Tampilkan postingan dengan label Abdul Rokhim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Rokhim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Merasakan Krisis Ekonomi di Spanyol (2)

Merasakan Krisis Ekonomi di Spanyol (2)
Abdul Rokhim ; Wartawan Jawa Pos
JAWA POS, 19 Juli 2012


Ada satu yang dipunyai Spanyol dan tidak dimiliki negara Eropa lain yang sedang dirundung krisis, yakni raja. Sayangnya, alih-alih menjadi panutan dan pemberi solusi, Raja Spanyol Juan Carlos kini justru menjadi sorotan karena tingkahnya.”

JIKA berada di tengah aksi demonstrasi warga Spanyol, selain teriakan sin pan, sin paz (tanpa kesejahteraan, tanpa kebahagiaan), selalu ada teriakan atau spanduk yang mengecam rey atau raja. Misalnya, yang terlihat dalam sebuah aksi di Puerta de Sol, Madrid, kemarin (18/7). Spanduk bertulisan "Who said that someone should be king until death?" dibawa dalam long march menuju gedung parlemen. Itu bisa menjadi indikasi bahwa popularitas pemimpin monarki selama 37 tahun tersebut juga sedang krisis.

Pada 22 November 1975, dua hari setelah wafatnya raja sebelumnya Francisco Franco, Juan Carlos diangkat menjadi raja Spanyol berdasar hukum suksesi yang ditetapkan Franco. Pada awal menjabat, Raja Juan Carlos sukses mengawasi transisi Spanyol menuju ke sistem demokrasi monarki konstitusional. Raja juga semakin disegani ketika dengan berani menghentikan aksi tentara Guardia Civil yang ingin mengembalikan sistem diktator dengan menduduki gedung parlemen pada Februari 1981. Prestasi besar itu membuat Juan Carlos terus mendapat tempat di hati rakyatnya. Bahkan, hingga dua tahun lalu, sensus Madrid Institute menunjukkan bahwa Raja Juan Carlos masih didukung mayoritas rakyat Spanyol.

Lantas, datanglah krisis ekonomi. Menurut Elvira Lindo, jurnalis harian El Pais saat ditemui di kantornya, kesulitan hidup akibat kenaikan pajak dan pemangkasan biaya bonus untuk pegawai pemerintah membuat media dan publik Spanyol mulai peduli dengan berita-berita dari balik tembok istana. "Sekarang semua orang ingin tahu, untuk apa saja pajak yang mereka bayar lebih mahal," ungkapnya. Dan, mata publik pun terbelalak saat media memuat biaya negara dari pajak yang dihabiskan untuk raja, keluarganya, dan pemeliharaan istana. 

Dalam publikasi yang dilakukan kali pertama dalam sejarah kerajaan Spanyol akhir tahun lalu, terungkap bahwa negara menganggarkan biaya hingga 8,4 juta euro per tahun. Meskipun hanya seperlima dari yang diterima tetangga monarki, Ratu Inggris Elizabeth II, publik marah karena pada tahun yang sama, pemerintah menerapkan aneka pemangkasan biaya untuk mengejar penghematan hingga 65 miliar euro sampai 2014. Akibat pengetatan fiskal tersebut, uang pensiun dipotong 20 persen, pajak penghasilan naik menjadi 52 persen bagi yang berpenghasilan di atas 300.000 euro per tahun, serta pemotongan anggaran 10 miliar euro ke sektor pendidikan dan kesehatan. "Rakyat menilai Mariano Rajoy (perdana menteri Spanyol) memberi keistimewaan berlebihan kepada raja," ujar Elvira.

Terhadap respons publik yang prihatin atas biaya yang dihabiskan keluarganya, Raja Juan Carlos justru tak peduli. Pada awal April lalu, raja malah melakukan safari berburu gajah di Botswana, Afrika. Liburan mewah itu dilakukan diam-diam dan baru terungkap setelah Raja Carlos menderita cedera. Langkahnya tersandung hingga mengalami patah tulang pinggul yang membuatnya diterbangkan kembali ke Madrid untuk menjalani operasi. Investigasi Elvira dan media Spanyol menemukan biaya untuk acara safari tersebut mencapai 50 ribu euro. "Sejak kejadian liburan mengerikan itulah, simpati rakyat Spanyol ke raja merosot. Apalagi skandal baru yang menyeret anggota keluarga kerajaan terus bermunculan," ungkapnya.

Sebelumnya, menantu kesayangan raja, Inaki Urdangarin, menjadi tersangka dalam kasus korupsi. Dia dituduh menggunakan posisinya untuk menggelapkan beberapa juta euro dalam kontrak dengan sebuah yayasan nonprofit. Lalu, pada Paskah lalu, cucu raja yang berusia 13 tahun menembak dirinya di kaki dengan senapan. Padahal, hukum Spanyol melarang penggunaan senjata di bawah usia 14 tahun atau ayah si anak akan menghadapi denda.

Merosotnya citra itu akhirnya disadari raja. Setelah cedera pinggulnya sembuh, raja meminta maaf kepada rakyatnya melalui televisi nasional. "Saya jauh lebih baik, saya sangat menyesal. Itu merupakan kesalahan dan tak akan saya ulangi lagi," ujar raja akhir April. 

Apakah permintaan maaf itu memulihkan citra raja? Dengan cepat Elvira menjawab tidak. "Rakyat sudah melihat beberapa kali raja mereka mengingkari pernyataannya sendiri," jawabnya. Sebelum skandal berburu terungkap, Raja Juan Carlos meminta para pemimpin Spanyol memberikan contoh yang baik dalam pesan Natal tahunannya. Saat itu, raja berumur 74 tahun itu mengatakan kadang tak bisa tidur karena khawatir dengan masalah pengangguran pemuda di Spanyol. 

Sementara itu, rekan Elvira, Carmen Enríquez yang banyak melakukan repotase dari pengadilan, menilai apa yang dilakukan Juan Carlos selama ini belum cukup meyakinkan. "Di televisi nasional dia mengucapkan maaf dengan wajah datar tanpa ekspresi, seperti anak nakal yang meminta maaf ke ibunya," ujarnya. Enríquez menilai, rakyat meminta sebuah langkah nyata dari raja untuk membantu mereka lepas dari krisis.

Akhirnya, desakan kuat publik membuat kerajaan mengalah. Raja Spanyol Juan Carlos dan keluarganya mengalami pemotongan gaji oleh pemerintah kemarin. Raja Juan Carlos akan menerima pengurangan penghasilan 20.900 euro per tahun. Putra dan ahli waris takhta, Pangeran Felipe, akan mengalami pemotongan gaji sekitar 10.500 euro. Anggota keluarga lain, seperti Ratu Sofia dan Putri Leticia, istri Felipe, juga akan menerima uang lebih sedikit dari anggaran. 

Bagaimana tanggapan atas pemotongan gaji raja tersebut? Sebuah tulisan penulis terkenal Rosa Montero di kolom harian terbesar Madrid El Mundo edisi kemarin menyatakan, krisis ekonomi memang bukan waktu yang tepat untuk mengubah sistem. Namun, banyak kejadian krisis yang menggeser penguasa. Karena keberadaan monarki dan hak-haknya dilindungi undang-undang, Montero mengusulkan adanya petisi bersama seluruh rakyat Spanyol untuk mendesak Juan Carlos menyerahkan mahkota kepada putranya, Felipe. Jika gerakan Montero itu terwujud, krisis ekonomi di Spanyol sudah menggedor pintu istana.
 

Rabu, 18 Juli 2012

Merasakan Krisis Ekonomi di Spanyol (1)


Merasakan Krisis Ekonomi di Spanyol (1)
Abdul Rokhim ; Wartawan Jawa Pos
JAWA POS, 18 Juli 2012


PANAS terik langsung menyambut di Plaza de Sol, jantung Kota Madrid, akhir pekan lalu. Dengan sistem transportasi Spanyol yang ditata luar biasa, perjalanan dariairport di pinggir Kota Madrid ke pusat kota yang berjarak 32 km sepenuhnya dilakukan di bawah tanah melalui kereta api cepat Metro. 

Jadi, begitu keluar dari stasiun di tengah plaza (semacam alun-alun), ada sensasi luar biasa. Selain panas dan keramaian orang yang berlalu-lalang, pandangan langsung tertambat ke berbagai aktivitas atraksi akrobat, sulap, musik, dan akhir-akhir ini marak juga demonstrasi. Plaza de Sol betul-betul seperti panggung besar tempat semua orang berekspresi.

Seperti yang dilakukan di Athena dan Roma, kamar berbujet rendah menjadi target pertama untuk didapat di Madrid. Jika ''pos komando (posko)'' itu sudah didapat, aktivitas lain seperti interview dan observasi kota bisa dilakukan dengan tenang. Berbeda dari dua negara sebelumnya, Yunani dan Italia, mengontak kantor perwakilan Indonesia di Spanyol sangat sulit. Seluruh kontak nama yang diberi kolega diplomat di Yunani dan Italia gagal dihubungi. Jadi, kedatangan di Spanyol ini tanpa referensi terbaru. 

Untunglah, kesulitan pada awal itu membawa hikmah. Dengan mencari informasi sendiri terkait dengan kota dan masyarakatnya, potret tentang dampak krisis ekonomi di Spanyol bisa lebih banyak didapat.

Seperti Italia, Spanyol sebelumnya termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa. Setelah masa pemerintahan diktator pada 1980-an, Spanyol berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada 1990-an seiring dengan boom binis kontruksi saat itu. Karena itu, saat awal tahun lalu diumumkan bahwa pemerintah sulit membayar utang hingga 65 miliar euro, banyak rakyat Spanyol yang tak percaya. Namun, setelah dua kali kuartal pertumbuhan ekonomi negatif, hari demi hari, rakyat akhirnya bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Jika satu kuartal ini pertumbuhan ekonomi kembali negatif, secara teknis Spanyol telah dilanda resesi dan siap menerima dana talangan seperti Irlandia, Portugal, serta Yunani.

Golongan masyarakat kelas menengah menjadi korban paling telak kinerja ekonomi yang menukik tajam ini. Salah satu di antara mereka adalah Leona Gonzales. Ditemui di tourist information di Plaza de Mayora, Leona yang sedang membagikan brosur informasi tentang tujuan wisata di Spanyol tersebut mengaku hidupnya mulai berubah. ''Misalnya, musim liburan ini kami memutuskan tidak ada liburan dan ini sudah tahun kedua keluarga kami tidak berlibur,'' ungkap Leona yang mengaku umurnya belum lebih dari 40 tahun.

Sebelum 2010, Leona yang tinggal di Fluenlabrada, sebelah selatan Madrid, tersebut mengungkapkan bahwa hidupnya cukup nyaman. Dia mengelola sebuah toko sepatu di kawasan belanja turis di Lacantara, sedangkan suami dan anak laki-lakinya bekerja di bidang konstruksi. Namun, dalam tempo hanya dua tahun, satu per satu sumber pemasukan keluarga itu hilang.

Yang pertama lepas adalah toko sepatu yang dikelola Leona sendiri. Melayani segmen pasar menengah ke atas, penjualan sepatu di toko Leona terus menurun. ''Saya semula tidak khawatir karena suami dan anak-anak masih bekerja. Saya pikir, perlu break sebentar untuk persiapan membidik segmen baru,'' ujarnya. 

Ternyata, Leona salah perhitungan. Upayanya untuk mencari tambahan modal ke berbagai bank ditolak. Tampaknya, pemerintah mulai menerapkan program pengetatan, sehingga bank memilih mengerem kredit daripada membiayai usaha yang berisiko.

Di tengah upaya untuk merombak tokonya itu, datanglah kabar bahwa suami dan anaknya di-PHK. Krisis, rupanya, juga mulai menerpa sektor properti. ''Saat suami saya menyampaikan dua tahun lalu, saya seperti terbangun. Ternyata, kondisi sudah demikian buruk,'' ungkapnya. 

Kondisi itulah yang memaksa dirinya menerima pekerjaan part time sebagai staf tourist information untuk mendapat tambahan penghasilan. ''Setiap bulan saya harus menyediakan minimal dana 500 euro untuk membayar listrik dan tagihan gas. Makan sehari-hari menjadi tanggung jawab suami saya,'' terangnya. 

Leona menyatakan, dirinya juga mendapat sedikit bantuan dari orang tua. ''Keluarga saya selalu siap jika saya mengalami kesulitan. Tapi, adanya skema pensiun baru membuat saya tidak tega untuk meminta kepada mereka lagi,'' katanya.

Keputusan pemerintah Spanyol di bawah pimpinan Mariano Rajoy untuk menghemat hingga 65 miliar euro membuat alokasi dana pensiun harus dipangkas. ''Ibu saya baru telepon kemarin bahwa dana pensiun yang mereka terima dipotong dari semula 2.500 euro, mulai bulan ini tinggal 850 euro,'' cerita Leona.

Mau tidak mau, agar bisa tetap survive hidup di Madrid, keluarga Leona harus mencari tambahan nafkah sebisa-bisanya. Dari menjadi staf badan pariwisata Madrid, dia mendapat 200 euro per bulan. Ditambah pendapatan suaminya yang kini menjadi tenaga kebersihan di taman kota, ada pemasukan 400 euro. ''Jadi, uang kami tersisa hanya 100 euro untuk makan. Jauh dari cukup,'' tegasnya.

Beruntung, anak tertua mereka bersedia menyisihkan sebagian gajinya sebagai teknisi komputer. ''Jadi, kami bertahan dengan kekompakan keluarga serta berhemat seketat mungkin,'' ujarnya.

Leona mengungkapkan, berhitung soal uang setiap hari adalah kebiasaan baru warga Madrid. Sebelumnya, membicarakan uang merupakan hal tabu. ''Sekarang saya dan suami selalu saling memberi tahu berapa sisa simpanan yang kami miliki,'' ungkapnya. 

Leona melihat hal itu juga dilakukan teman-temannya. ''Kami harus belajar ekonomi setiap hari sekarang. Pelajaran sangat sulit namun harus dipahami,'' tegasnya. ●

Selasa, 17 Juli 2012

Merasakan Krisis Ekonomi di Italia


Merasakan Krisis Ekonomi di Italia
Abdul Rokhim ; Wartawan Jawa Pos
JAWA POS, 17 Juli 2012

SEPERTI di Yunani, penyerapan tenaga kerja muda di Italia terus melemah. Kini perusahaan di Italia yang 90 persen berjenis usaha kecil dan menengah (UKM) lebih suka merekrut kalangan keluarga daripada tenaga segar yang baru lulus dari sekolah.

Catatan terbaru biro statistik Eropa (Eurostat) per Juni 2012 menunjukkan, lebih dari seperempat -tepatnya 28 persen-angkatan kerja yang berusia 16 hingga 24 tahun di Italia menganggur. Dibandingkan dengan dua negara senasib, Yunani dan Spanyol, tingkat pengangguran angkatan kerja muda Italia memang lebih rendah. 

Di Yunani, 43 persen anak muda usia 16-24 menganggur. Di Spanyol lebih mengenaskan lagi, 51,4 persen pemuda jobless. Cerita tentang lost generation (generasi yang hilang) akan menjadi skandal terbesar baru di Benua Eropa.

Di Italia, krisis yang dimulai pada 2009 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Lalu, datanglah generasi muda. Bagi gelombang baru angkatan kerja tersebut, mendapatkan makanan dan sedikit kesenangan bukan lagi hal mudah. Padahal, itu adalah hal pokok yang harus dilakukan saat muda. Namun, karena negara mengetatkan anggaran dan pertumbuhan ekonomi zona Eropa diprediksi menyusut 0,5 persen tahun ini, masa depan tersebut terlihat suram.

Michelle Cirioni, 24, jurnalis radio di Roma, adalah salah satu contoh anak muda Italia yang berada di tengah pusaran putaran puting beliung krisis itu. Di gerai makanan cepat saji yang menghadap Plaza de Fontana, dia menceritakan, beberapa hari setelah pelantikan, Perdana Menteri (PM) Mario Monti pernah menjanjikan akan memprioritaskan penciptaan lapangan kerja bagi anak muda. "Kemurungan kalian akan segera berakhir," ucap Michelle menirukan pidato PM yang oleh media Jerman dijuluki Super Mario itu.

Bagi Michelle, dalam praktiknya, melalui program pengetatan anggaran, ucapan Monti lebih terdengar bahwa kemurungan baru saja dimulai. "Monti menjanjikan dana 30 miliar euro untuk lapangan kerja, namun karena diambil dari kenaikan pajak dan pemotongan upah pekerja, justru banyak perusahaan tutup dan tak ada kerja buat kami," papar Michelle tentang kosongnya janji pemerintah.

Michelle lahir di Civita Castellana, 65 kilometer di utara Roma. Sejak Perang Dunia II berakhir, 90 persen penduduk Civita Castellana bekerja sebagai perajin keramik untuk kamar mandi dan ornamen bangunan. Jika pebisnis, pemerintah, dan akademisi mendefinisikan krisis sebagai tekanan anggaran oleh utang sejak tiga tahun lalu, penduduk Civita Castellana merasakan krisis dua tahun lebih awal. Krisis bagi mereka adalah membanjirnya produk keramik Tiongkok yang bentuknya serupa namun menawarkan harga lebih murah. 

Dalam ingatan Michelle, pada 2007 ekonomi mulai suram di kampung halamannya. "Mulai tahun itu banyak pabrik yang tutup dan ratusan tenaga kerja lokal kehilangan pekerjaan," ungkapnya. 

Michelle beruntung karena keluarganya tidak terkena dampak langsung dari krisis. Ayahnya dokter dan ibu bekerja di rumah. "Namun, saya tetap tak senang karena bisnis beberapa keluarga dari paman dan saudara jauh berakhir," ujarnya. Karena itu, sejak lulus dari Giuseppe Colasanti High School pada 2005, Michelle memutuskan tidak membebani keluarga dengan merantau ke Roma.

Setelah bekerja serabutan dua tahun, Michelle yang memiliki bekal kemampuan bahasa Inggris diterima menjadi penyiar radio FM milik yayasan gereja di Roma. "Gaji dari penyiar radio milik gereja tidak pernah cukup, bahkan untuk biaya hidup minimal," ungkapnya. 

Kondisi Michelle mulai membaik saat bekerja part time di radio swasta yang berpusat di London. Dengan menjadi koresponden di Roma, Michelle mendapat tambahan pemasukan. "Saat ini saya bekerja 15 sampai 20 jam per pekan dan saya mendapat 200 euro (sekitar Rp 2,4 juta) per bulan," ungkapnya.

Cukup? Untuk urusan makan, minum, dan sewa kamar memang sudah beres. Tapi, dia butuh pemasukan lebih banyak untuk mengejar mimpinya menjadi artis. "Saya butuh satu pekerjaan lagi untuk membayar sekolah teater, kalau bisa yang terkait dengan kegiatan seni," tutur Michelle. Sayang, di tengah turbulensi ekonomi, banyak kegiatan seni dan festival yang dibatalkan di Roma. Itu sangat mengkhawatirkan Michelle. Sebab, dengan festival lebih sedikit, makin rendah pula gaji untuk seorang pekerja seni, apalagi untuk seorang artis baru.

Dalam tempo dua hari, empat di antara enam pemuda yang di-interview                                   mengungkapkan suramnya masa depan mereka. Adriana Rossitto, lulusan jurusan human biology, mengungkapkan bahwa dirinya semakin membenarkan ledekan temannya bahwa bercita-cita menjadi peneliti di Italia adalah bunuh diri. 

Bekerja sebagai tenaga paro waktu di Bambino Gesu Hospital, Roma, semula memberikan harapan bahwa seiring dengan masa tugas, suatu saat dia diangkat menjadi peneliti penuh. Pelan tapi pasti, harapan Adriana menguncup saat membaca koran bahwa program pengetatan anggaran membuat dana research                           semakin dipangkas. "Sekarang saya bekerja 12 jam per pekan. Saya dapat gaji karena ada dokter yang saya kenal menjadi pejabat di rumah sakit. Tapi, gaji itu tak pernah bisa buat beli alat dasar penelitian." 

Berikutnya ada Penelope Stentella, disk jockey (DJ) di kelab malam di kawasan hiburan malam di sekitar kawasan Universitas San Lorenzo, Roma. Krisis membuat satu demi satu kelab malam tutup. "Orang-orang semakin berhemat. Mencari hiburan dilakukan setelah mereka makan dan ada uang sisa. Kini sebagian pelanggan mengaku sebelum akhir bulan uang sudah habis. Tak ada uang untuk ke kelab," jelasnya. 

Michelle, Adriana, dan Penelope memang tidak bisa disebut mewakili pemuda Italia. Namun, mereka bersama jutaan yang lain membentuk mozaik wajah satu angkatan generasi penerus Italia. Yakni, generasi yang hadir pada waktu yang salah. Generasi yang terancam hilang.

Senin, 16 Juli 2012

Merasakan Krisis Ekonomi di Italia

Merasakan Krisis Ekonomi di Italia
Abdul Rokhim ; Wartawan Jawa Pos
JAWA POS, 16 Juli 2012


Dunia memang cemas saat Yunani terjerat krisis. Namun, dunia lebih waswas saat masalah yang sama menyerimpung Italia. Sama-sama bersumber pada utang yang gagal bayar, tapi utang Yunani hanyalah bukit landai jika dibandingkan dengan gunung utang yang harus ditanggung Italia. Namun, karena punya semangat keluarga, gunung utang itu hanya dilihat seperti bukit landai oleh rakyat Italia.”

Lalu lintas di depan Roma Termini, stasiun kereta dan bus terbesar di Roma, Kamis (12/7) siang itu sangat ramai. Selain penumpang rutin, yakni para pekerja, pedagang, dan pelajar, rombongan turis juga mendominasi orang yang naik dan turun dari kereta dan bus.

Ya, Roma memang berbeda dengan Athena. Kemurungan memang ada, tapi lebih samar. Warga dan pedagang masih terlihat bersemangat. Baru jika sudah diajakngobrol, keluar semua keluhan mereka. "Apa yang Anda harapkan di Roma? Semua harga mahal, sementara kami harus menerima kenyataan bahwa sumber pendapatan berkurang. Semoga ini semua cepat berlalu," ujar Alessandro Sacco, 52, pemilik Hotel Orlando, saat penulis mengeluhkan tarif yang ditetapkannya.

Pendapatan apa yang berkurang? Sebagaimana Yunani, Italia harus menjalankan kebijakan fiskal yang berdisiplin tinggi (austerity fiscal policy) dengan tujuan memangkas belanja pemerintah sebesar-besarnya. Pada umumnya, negara-negara Eropa menerapkan kebijakan welfare state sehingga standar hidup mereka lebih tinggi daripada negara-negara besar di benua lain, khususnya Amerika Serikat (AS). Dengan haluan negara seperti itu, pemerintah negara-negara di Eropa harus menyediakan fasilitas yang lebih besar bagi para pensiunan, belanja kesehatan, dan santunan bagi penganggur. Itu semua membebani APBN.

Ketika tumpukan masalah tersebut semakin besar, negara meng­alami akumulasi utang yang tinggi. Kini Italia dan Yunani harus mengerem "belanja sosial" atau memangkas subsidi kepada warga negaranya. Ikat pinggang harus diperketat. Solusi itu pasti menyakitkan. Itulah yang dikeluhkan Alessandro.

Dengan empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan, pria yang dua tahun lalu jadi pensiunan pegawai kantor pos tersebut kini menggantungkan hidupnya dari pengelolaan 20 kamar hotel yang dimilikinya. "Musim panas seperti ini, turis memang banyak. Tapi, kami harus mengantisipasi datangnya musim sepi," ungkap Alessandro yang selalu menyapa dan menemani ngobrol para tamunya saat sarapan. Agar pemasukan maksimal, Alessandro mengajak dua anak terbesarnya bergabung. Si sulung laki-laki bertugas menjadi doorman (penyambut tamu), sedangkan anak perempuan terbesarnya mengorganisasi masalah dapur, laundry, dan kuliner. "Selain layanan terjaga, dengan tenaga kerja dari keluarga, urusan operasional juga lebih efisien," tambahnya.

Bisnis keluarga itu memang menjadi benteng perekonomian terkuat Italia saat digempur krisis. Italia kini harus menanggung utang yang setara dengan produk domestik bruto (PDB)-nya, sekitar USD 2 triliun. Dengan utang Yunani yang "hanya" sekitar USD 330 miliar, skala krisis utang Italia jauh lebih besar. Dengan tingkat kegawatan yang lebih tinggi itu, seharusnya tingkat stres warga Italia bisa lebih parah. 

Namun, menyusuri pusat turis di Colloseum, pusat penjualan barang mewah Via del Babuino dan Via Condotti, hingga daerah-daerah pinggir seperti Velle Santa dan Casalotti, dalam pandangan mata, semua berjalan normal. Bahkan, beberapa kawasan seperti Babuino dan Condotti malah bergairah dengan diadakannya programsale besar-besaran. "Semua itu karena orang Italia selalu punya harapan tersisa, yakni keluarga. Jika punya utang tak terbayar atau ada konflik dengan rekan bisnis, keluarga lebih cepat menyelesaikan daripada pengadilan," ujar pengusaha Angela Salina, pemilik beberapa butik brand internasional di Condotti.

Bisnis keluarga juga menyisakan harapan bagi Italia. Sebab, dengan pola kepemilikan bersama, tingkat tabungan masyarakat (domestic saving rate) di Italia tinggi. Selain itu, Italia memiliki kawasan industri di wilayah utara yang termasuk salah satu daerah terkaya di Eropa. "Kami selalu yakin bahwa Italia akan segera bangkit. Sebab, mereka selalu ada yang mendukung. Katakanlah punya utang 1 juta euro, dia akan bisa pulang ke keluarga besarnya yang memiliki sebidang tanah di belakang rumah yang jika dijadikan uang nilainya jauh di atas 1 juta euro," ungkap Angelina.

Angelina yang dibesarkan oleh bisnis keluarga di Florence itu mengungkapkan, keluarga adalah urat nadi bagi bisnis di Italia. Bagi keluarga di Italia yang memiliki bisnis, ada pembagian peran yang jelas. "Yakni, ayah sebagai pelaksana (pelaksana, sales, pengatur stok, dan juru bicara), ibu sebagai akuntan, dan anak tertua seperti saya harus mengambil kursus bisnis di University of Florence untuk membawa modernisasi ke perusahaan," jelas anak tertua keluarga pengusaha pabrik tekstil itu. 

Dengan formasi demikian, Kota Florence dikenal sebagai tempat asal perusahaan kelas dunia yang berbasis bisnis keluarga. Misalnya, di bisnis anggur ada nama Frescobaldi dan Antinori yang berproduksi sejak 1308. Selain itu, ada produsen brand fashion terkemuka Ferragamo Group, pematung Romanelli, dan Roberto Cavalli, pemilik jaringan apotek terkemuka Menarini.

Manajemen apa yang diterapkan sehingga bisnis keluarga di Italia tetap bertahan? Roberto Davide yang dipercaya keluarga memimpin jaringan pizzataria (restoran pizza) Buena Vista mengungkapkan, inti dari bisnis keluarga adalah kepercayaan yang menciptakan efisiensi. "Karena kami percaya, kami bisa fleksibel. Saat omzet sepi seperti saat krisis sekarang, kami bisa memotong gaji karyawan yang anggota keluarga dengan mudah," ungkapnya saat berkunjung ke gerai terbesarnya di kompleks Via Principe Amedeo Roma. Penambahan jam kerja saat hari libur juga bisa ditetapkan secepatnya. Para pegawai kebanyakan berumur 18-20 tahun dan semuanya adalah keponakan Roberto. Karena itu, hampir tidak ada yang membantah.

Kini dengan gerai yang berjalan baik di Roma, Roberto berambisi membuka gerai kedua di tempat lain. "Jika bisa di kota lain, seperti Milan. Kota dengan banyak turis sangat potensial untuk bisnis kami," ujarnya. Dia mengharapkan perekonomian Italia segera membaik. Sebab, hanya itulah satu-satunya cara bagi keluarga Roberto untuk mewujudkan ambisi. "Seperti keluarga saya, saya harap Italia juga satu keluarga. Satu sama lain saling mendukung, terutama dalam masa-masa yang sulit ini," ucap dia. ●

Merasakan Krisis Ekonomi Yunani (2)


Merasakan Krisis Ekonomi Yunani (2)
Abdul Rokhim ; Wartawan Jawa Pos
JAWA POS, 15 Juli 2012


EMPAT tahun sebelum krisis menghantam seluruh negeri, ada satu daerah di Yunani yang memberikan indikasi bahwa perekonomian sudah tidak di jalan yang tepat. Daerah itu adalah Piraeus, sebuah kota pelabuhan yang hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapainya dengan kereta metro dari pusat Kota Athena. Yunani sebelum krisis dikenal sebagai negara produsen kapal terbesar di dunia. Legenda pengusaha kapal Aristotle Onnasis adalah juga keturunan Yunani.

Namun, sejak empat tahun lalu, industri kebanggaan itu berangsur-angsur pudar. Pada 2010, operasi-operasi di galangan kapal utama di Piraeus dijual kepada perusahaan Tiongkok, Cosco, untuk dijadikan pelabuhan kargo yang melayani pengiriman barang impor dari Tiongkok. Qatar yang bergelimang uang juga tak mau kalah dengan Tiongkok. Dengan membawa dana jumbo hingga USD 5 miliar, Qatar menjanjikan sebuah konsep pengembangan infrastruktur pelabuhan dengan nama "Greece the Florida of Europe''. "Pemerintah sudah tidak berdaya. Pelabuhan ini bisa jadi semakin besar, namun kami sekarang tidak bisa bangga. Sebab, bukan kami pengelolanya," ujar Nick Boudas, 54, salah seorang pemilik operator kapal saat ditemui di kantornya Rabu (11/7).

Menurut Nick, selama ini tidak ada aksi penentangan terhadap hadirnya Tiongkok dan Qatar. Sebab, pengusaha dan pekerja di Piraeus paham bahwa tidak ada yang salah dengan investor dari dua negara Asia tersebut. Aksi demo dan sempat mogok bekerja justru dilakukan untuk memprotes pemerintah Yunani. "Kami punya kemampuan, punya armada yang begitu besar, punya teknologi, dan siap mempromosikannya. Namun, semua itu tidak terjadi karena kami tidak punya kemauan politik," keluh Nick.

Tidak hanya pemilik kapal yang kecewa dengan kebijakan pemerintah. Leonidas Polymenokos, 46, pengusaha eksporter dan importer hortikultura, juga menilai bahwa telantarnya ratusan perusahaan galangan kapal di Piraeus disebabkan terlalu banyaknya energi pemerintah untuk mengurus sektor yang bukan unggulan negara. "Negeri ini memiliki hari siang dengan matahari yang bersinar terus selama 300 hari," tegasnya mengawali pembicaraan saat bertemu di Starbuck Coffee di kawasan wisata Plaka, Athena, Rabu (11/7). Dengan kondisi alam demikian, pilihan untuk mengembangkan sektor finansial yang banyak diisi dengan aktivitas perkantoran, di mata Leonidas, kurang tepat. "Bekerja di kantor hanya cocok untuk negara yang memiliki curah hujan tinggi. Kita beda," ujarnya.

Akibat salah prioritas tersebut, sejak sepuluh tahun terakhir, terjadi berbagai dampak yang merugikan. Menurut Leonidas, Kota Athena kini semakin sesak. "Jumlah penduduk meningkat dua kali lipat, para pemuda meninggalkan desa dan pulau- pulau kecil tempat mereka lahir untuk mencari pekerjaan sebagai staf bank, pengacara, artis, dan pialang saham," kata Leonidas.

Kesalahan prioritas itu tidak saja berdampak pada telantarnya sektor-sektor unggulan Yunani yang berbasis alam, tetapi juga mulai mengubah mentalitas warganya. Menurut Leonidas, anak muda sekarang mengambil kredit di bank untuk membeli sepeda motor besar (motor gede), lalu berani bilang dia sudah punya uang. "Di mata saya yang selalu dididik untuk dapat uang dari hasil kerja, itu tindakan gila," sebutnya. Lalu datang, lagi anak muda untuk menawarkan bisnis pasar modal.

"Come on, man! What do you know about the stock exchange? Let's talk about apples and olives!" ujarnya mengulang kata-kata yang dia sampaikan kepada pemuda yang mendatanginya.

Jika Nick Bordis dan Leonidas Polymenekos cenderung menyalahkan pemerintah dan kebijakannya, Dasalakis Theodoros, seorang banker yang ditemui saat makan siang di sebuah cafe di Kolonaki, pusat perkantoran dan gerai produk bermerek di Athena, lebih realistis. "Selama 20 tahun saya bekerja di bank, saya paham bahwa dalam beberapa tahun terakhir, nasabah kami semakin royal meminjam. Sayangnya, juga semakin tidak bijaksana dalam menghabiskannya," ungkapnya. Dengan gaya hidup selera tinggi, warga Yunani kesulitan mengurangi kebiasaan berlibur berhari-hari, belanja baju di butik internasional, atau nongkrong berjam-jam di kafe bersama teman dan keluarga. "Dulu itu tidak masalah, sekarang dengan pensiunan dipotong 20 persen, berbagai dana tunjangan dihilangkan, suka atau tidak, gaya hidup harus menyesuaikan," jelasnya.

Karena itu, Dasalakis termasuk sedikit orang Yunani yang setuju dengan berbagai syarat ketat pemberian bailout oleh Kanselir Jerman Angela Merkel. "Yunani memang butuh krisis seperti sekarang agar sadar. Kita butuh Merkel. Saya harap dia datang menolong tidak hanya dengan segepok uang, namun juga syarat-syarat sulit harus berubah," tambahnya. Selain gaya hidup, krisis diharapkan Dasalakis bisa menghilangkan fakelaki alias uang amplop. Untuk memulai bisnis di Yunani, butuh banyak sekali tanda tangan dan secara tradisional pengusaha harus menyiapkan amplop-amplop uang agar urusan lancar. "Subsidi dan suap seperti lemak ganas yang membuat badan orang Yunani gemuk dan malas. Dengan krisis ini, saya harap semua lemak bisa dihilangkan," ujarnya.

Dalam ulasan di sebuah koran lokal, Theodore Pelagidis, ekonom dari University of Piraeus, mengimbau agar rakyat Yunani memunculkan lagi jiwa Spartan untuk mengakhiri krisis. Spartan berasal dari kata Sparta, nama sebuah wilayah di Yunani yang dulu adalah kampung halaman para pejuang.

Kemenangan heroik bangsa ini saat menghadang invasi  bangsa superpower                                     Persia dalam perang yang dinamai "Battle of Thermipylae" pada 480 sebelum Masehi selalu menyemangati bangsa Yunani hingga sekarang. "Spartan thinking, itu yang kita perlukan. Dengan itu, kita tahan menderita dan tak menyerah mencari jalan keluar," tulis Theodore. 

Dia menyoroti ketidakdisiplinan pengusaha dalam membelanjakan labanya. Tumbuh setahap demi setahap serta melakukan investasi yang rasional yang tidak melebihi kemampuan perusahaan adalah saran-saran Theodore yang diberi highlight oleh koran lokal. "Pengusaha selama ini suka membelanjakan labanya untuk beli kapal pesiar dan vila. Sudah saatnya uang-uang itu dikembalikan ke bisnis agar skalanya membesar," tulis Theodore.