Rabu, 25 Mei 2016

Negeri Paling Bahagia

Negeri Paling Bahagia

AS Laksana ;   Sastrawan; Pengarang; Kritikus Sastra yang dikenal aktif menulis
di berbagai media cetak nasional di Indonesia
                                                        JAWA POS, 22 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PENULIS Inggris Margaret Rumer Godden (1907–1998) mengatakan dalam sebuah wawancara pada 1993, ’’Kalkuta adalah kota keparat. Orang mengatakan, jika kita menaruh sekantong debu Kalkuta di bawah tempat tidur orang baik-baik, dalam semalam orang itu akan berubah menjadi bejat.’’

Kalkuta yang disebut-sebut Rumer Godden membawa ingatan saya pada novel lama The City of Joy (1985) karya Dominique Lapierre, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Wardah Hafidz dengan judul Negeri Bahagia (2008). Itu novel sangat tebal tentang orang-orang melarat yang hidup di Anand Nagar yang berarti negeri bahagia, sebuah perkampungan kumuh di Kalkuta.

Sepanjang novel, kita akan disuguhi cerita tentang kehidupan yang terasa tidak masuk akal saking mengerikannya kemiskinan di sana. Lebih dari 70 ribu orang tinggal di Anand Nagar yang luasnya tidak sampai tiga kali lapangan sepak bola.

Mereka hidup berdesakan di rumah-rumah petak, tempat kutu-kutu beranak pinak dan burung bangkai menunggu pesta, tidur di trotoar atau lempengan papan di got. Hampir setiap orang tidak kuat menghidupi diri sendiri.

Seperempat kilogram beras sehari pun mereka tidak sanggup membeli. Orang harus menjual apa saja, termasuk darah dan organ-organ tubuh mereka, untuk bertahan hidup di dalam kemiskinan.

Dan, seperti lazim terjadi di tempat kumuh yang nyaris tidak tersentuh administrasi pemerintahan, yang bisa tumbuh gendut dan sejahtera di sana adalah kutu-kutu dan gerombolan preman, burung pemakan bangkai, dan pedagang yang tamak.

Kebejatan dan situasi korup di tempat itu digambarkan dengan sangat tepat oleh salah satu karakter di dalam cerita tersebut: ’’Jika udara yang kita hirup ini bisa dicuri, niscaya mereka mencurinya dari kita.’’

Dalam penggambaran Lapierre, Anand Nagar benar-benar sebuah tempat yang seperti mulut neraka. Tidak ada sekuntum bunga pun di tempat itu.

Kanak-kanak bahkan tidak mengenal semak-semak; mereka tidak pernah melihat hutan dan danau. Manusia dan kutu-kutu dipanggang di bawah matahari yang begitu panas selama delapan bulan sebelum tiba musim hujan yang mengubah tempat tersebut menjadi danau lumpur.

Di sudut terkumuh tempat itu, hidup para penderita lepra dengan hidung gerowong, lengan buntung, dan borok yang mengeluarkan bau busuk. Ketika kali pertama membaca novel itu, saya membacanya agak lama, karena harus berhenti berkali-kali, dunia yang digambarkan oleh Lapierre terlalu menyesakkan dan membikin mual.

Tetapi, ada bagian yang sangat berharga dari neraka kumuh itu: setiap orang di sana menjalani kehidupan dengan rasa bahagia dan meyakini bahwa seperti apa pun situasi mereka, hidup adalah sesuatu yang berharga untuk dijalani.

Hidup dalam penderitaan yang sama, mereka memberi kita gambaran betapa berharganya kebersamaan, dan bahwa cinta kepada sesama manusia tidak pernah bisa dikalahkan oleh apa pun. Tetapi, itu hal yang juga lazim di dalam masyarakat manusia mana pun.

Ketika jarak antara kita masing-masing tidak terlalu lebar, kita bisa merasakan kebersamaan. Kita terpecah belah ketika jurang pemisah itu menjadi terlalu lebar.

Tetapi, apa sebetulnya yang menjadikan kita bahagia? Dari mana bersumber rasa bahagia di dalam diri kita?

Bhutan, sebuah negara kecil di punggung Himalaya, membuat entakan pada 1971 dengan menolak pendapatan domestik bruto sebagai satu-satunya alat untuk mengukur kemajuan sebuah negara. Pendekatan itu dianggap mendorong setiap negara terlibat dalam pacuan hidup untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya, memacu produktivitas setiap individu warga negara, karena dari sanalah kemajuan diukur.

Sebagai alternatif, dia menawarkan pendekatan baru untuk mengukur kesejahteraan melalui pendekatan kebahagiaan nasional bruto, sebuah pendekatan yang mempertimbangkan aspek-aspek kesehatan spiritual, fisik, sosial, dan lingkungan pada setiap warga, dan juga keterpeliharaan lingkungan alam.

’’Mudah untuk menambang bumi dan mengeruk ikan-ikan di laut dan menjadi kaya,’’ kata Thakur Singh Powdel, menteri pendidikan Bhutan, dalam laporan The Guardian.

’’Namun, kami percaya Anda tidak bisa menjadi negara makmur dalam jangka panjang jika tidak memelihara lingkungan atau memberi perhatian pada kesejahteraan warga, yang ditentukan oleh apa yang terjadi di sekitar mereka.’’

Empat pilar yang diajukan Bhutan untuk mengukur kebahagiaan nasional bruto adalah kemajuan yang berkelanjutan, pelestarian dan promosi nilai-nilai kultural, pelestarian alam, serta pemerintahan yang baik.

Pada 2006, berdasar survei global, Business Week menempatkan Bhutan sebagai negeri paling bahagia di Asia dan peringkat kedelapan di dunia. Pada 2016, Laporan Kebahagiaan Dunia, yang diterbitkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), menempatkan Bhutan pada peringkat ke-84.

Perbedaan mencolok itu terjadi karena laporan PBB menggunakan kriteria yang berbeda lagi untuk mengukur tingkat kebahagiaan warga sebuah negara. Kriteria yang digunakan PBB adalah: (1) pendapatan per kapita domestik yang lebih tinggi, (2) gap yang lebih kecil antara yang lapis atas dan lapis bawah, (3) usia harapan hidup yang lebih panjang, (4) dukungan sosial, (5) kebebasan memilih, (6) indeks persepsi korupsi yang lebih rendah, serta (7) perlakuan baik terhadap dan antara sesama warga negara.

Dalam laporan PBB 2016 ini, yang diumumkan di Roma pada Rabu (18/5), Denmark menduduki peringkat pertama sebagai negara paling bahagia. Negeri kelahiran H.C. Andersen itu sudah tiga kali mendapatkannya sejak PBB mengeluarkan laporan pada 2012.

Hanya sekali posisi pertama itu ditempati Swiss, yang pada tahun ini menduduki peringkat kedua. Indonesia berada di peringkat ke-79, tiga angka di bawah Somalia.

Laporan tersebut bagaikan menegaskan apa yang sudah sering kita dengar, yakni bahwa kebahagiaan tidak melulu diukur dengan uang yang kita raup. Islandia dan Irlandia menjadi contoh untuk itu.

Dua negeri tersebut sedang diguncang krisis perbankan yang secara dramatis memengaruhi perekonomian mereka, namun hal tersebut tidak mengganggu kebahagiaan mereka. Hal terpenting yang dimiliki kedua negara adalah tingkat dukungan sosial yang tinggi.

Aspek itu menempatkan Irlandia pada peringkat ke-19 dan Islandia ke-3. Norwegia, peringkat ke-4, menjadi contoh bagaimana warga negara di sana saling bergotong royong.

’’Di Norwegia, jika Anda mengecat rumah, tetangga Anda akan datang membantu. Mereka bisa membayar tukang cat, tetapi mereka lebih suka melakukannya bergotong royong,’’ kata John Helliwell dari British Columbia University, dan salah satu editor laporan PBB tersebut.

Dukungan masyarakat, gotong royong, dan saling membantu antarwarga, tampaknya, menjadi catatan yang sangat berharga bagi para peneliti. Kita memiliki kebiasaan itu, dulu.

Saya sering melihat, pada waktu lalu, orang-orang bergotong royong membangun rumah salah seorang warga. Mungkin di kampung-kampung kita masih bisa menjumpai pemandangan seperti itu.

Mungkin sekarang masih ada, di pinggiran, dan tidak terkabarkan. Kita lebih banyak mendapatkan kabar-kabar menyeramkan hari ini, juga kabar-kabar bohong yang berfungsi sebagai propaganda.

Memang, sekarang kita menghadapi situasi yang sedikit merepotkan. Kita kurang percaya lagi pada kebaikan hati.

Jika ada tindakan-tindakan baik dilakukan orang, kita segera akan menyebutnya sebagai pencitraan. Barangkali itu salah satu efek buruk hiruk pikuk politik dan kepalsuan yang mereka peragakan.

Mereka membuat kita tidak percaya bahwa di negeri ini ada ketulusan. Ketulusan, dan rasa saling mencintai sesama, itu juga pelajaran terbaik yang bisa kita dapatkan dari Negeri Bahagia, dari neraka Anand Nagar.

Mereka adalah penghuni daerah paling kumuh di Kalkuta, orang-orang buangan dari mana saja, dengan latar belakang kultur dan agama yang berbeda-beda, dan mereka tetap percaya bahwa hidup ini indah dan berharga untuk dijalani. Pada hari raya agama apa pun, mereka merayakannya bersama dan mereka berbahagia. Mereka punya cara untuk berbahagia.