Tampilkan postingan dengan label Th Rosid Ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Th Rosid Ahmad. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 September 2014

Aspek Mendidik lewat Televisi

Aspek Mendidik lewat Televisi

Th Rosid Ahmad  ;   Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK di Eks Karesidenan Semarang 1992-1998, dan Kota Semarang 1998-2003
SUARA MERDEKA, 17 September 2014

                                                                                                                       
                                                      

“Faktanya, tayangan televisi acap membantu proses pembelajaran jadi lebih mudah, luwes, dan menarik”

Sulit membayangkan kehidupan modern tanpa media massa, apalagi televisi, media elektronik yang bagi banyak keluarga telah menjelma menjadi kebutuhan primer. Sehari tidak menonton televisi saja rasanya tertinggal banyak informasi penting berkait topik utama perbincangan di masyarakat. Dampak pemberitaan media bagi kehidupan warga memang besar.

Ada ungkapan, media menguasai pola pikir masyarakat, bahkan cenderung ikut membentuk karakter bangsa. Tema dalam interaksi sosial di kehidupan seolah-olah berkelindan. Apa yang dibicarakan di media, segera menjadi topik hangat di masyarakat. Ditengarai media bisa memengaruhi gaya hidup banyak orang, terlebih generasi muda. Sayang, banyak acara televisi ditonton oleh anak yang belum waktunya, semisal tayangan terkait dengan kekerasan. Risikonya, anak meniru aksi-aksi yang kadang cukup berbahaya. Masalahnya, kadang tanpa disadari terselip tontonan yang kurang layak dan meracuni anak.

Kita bisa menyebut tayangan kriminalitas, pornografi, dan pornoaksi ataupun western culture yang bertentangan dengan adat ketimuran. Maka, pengawasan dari orang tua mesti diperketat terhadap tayangan yang ditonton anak. Perlu dipahami secara fisik televisi dengan pancaran cahaya amat terang dan jarak menonton terlalu dekat bisa merusak mata. Acara seperti sinetron yang penuh dengan aksi arogansi, perselingkuhan, kriminal, dan semacamnya jelas membawa dampak negatif. Pemirsa boleh jadi akan berpikir bahwa dunia ini dipenuhi hal-hal negatif seperti itu sehingga membikin takut dan waswas terhadap keadaan sekitar. Padahal, realitasnya belum tentu sama.

Adegan dalam sinetron, reality show, dan sejenisnya hanyalah aksi rekayasa berdasar skenario dan bukan kejadian sebenarnya. Tidak semua program hiburan di berbagai stasiun televisi sehat untuk dikonsumsi. Beberapa di antaranya berisiko merusak norma yang berlaku di masyarakat. Wajar jika sering terdengar imbauan dari tokoh dan ulama yang merasa prihatin akan kualitas tayangan sehingga mereka menyeru Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) supaya lebih tegas menjalankan fungsi pengawasan. Namun di balik sisi negatif itu, televisi memiliki banyak hal yang bermanfaat, baik yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Manfaat yang bersifat kognitif (terkait ilmu pengetahuan atau informasi dan keterampilan) di antaranya berita, dialog, wawancara dan sejenisnya.

Manfaat kedua, yakni afektif (terkait dengan sikap dan emosi) adalah acaraacara yang mendorong pemirsa memiliki kepekaan sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Membangkitkan Gairah Adapun yang bersifat psikomotorik (terkait tindakan dan perilaku yang positif) dapat disimak dari film, sinetron, drama dan sejenisnya. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dewasa ini, kemunculan banyak stasiun televisi swasta dengan tayangan yang terbilang eksklusif mampu membangkitkan gairah warga dari perkotaan hingga pelosok desa. Penayangan film cerita, acara musik, komedi situasi, dan sejenisnya memperjelas peran media elektronik ini di jagat hiburan.

Hal paling menonjol justru pada kemampuan menyajikan acara yang memberi nilai hiburan, sekaligus pendidikan yang berguna bagi anak-anak. Dari kaca mata pendidikan, faktanya televisi acap membantu proses pembelajaran menjadi lebih mudah, luwes, dan menarik. Bukan terbatas pada informasi dan berita-beritanya yang kaya akan pengetahuan, melainkan juga ulasan-ulasannya dapat meningkatkan daya nalar dan pekerti masyarakat.

Kendati demikian, harus diakui tak jarang penayangan suatu acara lebih menonjolkan segi hiburan atau bisnis semata. Karena itu, perlu peran orang tua dalam memilih dan memilah acara yang benar-benar berkualitas bagi perkembangan jiwa anak. Dengan begitu media televisi bukan cuma menyediakan hiburan segar mealinkan juga pendidikan yang berguna terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Senin, 11 Agustus 2014

Keresahan dari Pornografi Internet

Keresahan dari Pornografi Internet

Th Rosid Ahmad  ;   Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris
SMK Kota dan Eks Karesidenan Semarang
SUARA MERDEKA, 11 Agustus 2014
                                                
                                                                                                                                   

Mengetahui betapa masif perkembangan pornografi internet di negeri ini, banyak orang tua merasa miris. Dikabarkan, Indonesia menempati urutan pertama di dunia sebagai pengunduh dan pengunggah konten pornografi anak di internet. Sekitar 25- 30% orang yang menggunakan internet menonton video porno, dan tiap detik diperkirakan 30 ribu orang menikmatinya lewat internet. Sementara di Amerika Serikat, video porno baru diproduksi tiap 39 menit.

Realitas seperti ini membuat kita prihatin. Yang cukup meresahkan, kini pornografi dapat secara murah dan mudah diakses, serta bisa dinikmati kapan saja dan di mana pun. Bukankah kini ponsel yang berharga tak mahal bisa mengakses internet? Risiko besar bukan hanya mengancam generasi muda melainkan seluruh anggota keluarga. Akibat terlalu akrab dengan tontonan porno tidak sedikit remaja kita merosot prestasi studinya.

Sebagai orang tua, apa yang mesti kita lakukan mengetahui remaja di keluarga kita, bahkan praremaja, menonton situs pornografi online? Padahal paparan gambar yang memberi rangsangan berlebihan (overstimulating) dan terjadi berulang kali berisiko membikin kecanduan (adiktif).

Terdapat relasi kuat antara durasi anak muda menonton pornografi online dan praktik seks lebih dini. Namun, mengetahui anak kita telah melihat pornografi internet bukanlah alasan untuk panik. Demi menyelamatkan anak dari bahaya pornografi, kuncinya adalah berikan pendampingan secukupnya supaya mereka mendapatkan rasa aman. Bila tidak, remaja akan mencari cara lain untuk mengakali dengan segala cara yang pasti bisa mereka pikirkan.

Dampak negatif pornografi terhadap kesehatan paling serius adalah perilaku seksual yang berisiko, terparah tertular HIV yang sangat fatal itu. Maka, pada masa sekarang penting bagi orang tua untuk berbicara dengan anak mengenai isu pornografi dengan tenang dan terbuka, tanpa harus menghakimi.

Para pakar sepakat, informasi mengenai seks lebih baik disampaikan oleh anggota keluarga yang sudah dewasa. Berikan pemahaman secara benar bahwa rasa penasaran anak-anak itu natural, tetapi apa yang mereka lihat dari materi pornografi hanyalah fantasi yang direkayasa demi tujuan finansial atau politis. Susahnya, orang tua pada umumnya tidak begitu paham cara paling tepat menjelaskan masalah krusial itu. Fakta yang meresahkan, kini akses internet dan film porno makin mudah diperoleh.

Dengan uang tak sampai Rp 10 ribu, beragam ”materi dewasa” bisa dinikmati dengan gampang, mulai dari yang normal hingga yang tak lazim, cara berhubungan yang jauh dari budaya ketimuran. Bahkan karena ketakutan berlebihan, banyak ibu rumah tangga menolak pemasangan fasilitas internet di rumah. Mereka khawatir, internet hanya akan merusak mental anak-anak karena mudahnya mengakses situs porno. Akibatnya, kesempatan untuk mengetahui kemajuan informasi dan teknologi pun terpasung. Cukup bijakkah menyalahkan internet sebagai kambing hitam dari pornografi online?

Tugas Bersama

Yang harus dilakukan adalah, bagaimana membuat anak bangsa ini pintar supaya bisa memilih dan memilah dengan cerdas mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak.

Buktinya, masih sedikit orang yang menggunakan internet guna mencari beragam informasi yang sungguh bermanfaat. Menjadi tugas kita bersama untuk memberi pemahaman betapa banyak konten lain terkait ilmu pengetahuan dan keterampilan yang menarik dan berguna, selain sajian pornografi yang vulgar itu. Untuk mengurangi risiko pornografi internet, sebaiknya komputer ditempatkan di ruang terbuka sehingga akses ke situs yang tidak dikehendaki bisa lebih terawasi. Bila memungkinkan, temani dan ajak anak berdiskusi sambil berselancar di internet.

Jangan beredel atau memblok total pornografi. Lebih bijak, tunjukkan bahwa banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari temuan teknologi mutakhir ini. Dengan begitu, dampak buruk pornografi internet bisa diredam bila anak mendapatkan pengertian yang menyeluruh.

Kamis, 31 Juli 2014

“Mudahnya” Menulis di Media

                                  “Mudahnya” Menulis di Media

Th Rosid Ahmad  ;   Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota (dan Eks Karesidenan) Semarang, Aktif menulis di media massa
SUARA MERDEKA, 26 Juli 2014
                                                


“Sejatinya, menulis untuk media massa tidaklah sulit, dan bahkan bisa kita lakukan sebagai aktivitas keseharian”

Banyak orang mengeluh betapa sulit menuangkan ide, pikiran, dan perasaan ke dalam satu tulisan yang baik. Padahal, disadari sepenuhnya bahwa lewat tulisan, orang bisa memperoleh beragam manfaat, baik secara moral maupun finansial. Menjadi pertanyaan mendasar, benarkah menulis itu sulit?

Memang tak sedikit yang mengaku kesulitan untuk menemukan ide. Sebenarnya ide itu bisa datang kapan dan di mana saja. Semisal tatkala menonton televisi, berangkat atau pulang kerja, saat menunggu antrean di bank, dan sebagainya. Simpanlah ide-ide itu berikut butir-butir pembahasannya, lalu buat kerangka tulisan.

Jadi sejatinya menulis itu tidaklah sulit, dan bisa kita lakukan dalam aktivitas keseharian. Bahkan ada yang dengan enteng berkata, menulis itu keterampilan tingkat sekolah dasar (SD). Artinya, mereka yang tamat sekolah dasar selayaknya mampu mengekspresikan diri lewat tulisan.

Berbeda dari mengarang yang menuntut bakat dan kemampuan berimajinasi, menulis bisa dilakukan siapa pun tanpa mempertimbangkan berbakat atau tidak. Yang penting mau berlatih dengan tekun. Keterampilan apa pun hanya dapat dikuasai bila orang mau berlatih secara teratur dan terukur.

Secara realistis, orang akan melakukan sesuatu dengan penuh semangat bila yakin hal itu membawa manfaat bagi dirinya.

Faktanya, berbagai manfaat yang amat berguna dalam hidup ini bisa dipetik dari kegiatan menulis. Di perguruan tinggi, keterampilan yang satu ini banyak dibutuhkan ketika harus membuat paper, menyusun makalah, resume, proposal, dan skripsi. Wajar jika mahasiswa yang terampil menulis umumnya mampu menyelesaikan studi dalam waktu lebih singkat.

Kemampuan menulis juga diperlukan ketika seseorang sudah bekerja, apalagi menduduki jabatan tertentu dalam organisasi. Setidak-tidaknya dia harus mampu menyusun pidato, laporan pertanggungjawaban, membuat proposal untuk proyek, dan sebagainya.

Menyadari begitu pentingnya keterampilan ini, banyak lembaga pendidikan mengadakan kegiatan guna memotivasi anggota untuk meningkatkan keterampilan menulis. Tiap Ramadan misalnya, sejumlah pondok pesantren di Jateng menyelenggarakan program santri menulis dengan mengundang praktisi dari media massa. Termasuk sebagaimana Suara Merdeka yang telah 20 tahun menggelar program ’’Gerakan Santri Menulis’’ di ponpes.

Peneliti di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pun antusias mengikuti Pelatihan Penulisan Artikel Hasil Penelitian Menjadi Karya Artikel Popuiler yang digelar di kampus Sekaran baru-baru ini.

“Semangat belajar dan mau mempraktikkan hal yang didapat dari bacaan menjadi bekal berharga meraih kesuksesan,” kata Syukron Abu Ishaq Alafarozi, mahasiswa Teknik Elektro dan Teknik Informasi UGM. Bersama rekan setim Lathifah Fatharani, dia menjuarai kompetisi netrider (jaringan komputer) yang diadakan perusahaan AS, Cisco. (SM, 1/7/14)

Bagi mahasiswa, honor tulisan dari media sangat berarti dalam menambah uang saku. Tapi yang jauh lebih bermakna, pemuatan tulisan itu memberi kepuasan batin tiada tara. Motivasi kuat hadir demi menyadari bahwa aktivitas itu mendukung keberhasilan seseorang dalam berbagai hal. Bagi pegawai, guru, apalagi dosen, itu dapat memperlancar kenaikan pangkat dan golongan.

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), pengarang produktif dalam sejarah sastra Indonesia yang sekitar 50 karyanya diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing pun menyatakan, ’’Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” (Rumah Kaca, h. 352).

Banyak hal penting wajib dipahami bagi mereka yang ingin menulis untuk media massa. Beberapa di antaranya  adalah isi tulisan harus aktual, bahasanya runtut, dan menggunakan kalimat efektif, tidak mengulang-ulang. Mengingat begitu besar manfaat yang bisa diperoleh, kenapa kita tidak mencobanya mulai sekarang? ●

Senin, 23 Juni 2014

Risiko “Mahal” Sekolah Kejuruan

Risiko “Mahal” Sekolah Kejuruan

Th Rosid Ahmad  ;   Mantan Guru SMK 9,
Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota dan Eks Karesidenan Semarang
SUARA MERDEKA, 21 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
“Kegiatan praktik menggunakan fasilitas pendidikan produk teknologi canggih di SMK butuh biaya mahal”

Masa pendaftaran sekolah adalah saat paling mendebarkan bagi kebanyakan orang tua. Momen yang hanya berlangsung beberapa hari itu sangat mungkin menjadi pintu gerbang yang menentukan perjalanan hidup anak bangsa pada masa depan. Celakanya, banyak yang merasa bingung karena belum punya gambaran cukup jelas dalam memilih tempat pendidikan yang benar-benar sesuai dengan nurani

Faktanya, bagi anak-anak yang karena satu dan lain hal ingin segera bisa berkarya guna mempraktikkan ilmu, sekolah kejuruan atau sekolah vokasi tentu menjadi pilihan cerdas dan bijak. Bukan lagi rahasia, mayoritas siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Tanah Air kita berasal dari keluarga kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Harus diakui, pendidikan kejuruan relatif berbiaya mahal. Bukan menyangkut uang sekolah, melainkan seluruh biaya yang menjadi beban penyelenggara pendidikan. Bagi lembaga pendidikan swasta, seperti Pendidikan Industri Kayu Atas (PIKA) di Semarang, misalnya, hal ini jelas amat memberatkan.

Tapi untuk siswa, mereka justru banyak diuntungkan. Selain mendapat keterampilan yang amat berguna sebagai bekal hidup dengan bekerja di dunia usaha/industri,mereka juga lebih mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sepanjang memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Kegiatan praktik menggunakan fasilitas pendidikan produk teknologi canggih itu butuh biaya mahal. Investasi cukup besar terutama untuk pengadaan sarana-prasarana, biaya perawatan, dan operasionalnya. Apalagi jika menggunakan tenaga pembimbing profesional yang memiliki kualifikasi tinggi. Semua itu demi menjamin lulusan SMK menjadi tenaga terampil.

Siswa sekolah kejuruan terkait bidang penerbangan dan otomotif misalnya, sudah selayaknya mengenal berbagai peralatan modern seperti mesin pesawat terbang, juga mesin industri lain yang merupakan produk teknologi mutakhir. Hakikatnya, keterampilan bidang apa pun tidak mungkin dikuasai hanya dengan membaca teorinya. Urgensi kegiatan praktik sangat tinggi.

Siap Bekerja

Maka, meski mahal tetap harus dijalani. Ibarat seseorang yang ingin sukses mengelola usaha pembuatan pupuk organik atau peternakan burung hantu, bisakah hanya mengandalkan pengetahuan dari literatur? Atau lebih ekstrem lagi, bila bercita-cita menjadi pilot, cukupkah membaca teori dari buku tanpa pernah duduk di kursi pilot?

Garis kebijakan pemerintah yang layak dipahami, pendidikan kejuruan mengemban misi untuk menyiapkan lulusan terampil dan siap bekerja sesuai kebutuhan pembangunan di negeri ini. Terasa cukup menggembirakan bahwa banyak lulusan SMPdi Jateng lebih memilih sekolah kejuruan.

Berbekal kurikulum dan dukungan program pendidikan sistem ganda (PSG) yang memberi kesempatan pelatihan langsung di dunia kerja, siswa digembleng agar memiliki jiwa enterpreneurship dengan etika dan etos kerja tinggi. Yang sungguh melegakan, untuk masalah uang sekolah umumnya justru lebih rendah dari mereka yang belajar di sekolah umum.

Namun sebelum memilih mendaftar di SMK, orang tua dan siswa perlu mencermati beberapa hal. Pertama; pertimbangkan bakat dan minat. Bekerja sesuai minat tentu amat menyenangkan dan besar kemungkinan menuai sukses. Jika berminat menggeluti bidang teknik dan gemar memodifikasi motor misalnya, pilihlah prodi otomotif.

Sebaliknya, jika suka menggambar arsitektur maka bisa mengambil prodi teknik gambar bangunan. Singkat kata, tentukan pilihan dengan menyesuaikan minat serta bakat yang dimiliki. Yang tidak kalah pentingnya, cermati prospek pekerjaan yang digeluti setelah lulus.

Sering terjadi, beberapa prodi teramat sedikit peminat namun peluang untuk sukses di dunia kerja ternyata cukup besar. Bukan saja untuk menjadi pegawai atau buruh bagi pihak lain, tapi bahkan sukses berwiraswasta. Yang pasti, lulusan SMK lebih cepat memperoleh pekerjaan. Bahkan, beberapa di antaranya belum lulus pun panggilan untuk bekerja sudah diterima.

Jumat, 07 Maret 2014

Cerdas Pilih Organisasi Guru

Cerdas Pilih Organisasi Guru

Th Rosid Ahmad  ;   Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris
SMK Kota (& Eks Karesidenan) Semarang
SUARA MERDEKA,  06 Maret 2014
                                                                                                                        
                                                                                         
                                                      
"Guru hanya diperalat demi ambisi dan keuntungan pihak lain bila tidak cerdas memilih organisasi"

Pengalaman mengajarkan, guru mesti cerdas dan cermat memilih satu organisasi sebagai tempat berkiprah. Beragam organisasi guru hadir, semua mengklaim paling membela kepentingan pendidik. Begitu pun, guru harus yakin benar bahwa pilihan diberikan kepada organisasi yang mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas.

Sejak era reformasi terbuka lebar kesempatan bagi kelompok Oemar Bakrie untuk berserikat. Wajar jika muncul banyak organisasi, seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI), dan lain-lain.

Guru pun tampak makin dinamis dalam penampilan gaya dan sudut pandang yang dianut masing-masing organisasi, secara personal ataupun institusional. Kendati demikian kehadiran mereka perlu diapresiasi, sekaligus dikritisi, agar tidak sekadar utopia. Siapa bisa menjamin, keikutsertaan dalam organisasi akan membuat guru makin kompeten dalam tugas, profesional dalam karya, dan hidup sejahtera.

Pada alam demokrasi tidak ada yang bisa melarang guru mendirikan organisasi, begitu kata Sulistiyo, Ketua Umum PB PGRI, yang juga anggota DPD. Kemenjamuran organisasi bisa juga bermakna positif. Andai PGRI jadi satusatunya organisasi guru, bisa saja timbul kekhawatiran berbagai keluhan atau kritik sulit mendapatkan tempat.

Namun, akan menjadi kontraproduktif jika kehadiran banyak organisasi malah menimbulkan kegaduhan. Masingmasing mengaku paling hebat memperjuangkan kepentingan anggota. Apa pun masalahnya, paling utama bagaimana kehadiran organisasi profesi bisa memberi manfaat nyata dalam mendongkrak kualitas pendidikan di negeri ini.

Guru yang kompeten sungguh memahami perkembangan kognitif anak, mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan baik, serta mengevaluasi hasil belajar dengan benar. Lebih dari itu, guru profesional penuh atensi pada siswa, paham kurikulum, dan menjunjung tinggi disiplin.

Yang pasti, guru mesti efektif memotivasi siswa belajar, dan secara kreatif menemukan strategi yang sesuai kapasitas dan interes tiap individu. Dengan begitu akan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan, selalu baru, dan tak membosankan. Perlakuan yang adil mesti diberikan pada tiap siswa tanpa membedakan latar belakang budaya, ras, gender, dan agama.

Aspirasi Konstruktif

Organisasi guru, apa pun bentuk dan namanya, sekalikali bukan tempat pelarian para tokoh, (mantan) pejabat, politikus ataupun pensiunan untuk berorganisasi. Bukan pula arena bagi mereka yang cuma ingin populer dan dikenal publik. Organisasi guru hadir untuk membereskan kerusakan moral anak bangsa.

Sejatinya, lewat organisasi orang bisa menyalurkan aspirasi yang konstruktif demi membangun lingkungan baru sebagai tempat berkarya yang lebih baik. Sudah selayaknya organisasi berjuang demi nasib anggota, membuat mereka makin berkembang, profesional, dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Keterlibatan dalam organisasi bukan saja akan menambah jaringan dan teman, tapi juga membuat pemikiran makin berkembang. Beragam persoalan yang dihadapi akan memperkaya wawasan dan berguna bagi pengembangan karier. Dengan berorganisasi maka orang makin bijak membagi waktu sehingga bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Dalam situasi apa pun, fokus guru tetaplah pada tugas: bukan cuma mengajar melainkan mendidik. Masalah selalu hadir di lapangan. Banyak guru terkendala dalam upaya meningkatkan kompetensi, menyusun persiapan mengajar secara lengkap, rapi, dan benar. Juga masalah tunjangan profesi yang kadang tak dibayar utuh. 
Melalui organisasi, berbagai kesulitan itu bisa dikomunikasikan.

Ingat, kita berpikir bukan hanya untuk hari ini atau besok. Kita berpikir untuk jangka panjang, menyiapkan generasi muda pemimpin masa depan bangsa. Jika tidak cerdas memilih organisasi, guru hanya diperalat demi ambisi dan keuntungan pihak lain. Jangan sampai guru menjadi lahan subur untuk dimanfaatkan pihak-pihak yang mengail di air keruh.

Sabtu, 23 November 2013

Tayangan Sinetron nan Absurd

Tayangan Sinetron nan Absurd
Th Rosid Ahmad  ;   Mantan Guru SMP 9 Semarang
SUARA MERDEKA,  21 November 2013



“Orang dewasa tahu tindakan itu hanya lakon sinetron, tapi itu sangat berbahaya jika ditiru anak-anak”

Tiga dekade lalu, pemirsa televisi di Tanah Air akrab dengan drama seri ”Losmen”, film cerita ”Aku Cinta Indonesia”, dan ”Keluarga Cemara”. Sajian gambarnya menarik, ceritanya mendidik, dan akting para bintangnya pun tergolong apik. Kini, sajian film nasional pada televisi identik dengan sinetron.

Cerita sinetron kini umumnya seputar kehidupan remaja dengan intrik cinta segi tiga, konflik keluarga, kadang terselip dakwah agama. Banyak sinetron lebih mirip sajian pamer kemewahan, kisah perselingkuhan, dan aksi vulgar lain. Sejujurnya sinetron yang hadir sejak pagi hingga larut malam teramat berisiko bagi pemirsa anak-anak, termasuk di Jateng.

Ingat, sesuatu yang disaksikan berulang kali dan tiap hari, bisa membuat anak berpikir apa yang tersaji itu normal dan benar adanya. Tentu ini sangat memprihatinkan. Data berbicara, sinetron dengan masa tayang terlama, ”Tersanjung”  garapan  Multivision Plus bertahan 7 tahun (10 April 1998-25 Februari 2005) dengan 259 episode dalam 7 musim. Adapun berepisode terbanyak adalah ”Cinta Fitri” garapan MD Entertainment, mencapai 1.002 episode dalam 7 musim dengan masa tayang 4 tahun (2 April  2007-8 Mei 2011).

Sungguh fenomenal. Demi tujuan komersial, cerita sinetron bisa diulur-ulur hingga lebih dari 1.000 episode dengan mengorbankan kualitas dan mengesampingkan segi pendidikan. Semisal ”Tukang Bubur Naik Haji” di RCTI. Dari segi pendidikan sungguh merisaukan. Dari awal hingga memasuki episode ke-875 banyak tersaji perilaku kurang terpuji. Simak saja tingkah H Muhidin, pemeran ketua RW yang mengaku sudah dua kali naik haji.

Di satu sisi harus diakui akting Latief Sitepu (pemeran H Muhidin) lumayan bagus. Pembawaannya jumawa, selalu menyalahkan orang lain, menganggap diri paling benar dan mau menang sendiri membuat pemirsa frustrasi. Rasanya tidak masuk akal dia yang sudah ”dua kali” naik haji, ketua RW pula, tapi begitu arogan dan sikapnya amat menjengkelkan.

Lakon Sinetron

Tokoh antagonis lain adalah Mak Enok (Lenny Charlotte). Wanita setengah baya ini suka pamer kekayaan, dan siap mendamprat siapa pun bila beda sikap. Dengan seenaknya dia lempar-lemparkan dagangan tukang sayur keliling yang cuma bisa melongo tanpa mampu protes. Orang dewasa tahu tindakan itu hanya lakon sinetron, tapi lakon itu sangat berbahaya jika ditiru anak-anak.

Anehnya, sejauh ini tak pernah terdengar masyarakat protes menyangkut peran H Muhidin atau Mak Enok. Saya menduga hal itu lantaran orang pada sibuk pada urusan sendiri hingga tiada waktu mencermati masalah ini. Bisa juga mereka berpikir ah itu kan lakon sinetron, senyatanya Latief Sitepu dan Lenny Charlotte tak sejahat yang ia perankan.

Ya, mungkin benar. Tapi pernahkah terbayang dampak negatif dari tayangan seperti itu? Ingat, bersama pembantu di rumah, anak-anak bisa seharian di depan televisi, dan itu amat riskan. Mereka yang dalam masa pertumbuhan dihadapkan pada hal-hal yang absurd dan menjerumuskan.

Bisa saja mereka lantas berpikir berlaku jahat pada orang lain itu wajar dan bisa dibenarkan hanya karena melihat orang lain berbuat serupa, sebagaimana dalam sinetron.

Serial itu bukan satu-satunya yang cukup merisaukan. Untung, masih tersedia film cerita lain yang bisa dibilang lebih bermutu, sebut saja FTV atau TVM.

Mencermati hal itu, perlu menemukan solusi terbaik melibatkan semua pihak, tokoh masyarakat memberi teladan yang benar dalam ucapan dan tindakan. KPI mesti lebih ketat ”menyensor” sinetron yang akan tayang, dan aparat memberi hukuman menjerakan bagi pelanggar. Semua mesti dilakukan mengingat nasib anak bangsa jadi taruhannya.

Guru di Jateng sudah mengajar dan mendidik dengan benar dan baik. Tapi bila dalam keseharian di rumah anak disuguhi berbagai tayangan destruktif, upaya mendidik sesuai ajaran moral yang benar akan sia-sia. Padahal, berkaca pada beberapa kasus tawur antarpelajar di Jateng, apalagi tindak kriminal lain, yang kena getah pastilah pendidik. Ingat, membimbing anak berbuat kebajikan itu relatif lebih sulit ketimbang mengajak anak berbuat kemudaratan. ●

Kamis, 17 Januari 2013

Demi Harkat dan Martabat Guru


Demi Harkat dan Martabat Guru
Th Rosid Ahmad ;  Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK
Kota (dan Eks Karesidenan) Semarang
SUARA MERDEKA, 17 Januari 2013



"Kewibawaan hanya bisa hadir bila guru punya perilaku mulia selaku pendidik dan pribadi yang layak diteladani"

Beragam kasus yang melibatkan oknum guru dan mencoreng wajah pendidik sering tersaji lewat media. Dalam hal wibawa, situasi sekolah zaman kakek-nenek kita sangat berbeda. Ibarat bumi dan langit, begitu cerita mereka selama ini. Dulu, guru amat disegani. Apa pun kata guru, murid melaksanakannya dengan patuh. Bukan berarti kita ingin kembali ke zaman kuno tapi perlu menyadari tidak semua yang kuno itu selalu buruk.

Prinsipnya, untuk bisa berkarya dengan baik, guru mesti kompeten dan berwibawa. Kewibawaan hanya hadir bila guru punya perilaku mulia selaku pendidik, dan pribadi yang layak diteladani. Agar harkat dan martabat tetap terjaga, hindari tindakan kurang terpuji dan perilaku tercela lain yang bisa merusak citra pendidik (meski itu dilakukan di luar tembok sekolah).

Sementara guna meningkatkan kompetensi diri, berbagai upaya bisa dilakukan melalui studi lanjut, ikut program pelatihan, rajin membaca, juga bertanya pada mereka yang lebih berpengalaman. Di luar itu, guru mesti berhati-hati menangani kasus kecil yang cukup mengganggu, semisal siswa menyontek tanpa risi saat ujian atau datang terlambat.

Yang cukup merisaukan, tak sedikit faktor eksternal berimbas pada guru. Beberapa kebijakan yang terkesan memanjakan murid, seperti ketentuan tak ada siswa drop-out karena biaya; siswa harus lulus maksimal; atau hukuman disiplin tak boleh terlalu keras, bisa saja mengundang masalah. Tidak jarang ini membuat guru takut memberi sanksi meski pelanggaran berat telah terjadi.

Pada dasarnya, disiplin tanpa sanksi tegas adalah non-sense, omong kosong. Bila sanksi tidak diberikan, tindakan melawan aturan, dan benih-benih korupsi akan tumbuh subur. Karena itu, ketentuan tidak boleh ada sanksi hukuman tegas terhadap pelanggar disiplin layak dipertanyakan.

Ketika perilaku siswa menyimpang dan melanggar aturan, sekolah akan memanggil orang tua untuk membahas masalah secara kekeluargaan. Sayang, teramat sering panggilan semacam itu tidak dipenuhi. Dampaknya, siswa tenang-tenang saja karena yakin tak akan ada hukuman, apalagi secara fisik.

Wibawa Hilang

Jika itu dilakukan, bisa-bisa jadi bumerang. Nasib guru (dan keluarga) menjadi taruhan. Pernah terjadi guru dilaporkan ke polisi gara-gara memberi hukuman yang dinilai terlalu keras. Padahal ungkapan ”terlalu keras” itu subjektif dan relatif, serta tidak selayaknya dipakai sebagai dasar untuk menghakimi guru.

Memang serbadilematis. Bayangkan, disiplin berkali-kali dilanggar, peringatan pun berulangkali diberikan tanpa tanggapan. Tapi ketika masalah berkembang menjadi kasus, yang ramai menjadi berita justru tentang hukuman yang dinilai berlebihan.
Semua itu hanya sebagian dari dampak kebijakan yang berisiko menggerogoti wibawa guru. Banyak contoh lain bisa ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Harus diakui, awalnya semua kebijakan itu diciptakan demi tujuan baik. Semisal, tak boleh ada anak putus sekolah karena biaya. Tujuannya jelas mulia, membela rakyat kecil. Agar pendidikan berlangsung lancar, pemerintah memberi bantuan operasional sekolah (BOS). Jika ternyata keluarnya dana seret, itu masalah lain.

Dalam tiap kebijakan selalu terkandung celah yang bisa ditembus secara tidak bertanggung jawab. Apa yang terjadi jika pelanggaran dibiarkan berlarut-larut tanpa tindakan tegas? Boleh jadi murid lepas kendali dan situasi sekolah amburadul. Akibatnya, guru dilecehkan, wibawa guru hilang, pendidikan tidak berlangsung sebagaimana mestinya, akhirnya target pendidikan tidak tercapai.

Kiranya, lebih utama semua pihak duduk bersama guna mencari solusi terbaik. Yang pasti, untuk bisa mengajar dan mendidik dengan benar, guru mesti berwibawa. Terlepas dari masalah pergantian kurikulum dan target sekolah, kendala yang mengadang memang tidak ringan. Tapi guru yang bijak mampu bekerja secara cerdas dan optimal untuk bertahan dari gempuran beragam kepentingan. Dengan begitu mereka bisa berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. ●

Selasa, 11 Desember 2012

Stimulasi Pengayaan Pengetahuan


Stimulasi Pengayaan Pengetahuan
Th Rosid Ahmad ;  Pensiunan Guru SMP 9 Semarang
SUARA MERDEKA, 08 Desember 2012


"Tahun 2011, buku TTS Pilihan Kompas 2 menduduki peringkat III Top Ten Books di Gramedia Matraman"

Pembaca media di mana pun pasti mafhum apa itu teka-teki silang (TTS). Namun belum tentu semua paham mengapa rubrik ini begitu penting hingga hampir semua media cetak memuatnya secara berkala. Bagi sebagian orang, mengisi teka-teki silang amat menghibur, mencerdaskan, sekaligus bermanfaat.

Selain menstimulasi perluasan pengetahuan, aktivitas itu mampu melatih kesabaran, sekaligus meningkatkan kemampuan menemukan relasi antara satu hal dan hal lain. Pertanyaan atau permasalahan sangat terbuka terhadap berbagai jawaban. Teramat sering, berkat bantuan kotak-kotak yang telah terisi, kita menemukan jawaban.

Kadang berkait dengan hal spesifik yang dalam percakapan sehari-hari terabaikan, seperti penulisan kata sesuai standar baku Bahasa Indonesia. Contoh, penulisan kata apotik, nasehat, resiko, sentausa, dan trampil; kelimanya tak sesuai standar. Yang baku, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah apotek, nasihat, risiko, sentosa, dan terampil.

Teka-teki silang yang baik bisa membuat pengisi begitu tertantang untuk menguji kemampuan. Tatkala seluruh kotak sudah terisi, hadir semacam ìkenikmatan kreatifî yang membuat orang seperti kecanduan. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan komunitas masyarakat pecandu Tteka-teki silang, apa pun namanya, kini di pasaran banyak dijual buku seperti itu. Yang cukup mengejutkan, tahun 2011 buku TTS Pilihan Kompas 2 menduduki peringkat III Top Ten Books di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta. Ini luar biasa mengingat tiap bulan terbit sekitar 2.000 judul buku baru.

Beberapa selebriti pun mengakui manfaat itu. Rosianna Silalahi, praktisi media terkenal, percaya bahwa mengisi teka-teki silang adalah cara jitu membuat otak tetap terasah. Buktinya? Karena rajin mengisi TTS, hingga usia 77 tahun sang ibu tetap memiliki daya ingat kuat. Dalam hal sama, penyanyi Ari Lasso mengaku ingin seperti ayahnya, yang hingga usia senja masih tetap fit.

Memang pertanyaan teka-teki silang cukup menguras energi, dalam konteks pikiran. Tetapi, asal jeli dan mau berusaha, kita menemukan juga jawabannya. Tidak jarang, tampilan menyerupai bentuk permainan (game).

Menambah Pengetahuan

Sejujurnya, materi pertanyaan yang terlampau sulit justru bisa kontraproduktif. Kesulitan atau kegagalan menemukan jawaban membuat orang putus asa, bahkan bisa berbuntut antipati. Risiko terburuk, berhenti berlangganan, pindah ke lain media. Di lain pihak, seandainya permasalahannya terlalu mudah, seperti kuis, juga tidak menggairahkan. Mirip undian, dan pemenang adalah mereka yang beruntung berdasar nasib baik semata.

Memenangi hadiah apa pun tentu menyenangkan. Tapi, itu bukan segala-galanya mengingat banyak yang berkutat berjam-jam mengisi kotak-kotak itu meski hasil pengisian itu tidak selalu dikirimkan ke media cetak tersebut.

Pembaca harus diakui, belakangan ini tampilan isi ataupun kualitas pertanyaan TTS di harian ini meningkat cukup signifikan. Termasuk besaran hadiah yang sudah memadai. Justru, jumlah pemenang perlu ditambah agar makin banyak yang kebagian rezeki. Dukungan sponsor dan promosi secukupnya akan berkontribusi pada peningkatan jumlah pelanggan.

Bila redaksi menyiapkan rubrik teka-teki silang dengan baik, sesungguhnya bermanfaat bukan saja bagi pembaca melainkan juga bagi pemerintah, dalam hal ini PT Pos Indonesia karena pengisi membutuhkan perangko untuk mengirimkan jawaban mereka. Terlepas dari semua itu, hobi mengisi teka-teki silang bermanfaat, minimal sebagai stimulus yang bisa memperkaya pengetahuan.

Kita tertantang untuk tidak berhenti untuk mencari tahu, dari istilah sederhana hingga sebuah penyimpulan, atau mendapat pengetahuan baru secara sambil lalu. Lebih jauh lagi, bagi orang tua, merasa selalu mendapat pelajaran dan pengetahuan baru.

Senin, 29 Oktober 2012

Keberlanjutan Tantangan Guru


Keberlanjutan Tantangan Guru
Th Rosid Ahmad ;  Alumnus Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris
IKIP Negeri Semarang (kini Unnes),
Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Kota dan Eks Karesidenan Semarang
SUARA MERDEKA, 29 Oktober 2012



Dalam upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, dari waktu ke waktu guru selalu menghadapi tantangan baru, dan makin berat. Persaingan ketat di pasar kerja, makin mahalnya biaya pendidikan, dan kehadiran beragam temuan teknologi mutakhir, ternyata melahirkan berbagai dampak.

Tawuran pelajar yang akhir-akhir ini meningkat bukan saja frekuensinya melainkan juga alat yang dipakai, berikut tingkat kebrutalan, hanyalah salah satunya. Padahal realitasnya, saat ini internet merambah hampir semua bidang kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan. Kepesatan pertumbuhan tersebut mesti ditanggapi secara cerdas, positif, dan ekstrahati-hati.  Tidak dapat dimungkiri, kehadiran internet bisa memberi segudang manfaat demi kemaslahatan semua pihak. Namun banyak hal yang perlu disikapi secara cerdas dan bijaksana. Pasalnya bila salah mengantisipasi bisa berakibat yang sangat destruktif, bahkan fatal: kehancuran masa depan satu generasi! 

Faktanya, dengan berselancar di internet, kita bisa dengan mudah memperoleh beragam pengetahuan baru. Bagi siswa, cara itu sangat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah. Sayang, dengan alasan memburu waktu dan kesulitan memproses data, banyak siswa hanya mengambil apa adanya materi dari sumber berita tanpa mengolah terlebih dahulu alias salin tempel (copy paste).

Tindakan tersebut jelas tidak sehat dan melawan hukum. Bila dibiarkan, sama saja membimbing anak berperilaku bodoh dan tidak kreatif. Dampaknya, murid menjadi malas dan terbiasa melanggar hak cipta, suatu tindakan tercela. Masalahnya, bagaimana mencegah berkembangnya budaya salin tempel seperti itu?
Di beberapa sekolah, guru terpaksa mewajibkan murid menyerahkan tugas dalam bentuk tulisan tangan. Meski kedengarannya cukup bagus, langkah preventif tersebut juga perlu dikaji ulang. Memang, murid terpaksa bekerja ekstrakeras menyelesaikan tugas yang diemban. Tetapi pada  zaman modern ini langkah seperti itu terkesan kurang cerdas.

Demi menghindari budaya salin tempel, guru harus cerdik dan kreatif. Agar lebih tepat sasaran, segala sesuatunya harus disiapkan dengan matang sebelum memberi tugas. Perlu penyadaran bahwa tindakan mengambil karya orang lain tanpa izin adalah sesuatu yang tidak semestinya dilakukan kalangan intelektual.

Nilai Kekeluargaan

Dengan begitu diyakini bahwa yang dikumpulkan anak didik itu benar-benar karya ilmiah berkualitas. Sebetulnya, saat ini ada beberapa program komputer yang dapat mendeteksi plagiarisme. Kendati demikian, jauh lebih utama sekolah mampu menanamkan kesadaran agar siswa memiliki academic honesty, prinsip menyangkut tanggung jawab moral yang tumbuh mengakar.

Guru juga harus tampil sebagai fasilitator dalam mendidik anak supaya tumbuh menjadi insan cerdas dan bertanggung jawab. Hindarkan penggunaan media informasi canggih ini untuk hal-hal negatif yang bisa mengundang masalah. Sebaliknya, penggunaan secara positif sesuai fungsinya sebagai media komunikasi andal bisa meningkatkan kualitas hidup pengguna.

Sudah selayaknya sekolah memiliki sistem yang menekankan kerja sama harmonis antara orang tua dan sekolah, guru dan siswa. Sinergitas itu untuk memupuk siswa dari segi spiritual, moral, akademis, dan sosial. Ingat, tiap anak adalah a shining star, makhluk ciptaan Tuhan nan unik penuh talenta yang harus dikembangkan secara optimal.
Sungguh bijak jika bisa dirancang program pendidikan yang menanamkan kepedulian bersama dengan merangkul nilai-nilai kekeluargaan dan mengikutsertakan seluruh siswa dalam pendidikan yang aktif dua arah. Kehidupan komunitas sekolah perlu diperkaya dengan meningkatkan kerja sama dan hubungan harmonis antara sekolah-rumah-komunitas di luar sekolah. ●