Tampilkan postingan dengan label Iqbal Aji Daryono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iqbal Aji Daryono. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2021

 

Ribetnya Jadi Kaum Toleran

Iqbal Aji Daryono ;  Penulis, Tinggal di Bantul

DETIKNEWS, 14 September 2021

 

 

                                                           

Hal-hal seperti ini tidak bakalan digubris oleh para pemegang kunci surga."

 

Saya tercenung membaca kalimat itu. Di hutan belantara obrolan lini masa, sebenarnya nada kalimat demikian ya biasa saja. Tapi yang saya hadapi kali ini adalah tulisan dari seorang peserta dalam satu program mentoring untuk kampanye kebhinnekaan, tempat saya memberikan pendampingan kreasi konten digital.

 

Maka, saya betul-betul merenungkan cita rasa dari kalimat tersebut. Para pemegang kunci surga. Hmmm, serasa ada yang tidak pas.

 

"Begini. Kita ini mengambil posisi idealis sebagai pengusung spirit toleransi," kata saya. "Tugas kita adalah mengajak orang untuk sama-sama memahami dan menerapkan spirit itu. Nah, apakah bisa semangat itu terbentuk kalau kita jalankan dengan cara menyerang? Apalagi serangan itu kita arahkan kepada keyakinan orang."

 

Saat kalimat terakhir lepas dari mulut saya, diam-diam saya merasa pandangan saya malah menabrak kabut. Segalanya jadi tidak benar-benar jernih.

 

Jadi, si peserta tadi ingin menulis tentang pengalaman pergaulan harmonisnya bersama para penganut keyakinan yang berbeda. Lalu ia bermaksud menyodorkannya sebagai referensi kehidupan yang mungkin tak pernah dimengerti oleh orang-orang yang maunya hanya bergaul dengan lingkungan yang satu keyakinan saja. Sementara, orang-orang eksklusif itu menjalankan sikap mereka karena yakin bahwa hanya kelompok mereka sajalah yang layak masuk surga.

 

Hasilnya, muncul kata-kata "para pemegang kunci surga" itu. Yang jadi kebingungan saya, bukankah keyakinan kelompok itu bahwa hanya mereka sendiri yang bisa masuk surga adalah memang bagian dari keyakinan mereka? Lalu karena kami ingin mengampanyekan toleransi, bukankah seharusnya juga mengampanyekan penghormatan atas keyakinan siapa saja?

 

Lah, kalau keyakinan orang yang kami hadapi itu adalah "cuma kami yang masuk surga", lalu atas dasar apa kami tidak menghormati keyakinan mereka? Atas dasar apa kami boleh sinis dengan menyebut mereka sebagai "pemegang kunci surga"?

 

Persoalannya, ketika mereka meyakini diri sendiri sebagai satu-satunya penggenggam kebenaran, bukankah otomatis mereka akan yakin bahwa golongan di luar diri mereka adalah salah? Simpelnya, mereka pun akan melihat kami sebagai kalangan yang masuk neraka. Dan, sebagai kaum toleran, kami wajib menghormati keyakinan mereka bahwa kami akan masuk neraka!

 

***

 

Menjadi toleran yang konsekuen itu ternyata memang tidak gampang. Kita dipaksa untuk toleran bahkan kepada orang yang tidak toleran kepada kita. Jika kita menolak bersikap toleran kepada orang yang tidak toleran kepada kita, otomatis kita sendiri sudah tak lagi toleran.

 

Pernah saya masuk ke sebuah grup yang judulnya pakai kata kebhinnekaan (tentu tanpa kepak sayap). Awalnya sih normal-normal saja. Tapi lambat laun sepertinya para penghuni grup gagal konsekuen dengan spirit toleransi itu. Ujung-ujungnya, mereka malah jatuh pada sikap mengejek-ejek ajaran berbagai agama. Jumud, bodoh, terbelakang, nggak bakalan maju, kata mereka.

 

Saya masih memaklumi kalau sejak awal mereka menyebut diri sebagai kelompok penjunjung sains, misalnya. Dengan landasan ideologis seperti itu, tentu nilai yang menggerakkan mereka adalah sains. Jadi, apa pun yang tidak sejalan dengan sains akan mereka serang. Termasuk agama.

 

Masalahnya, kalau pernyataan sikap awal mereka adalah penjunjung keberagaman, atas dasar apa mereka mengejek keyakinan orang, mau sekonyol apa pun keyakinan itu dalam pandangan mereka?

 

"Kalian ini mungkin bermaksud melawan bigot. Tapi cara kalian cuma another bigotry." Begitu kata saya, lalu pamit meninggalkan grup itu.

 

Ketika ada yang mengirim pesan lalu bertanya kenapa saya ngambek, saya mengutip Gus Dur. "Iman tidak dapat diadili." Mohon maaf kalau saya selip memori, tapi seingat saya Gus Dur mengatakan itu pada saat ribut-ribut kasus Lia Aminuddin. Ya, mau seperti apa pun, iman itu ya iman. Ia berada pada dimensi yang tidak-bisa-dan-tidak-perlu ditimbang dengan ukuran-ukuran di luar sistem keimanan itu.

 

Saya lalu teringat Eric Weiner di buku The Geography of Faith. Di situ Eric bercerita tentang Raelisme di Amerika. Itu agama berbasis UFO. Tuhan yang mereka yakini adalah sosok dari luar angkasa. Buku-buku religius para Raelian berjudul The Message Given by Extra-Terrestrials, Extra-Terrestrials Took Me to Their Planet, dan sebagainya. Mereka pun punya beberapa ajaran yang terdengar aneh, misalnya dengan perayaan Hari Telanjang dan menetapkan masturbasi sebagai bentuk kepasrahan suci.

 

Meskipun demikian, di Amerika, Raelisme tetap diakui sebagai satu bentuk iman. Bahkan pengakuan itu muncul secara formal. Buktinya, IRS (Dirjen Pajak-nya Amerika) tidak memungut pajak dari institusi Raelisme. Anda perlu tahu dulu, sebagai wujud dari sekularisme, lembaga agama tidak dipungut pajak di sana. Dan, sekonyol apa pun ajaran Raelisme, ia dihormati sebagai agama.

 

Saya juga ingat cerita sahabat saya yang bekerja di Samsat-nya Western Australia. Di sana, untuk pembuatan foto SIM, orang memang harus membuka wajahnya, tetapi untuk alasan iman penutup kepala tidak harus dibuka. Tentu saja dasarnya adalah penghormatan atas kebebasan beragama. Maka jilbab di SIM tidak masalah, turban yang dipakai orang-orang Sikh itu tidak masalah, bahkan topi rajut yang dipakai para penganut Rastafari juga tidak masalah.

 

Bagi banyak orang, sebagaimana Raelisme, Rastafari itu agama yang menggelikan. Itu agamanya Bob Marley, yang salah satu ritual sucinya adalah beramai-ramai mengisap ganja. Tapi tetap saja di Australia keyakinan yang terdengar konyol pun dihormati sebagai keyakinan.

 

Tapi ngomong-ngomong, apa itu kekonyolan? Bukankah konyol dan tidak konyol itu wilayah yang sangat relatif? Apalagi jika terkait agama-agama.

 

Agama berisi klaim kebenaran, fondasinya iman, iman adalah keyakinan, dan keyakinan tidak terikat mutlak kepada hukum-hukum akal rasional. Secara umum, sesuatu tampak konyol karena dianggap tidak rasional. Dan barangkali setiap orang di luar sebuah sistem kepercayaan pada suatu agama akan melihat pernak-pernik ajaran agama itu sebagai kekonyolan, bukan?

 

Ringkasnya, setiap penganut agama mungkin akan melihat agama lain konyol, dan cuma agamanya sendiri yang tidak konyol. Begitu, bukan? Atau saya keliru?

 

***

 

Hari ini, peristiwa dengan pola masalah yang sama muncul lagi. Ada video viral yang menggambarkan para santri sebuah sekolah agama datang ke lokasi vaksinasi, dan mereka duduk berderet-deret. Pose mereka begitu memancing perhatian. Ya, mereka beramai-ramai menutup telinga, karena di ruang tunggu vaksin itu ada musik yang diputar oleh penyelenggara acara.

 

Mudah ditebak, mereka dari sekolah muslim yang mengharamkan musik. Atau lebih spesifik lagi, para santri itu penghafal kitab suci, dan mereka meyakini bahwa mendengarkan musik-musik duniawi akan merusak hafalan mereka.

 

Lalu banyak orang tertawa. Banyak orang bilang anak-anak itu salah didikan. Banyak suara mengejek sambil secara tersirat mengatakan bahwa sikap para santri itu konyol.

 

Saya sendiri seorang muslim, dan saya tidak mengharamkan musik. Jujur saja, dari versi ajaran yang saya ikuti, dalam hati saya berkata bahwa sikap para santri itu konyol. Tetapi, sebagai orang yang mengaku toleran, atas dasar apa saya mengejek secara terbuka bahwa mereka konyol? Bukankah itu memang keyakinan mereka, keyakinan tidak dapat diadili, dan sepanjang tidak merusak harmoni sosial, maka setiap keyakinan berhak untuk dihormati?

 

Ah, jadi kaum toleran memang tidak gampang. Jauh lebih gampang menjadi penentang bigot, meski lagi-lagi yang dijalankan tak lebih dari sekadar another bigotry. ●

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5723889/ribetnya-jadi-kaum-toleran

 

Kamis, 09 September 2021

 

Buku-Buku yang Segera Hilang dari Sejarah

Iqbal Aji Daryono ;  Penulis, Tinggal di Bantul

DETIKNEWS, 7 September 2021

 

 

                                                           

"Bayangkan, Mas. Anak itu nongkrong di komunitas yang isinya orang-orang buku, mulai penerbit sampai reseller, tapi bahkan dia nggak tahu siapa itu Umar Kayam!"

 

Sambil mengucapkan kalimatnya, wajah kawan saya tersenyum kecut. Ada nada semacam "Kok bisa ya?" dalam kata-katanya. Saya menyambutnya dengan melongo, ikut-ikutan heran. Bukan cuma heran, bahkan terbetik rasa kecil yang aneh. Mirip tersinggung, meski tidak gitu-gitu amat.

 

***

 

Umar Kayam, bersama Kuntowijoyo dan Budi Darma, memang merupakan sosok-sosok yang mengantarkan saya untuk mengenal buku-buku bagus, pada zaman ketika saya masih unyu-unyu-nya. Begitu terkesannya saya kepada Para Priyayi, novel legendaris Umar Kayam, sama terkesannya dengan Dilarang Mencintai Bunga-bunga-nya Kuntowijoyo dan Olenka-nya Budi Darma.

 

Para Priyayi itu novel yang sangat menggambarkan alam pikiran kaum priayi alit Jawa yang "asli", serta konsep-konsep kamukten yang menjadi spirit gerak kehidupan mereka. Suka sekali saya mendengar nama tokoh Lantip di novel itu, sampai-sampai nama itu saya sematkan pada anak saya sendiri. Tanpa membaca novel itu, bahkan mungkin saya tak akan pernah punya imajinasi tentang bagaimana caranya meracik adegan-adegan di pos ronda, cerita yang sering muncul dalam tulisan-tulisan saya.

 

Maka, kok bisa ada orang kenal buku tapi tidak kenal Umar Kayam? Ini sungguh terlalu.

 

"Dia masuk kuliah angkatan 2016 sih, Mas," sambung Eka, kawan saya itu. "Dan jangan bayangkan anak-anak muda seangkatan mereka kenal Umar Kayam. Kuntowijoyo juga enggak. Bahkan banyak juga lho yang belum pernah baca Pram."

 

Waduh. Begitu muncul nama Pram, langsung saya teringat beberapa kawan yang bertanya di mana sekarang ini bisa membeli buku-buku Pram. Awalnya saya kira masih ada toko-toko daring yang menjualnya. Tapi begitu saya periksa langsung ke marketplace, mayoritas yang dipajang adalah versi bajakan!

 

Buku laris memang dibajak di mana-mana. Itu kita semua sudah tahu sama tahu. Tapi selain soal bajak-membajak, ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu: di mana mau beli buku Pram yang asli alias ori? Untuk Tetralogi Pulau Buru sepertinya masih ada. Tapi Arok DedesArus Balik, juga yang lain-lain? Kalau toh ada yang ori di pedagang online, dapat dipastikan itu buku bekas saja, lagipula dijual dengan harga selangit.

 

Nah, masalah yang sama terjadi pula pada buku-buku Umar Kayam. Eka, kawan saya itu, adalah pemilik usaha penerbitan yang berhasil mendapatkan hak untuk menerbitkan salah satu karya Pak Kayam, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Tetapi Para Priyayi bernasib sama dengan Arus Balik dan Arok Dedes, yaitu orang tidak tahu ke mana harus beli buku barunya dengan harga wajar.

 

Akibatnya, tidak ada anak muda yang bisa mengakses buku-buku itu, selain dengan meminjam ke perpustakaan atau ke senior-senior mereka. Repotnya, mana ada senior yang mau meminjamkan buku-buku langka mereka? Itu pun kalau punya senior, sementara kebanyakan anak muda ogah punya senior.

 

Maka, sebenarnya yang paling memungkinkan adalah penerbitan kembali buku-buku penting tersebut. Agar bisa dijual dengan harga lumrah, agar anak-anak muda Indonesia mengenal para sastrawan hebat mereka.

 

Nah, sampai di sini mulai terkuaklah problem yang sesungguhnya. Hak penerbitan atas buku-buku hebat itu tentu berada di tangan ahli waris penulis-penulisnya. Sementara, para ahli waris belum bersedia melepas hak penerbitan itu. Kenapa? Dengar-dengar, ada pengalaman buruk bersama penerbit-penerbit sebelumnya. Saya juga tidak tahu seburuk apa pengalaman itu. Mungkin terkait hak atas royalti, atau entah apa.

Mentoklah semuanya. Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Ujung-ujungnya kembali lagi berupa pertanyaan: lalu bagaimana caranya anak-anak muda bisa membaca karya-karya hebat itu tanpa harus membeli versi bajakannya?

 

Sampai di sini, saya langsung teringat kepada satu tempat mengadu selain Allah, yaitu pemerintah. Apakah pemerintah cukup memberikan perhatian kepada karya-karya penting itu, untuk orientasi persebaran akses dan memaksimalkan peluang bagi rakyat Indonesia untuk membaca semuanya?

 

Saya pun membuka ikon Ipusnas di HP saya. Di aplikasi milik Perpustakaan Nasional itu terpajang ribuan buku yang bisa dibaca gratis. Saya ketik kata kunci "Pramoedya" pada kolom pencarian koleksi. Segeralah nongol sederet judul, dan di item paling atas tampil dengan gagahnya nama Pramoedya Wisnu, dengan judul buku 99,9% Pasti Lolos CPNS.

 

Aduh. Saya tarik pandangan saya pelan-pelan ke bawah, lalu ketemu bahwa karya Pram yang ada di situ hanyalah Seri Kronik Revolusi Indonesia. Tidak ada Bumi Manusia, tidak ada Arus Balik, tidak ada Arok Dedes, tidak ada Gadis Pantai, tidak ada Cerita dari Blora, dan sebagainya.

 

Saya lanjutkan dengan mengetik kata kunci "Para Priyayi". Ajaib, ada empat item yang muncul, tidak ada satu pun milik Umar Kayam, sedangkan nama paling atas malah Para Pejuang Cinta sebagai penulis buku berjudul Perjuangan PDKT. Ya Tuhan....

 

Lalu, kembali dan kembali, dari mana anak-anak muda bisa membaca Pramoedya dan Umar Kayam? Atau jangan-jangan buku-buku itu sudah ada di sekolah-sekolah, dan karena itu tidak perlu harus repot-repot diadakan sebagai koleksi penting pada aplikasi milik Perpusnas?

 

Saya punya kenalan dua anak sangat muda yang belum lama lulus SMA. Yang pertama namanya Abita, yang kedua Deas. Saya kontak keduanya untuk bertanya tentang pelajaran yang mereka dapat waktu kemarin mereka masih SMA. Dari mereka saya mendapat cerita bahwa dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia tak pernah disebut-sebut nama Pramoedya. Yang ada adalah Andrea Hirata dan Tere Liye. Wah.

 

Segera terbayang di kepala saya akan nasib tumpukan magnum opus yang sangat mewarnai sejarah kesusastraan bahkan sejarah "peradaban" Indonesia, namun tak ada masa depan milik karya-karya itu. Pram dan Umar Kayam saya maksudkan sebagai contoh saja. Kita tahu, ada banyak karya hebat lainnya. Namun, semua karya itu pun sama belaka nasibnya. Di sekolah tidak diajarkan, di perpustakaan publik tidak disediakan (kalaulah disediakan secara fisik tentu jumlahnya sangat terbatas), sementara itu kalau mau memilikinya sendiri ternyata tidak ada juga di pasaran.

 

Jika problemnya adalah hak penerbitan yang masih ditahan oleh ahli waris, suatu hari kelak memang kita akan bisa mengaksesnya sebagai public domain. Kapan itu? Ya, 70 tahun setelah penulisnya meninggal. Umar Kayam meninggal pada 2002, Pram meninggal pada 2006. Artinya, pembaca Indonesia masih harus menunggu tahun 2072 atau 2076 dulu, atau kira-kira sebelas Pilpres lagi dan sebelas pertempuran keras para netizen lagi.

 

Atau, jika memungkinkan, bisakah pemerintah mengambil alih hak atas buku-buku penting itu, lalu menjadikannya sebagai semacam cagar budaya, yang bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran batin rakyat Indonesia? Kita cuma bisa bertanya-tanya.

 

***

 

"Om, eh, Mas, sampean baca Idrus enggak? Baca Marah Rusli dan Abdoel Moeis enggak?"

 

"Mmmm... enggak tuh, Dik," jawab saya.

 

"Nah, kira-kira seperti itu juga situasinya, Mas. Pak Pram pasti ngomel melihat sampean nggak baca Idrus. Padahal bagi Pak Pram, Idrus sangat penting."

"Oh. Lalu?"

 

"Bagi generasi sampean, Pak Pram itu penting. Bagi kami tidak terlalu. Kalau kami tidak baca Pram dan Umar Kayam, sepertinya nggak apa-apa juga, kan? Mending Boy Candra dan Fiersa Besari gitu lho hehehe."

 

"Waaah, ya ndak bisa gitu, Diiik! Bedaaaa!"

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5714007/buku-buku-yang-segera-hilang-dari-sejarah

 

Senin, 30 Agustus 2021

 

Jebakan Rasa Iba

Iqbal Aji Daryono ;  Penulis, tinggal di Bantul

DETIKNEWS, 24 Agustus 2021

 

 

                                                           

Sore saat saya mulai menulis cerita ini, suasana hati saya sedang tidak nyaman. Orang suruhan yang dipanggil emak saya untuk memangkasi cabang-cabang pohon jati di halaman belakang rumah saya menjatuhkan sepotong kayu, dan kayu itu menimpa atap rumah kos-kosan milik tetangga. Pecahlah asbes di teras kosan itu.

 

Tentu saya segera mengontak empunya kos, dan bilang akan segera membetulkan atap asbesnya. Sekilas masalah tampak akan lekas beres. Namun, saya memikirkan sesuatu yang lain, yang lebih memperbesar rasa tidak tenang itu.

 

***

 

Alkisah, di halaman belakang saya ada beberapa batang pohon jati. Dua di antaranya agak mepet dengan batas pekarangan, dan daun keringnya kerap jatuh di halaman kos sebelah. Sebenarnya, para penghuni kos tidak keberatan dengan itu, karena pohon itu bikin halaman kos mereka agak teduh. Tapi, emak saya khawatir cabang-cabang besar itu patah saat kena hujan atau angin, dan mungkin akan fatal akibatnya. Maka, dia pun tiba-tiba memanggil seseorang untuk memangkasi cabang-cabang itu.

 

Yang jadi masalah adalah orang yang dipanggil itu. Namanya Nono, dan dia saudara jauh kami. Sehari-hari dia bekerja sebagai tukang las, tapi orderannya sedang sepi karena pandemi. Maka tempo hari dia sudah dimintai tolong untuk mengecat rumah Emak, dan belakangan Emak agak mengeluh karena hasil garapannya tidak bagus. Sekarang Nono dipanggil lagi, kali ini untuk melakukan jenis pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan las ataupun cat tembok.

 

Ketika saya bertanya kenapa Nono yang dipanggil, Emak menjawab, "Mesakke. Kasihan. Aku tuh cuma mau menolong."

 

Ya sudah, saya maklum saja. Di usianya yang mulai merambat senja, kebahagiaan hati emak saya cuma tiga: beribadah, main sama cucu, dan menolong siapa pun yang bisa dia tolong. Saya pun menunggu saja Nono membereskan tugasnya.

 

Tugas utama Nono memang akhirnya selesai, tapi menyisakan asbes pecah itu. Boro-boro masalah beres semua, ternyata muncul collateral damage yang konsekuensi pembiayaannya lebih besar dari tugas utama. Dari situ saja saya sudah langsung mengambil kesimpulan bahwa Nono tidak cukup terampil dalam bidang panjat-memanjat dan pangkas-memangkas pohon.

 

Dan, seketika saya terkejut sendiri ketika menyadari satu situasi, yaitu jatuhnya kayu di atap tetangga itu cuma peringatan kecil bahwa dalam situasi yang sedikit saja lebih buruk, yang jatuh bukan kayunya, melainkan Nono-nya! Ini membuat saya tiba-tiba bergidik ngeri.

 

Bagaimana tidak ngeri? Pohon jati itu lumayan tinggi, ada kalau cuma sepuluh meter. Nono memanjat sampai pucuk, tanpa alat pengaman apa pun, dan ternyata juga tanpa keterampilan apa pun. Semata-mata karena dia punya otot, pernah melihat orang memotong dahan pohon, dan dia menjalankannya atas suruhan emak saya. Sungguh jatuhnya tubuh Nono dari ketinggian sepuluh meter bukan sebuah risiko yang "jauh".

 

Begitu pikiran itu terlintas di kepala, buru-buru saya bicara dengan emak saya. Lain kali, kata saya, jangan lagi panggil Nono untuk urusan seperti itu. "Lha mesakke je. Kasihan, dia lagi nggak punya pemasukan," begitu lagi-lagi jawab emak saya. Namun kemudian saya sampaikan pelan-pelan bahwa kalau Emak melulu menuruti rasa kasihan, yang akan rugi bukan cuma kami sendiri karena hasil garapan yang buruk. Sebab bukan mustahil itu sikap yang njlomprongke, menjerumuskan, dengan risiko yang bisa-bisa sangat mengerikan.

 

Saya jadi ingat peristiwa bertahun-tahun silam, ketika kakak sepupu saya menjadi korban. Dia meminta orang suruhan untuk menyedot air di sumur rumahnya. Si tukang itu bukan orang yang cukup paham perkara sumur. Tapi dengan percaya diri dia membawa turun mesin kompresor, lalu mulai menyedot air kotor.

 

Tak disangka, itu tindakan bodoh. Asap solar kompresor itu langsung menyembur di sebelah operatornya, di dalam ruang sangat sempit di dasar sumur sana, sehingga dalam hitungan detik tukang itu pasti sadar bahwa semburan asap telah membekap paru-parunya. Dengan sisa napas dia pun berteriak-teriak minta tolong, sepupu saya melesat turun untuk menolong, tapi akhirnya riwayat kedua lelaki itu berakhir di situ gara-gara kebodohan yang terus kami sesali hingga hari ini.

 

Saya tidak hendak bicara tentang arti profesionalisme, karena toh di negeri ini tidak selalu ada sistem yang menjaga profesionalisme pada tempatnya. Tidak ada aturan ketat keselamatan kerja untuk pekerjaan-pekerjaan dalam wilayah informal, tidak ada standar prosedur dan standar keahlian untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu, tidak ada juga mekanisme hukum yang menciptakan efek lanjut untuk membentuk kehati-hatian bersama (kecelakaan kerja dalam wilayah informal selalu selesai dengan uang duka, bukan?).

 

Maka setidaknya saya benar-benar menekankan kepada emak saya bahwa rasa iba, welas asih, compassion, tidak bisa diterapkan semena-mena. Apalagi pada masa kalabendu seperti tahun-tahun ini, ketika ada banyak sekali orang di sekitar kita yang layak diberi iba.

 

Alih-alih bersikap karena iba, saya sendiri lebih memilih menjalankan mekanisme "pasar bebas" untuk soal-soal begitu. Kepada pengamen, misalnya, kalau suaranya jelek tapi tetap memaksa bernyanyi, bahkan memberikan sekeping koin pun saya tak sudi. Tapi kalau ada pengamen yang suaranya enak dan saya terhibur karenanya, tak segan saya masukkan lembaran rupiah jauh di atas kewajaran. Demikian juga untuk polisi cepek di simpang-simpang jalan. Ketika dia memang sangat membantu perjalanan saya, tak pernah saya perlakukan dia sebagai preman jalanan, sebab kadangkala mereka memang lebih berguna daripada polisi sekalipun.

 

Lebih baik memberi lebih kepada orang yang memang keahliannya layak diberi penghargaan, daripada berbagi semata karena rasa kasihan. Dari situ orang-orang yang memang mendatangkan banyak manfaat akan semakin mendapat ruang, semakin berdaya karena peran-peran kebermanfaatan, lalu ruang-ruang profesionalisme akan membentuk dirinya sendiri, dan hasilnya roda ekonomi akan berputar cepat sekali.

 

Di sisi lain, meneteskan oli pada sela-sela roda ekonomi hanya karena rasa iba bisa-bisa malah membuat orang-orang yang tidak kompeten terus nyaman pada posisinya, berada di situ terus tanpa menyadari kekeliruannya, dan kita para pengobral iba sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas kondisi mereka yang tidak pernah beranjak ke mana-mana.

 

***

 

Sampai di situ, tiba-tiba saya kembali terkejut sendiri. Memangnya ada berapa juta manusia di negeri ini yang beruntung bisa bergerak dalam wilayah keahlian mereka? Semua yang saya bayangkan tadi rasa-rasanya hanya berlaku dalam sebuah lanskap situasi yang ideal, yang memberikan banyak pilihan, sehingga orang-orang bisa memilih apakah mereka mau bergerak dalam ruang kompetensi mereka ataukah tidak.

 

Celakanya, dunia yang kita hadapi hari-hari ini adalah dunia yang hanya memberikan sedikit pilihan. Masih mending kalau ada sedikit pilihan. Yang lebih sering terjadi adalah bahkan di depan mata tak lagi ada satu pun pilihan.

 

Sumber :  https://news.detik.com/kolom/d-5695104/jebakan-rasa-iba

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 04 Agustus 2021

 

Kelinci dan Pikiran yang Tak Merdeka

Iqbal Aji Daryono ;  Penulis, tinggal di Bantul

DETIKNEWS, 3 Agustus 2021

 

 

                                                           

Pagi-pagi buta pada dua pekan lalu, tiba-tiba anak saya menggedor-gedor pintu kamar tempat saya menjalankan semedi isoman. Tak peduli bapaknya masih berstatus terluka karena Covid, dia berteriak. "Paaak! Kelincinya pada keluaaar!"

 

Dengan panik, saya pun geragapan bangun dan melesat meninggalkan kamar. Tak beda dengan anak saya, saya pun tak peduli bahwa sebenarnya saya masih berstatus penderita Covid meski kondisi badan sudah mendingan.

 

Soal positif Covid itu satu hal, tapi tentang kelinci-kelinci yang pada keluar kandang itu perkara lain. Kelinci kami ada banyak sekali, saya sampai malas menghitungnya. Mungkin tiga belas, mungkin dua puluh. Itu pun cuma yang gede-gede. Sementara di dua lubang sudah ada sekitar sepuluh bayi kelinci yang tinggal menunggu waktu untuk menyongsong kompetisi di dunia yang kejam ini.

 

Nah, bayangkan kelinci sebanyak itu berhasil menjebol pagar kandang dengan gigi-gigi mereka, lalu melakukan aksi massa rabbit power, menyerbu wilayah peradaban manusia di bagian-bagian lain rumah saya.

 

Dalam setengah detik, segera terbayang nasib tanaman-tanaman hias yang sudah menghijau segar dan selama ini dirawat dengan telaten oleh ibu saya. Terbayang juga kabel internet yang berada dalam jangkauan lompat makhluk-makhluk itu, juga tali-tali sepatu, dan barang-barang yang lain lagi.

 

Maka, dalam kondisi badan yang tentu saja belum fit benar, pagi itu saya isi dengan permainan brutal kejar-kejaran. Saya cegat di sini, anak saya menghadang di sana. Beberapa ekor ngumpet di balik kursi, saya sambar dengan dua tangan, dan... seettt! dengan lincahnya mereka melompat berlari cepat sekali.

 

Ketika setengah jam kemudian akhirnya seluruh laskar kelinci berhasil saya masukkan kandang kembali, badan saya sudah sangat lemas, itu pun masih saya sempatkan mengambil beberapa bongkah paving block untuk mengganjal bagian kandang yang jebol.

 

***

 

Beberapa hari setelah kejadian olahraga ekstrem pagi-pagi itu, bayi-bayi kelinci mulai bermunculan dari buis beton yang saya pasang sebagai lubang persembunyian. Mereka imut sekali. Ada yang warnanya hitam, ada yang putih, ada yang coklat kusam. Kedua anak saya beberapa kali mengambil mereka, lalu bermain-main dengan mereka di dalam rumah, bahkan di atas kasur.

 

Sampai kemudian saya menyadari, ada satu pertanyaan yang mengejutkan saya sendiri: di mana lucunya makhluk-makhluk itu?

 

Saya coba perhatikan bayi kelinci yang hitam, juga yang coklat kusam. Telinganya masih pendek, belum memanjang. Ekornya tentu saja tumpul, seperti ekor orangtuanya. Lalu saya bayangkan, ketika telinga itu diubah sedikit menjadi lebih lebar, dan ekor itu dipilin jadi memanjang, dia tak ada bedanya dengan tikus! Bahkan gigi seri mereka yang dua biji di depan itu pun sama persis adanya!

 

Sampai di sini, tiba-tiba saya bergidik ngeri. Saya sangat penakut di hadapan tikus. Tikus adalah hewan yang paling menjijikkan buat saya, dan tak ada sedikit pun rasa welas asih saya kepada mereka. Tetapi sekarang anak-anak saya sendiri bermain-main dengan tikus, hanya saja tikus dengan format yang sedikit berbeda pada kuping dan ekornya!

 

Namun kemudian saya memandangi lagi bayi-bayi kelinci itu. Mereka memang lucu-lucu. Saya coba-coba menumbuhkan rasa ngeri kepada mereka pun saya tak bisa. Dan dengan penuh kasih sayang kepada bayi-bayi kelinci itu, saya minta agar anak-anak saya tidak terlalu lama bermain dengan mereka, segera mengembalikan mereka ke kandang, biar mereka tidak stres lalu mengakhiri hidup dengan putus asa.

 

Sungguh itu sikap lembut yang tak bakalan saya terapkan kepada tikus-tikus, sebab tempat paling cocok bagi tikus hanyalah papan beroleskan lem dan kerangkeng jebakan. Dan saya semakin bingung, apa yang membuat saya menerapkan sikap yang sungguh berbeda kepada dua spesies hewan yang sebenarnya sangat mirip itu?

 

Coba lihat satu persatu. Secara fisik, kelinci dan tikus hanya berbeda sedikit sekali. Memang keliru kalau mengira mereka sama-sama hewan pengerat. Dalam klasifikasi dunia hewan, tikus memang masuk ordo pengerat alias Rodentia, sedangkan kelinci tergolong Lagomorpha. Tetapi, apakah manusia berpikir tentang pembagian-pembagian ilmiah semacam itu ketika memutuskan melihat sesuatu lucu dan tidak lucu? Saya kira tidak.

 

Lalu semua ini tentang apa? Soal kebersihan? Apa tikus lebih kotor, dan kelinci bersih? Lha, kata siapa kelinci tidak kotor? Mereka bergumul dengan kotoran mereka sendiri. Bahkan mereka tidur di tanah, sedangkan tikus-tikus beristirahat dengan mewah di celah tumpukan perkakas pecah belah. Bukannya tikus jauh lebih bersih?

 

Kelinci mungkin makan sampah dapur, dan itu menjijikkan. Tapi tahukah Anda, kelinci-kelinci saya selalu jadi penyelamat kami dari rasa bersalah setiap kali nasi dan sayur tersisa banyak, sebab mereka pun dengan sangat lahap menyantap makanan basi sisa kemarin sore?

 

Lalu apa sebenarnya yang membuat kelinci jadi tampak lebih mulia derajatnya ketimbang tikus-tikus? Apakah karena tikus suka merusak barang-barang, dan menggigiti apa pun dengan ganasnya? Lah, dikira kelinci tidak? Coba simak lagi cerita di awal tadi. Saya sampai menempuh risiko besar pada badan saya sendiri yang masih lemah, hanya karena saking takutnya kelinci-kelinci itu membabat habis tanaman hias di rumah saya dan membikin sedih ibu saya.

 

Dan harap tahu, dulu kala makhluk yang konon lucu itu pernah melakukan berbagai tindakan kriminal yang jauh lebih jahat daripada yang dilakukan tikus-tikus. Mulai memutus kabel internet, memutus jaringan listrik di mobil saya karena ada yang bisa melompat dari kolong lalu masuk ke bawah kap mesin, bahkan membantai dua batang pohon jati. Ya, dua pohon jati yang kokoh itu mereka gerogoti kulit batang bagian bawahnya, sampai bersih, lalu beberapa pekan kemudian daun-daunnya berguguran dan dua pohon itu tak lagi bisa dibangkitkan dari kematian.

 

Lalu, sekali lagi, apa yang membuat kelinci lebih layak mendapatkan elusan dan pangkuan, sementara tikus-tikus tidak?

 

***

 

Betapa jahatnya manusia. Kita bersikap hanya karena melihat sesuatu itu lucu dan tidak lucu, imut dan tidak imut. Sementara, tidak ada landasan objektif apa pun dalam menentukan apakah sesuatu pantas ataukah tidak untuk disebut imut. Semua sesuka-suka kita, yang kemudian diabadikan dalam pembentukan kesan permanen berlandaskan prasangka, stempel, konstruksi sosial, dan tumpukan stigma.

 

Maka, kalau Anda bertanya-tanya kenapa masih banyak manusia yang isi kepalanya sangat diskriminatif, jauh dari sikap mulia terkait nilai keadilan dan kesetaraan, sebenarnya sejak berhadapan dengan hewan-hewan pun kita sudah dengan semena-mena melakukan.

 

Sekarang kita masuk bulan Agustus, bulan kemerdekaan. Orang yang belajar tentang ide-ide kesetaraan dan liberalisme agaknya perlu memelihara kelinci-kelinci seperti saya, agar mulai sadar bahwa sesungguhnya otak dan pikiran kita tidak pernah sungguh-sungguh merdeka.