Tampilkan postingan dengan label Iklan Provokatif TKI di Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iklan Provokatif TKI di Malaysia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

Iklan dan Kebenaran

Iklan dan Kebenaran

Ahmad Sahidah   ;   Dosen Filsafat Universitas Utara Malaysia
KORAN TEMPO, 11 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

Iklan "Fire Indonesian Maid", yang dibuat sebuah perusahaan, Malaysia memantik amarah banyak orang. Dengan bukti gambar yang dimuat di media, siapa pun tidak akan menyangkal bahwa ada penghinaan di situ. Betapa manusia lebih hina ketimbang barang. Jika pemerintah Indonesia, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, akan menuntut ke pengadilan, tentu langkah ini wajar. Sebab, apabila kekerasan simbolis seperti ini dibiarkan, nasib pembantu rumah tangga kita di sana berada di ujung tanduk. Tenaga kerja wanita (TKW) kita seakan lebih rendah daripada barang dan dengan mudah bisa diperlakukan sewenang-wenang.

Namun, dalam kasus iklan "TKI on Sale" ini, sang pelaku tak bisa ditelusuri. Hingga sekarang, Rubini tak bisa diseret ke pangadilan. Meski ada nomor telepon yang tercantum pada spanduk iklan, perusahaan resmi, Corvan Technology, sebagaimana dikutip oleh portal Malaysiakini, 5 Februari 2015, menegaskan bahwa yang meletakkan spanduk itu adalah pihak luar. Lagi-lagi, sepertinya kasus ini akan segera menguap seiring dengan perhatian orang yang ramai tertuju pada penandatanganan nota kesepahaman antara PT ASL dan Proton Sdn Berhad untuk menggarap mobil nasional.

Lalu mengapa kasus seperti ini muncul ke permukaan? Sentimen. Citra negeri jiran begitu buruk di mata banyak orang akibat tragedi yang menimpa pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia, dari kekerasan hingga penelantaran tanpa gaji. Apalagi, Malaysia dan Indonesia adalah dua negara yang mempunyai hubungan paling intensif dalam banyak bidang, yakni ekonomi, politik, dan kebudayaan, sehingga gesekan sering terjadi. Belum lagi, beban sejarah hitam pernah mencoreng keduanya (konfrontasi). Selain itu, ada 300 ribu pembantu resmi yang bekerja di Malaysia-tidak termasuk yang ilegal. Dengan kenyataan ini, tentu tidak mudah untuk mengurai silang-sengkarut yang ada.

Jika berkepala dingin, sejatinya andaian bahwa Malaysia mengabaikan buruh migran sungguh berlebihan. Kalau kita melihat dari dekat, begitu banyak PRT kita yang bekerja dengan nyaman dan mendapatkan majikan yang penuh perhatian. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah menjumpai seorang ibu keturunan Cina yang dengan rela menemani pembantunya yang akan mudik. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa PRT yang bersangkutan bisa pulang dengan selamat. Sekali waktu, di sebuah bank lokal saya pernah bercakap-cakap dengan majikan Melayu yang menemani pembantunya untuk mengirim uang ke kampung halaman. Bayangkan! PRT tersebut telah bekerja selama 10 tahun. Sang majikan telah menganggapnya seperti keluarga sendiri.

Seharusnya iklan tersebut dilihat sebagai trik pemasaran. Penawaran barang-barang alat elektronik pembersih sangat diperlukan. Peluang permintaan pun terbuka lebar. Hanya, distributor bertindak ceroboh. Sebuah moto iklan tak menimbang kata yang mengandaikan makna yang tak sama di mata khalayak.

Bagi pembuat iklan, yang tak disadari oleh penjual, reklame tak lebih dari sebuah pengertian bahwa ada barang yang bisa bekerja secara lebih efisien dan murah. Dengan hanya merogoh uang sejumlah sekian, pembeli tak lagi memerlukan pembantu. Tapi tidak bagi masyarakat Indonesia. Jika sebuah perusahaan menista PRT asal Tanah Air, ia layak diboikot. Sayangnya perusahaan yang berpusat di Amerika itu tidak mempunyai cabang di sini.

Senin, 09 Februari 2015

Pesan untuk Jokowi

Pesan untuk Jokowi

Ismatillah A Nu’ad  ;  Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina Jakarta
JAWA POS, 07 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

Sebuah iklan robot pembersih di Malaysia yang memuat tagline "Fire Your Indonesian Maid" atau kurang lebih artinya "Pecat pembantu asal Indonesia Anda". Sangat mengejutkan. Iklan itu seakan "menyambut" lawatan Presiden Jokowi ke Malaysia.

Nasionalisme keindonesiaan kita tiba-tiba bangkit kembali karena merasa dilecehkan sebagai bangsa. Iklan itu sebetulnya menjadi pemecut, sudah saatnya pemerintahan Jokowi memperluas lapangan kerja di dalam negeri dan memberikan upah minimum regional (UMR) yang standar dan representatif untuk menunjang tingkat kesejahteraan dunia perburuhan kita.

Hubungan bilateral Indonesia-Malaysia memang kerap di titik nadir. Mungkin sering dirasakan, arogansi Pemerintah Malaysia menyikapi persoalan yang muncul di antara kedua negara. Di sisi lain, masyarakat menilai, pemerintah sebelum era Jokowi terlalu lentur bersikap pada Malaysia. Ambil contoh, seringnya pelecehan dan kekerasan terhadap TKI.

Ada ribuan TKI yang masuk Malaysia secara legal atau ilegal. Tapi, kenyataannya mereka bisa bekerja di Malaysia. Walaupun setelah dilakukan operasi, akhirnya yang ilegal dideportasi. Yang menyedihkan, perlakuan kekerasan kerap diterima TKI. Malaysia cenderung menganggap tindakannya tidak salah, kadang sambil menyalahkan Indonesia.

Hubungan kedua negara dari awal memang banyak persoalan. Idiom bahwa kedua negara adalah serumpun seperti hanya sebatas simbol. Pada dekade 1960-an, misalnya, terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia, perang mengenai masa depan Kalimantan. Perang ini berawal dari keinginan Malaysia menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada 1961. Keinginan itu ditentang Presiden Sukarno yang menganggap Malaysia sebagai boneka Inggris Raya.

Saat itu, demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur terjadi masif. Ketika demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Sukarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman (Perdana Menteri Malaysia saat itu) dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Sukarno terhadap Malaysia pun meledak. Sukarno murka karena hal itu dan mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia. Lalu Sukarno membalas dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysian (M Jones, Conflict and Confrontation in South East Asia, 2002).

Melihat fakta ini, kadang kita pesimistis sambil mengatakan, percuma kita menjadi bangsa serumpun jika kenyataannya selalu menjadi benalu. Bahkan, ucapan Indonesia serumpun dengan Malaysia hanya cenderung terlontar di mulut orang Indonesia saja. Paling orang Malaysia hanya menyebut negeri jiran atau negeri tetangga. Seperti ada arogansi dan superioritas tentang kemelayuan. Melayu Malaysia dianggap lebih tinggi derajatnya ketimbang "Melayu" Indonesia.

Ada juga stigma kata-kata Indon yang menunjuk pada orang Indonesia yang diklaim selalu bermasalah di Malaysia. Orang Malaysia pun memanggil orang Indonesia dengan sebutan Indon. Kita sendiri tak kalah dengan sebutan serupa, kata-kata Malokay atau Malingsia juga ditunjukkan orang Indonesia ke orang Malaysia. Kata itu menyimbolkan bahwa orang Malaysia suka mencuri. Lihat, misalnya, pencurian kayu besar-besaran di Kalimantan oleh makelar-makelar Malaysia. Karena itulah mereka disebut Malingsia.

Memang, di kalangan orang Melayu Indonesia, terdapat semacam persoalan psikologis dalam melihat orang Melayu Malaysia. Begitu pula sebaliknya. Mungkin, propaganda ganyang Malaysia oleh Sukarno pada awal 1960-an masih membekas di kebanyakan orang, baik Indonesia atau Malaysia. Dalam bahasa HS Nordholt (2007), mungkin warisan itulah yang sulit dihilangkan dari benak kesadaran orang Indonesia maupun Malaysia.

Namun, harus kita akui bahwa Malaysia telah mengubah wajah bangsanya selama 20 tahun terakhir. Mulanya lewat pembangunan politik, ekonomi, dan kini kemajuan budaya. Sementara, Indonesia masih terus didera persoalan politik dan ekonomi. Jika dulu banyak guru Indonesia dikirim ke Malaysia dan banyak pula pelajar Malaysia ke Indonesia, kini tanpa disadari hal itu berbalik. Mutu pendidikan di Malaysia lebih baik dibandingkan Indonesia. Sekarang lebih banyak orang Indonesia menuntut ilmu di Malaysia. Persoalan inilah yang semestinya menjadi perhatian terhadap bangsa Indonesia secara menyeluruh.

Saat ini, Malaysia memang tumbuh pesat. Kemajuan perekonomian Malaysia kini di atas Indonesia. Ekspansi perusahaan besar Malaysia pun merambah Indonesia, seperti Petronas. Kemajuan itu bisa dilihat dari ekspansi korporasi Malaysia di bidang perbankan, perkebunan, minyak dan gas, properti, dan lainnya. Mobil produk Malaysia pun merambah Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Malaysia ini menjadi daya tarik bagi orang Indonesia untuk mengisi kesempatan kerja di sana. Bersama tenaga kerja dari sejumlah negara, seperti Vietnam dan Filipina, mereka mencari nafkah di Malaysia. Pertanyaannya, sejauh mana kedua negara mampu memberikan solusi terbaik? Apakah masing-masing delegasi mampu berdiri di tengah-tengah?

Hubungan bilateral kedua negara memiliki makna strategis tidak hanya bagi negara lain di ASEAN dan dunia. Yang tidak kalah penting, perwakilan Indonesia harus mampu menjaga integritas kedaulatan dan integritas bangsa.
Harga diri dan martabat bangsa harus ditegakkan.

Perjanjian untuk menyelesaikan konflik kedua negara harus dilakukan pada kesempatan lawatan Jokowi, seperti soal perbatasan dan pulau-pulau kecil di perbatasan dengan Malaysia. Semoga ini bisa membuka babak baru hubungan kedua negara yang lebih baik dalam berbagai sektor pembangunan. Hubungan kedua negara memang bagai roller-coaster, tapi naik-turunnya hubungan itu hendaknya menjadi pelajaran untuk lebih mendewasakan lagi.

Sabtu, 07 Februari 2015

Iklan Provokatif Negara Serumpun

Iklan Provokatif Negara Serumpun

Anna Yulia Hartati  ;  Dosen Hubungan Internasional,
Peneliti dari Lab Diplomasi FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang
SUARA MERDEKA, 06 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

TULISAN bernada provokatif ’’Fire Your Indonesian Maid Now’’ (’’Pecat Pembantu Indonesia Sekarang Juga’’) lewat iklan perusahaan pembuat alat pembersih, RoboVac, menuai protes dari KBRI di Kuala Lumpur Malaysia (liputan6.com, 3/2/15). Indonesia menyesalkan cara beriklan perusahaan swasta itu, yang sangat tidak sensitif sekaligus merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Pemerintah kita mendesak otoritas Malaysia untuk melarang iklan tersebut, termasuk di situs RobVac dengan tautan http://neatrobotcleaner. com.my. Penegasan nota diplomatik itu disusul dengan menugasi retainer lawyer untuk menemui pihak perusahaan dan melakukan analisis hukum guna melakukan langkah hukum selanjutnya. KBRI juga telah melaporkan pemasangan iklan itu kepada Kepolisian Wilayah Selangor. Dubes RI untuk Malaysia, Herman Prayitno menyayangkan kemunculan iklan. Terlebih hal kemunculanngah persiapan kunjungan Presiden Jokowi ke Malaysia tanggal 5-7 Februari 2015. Kunjungan kenegaraan itu untuk lebih memperkokoh hubungan bilateral negara srumpun yang saling menguntungkan. Tindakan iklan provokatif tidak hanya kali ini, mengingat tahun 2012 di negara itu ada iklan Indonesian Maids on Sale (Diskon TKI).

Persoalan TKI memang jadi isu yang cukup sensitif terkait hubungan kedua negara. Mengapa tindakan provokatif selalu berulang dan mewarnai hubungan Indonesia-Malaysia? Kita tak bisa memungkiri fakta jumlah TKI kita di Malaysia sangat banyak, yang berdasar data BN2PTKI hampir 2 juta orang. Banyaknya jumlah TKI dengan beragam permasalahannya membuat media Malaysia melakukan berbagai ’’kezaliman’’ dan ketidakadilan dalam pemberitaan. Sewaktu muncul sengketa Sipadan, Ligitan, dan Ambalat; media Indonesia melakukan serangan balasan dengan memuat berita cukup provokatif. Hal itu menimbulkan reaksi di masyarakat, bahkan ada sweeping warga Malaysia di Indonesia.

Propaganda Malaysia dilakukan lewat berbagai cara dari yang positif hingga negatif. Pada dasarnya kegiatan propaganda dimaksudkan untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku individu/kelompok lain dengan menggunakan berbagai macam teknik, antara lain penjulukan (name calling), glittering generalities (menggunakan kata-kata bijak), transfer, testimonial, dan sebagainya.

Propaganda merupakan salah satu pendekatan komunikasi dalam persuasi baik itu politik, retorika, maupun periklanan/pemasaran. Apa yang dilakukan oleh Malaysia tidak hanya sekali tetapi beberapa kali melalui beragam media. Iklan produk pembersih RobVac bisa dikatakan sebagai alat propaganda. Banyak faktor yang menyebabkan hubungan negara serumpun itu seakan-akan selalu sensitif. Pertama; dalam sejarah, tindakan provokatif yang mengarah pada ketegangan hubungan, bahkan menjurus konflik mengalami puncak diawali pada era kepemimpinan Presiden Soekarno. Waktu itu slogan ’’Ganyang Malaysia’’ terdengar di mana-mana.

Konflik Individu Konflik itu sesungguhnya lebih banyak diakibatkan konflik individu antara Soekarno dan Tunku Abdul Rahman (mantan PM Malaysia). Indonesia ketika itu tidak mau bergabung dengan komunitas regional semacam ASEAN tersebut karena pembentukan forum itu digagas Malaysia. Politik luar negeri kedua negara pun kala itu bertentangan, Malaysia pro-Barat yang antikomunis dan Indonesia dengan politik bebas aktif cenderung ke blok kiri (komunis). Kedua; kurangnya pemahaman masyarakat kedua bangsa saat ini tentang akar sejarah masing-masing. Hal itu menjadi penyebab tak kunjung selesainya aksi provokatif kedua negara hingga saat ini.

Sesungguhnya akar kebudayaan dua negara serumpun memiliki banyak kesamaan. Dulu, banyak negeri di Malaysia didirikan pendatang dari Indonesia, di antaranya Negeri Sembilan, Johor, dan Selangor. Hal inilah yang kemudian menyebabkan banyak kesamaan produk budaya . Ketiga; hilangnya ketokohan kedua negara. Sejarah hubungan kedua negara tercatat dari tanggal 11 Agustus 1966 ketika persetujuan pemulihan hubungan Indonesia-Malaysia diteken di Jakarta oleh Adam Malik (Indonesia) dan Tun Abdul Razak (Malaysia). Kita bisa mengambil pelajaran dari manisnya hubungan semasa kepemimpinan Soeharto dan di Malaysia semasa kepemimpinan Tun Abdul Razak dan Mahathir Mohamad. Soeharto dan Tun Abdul Razaq banyak berdialog dan kemudian mengedepankan konsep negara serumpun yang melandasi program bersama, salah satunya ’’Titian Muhibah’’. Poin ketiga itu setidak-tidaknya bisa kembali membuka cakrawala kedua negara untuk selalu menjaga hubungan harmonis, apalagi saat ini sama-sama menapaki era MEA 2015. Perlu lebih mengedepankan hubungan people to people supaya perasaan saling menghormati dan menghargai tetap terjaga.