Selasa, 31 Mei 2016

Urgensi Berkata Benar

Urgensi Berkata Benar

Agoes Ali Masyhuri ;    Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim
                                                        JAWA POS, 27 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ketika Gus Dur menjadi Presiden, salah seorang asistennya yang bertugas di Istana Negara, memiliki latar belakang anggota TNI Angkatan Laut. Namun, belakangan diketahui tidak bisa berenang. Ia sering digoda dan diusili teman-temannya.

Dalam kesempatan tertentu, seorang ajudan menghadap Presiden. ”Lapor Pak Presiden, ini lho ajudan Bapak, masak TNI Angkatan Laut kok tidak bisa berenang!”

Karuan saja, ajudan TNI-AL tersebut langsung tegang, melotot, tidak menyangka bila ada yang nekat melaporkan hal-hal sensitif. Tapi, ternyata, Presiden Gus Dur pun merespons dengan datar-datar saja. Gus Dur menjawab. “Lha itu, ada yang dari Angkatan Udara juga nggak bisa terbang kok….” Suasana menjadi cair, penuh canda, dan tawa.
                                                      ***
Dalam pergaulan dengan sesama dibutuhkan sopan santun dan tata krama. Lukanya tubuh kena pisau, masih gampang dicari obatnya. Harapan untuk sembuh sangat terbuka. Tapi, lukanya hati kena ucapan yang menyakitkan, sulit dicari obatnya.

Ketahuilah lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya. Orang yang berakal sehat tak akan mengucapkan sesuatu sebelum dipikir masak-masak, sementara orang bodoh bila berbicara tanpa dipikirnya terlebih dahulu.

 Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat maka jalan yang harus ditempuh hanyalah satu, yaitu mentaati Allah dan Rasul. Jangan bicara kecuali benar dan bermanfaat karena setiap kata-kata pasti didengar Allah dan harus kita pertanggungjawabkan.

Berpikir dan menimbang sebelum bicara menjadi satu keharusan. Bertanyalah selalu, pantaskah saya bicara seperti ini? Benarkah perkataan ini kalau saya ucapkan?

Ada perkataan yang benar, tetapi tidak tepat situasi dan kondisinya. Islam mengistilahkan kebenaran dalam perkataan sebagai Qaulan Sadida. Apa syaratnya? Pertama, apa yang dikatakan harus benar. Benar di sini mengandung arti, perkataan kita harus sesuai kenyataan, tidak menambah-nambah maupun mengurangkan.

Sebagaimana sabda beliau Rasulullah SAW. “Biasakanlah berkata benar karena kebenaran menuntun pada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga. Hendaklah seseorang itu berkata benar dan berusaha agar tetap benar sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang amat benar.” (Muttafaq ‘alaih)

Kedua, setiap kata memiliki tempat yang tepat, dan setiap tempat itu memiliki kata yang tepat. Tepat di satu tempat, belum tentu tepat di tempat lain. Ada hal yang tepat di mata orang tua, tetapi di mata anak muda kurang tepat. Tepat menurut guru, tetapi menurut murid belum tentu tepat.

Kebenaran dalam berbicara belum cukup. Dibutuhkan kecerdasan membaca situasi dan obyek yang diajak bicara. Pengemasan komunikasi tidak kalah penting dengan isi pesan yang akan dikomunikasikan.

Ketiga, kita harus bisa mengukur apakah kata-kata itu melukai atau tidak. Sebab, sensitifitas setiap orang berbeda-beda. Jika sebuah pembicaraan terasa biasa-biasa saja bagi seseorang, bisa saja pembicaraan tersebut menjadi sangat menyinggung bagi orang lain.

Pertanyaan “kapan menikah?” adalah pertanyaan yang menggelikan bagi anak SMA, tetapi menjadi pertanyaan yang sangat memberatkan bagi seorang gadis yang berusia 40 tahun.

Keempat, pastikan perkataan itu bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda. “Tidak akan lurus iman seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sebelum lurus lidahnya, dan tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya.” (HR. Ahmad)

Belajar mendengarkan

Kita harus belajar mendengarkan. Mendengar belum tentu mendengarkan. Mendengar hanya sekadar menyerap suara, sedangkan mendengarkan tidak sekadar menyerap suara, tetapi juga menyimak dan mengolah apa-apa yang kita dengar. Karena itu, dengan mendengarkan, kita akan paham dan dengan paham kita bisa berubah.

Mendengarkan erat kaitanya dengan keterampilan untuk fokus. Cahaya matahari yang difokuskan oleh suryakanta bisa membakar kertas dan bahan lainnya. Kalau kita berkonsentrasi, informasi, dan ilmu pun akan menjadi fokus sehingga semangat kita akan menyala.

Kalau semangat sudah menyala, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk sukses. Karena itu, kita harus belajar mendengarkan, menyimak, dan memfokuskan diri untuk memahami. Dengan pemahaman yang benar, insya Allah kita bisa bertindak benar dan proporsional.

Kesimpulannya, mendengar harus lebih banyak daripada berbicara. Allah SWT menganugerahkan tujuh lubang di kepala. Dua di telinga, dua di mata, dua di hidung, dan satu di mulut.

Mulut adalah lubang terbesar. Apa artinya? Berpikir harus lebih banyak daripada berbicara; enam input dengan satu output. Kumpulkan input melalui mata, telinga, dan pembau, lalu fokuskan untuk menghasilkan kata-kata berkualitas melalui mulut.

Ya Allah, anugerahkan pada kami kejujuran dalam berucap dan keikhlasan dalam beramal. Ya Allah, jadikanlah amal kami tulus ikhlas karena mencari keridhaan-Mu, serta terimalah di sisi-Mu dan selamatkan kami dari fitnah era global ini. Ya Allah, tutuplah aib-aib kami dengan tirai-Mu, yang tidak mungkin tersingkap dan masukkan kami ke dalam rahmat-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang shalih. ●