Selasa, 31 Mei 2016

Musik Tradisi di Panggung Kehidupan Terkini

Musik Tradisi di Panggung Kehidupan Terkini

Erie Setiawan ;    Direktur Art Music Today; Aktivis Musik
                                                         KOMPAS, 28 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Apa yang umumnya orang tahu tentang musik tradisi adalah sesuatu yang jarang sekali muncul di televisi. Kalah oleh gemuruh industri musik populer yang menyuguhkan spektakel gemerlap lampu panggung, juga dandanan para penyanyi.

Musik tradisi berada di lapis kerdil dari kedigdayaan narasi besar Nusantara ini. Ia bertahan di sudut-sudut. Alhasil, kalau kita tidak ”turun gunung” menyisir daerah-daerah, kita tak akan tahu bahwa musik tradisi Nusantara memang benar-benar kaya. Ribuan jenisnya. Itulah salah satu yang membuat bangsa lain mengaguminya.

Atas dasar fakta itulah, Forum Musik Tembi, di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, menyelenggarakan kegiatan tahunan Festival Musik Tradisi Baru. Tujuannya untuk mengetengahkan kembali sesuatu yang inti dari roh kultur negeri sendiri, melalui suguhan musik yang diaransemen mengikuti zaman.

Menyaksikan festival ini, kita seperti menikmati ”Nusantara Kecil” melalui rangkuman kekayaan musik-musik tradisinya. Ada unsur sakral berupa ritual melalui mantra-mantra, juga pesona tersendiri dalam kemasan suguhannya. Menampilkan sesuatu yang telah terwaris berabad-abad silam dengan bahasa baru yang cenderung egaliter untuk segala usia. Maka tepat adanya, penyelenggara festival ini mengusung konsep ”Musik Tradisi Baru”, untuk memberi aksen kekinian.

Penggalian nilai

Festival ini bukan merupakan kompetisi atau persaingan antarkelompok musik. Memang mereka melewati seleksi administratif sebelum tampil, tapi itu hanya demi keperluan efektivitas manajemen. Motivasi festival ini lebih kepada ”uji nyali”, apakah setiap kelompok musik yang mendaftar dari berbagai daerah betul-betul memiliki niat sungguh-sungguh untuk turut membantu menjabarkan nilai-nilai kebudayaan melalui musik yang mereka kreasi.

Ada dialog tentang konsep yang mereka usung, dipandu para pengamat yang didatangkan secara khusus untuk memoderasi peristiwanya. Peserta berasal dari berbagai daerah dengan membawa warna-warni kekhasan musik tradisi masing-masing. Perkara nilai-nilai kultural yang ingin diketengahkan melalui ekspresi seni itulah yang penting untuk digarisbawahi dan penting untuk direfleksikan terus-menerus.

Misalnya, apa yang diekspresikan oleh kelompok Tingang Tatu (Kalimantan). Karya mereka yang diberi judul ”Utus Batang Petak” mengetengahkan tentang ucapan syukur atas perlindungan Rahying Hatala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) dan Tata Hiang (Leluhur) dalam kepercayaan suku Dayak Ngaju-Ot Danum, Dayak Ikei-Harajur Tingang Tatu, dan Hong Kueh Bewei Ikei Namuei. ”Tingang Tatu” sendiri artinya adalah sebutan lain untuk Tuhan atau Leluhur.

Kelompok Mantradisi dari Yogyakarta mengusung konsep sastra musik melalui Macapat dan Shalawat yang dilagukan bersama iringan musik eklektik (campuran), termasuk menggunakan teknologi komputer musik. Ada pula empat kelompok lain yang membawa kekhasannya masing-masing, yaitu NN, Allegro Sanaparane, WP Ground, dan Sanggar Seni Kakula. Ada sebuah kelompok yang berhalangan hadir karena sesuatu hal, yaitu Suara Lisan dari Riau.

Tantangan

Musik tradisi, nilai budaya, dan gelombang zaman adalah tiga variabel yang saling berhubungan dan akan menentukan arah Festival Musik Tembi ke depan. Dari penyelenggaraan festival sebelumnya (1-5) mereka telah berhasil melakukan kerja dokumentatif melalui peng-abadi-an karya-karya dalam bentuk album kompilasi, juga di tahun ini. Upaya itu sekaligus menjadi metode riset kualitatif yang memberi gambaran terkini dari perwujudan ekspresi bangsa Indonesia melalui kreasi seni.

Ada banyak tantangan menarik yang kemudian muncul dari upaya penggalian nilai kebudayaan melalui musik tradisi tersebut. Pertanyaannya kemudian, apakah keseluruhan ekosistem kesenian, termasuk audiens dan pendukung yang lain, menyadari pentingnya festival ini? Apakah benar para audiens yang datang ke festival merupakan audiens yang menganggap festival ini selalu aktual di tengah dinamika zaman yang cenderung makin mengultuskan individualisme ini?

Musik tradisi hanyalah salah satu unsur yang sedemikian abstrak jika itu hanya kita dengarkan begitu saja dan tidak berhasil menjadi memori atau laku kehidupan. Padahal, tolok ukur keberhasilan festival ini bukan kepada gegap gempita hiburan, melainkan adanya upaya serius dari berbagai pihak untuk lebih serius mengeksplorasi kandungan esensinya.

Dalam konteks kesenian di Asia Tenggara yang memiliki watak berbeda dengan Eropa ataupun belahan benua lain, lahir suatu ciri khas di mana seni itu sendiri sangat terikat dengan masyarakat pendukungnya, baik pesisir maupun agraris.

Umar Kayam (1981) berpandangan bahwa seni tradisi merupakan bagian dari satu ”kosmos” kehidupan yang bulat dan tidak terbagi-bagi dalam pengotakan spesialisasi. Sebab itu, dukungan masyarakat akan menunjang hidupnya suatu karya atau kreativitas manusia. Maka peradaban dapat terus maju.

Pada saat ini, ada pertumbuhan luar biasa di lingkup akademik yang mencoba menggali ulang nilai-nilai musik tradisi yang belum terungkap melalui riset-riset yang mereka lakukan. Kita bisa memiliki gambaran yang lebih jelas tentang fakta serta relevansinya bagi kehidupan masyarakat masa kini melalui data. Riset-riset yang khusus berfokus pada penelitian mengenai musik tradisi kiranya juga perlu untuk dibuatkan direktori khusus supaya kita makin lebih mengenal kekayaan kita sendiri.