Senin, 23 Mei 2016

Doa Adalah Otak Ibadah

Doa Adalah Otak Ibadah

Agoes Ali Masyhuri ;   Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim
                                                        JAWA POS, 20 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ya Allah, terangilah hati kami yang diliputi kegelapan dengan cahaya kasih-Mu. Anugerahkanlah kami dengan limpahan ampunan dan rahmat-Mu. Ya Allah, naungilah kami dengan rindangnya pohon cinta-Mu dalam balutan kelembutan kasih sayang-Mu.

Ya Allah, tuntunlah mereka yang tersesat dan bingung agar mengenal-Mu. Terangilah hati mereka yang diliputi kegelapan dengan cahaya kasih-Mu.

Peliharalah imanmu dengan memperbanyak sedekah, bentengilah hartamu dengan mengeluarkan zakatnya, dan tolaklah gelombang-gelombang bencana dengan berdoa selalu.

Satu hal terpenting dalam hidup adalah berubahnya diri menjadi lebih baik. Doa yang baik adalah doa yang menjadikan seseorang lebih baik dalam hidupnya.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Doa adalah otak ibadah (HR Tirmidzi).’’

Penting kita yakini karena keyakinan melebihi dari ilmu pengetahuan bahwa Allah senantiasa mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan.

Allah SWT berfirman, ’’Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al-Baqarah: 186).’’

Mengapa pada ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk berdoa? Bukankah Dia mahatahu kebutuhan dan harapan kita, bahkan lebih tahu daripada diri kita sendiri? Di sini, ada empat alasan:

Pertama, doa memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan Allah sebagai Al Khaliq. Memahami hakikat diri sebagai hamba akan menjadikan kita rendah hati. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak Allah.

Imam Ibnu Athaillah berkata, ’’Hendaklah doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu.” Oleh karena itu, seorang pendoa yang baik akan terhindar dari sikap sombong, malas, dan bergantung kepada selain Allah.

Kedua, doa sebagai sarana zikir. Allah menyuruh kita berdoa agar ingat kepada-Nya. Sesungguhnya, ingat kepada Allah adalah rezeki yang tidak ternilai harganya.

Dengan mengingat Allah, hati kita akan tenang. Ketenangan adalah kunci kebahagiaan. Sejalan dengan firman Allah, ’’Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS Ar-Ra’d: 28).’’

Ketiga, doa adalah target. Hidup manusia akan terarah apabila ia memiliki target dalam hidupnya. Doa, hakikatnya, adalah tujuan, keinginan, atau target yang akan kita raih. Saat kita mengucapkan doa sapu jagat misalnya, itulah target kita: selamat dunia akhirat.

Saat kita berdoa agar utang kita dapat dilunasi, itulah target kita: bebas utang. Tentu target tidak akan pernah tercapai apabila kita tidak mengusahakannya.

Doa adalah pupuk, sedangkan ikhtiar sebagai bibitnya. Tidak mungkin kita bisa panen jika kita segan menebar bibit. Jadi, doa yang baik adalah doa yang disertai ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal saleh.

Keempat, doa adalah penyemangat. Pada saat seorang hamba berdoa, tentu hamba tersebut memiliki harapan, dan harapan akan melahirkan semangat. Semangat itu mahal harganya karena semangatlah yang akan menentukan sukses tidaknya seseorang.

Pertolongan Allah hanya akan mendatangi orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh. Bukankah saat kita bersungguh-sungguh kepada-Nya, Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi kepada kita?

Doa adalah saripati ibadah. Doa akan memperjelas posisi kita sebagai hamba dan Allah sebagai Rabb yang menciptakan. Semakin mantap posisi ini, akan semakin beruntung pula hidup kita.

’’Tiada daya dan kekuatan hanyalah karena Allah yang Mahatinggi.” Oleh karena itu, doa akan membawa orang pada perubahan menjadi lebih baik. Apa tanda-tanda orang yang suka berdoa?

Pertama, ia memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Doa adalah target kehidupan. Orang yang bagus doanya akan terprogram hidupnya. Ia memiliki target dan perencanaan untuk memenuhi target tersebut. Ketika ia memohon sesuatu kepada Allah, ia pun akan dituntut untuk berikhtiar mendapatkan sesuatu tersebut.

 Konkretnya, ketika meminta jodoh yang saleh misalnya, kita pun dituntut untuk memprogram dan merencanakannya. Di antaranya, membuat planning kapan kita menikah, apa yang harus dipersiapkan, di mana mencari jodoh dengan kriteria saleh tersebut, dan sebagainya.

Kedua, ia akan bersikap taat terhadap peraturan Allah SWT. Orang yang suka berdoa tidak akan mau tersentuh barang haram. Ia tahu bahwa doa akan terhalang ketika dalam tubuh kita terdapat barang haram.

Ketiga, orang yang suka berdoa akan selalu berbaik sangka kepada Allah. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Tidak enak, pahit atau menyengsarakan adalah presepsi kita. Allah tidak akan memberikan ujian kecuali ada kebaikan di balik ujian tersebut.

Ketika Allah ’’tidak mengabulkan” doa kita, yakinlah ada yang lebih baik di balik tidak dikabulkannya doa tersebut. Dengan kata lain, ilmu kita belum sampai pada hakikat tersebut.

Keempat, orang yang suka berdoa akan senang menolong dan tidak mempersulit orang lain. Dia tahu bahwa Allah akan menolong dan mempermudah urusan seorang hamba yang suka menolong dan mempermudah saudaranya.

Yakinlah, semakin gemar kita menolong orang lain, akan semakin mudah pula doa kita dikabulkan.

Sangat utama pula apabila kita menjadikan setiap momentum sebagai doa yang akan membawa kebaikan. Ketika turun hujan, berdoalah. Ketika akan, sedang, dan setelah turun dari kendaraan, berdoalah. Ketika berjalan, berdoalah. Sebaik-baik doa adalah yang dicontohkan Alquran dan Rasulullah SAW.

Semoga bermanfaat.