Minggu, 18 November 2012

Kewajiban Asasi Manusia


Kewajiban Asasi Manusia
Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
SINDO, 18 November 2012


Dua-tiga pekan lalu saya mengikuti sebuah kongres psikologi di kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau. Kebetulan pas hari Jumat, jadi kami salat Jumat di Gelanggang Mahasiswa, karena masjidnya belum selesai dibangun.

Saya tidak memperhatikan nama khatib merangkap imam yang bertugas hari itu, tetapi saya tertarik pada topik khotbah yang dibawakannya hari itu, yaitu tentang kewajiban asasi manusia. Dalam konteks zaman sekarang, jarang sekali saya mendengar orang bicara tentang “kewajiban asasi manusia”.Orang sekarang lebih senang bicara tentang hak.

Bermacam-macam hak: hak berkumpul,hak berunjuk rasa, hak ekspresi, hak (kebebasan) pers,dan lain-lain,termasuk yang paling top-markotop: hak asasi manusia,yang disingkat menjadi satu kata yang seakan-akansupersakral: HAM. Padahal kata Pater Bertens dalam bukunya,Etika, hak dan kewajiban adalah dua sisi dari satu mata uang. Setiap hak seseorang akan berhenti ketika bertemu dengan hak orang lain. 

Merokok, misalnya, adalah hak.Tenggorokan, tenggorokannya sendiri. Paru-paru, paru-parunya sendiri. Kalau dia mati karena kanker paruparu, ya itu urusannya sendiri. Itulah HAM. Tetapi ketika asap rokoknya mengganggu orang lain, mengancam kesehatan orang lain,apalagi orang banyak di tempat publik,maka HAM si perokok sudah bertabrakan dengan HAM-nya orang lain atau publik. 

Di sinilah pemerintah hadir untuk mengatur,misalnya melarang orang merokok di tempat umum, tetapi mewajibkan pengelola fasilitas umum untuk memfasilitasi simpatisan ”FPI (Forum Perokok Indonesia)”. Selanjutnya, ketika sudah ada peraturan, maka wajib hukumnya bagi setiap orang untuk menaatinya.Itulah salah satu kewajiban asasi manusia, atau disingkat KAM. 

Dalam konteks lain (hankamnas,atau kamtibmas),“kam”berarti keamanan, yang artinya sama saja dengan tujuan kewajiban asasi manusia, yaitu jaminan perasaan aman dan terlindung dari ancaman atau marabahaya, bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa membedakan gender, etnik, agama, status sosial, dsb, pokoknya tanpa memandang bulu (walaupun memang ada bulu-bulu yang tak elok untuk dipandang). 

Kembali ke khatib yang tak saya kenal di Pekanbaru di atas.Beliau mengatakan beberapa KAM yang perlu dicamkan dan dilaksanakan. Yang pertama tentunya kepada Allah SWT.Ini pasti pas,karena memang job beliau khatib,jadi malah salah kalau tidak mendahulukan Allah SWT. Jadi tidak usah diperdebatkan lagi poin satu ini. Tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah kewajibankewajiban asasi pada diri sendiri, keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa dan negara, serta lingkungan hidup. 

Kewajiban pada diri sendiri misalnya jangan lupa mandi dan gosok gigi, makan, dan tidur cukup. Pokoknya jaga kesehatan,karena hanya orang yang sehat bisa melakukan KAM untuk orang lain, termasuk keluarga, masyarakat dan nusa bangsa serta lingkungan hidup. Sesudah KAM terhadap diri sendiri, tentu harus dilakukan juga KAM-KAM untuk orang lain itu. Selanjutnya beliau berikan beberapa tips sederhana, yang sebenarnya klise, tetapi masuk di hati umat karena jamaahnya heterogen,campuran antara kuli bangunan yang sedang membangun kampus, sampai profesor yang sedang seminar.

Pokoknya saya senang mendengarkan khotbah beliau, karena di Jakarta kebanyakan khotbah sudah berbau politik yang isinya penuh stereotipe, diskriminasi, dan segregasi, bahkan agresi yang jauh dari misi Islam yang rahmatan lil alamin. Di sisi lain,timbul pertanyaan, mengapa hal-hal sederhana untuk melaksanakan KAM itu sulit sekali dilakukan orang Indonesia? Kalau seorang ibu penumpang angkot, minta supaya penumpang di sebelahnya berhenti merokok,maka si perokok itu malah nyolot,“Jangan cerewet, deh Bu. Mulutmulut saya sendiri, kok. 

Kalau enggak senang, turun saja di sini.”Astagfirullah alazhiiim…. Juga Jokowi hanya bisa geleng- geleng kepala ketika dia sudah kirim tujuh mesin pengeruk, tetapi dalam dua hari sungai sudah penuh sampah lagi. Bahkan malaikat pun bingung melihat anggota DPR seperti kebakaran hidung (tidak semua anggota DPR berjenggot) ketika Dahlan Iskan meluncurkan isu tentang 10 nama anggota DPR tukang peras BUMN. 

Anehnya,walaupun jumlah nama itu sudah diturunkan dari 10 menjadi 2, tetapi yang kebakaran hidung malah bertambah, yang pasti lebih dari 10.Bahkan di luar DPR pun ada yang ikut-ikut galau. Padahal saya yakin, yang tidak merasa terkait dengan isunya Dahlan Iskan pasti tenang-tenang saja, santai dan bekerja seperti biasa. Dalam ilmu psikologi jawaban pada pertanyaan mengapa orang sulit melaksanakan KAM,adalah ego defense, atau defense mechanism.

Menurut Freud, semua orang punya ego (“aku”) dan sifat ego ini adalah ingin selalu berada dalam keadaan nyaman, aman, senang, bahagia,dan sebagainya. Ia tidak mau kalau harus menanggung rasa malu, disalahkan, dikecam,menanggung kerugian, kehilangan masa depan, dan seterusnya. Maka untuk mempertahankan kondisi ego agar tetap nyaman,maka ego melakukan ego defense (pertahanan aku terhadap ancaman atau mara bahaya). 

Seorang remaja yang hamil di luar nikah, tega membuang bayinya ke got, karena ego defense-nya. Ia tidak mau menanggung malu,karena masyarakat akan mengecamnya jika ketahuan dia punya anak di luar nikah. Di masyarakat yang tidak mempersyaratkan nikah untuk sebuah kehamilan dan kelahiran, maka si ibu justru akan menyayangi bayinya, seperti ibu-ibu yang lain. Dia tidak akan membuang bayinya hanya karena malu. 

Sebaliknya, penduduk tepi sungai akan terus membuang sampah di kali, karena perbuatan itu lazim, dilakukan oleh semua orang.Demikian pula para anggota DPR yang kebakaran hidung. Selama egomereka tidak terancam, mereka akan tenang- tenang saja.Tetapi begitu ada ancaman terhadap ego, disadari atau tidak ego defensenya bekerja. Ada beberapa tipe ego defense. Salah satunya adalah pembenaran (rasionalisasi),seperti mereka yang tetap buang sampah ke kali. 

Kata mereka, “Tidak apa-apa, kan? Semua orang juga buang sampah di kali, kok.” Atau Nazaruddin yang membuka nama rekan-rekannya sesama pelaku korupsi, walaupun kawan baik, dan teman separtai. Pembenaran dia, “Tuh kan, saya tidak sendiri, kok.Banyak yang lain juga melakukan seperti saya. Jadi apa salah saya?” Demikian juga Kepala Angkasa Pura Soekarno Hatta, ngeles atas kritikan Agnes Monika melalui jaringan sosial,karena kopernya dikorek orang di Bandara Soekarno-Hatta. 

Dia bilang, “Bandara Manila jauh lebih jelek daripada Jakarta.”Apa hubungannya antara Manila dan Jakarta, hanya dia sendiri yang tahu. Lain lagi dengan anggota DPR yang merasa dirinya terpojok dengan isu pemeras, dia malah menuding Dahlan Iskan sebagai koruptor, pencitraan diri sendiri,mencemarkan nama baik orang lain, dsb. Orang yang tidak suka akan sifat tertentu yang dilekatkan pada dirinya dan melemparkannya kepada orang lain, seakan-akan orang lain itulah yang buruk, tergolong orang yang ber-ego defense proyeksi. 

Masih banyak tipe ego defense yang lain, tetapi intinya adalah selama manusia punya ego, maka selalu akan ada upaya untuk mengamankan dan menyenangkan ego melalui ego defense. Hanya sedikit orang yang punya ego defense yang positif, yaitu selalu menjalankan KAM untuk mempertahankan reputasi ego-nya. Orang-orang ini adalah orang-orang dengan kredibilitas diri yang tinggi,sehingga apa pun yang diucapkannya, apalagi dilakukannya, dipercaya orang. 

Mereka ini menjadi contoh dan teladan, tetapi di mana-mana contoh dan teladan hanya satu-dua saja.Yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan orang banyak yang selalu ber-ego defense negatif, bisa mengikuti contoh dan teladan sang idola kita. Jawabannya tidak lain adalah peraturan,dan pengawasan serta pemberian ganjaran setimpal, baik buat yang berperilaku positif (diberi penghargaan), maupun negatif (diberi hukuman). 

Banyak bank yang bisa memaksa orang untuk antre (KAM mementingkan orang lain) hanya dengan tidak melayani yang tidak antre, dan satpam segera menegur dan mempersilakannya berbaris di antrean. Arus mudik Lebaran tidak diwarnai dengan antrean panjang (sampai bermalam) dan calo lagi, karena PJKA sudah mengubah sistem pembelian karcis dengan sistem onlinesehingga kita bisa beli tiket kereta api di minimarket di dekat rumah untuk tiga bulan ke depan. Jadi,untuk membuat orang Indonesia melakukan KAM, tidak terlalu sulit, jika manusia- manusia itu diatur dengan baik dan konsisten.

Menurut psikolog JB Watson, orang bereaksi itu tergantung stimulusnya. Diberi reward dia bersemangat, diberi hukuman dia akan hindari hukuman itu. Dengan perkataan lain, cukup dibuatkan sistem yang konsisten dan teratur, orang pasti mengikuti, seperti bebek-bebek di sawah yang berjalan mengikuti bebek yang paling depan, yang diarahkan oleh pengangon bebek yang menggunakan tongkat panjang berujung rumbai-rumbai. Dalam bahasa Jawa pengangon bebek itu disebut sontoloyo(tidak ada hubungannya dengan caci maki).Masalahnya, siapa yang patut dan bisa jadi sontoloyo bagi bangsa Indonesia untuk 2014?