|
KOMPAS,
16 Juni 2013
Sejak
dahulu kala manusia butuh momentum. Secara konvensional sebuah momentum
ditandai titik puncak sementara, yang disebut hari raya. Itu sebabnya
bangsa-bangsa sedunia tak henti memformulasi dan menyepakati hari-hari raya.
Dari sini lantas lahir hari raya agama, hari raya politik dan perjuangan
bangsa, hari raya kebaikan alam semesta, hari raya ilmu pengetahuan, hari raya
kepeloporan yang berkait dengan integritas dan kearifan.
Dalam
titik puncak hari raya itu manusia lantas melakukan refleksi, untuk kemudian
menyusun ulang cara dan jalan demi memperbaiki tujuan. Dengan begitu, sebuah
hari raya adalah momentum yang sengaja diciptakan manusia sebagai ”titik
berangkat baru”. Sebagai halte yang menawarkan estafet untuk melanjutkan
kehidupan menuju ke cakrawala yang lebih sempurna. Karena, seperti dikatakan
Albert Camus, penerima Nobel 1957: keberhasilan sekarang sesungguhnya adalah
perintah untuk berlari menuju prestasi yang lebih tinggi. Maka, setiap hari
raya adalah awal perjuangan baru yang ditolakkan dari anak-tangga baru.
Bukan
anak tiri
Dari
banyak jajaran hari raya itu juga diproklamasikan hari besar yang berhubungan
dengan kesenian. Dalam lingkup dunia kita dikenalkan dengan Hari Seni
Internasional pada 15 April, yang diambil dari tanggal dan bulan kelahiran
seniman Leonardo da Vinci. Hari Buku (Sastra) Sedunia yang ditetapkan 23 April,
tanggal bulan wafatnya sastrawan William Shakespeare dan Miguel Cervantes,
pengarang Don Quixote. Sementara di
Indonesia telah lahir Hari Film Nasional, Hari Musik Nasional, Hari Batik
Nasional, Hari Sastra Nasional, dan sebagainya.
Munculnya
hari-hari raya kesenian didorong oleh kembalinya kepercayaan manusia modern
kepada artes liberales, seni-seni atau ilmu-ilmu bebas. Sebuah pemikiran yang
lahir pada zaman Romawi dan tumbuh sebagai prinsip keilmuan yang kuat pada Abad
Pertengahan di Eropa. Artes liberales adalah pengetahuan dasar manusia yang
menjentrengkan tujuh ilmu nan tak terpisahkan sehingga disebut septem artes.
Tujuh ilmu wajib itu adalah: gramatika, dialektika, retorika, aritmetika,
geometri, astronomi, dan musik. Kita memahami, yang disebut sebagai ”musik” di
situ adalah seni secara keseluruhan, dengan mengangkat seni lagu, seni sastra,
seni drama, seni rupa, dan sebagainya.
Kembalinya
paham artes liberales menjadikan
kesenian tak dapat lagi dianaktirikan dalam peradaban modern. Hal inilah yang
menyebabkan lahirnya para filantrop kesenian sekelas Bernard Osher, Peter
Lewis, Robert Meyerhoff, George Lucas, Ciputra (Artpreneur Center), Budi
Hartono (Djarum Apresiasi Budaya) sampai Jakob Oetama (Bentara Budaya). Para
filantrop ini, selain menyumbangkan jutaan dolar untuk seni, juga mendukung
dikumandangkannya hari-hari raya seni.
Hari
raya seni menjadi sangat penting untuk Indonesia. Negeri superkaya kesenian,
tetapi perikehidupan bangsanya ringkih lantaran digerus ketamakan ekonomi dan
kegemaran bergaduh sosial dan politik. Suatu hal yang memburamkan mata sehingga
melihat kesenian sekadar sebagai alat penghibur, dan menatap artis cuma sebagai
alat pelunak untuk mencapai keberingasan kekuasaan, yang ujung-ujungnya
korupsi.
Hari
Seni Rupa
Pada
minggu-minggu ini, sejumlah elemen seni rupa sedang berusaha mengegolkan Hari
Seni Rupa Nasional. Ada yang memasang 23 April sebagai titik puncak momentum.
Tanggal dan bulan ini merujuk saat wafat Raden Saleh, 1880, atau 15 Mei, yang
(agak) diyakini sebagai hari kelahiran maestro Affandi. Atau 23 Oktober,
tanggal dan bulan kelahiran Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia),
organisasi seni rupa penting yang dibentuk S Sudjojono dan teman-temannya di
Jakarta, 1938 silam. Walau Raden Saleh, Affandi, dan Sudjojono tercatat sebagai
modernis, proposal Hari Seni Rupa Nasional mengusung semua mazhab dan sektor
seni rupa. Seni rupa tradisional sampai kontemporer memiliki hari raya yang
sama.
Sesungguhnya
konsep Hari Seni Rupa Nasional ini telah dibahas sejak era Fuad Hassan,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1985-1993. Dan konsep itu didukung oleh
Menteri penerusnya, Wardiman Djojonegoro. Tetapi agaknya rezim Orde Baru belum
melihat kesenian sebagai bagian teramat penting dalam tubuh peradaban bangsa.
Proposal pun tinggal bayangan. Fuad Hassan mengatakan bahwa seni rupa Indonesia
punya pertumbuhan luar biasa, dengan ragam tiada terhingga, sehingga harus
punya ”hari lebaran” sendiri.
Dengan
adanya hari raya itu, seni rupa Indonesia diyakini memiliki momentum di banyak
aspek. Pameran
seni rupa besar dan kecil bisa serempak dilakukan di sejumlah
wilayah, dengan menggerakkan Taman Budaya dan Dewan Kesenian di seluruh daerah.
Seminar dan dialog seni rupa reflektif dan perspektif bisa digelar di mana-mana,
dalam atmosfer yang sama. Upaya pemetaan situasi dan penggalakan infrastruktur
seni rupa (art shop, galeri, sanggar,
museum) bisa kembali dikaji. Kompetisi seni rupa, dari perupa anak-anak sampai
perupa profesional yang beribu-ribu jumlahnya diadakan di semua penjuru.
Puncak-puncak prestasi karya bisa dipertunjukkan ke masyarakat luas, untuk
memberi tolok ukur seni rupa Indonesia, dalam kaitan internasionalisasi.
Yang
tak kalah penting, dengan adanya Hari Seni Rupa Nasional, pemerintah bisa
secara jelas ikut ”bertanggung jawab” sebagai fasilitator. Karena di mana-mana
seni rupa bangsa adalah milik negara juga. Dengan begitu, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
mempunyai kewajiban mengucurkan anggaran tetap bagi seni rupa Indonesia. Pada
bagian hulu, Kementerian Keuangan juga digedor pemahamannya bahwa seni rupa
adalah anak-kandung Indonesia yang harus diurusi.
Pada
26 Juli 2010, dalam acara dialog budaya di Istana Presiden Tampaksiring, Bali,
saya mengangkat ihwal hari raya seni rupa ini di hadapan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, yang didampingi enam menteri. Pak Presiden bersukacita
mendengarnya dan dengan antusias melimpahkan gagasan itu kepada Menteri
Pendidikan Nasional Mohammad Nuh serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero
Wacik. Di hari-hari kemudian kita tahu, Jero Wacik alih jabatan, dan Pak Nuh
terus disibukkan berbagai ihwal, seperti ujian nasional yang keteteran. ●