generasi tersebut memiliki tingkah laku negatif.

Misalnya, tidak hormat kepada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja. Ketiga, generasi Y (lahir 1981–1994) yang dikenal sebagai generasi millennial atau milenium.

Ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi tersebut menggunakan banyak teknologi komunikasi instan seperti e-mail, SMS, instan messaging, dan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Mereka juga suka main game online.

Keempat, generasi Z (lahir 1995–2010) yang disebut juga sebagai i-generation, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu.

Mislanya nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik dengan menggunakan headset. Apa pun yang dilakukan, kebanyakan, berhubungan dengan dunia maya.

Sejak kecil mereka mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Kelima, generasi alpha (lahir 2011–2025), yakni generasi yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y.

Generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata memiliki orang tua yang kaya.

Kondisi Indonesia Terkini
Saat ini pemimpin atau petinggi di Indonesia didominasi para generasi X. Sementara itu, generasi Y dan Z yang kelak memimpin Indonesia Berjaya saat ini masih berproses mencari jati diri.
Dan, menggeliat untuk mencari kemapanan dalam bidang pekerjaan maupun pribadi. Tetapi, pertanyaan yang kemudian muncul: apakah yang mesti dilakukan generasi Y dan Z yang saat ini berusia kisaran 10 sampai dengan 20 tahun jika nanti pada 2045 menjadi pemimpin Indonesia
Apakah generasi Y dan Z yang hidup dalam dunia maya dengan teknologi komunikasi canggih benar-benar bisa membawa kejayaan Indonesia? Salah satu titik lemah dari generasi calon pemimpin 2045 adalah sikap-sikap individualistisnya, sebagai implikasi dari kebudayaan teknologi komunikasi.
Teknologi yang berimplikasi pada dua dimensi: di satu sisi bisa mendekatkan yang jauh, tetapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Padahal, memimpin Indonesia memerlukan pribadi yang mumpuni dengan beban penduduk yang terus bertambah.
Sementara itu, pertambahan penduduk Indonesia yang kini diperkirakan mencapai 256 juta jiwa pastilah melahirkan permasalahan yang sangat kompleks. Pertumbuhan penduduk yang terus bergerak, persebaran yang tidak merata (terkonsentrasi 50 persen di Pulau Jawa), permasalahan infrastruktur yang tidak merata, tingkat kesehatan rendah, serta pendidikan yang masih memprihatinkan, merupakan sebuah situasi yang agak tidak mendukung lahirnya generasi berkualitas.
Belum lagi hiruk pikuk perpolitikan sebagai pusat kebijakan nasional yang belum stabil yang kian menambah keraguan berjayanya Indonesia pada 2045.
Tugas Mengelola Penduduk

Sejajar dengan lahirnya generasi-generasi baru, di Vietnam yang usianya relatif lebih muda dari Indonesia telah menyiapkan dengan sungguh-sungguh. Para pelajar mulai dilibatkan dalam memahami dan mencarikan solusi atas problematika kependudukan.

Anak-anak sekolah diajari tentang sikap membantu warga lain, konsep berkeluarga maju, serta difasilitasi ruang berkomunikasi untuk menyampaikan aspirasi. Tanpa bermaksud menyindir cara Indonesia untuk menyiapkan generasi penerusnya, seyogianya pemerintah bersungguh-sungguh memikirkan dan menyiapkan mereka.

Karakter generasi Y dan Z seharusnya diperlakukan sesuai dengan karakternya. Ketersediaan teknologi yang menjadi ”kawan” keseharian mereka hendaknya dilengkapi dengan isian pesan berkualitas.

Sejauh ini, perangkat teknologi komunikasi informasi yang dipegang anak-anak Indonesia ”tidak terkontrol” dan tidak disediakan elemen pendamping memahami risiko sarana komunikasi tersebut. Akibatnya, generasi itu dipenuhi dengan pesan-pesan yang tidak layak untuk kualitas kehidupan.

Memberikan peran sesuai dengan karakter mereka adalah jawaban idealnya. Negara sudah seharusnya membuat kebijakan pendidikan berkehidupan bersama demi menuju kehidupan berkualitas. ●