Selasa, 31 Mei 2016

Ashoka

Ashoka

Trias Kuncahyono ;    Penulis Kolom KREDENSIAL Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 29 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Syahdan, pada suatu ketika pada tahun 321 SM, Chandragupta Maurya, dengan menggunakan tentara bayaran berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Nanda. Inilah awal dari kelahiran Dinasti Maurya dengan Chandragupta Maurya sebagai raja pertama (321-297 SM).

Kekuasaannya membentang dari Himalaya dan lembah Sungai Kabul (sekarang Afganistan) di utara dan barat hingga jajaran Pegunungan Vindhya di selatan, sekarang wilayah Madhya Pradesh, India. Sejarah menyebut Chandragupta Maurya berhasil menyatukan sebagian besar wilayah India di bawah kekuasaannya.

Kebesaran Dinasti Maurya dengan wilayah yang begitu luas itu bertahan hingga dua generasi. Chandragupta digantikan putranya, Bindusara Maurya; dan Bindusara digantikan oleh putranya, Ashoka Maurya, yang berkuasa pada 272-232 SM.

Di zaman Ashoka inilah cerita besar tentang Dinasti Maurya banyak didengar orang dan dibicarakan, bahkan, hingga kini. Ashoka dicatat sebagai raja yang ambisius dan memiliki keinginan untuk menjadi ”Chakravartin” atau ”Penguasa Alam Semesta”, ”Raja Dunia.”

Ashoka, yang sering disebut Kaisar Ashoka, memeluk Buddhisme. Namun, menurut Amartya Sen dalam Identity and Violence: Their Illusion of Destiny (2006), Ashoka sangat mendukung dan menjunjung tinggi toleransi beragama dan bentuk-bentuk toleransi lainnya. Ia menyusun code of conduct tentang nilai-nilai hidup, misalnya penghormatan terhadap orang yang lebih tua, mengikuti jalan non-kekerasan, serta toleran terhadap gagasan-gagasan dan kepercayaan orang. Code of conduct inilah yang disebut Dhamma, yang menjadi pegangan tidak hanya bagi orang-orang yang beragama Buddha, tetapi juga para penganut agama lain meski merupakan kelompok minoritas. Aturan hidup bersama ini ditulis dan ditempel di mana-mana; di tatah di batu-batu dan pilar-pilar di seluruh negeri.

Toleransi yang dijunjung Ashoka tidak mampu terus bertahan. Meskipun kemudian di India pada masa pemerintahan Akbar (1542-1605), Mogul yang Agung, membuat aturan serupa mengenai toleransi. Ia memperlakukan para pemimpin agama dengan perhatian besar, terlepas dari keyakinan yang dianut dan menghormatinya. Akbar tidak hanya memberikan tanah dan uang untuk masjid, tetapi juga sejumlah candi Hindu di utara dan tengah India, gereja Kristen di Goa, dan menghibahkan lahan untuk keyakinan Sikhisme yang baru saja lahir sebagai pembangunan tempat ibadah. Kuil Emas yang terkenal di Amritsar, Punjab, dibangun di tempat yang sama.

Tetapi, kita juga menyaksikan India—di kemudian hari—dirobek-robek oleh ketegangan dan konflik agama. Konflik antara Hindu dan Muslim memainkan peran vital dalam partisi India Inggris menjadi India dan Pakistan (1947). Pada 1969, terjadi konflik agama di Gujarat (Hindu-Muslim) yang menewaskan lebih dari 400 orang. Tahun 1989, terjadi lagi kerusuhan agama di Bihar dan menewaskan sekitar 1.000 orang. Tiga tahun kemudian, 1992, pecah kerusuhan di Ayodhya, sebuah kota di India bagian utara. Kerusuhan bernuansa agama terus terjadi di tahun-tahun berikutnya.

Kerusuhan dan konflik seperti itu tidak hanya terjadi di India, tetapi juga terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia, yang para pemimpinnya sudah berulang kali bertemu dan mengikrarkan untuk hidup berdampingan, saling menghormati. Dialog antar-iman berkali-kali dilakukan, tetapi mengapa negeri yang ber-Pancasila ini masih juga selalu dikotori oleh sikap-sikap dan tindakan intoleran.

Inilah barangkali yang oleh Amartya Sen disebut sebagai kekerasan yang terkait dengan konflik identitas. Identitas bisa memberikan sumbangan berarti bagi kekuatan dan kehangatan hubungan suatu kelompok dengan kelompok lain, atau orang dengan orang lain, penganut agama satu dengan penganut agama yang lain. Tetapi, identitas juga bisa memicu pembunuhan dan membuat orang mati sia-sia; juga bisa membuat orang tidak bernalar dan tidak berhati serta menganggap dirinya paling benar dan pihak lain sebagai yang salah.

Padahal, ”Tidak seorang pun sepenuhnya berdiri sendiri laksana sebuah pulau yang terpisah,” begitu tulis pendapat penyair besar dan salah seorang penulis prosa terbesar Inggris abad ke-17, John Donne (1572-1631). Dengan kata lain, manusia saling membutuhkan satu sama lain meski berbeda-beda sedari awal; majemuk sejak awal. Kemajemukan adalah anugerah yang diberikan Tuhan yang tidak mungkin dapat kita ubah. Tuhan menciptakan kita majemuk dari segi apa pun, terutama agar kita saling mengenal satu sama lain.

Dalam masyarakat yang majemuk seperti itu, toleransi menjadi penting sebagai modal awal agar kita terbebas dari intoleransi. Toleransi tidak pernah mengajarkan kita berdiri setara karena konsep ini lahir dari struktur sosial yang timpang di mana yang satu—biasanya mayoritas—dituntut untuk bersikap toleran terhadap ”yang lain”, biasanya minoritas yang mengalami persekusi sosial, agama, dan politik. Karena itu, toleransi di Indonesia lebih sebagai peneguhan bahwa masyarakat kita itu majemuk. Dalam konteks dunia pun, demikian: masyarakat dunia itu juga majemuk.

Pertemuan, pelukan, dan diskusi serta dialog antara Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Syeh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyed di Vatikan beberapa hari lalu, kiranya dalam konteks itu pula: bahwa kemajemukan semestinya tidak menjadi alasan untuk saling memusuhi, seperti yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini. Kedua pemimpin itu ingin menegaskan bahwa ”kita bersaudara”. Sudah selayaknya sebagai sesama saudara saling menghormati, saling percaya, dan saling tenggang rasa. Misi suci agama adalah ”membuat umat manusia bahagia di mana-mana.” Misi suci yang pernah dijalankan dan diwujudkan oleh Ashoka, lebih dari 2.000 tahun silam.