Senin, 23 Mei 2016

Sekularisme Turki

Sekularisme Turki

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                    KORAN SINDO, 20 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Istilah sekuler dan sekularisasi memiliki banyak dimensi. Dalam politik, artinya terjadinya pemisahan antara negara dan agama. Agama adalah urusan pribadi, simbol-simbol agama tidak boleh masuk ke ruang negara. Tetapi dalam praktiknya tidak semudah itu. Misalnya Amerika atau Eropa yang menganut paham sekularisme politik, penguasanya tidak bisa netral terhadap sentimen dan sikap keberagamaannya. Terlebih masyarakat dan pemerintah Turki yang masih kuat tradisi keislamannya, maka kita sering salah paham terhadap konsep dan praktik sekularisme Turki.

Ada lagi istilah secularization of consciousness. Yaitu sebuah sekularisasi kesadaran, di mana rasa dan komitmen kebertuhanan semakin menghilang, terlepas apakah seseorang hidup di negara sekuler atau bukan. Sebuah penelitian menyebutkan, masyarakat Amerika lebih religius dibandingkan masyarakat Eropa, sekalipun secara politik AS lebih konsekuen menerapkan sistem sekuler.

Selama ini sosok Mustofa Kemal, tokoh sentral pendiri dan presiden pertama Republik Turki, diposisikan sebagai anti-Islam setelah menggulingkan Imperium Usmani (Ottoman Empire), lalu mendirikan republik sekuler Turki. Tentu saja berakhirnya Imperium Usmani ini tidak semata kehebatan Mustofa Kemal. Sekitar enam abad Usmani berjaya malang melintang, kekuasaan dan pengaruhnya menjangkau seluruh dunia Islam, termasuk Aceh, bahkan sampai Eropa. Jadi terlalu hebat menempatkan Mustofa Kemal sebagai sosok sentral yang mengakhiri eksistensi Imperium Usmani.

Jika disebut Imperium Usmani, di dalamnya terkandung tiga ideologi, yaitu satu, paham dinastisme yang berpusat pada keturunan Usman. Dua, ideologi Turkisme yang berakar pada semangat dan solidaritas bangsa Turk yang berasal dari Asia Tengah. Tiga, ideologi Islamisme yang dianut oleh sultan keturunan keluarga Usman. Benih-benih kerapuhan Kaisar Usmani sesungguhnya sudah muncul jauh sebelum Perang Dunia Pertama, yang puncaknya ketika Kesultanan Usmani bersama Jerman dikalahkan oleh Inggris dan sekutunya.

Pada awal abad ke-19 ekonomi dan teknologi Eropa mulai bangkit, dunia Islam masih terlalu yakin dirinya tak tertandingi karena selalu melihat kehebatan masa lalunya dan yakin sekali Allah berada di pihaknya. Inggris dan Prancis dengan kecerdikannya berusaha meracuni tokoh-tokoh kabilah Arab untuk melakukan pembangkangan terhadap kekuasaan Istanbul, dengan janji mau diberi wilayah sendiri sebagai sultan.

Makanya ketika meletus PD I, Jerman telah melakukan salah kalkulasi. Semula dia bayangkan Kesultanan Usmani sangat perkasa dan mampu mengerahkan dunia Islam untuk ikut melawan sekutu, tetapi ternyata dugaan dan harapan Jerman meleset. Bersama Jerman, Kesultanan Usmani kalah. Wilayah Arab yang semula di bawah kekuasaan Istanbul beralih tangan ke Inggris dan Prancis yang pada urutannya bermunculanlah kesultanan-kesultanan Arab dalam bayang-bayang Inggris, Prancis, dan Amerika.

Namun, sebagian lalu mendekat ke poros blok Uni Soviet. Jadi, jika di Indonesia dulu banyak kesultanan yang ikut berperang melawan penjajah dan setelah merdeka lalu melebur ke pangkuan republik, maka genealogi kesultanan di Arab ceritanya sangat berbeda.

Melihat kekuatan Usmani sudah rapuh tak mampu menguasai dunia Islam dan menghadapi kekuatan Barat, Mustofa Kemal tampil mengobarkan semangat nasionalisme-Turkisme. Dia yakin bahwa hanya ideologi nasionalisme Turkisme yang bisa menyelamatkan bangsa Turki di tengah gencarnya agresivisme-imperialisme Barat. Di saat Kesultanan Usmani runtuh tak berdaya menghadapi serangan sekutu, Mustofa Kemal tampil memimpin gerakan nasionalisme Turkisme dan menggusur Islam politik, lalu menggantinya dengan ideologi sekuler.

Ideologi Kemalisme ini merupakan antitesis terhadap kekuatan Sultanisme Islamisme yang dianggap tak mampu menyelamatkan bangsa Turki, lalu dimunculkanlah ideologi republikanisme. Beberapa pengamat menyebutkan bahwa Mustofa Kemal sesungguhnya merupakan eksekutor dari pemikiran Ziya Gokalp yang merupakan pengagum Emile Durkheim.
Gokalp mengatakan bahwa Islam tetap diperlukan bangsa dan negara Turki sebagai identitas dan kekuatan pengikat sosial, namun sistem kesultanan dan kekhalifahan mesti diganti dengan ideologi nasionalisme yang lebih powerful untuk membangun Turki ke depan. Oleh karena itu, pada awal-awal pendirian Republik Turki terjadi perpecahan di kalangan ulama, ada yang pro dan antirepublikanisme. Dan ternyata Mustofa Kemal menang.

Sejarah mencatat, Mustofa Kemal jelas-jelas anti-Kesultanan Usmani.
Tapi ada yang melihat dari sisi lain, kalau waktu itu tak ada gerakan republikanisme di bawah Mustofa Kemal mungkin sekali Istanbul hari ini sudah menjadi wilayahnya Eropa. Kritik yang sering dialamatkan kepada Kemal Attaturk adalah terlalu drastis melakukan de-Arabisasi yang pada urutannya menggusur tradisi dan khasanah intelektual Islam, mengingat kala itu Islam dan budaya Arab sulit dipisahkan. Attaturk artinya bapak bangsaTurki, sebuah nama yang melekat pada Mustofa Kemal.

Turki hari ini tengah membangun keseimbangan baru dengan menghubungkan dan menghargai khasanah Islam semasa kejayaan Usmani dengan spirit kemodernan dalam sistem republik sekuler. Sebuah negara dengan mayoritas warganya 99% muslim. Mereka menyadari bahwa dirinya bukan Arab dan bukan pula Barat. Namun anehnya, bagi dunia Islam, Turki dianggap saudara yang nakal karena terlalu berorientasi ke Barat, sementara di mata Barat, Turki adalah negara muslim dengan tradisi Islamnya yang kental dan kekuatan militernya yang disegani.

Hari-hari ini Turki sedang memainkan posisi strategisnya dengan menampung eksodus korban perang Suriah sebagai kekuatan tawar agar Turki bisa masuk menjadi anggota MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa).