Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Memoriam Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Oktober 2013

Soetandyo dan Pembangunan Hukum

Soetandyo dan Pembangunan Hukum
Adnan Buyung Nasution  Advokat Senior;
Guru Besar Melbourne Law School, University of Melbourne, Australia
KOMPAS, 12 Oktober 2013


PROF Soetandyo Wignjosoebroto MPA tutup usia 2 September 2013. Saya amat berduka ditinggalkan seorang guru, sahabat, dan rekan seperjuangan.
Indonesia kehilangan cendekiawan terbaik bidang studi hukum dan kemasyarakatan (rechtssociologie, socio-legal studies).
Saya pertama kali mengenal Prof Soetandyo kala menempuh studi doktoral di Universitas Utrecht, Belanda. Dia memberikan public lecture tentang Sosiologi Hukum Indonesia di Universitas Leiden.
Di antara cendekiawan Indonesia yang hadir, salah satunya adalah Prof Paul Moedigdo Moeliono yang menyampaikan kekagumannya kepada Prof Soetandyo. Pada masa itu memang tidak banyak akademisi Indonesia yang mendapat kehormatan tinggi untuk berbicara dalam forum akademik internasional.
Prof Soetandyo dalam ceramahnya menjelaskan pencangkokan hukum (legal transplant). Ia berpendapat bahwa hukum dan aturan perundang-undangan suatu negara tidak bisa begitu saja dicangkokkan ke sistem hukum negara lain. Operasi transplantasi hukum amat bergantung pada kondisi sosio-kultural.
Pendapat Prof Soetandyo itu, menurut hemat saya, amat tepat dan relevan dalam memahami upaya bangsa Indonesia mengadopsi norma-norma hukum modern dari bangsa-bangsa lain dalam rangka pembangunan hukum nasional. Ia tidak antimodernitas karena memahaminya sebagai keniscayaan dalam suatu tatanan dunia yang mengglobal. Namun, ia menekankan perlunya perhatian pada hukum adat (folklaw) dan kearifan lokal (local wisdom) sebagai kondisi sosial- obyektif yang terberi sehingga menjadi pertimbangan dalam mengadopsi hukum modern.
Prof Soetandyo juga memberikan perhatian amat besar terhadap pluralisme hukum (legal pluralism) seraya mengingatkan agar proses kodifikasi dan unifikasi hukum nasional jangan sampai menghilangkan lokalitas- lokalitas dan keberagaman dalam negara-bangsa kita.
Perjumpaan awal itu memberikan impresi begitu dalam. Oleh karena itu, saya mengusulkan Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA bersama-sama dengan Prof Dr Selo Soemardjan, Prof Dr Satjipto Rahardjo, dan Prof Dr Daniel S Lev untuk menjadi tim penguji disertasi saya, selain para penguji dari Belanda. Usul itu disetujui pihak universitas, tetapi sayang Soetandyo berhalangan hadir. Ia digantikan Prof Dr Usep Ranuwihardja.
Mengoreksi penguasa
Sepulangnya ke Tanah Air, saya berkontak kembali dengan Prof Soetandyo. Kami banyak berdiskusi dan mengupayakan terwujudnya demokrasi, penghormatan dan perlindungan hak asasi manusia, serta penegakan hukum yang berkeadilan. Prof Soetandyo pada tahun 1990-an memang secara aktif mengoreksi kekuasaan Orde Baru. Ia mengkritisi tindakan represif pada aktivis-aktivis politik yang berseberangan dengan penguasa.
Prof Soetandyo juga serius memikirkan tindakan diskriminatif negara kepada rakyat kecil, kaum perempuan, dan golongan minoritas lainnya. Dengan latar belakang tersebut, amatlah tepat ketika Prof Soetandyo dipilih menjadi anggota Komnas HAM selama dua periode (1993-1998 dan 1998-2002).
Namun, Prof Soetandyo tidak lalu meninggalkan peran utamanya sebagai guru yang memberikan pencerahan lewat ilmu pengetahuan, tidak terbatas pada mahasiswanya di Universitas Airlangga, Surabaya, dan kampus-kampus lainnya, tetapi terutama juga pada para aktivis dan masyarakat luas. Ia senantiasa meluangkan waktu menghadiri diskusi yang diadakan para aktivis di seluruh Nusantara.
Prof Soetandyo bahkan terlibat secara langsung dalam advokasi berbagai kasus, misalnya pembelaan terhadap korban Lumpur Lapindo. Saya pun masih ingat cerita tentang pembelaan Prof Soetandyo terhadap pedagang sektor nonformal (PKL) yang senantiasa terancam razia. Ia melindungi mereka dengan menyuruh memasukkan gerobak-gerobak mereka ke pekarangan dan bahkan merelakan listrik dan air di rumahnya untuk para pedagang.
Prof Soetandyo adalah intelektual yang memilih secara aktif memberikan penyadaran dan pembelaan kepada kelompok-kelompok masyarakat miskin, marjinal, dan minoritas. Ia pantas disebut ”aktivis intelektual” atau yang dalam kategori Antonio Gramsci disebut sebagai ”intelektual organik”.

Kontribusinya pada pembangunan hukum nasional sungguh amatlah besar. Tidak banyak akademisi hukum Indonesia yang memiliki kualitas ketekunan sebagaimana Prof Soetandyo dalam membahas paradigma hukum (legal paradigm) dengan segala perkembangan atau pergeserannya. Tema ini sering diabaikan oleh para pembuat aturan dan kebijakan hukum. Ia dalam berbagai kesempatan mengingatkan, pembangunan struktur hukum mesti dibarengi dengan pembangunan aparat hukum dan budaya hukum.
Sayangnya pemerintah saat ini mengabaikan begitu saja pesan kaum cendekiawan. Sebagai contoh, saat masih menjadi anggota Wantimpres, saya membicarakan ide mengenai metode jemput bola (talent scouting) dalam seleksi Hakim Mahkamah Konstitusi. Prof Soetandyo adalah salah satu yang saya ajak berdiskusi dan memberikan banyak masukan.
Semua kalangan mengakui bahwa proses seleksi yang transparan adalah kunci keberhasilan. Maka ketika belakangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk hakim MK secara langsung tanpa proses seleksi, Prof Soetandyo pasti amat kecewa, apalagi ditambah dengan adanya korupsi di MK.
Narasumber amandemen
Prof Soetandyo adalah narasumber yang senantiasa terlibat dalam diskusi-diskusi di Wantimpres mengenai usulan Amandemen Kelima UUD 1945. Ia sangat terbuka dan mendukung gagasan tersebut. Sayang, ia berpulang sebelum proyek amandemen kelima itu terealisasi.
Terakhir, saya merasa perlu menyampaikan pesan Prof Soetandyo yang dikirim melalui e-mail tertanggal 30 Mei 2013 kepada saya, Prof Dr Sunaryati Hartono, Dr Todung Mulya Lubis, Prof Dr Sulistyowati Irianto, Prof Dr K Martono, dan sejumlah rekan muda penggiat socio-legal studies. Ia mengamanatkan, ”Kegiatan kita harus membuka diri untuk berjejaring dengan kegiatan lain yang serupa atau yang bersejajar... kegiatan dengan tema sentral yang sama—misalnya yang di seputar tema filsafat hukum atau socio-legal study—akan menjadi terserpih dan melemah. Sudah waktunya kita memikirkan kegiatan dalam payung sebuah konsorsium.”
Semoga kita mampu mengamalkan amanatnya.

Sabtu, 07 September 2013

Berpulangnya Sang Intelektual Amatir

Berpulangnya Sang Intelektual Amatir
Airlangga Pribadi Kusman  ;   Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Kandidat PhD Asia Research Center Murdoch University
KORAN SINDO, 07 September 2013



Pagi hari 2 September 2013 saya tertegun membaca pesan di dinding akun media sosial bahwa Profesor Soetandyo Wignyosoebroto berpulang ke hadirat Ilahi Robbi pada pukul 7.10 WIB di Semarang. 

Sejenak ingatan saya menerawang ke lantai 2 ruangan FISIP Universitas Airlangga, tempat kami biasa bertemu dan Prof Soetandyo menyapa saya dengan panggilan “Hei anak muda”, sebelum kita kemudian terlibat dalam persoalan keseharian rakyat sampai perkembangan ilmu sosial mutakhir. Cakrawala kehidupan Profesor Soetandyo sangat kaya dan keberpihakan beliau terhadap mereka yang tertindas dan disisihkan begitu kuat ditangkap baik oleh saya maupun mereka yang mengenalnya. 

Apabila diperkenankan untuk merangkum karakter intelektual beliau, penulis akan memberi predikat beliau “sang Intelektual Amatir”. Tentu saja banyak yang akan merasa kaget dan mengernyitkan dahi atas julukan bagi Profesor Soetandyo dan kiprah ilmu dan amalnya sebagai seorang intelektual amatir. Ini tentu tidak dapat dilepaskan dari persepsi umum tentang amatir yang selalu ditempatkan subordinat dan di bawah istilah profesional. 

Pemahaman awal kita tentang amatir seringkali dibentuk oleh pemahaman tentang petinju amatir yang baru masuk dan mempelajari seluk beluk dunia tinju yang levelnya berada di bawah petinju profesional, demikian pula dengan persepsi yang sama dibentuk ketika kita memahami kontras amatir dan profesional baik dalam profesi-profesi lain seperti pemusik maupun akademisi. 

Kendati demikian, dalam artikel ini penulis berangkat dari pemahaman yang berbeda tentang intelektual amatir yang penulis persembahkan kepada mendiang Profesor Soetandyo Wignyosoebroto yang penulis hormati dan sayangi. Dalam salah satu kuliah prestisius The Reith Lectures berjudul Speaking Truth to Power,  Prof Edward Said (1993) menjelaskan bahwa intelektual amatir adalah seorang intelektual yang berbicara pada khalayak publik, menjelajahi wilayah-wilayah pengembaraan ilmu yang melampaui profesionalitas kajiannya (Edward Said adalah seorang profesor dalam kajian sastra) untuk berbicara tentang kebenaran pada kekuasaan, dan membela kaum papa dan kecil dalam ranah politik, sosial, dan kebudayaan. 

Seorang intelektual amatir menolak untuk mengompromikan prinsip-prinsip universalitas kebenaran yang diyakininya demi loyalitas terhadap tujuan-tujuan lain seperti kelancaran jenjang karier akademik, ewuh pakewuh terhadap elite politik, maupun kesetiaan terhadap primordialisme agama, ras, gender, maupun nasionalisme secara sempit. 

Bagi intelektual amatir seperti Edward Said demikian pula Profesor Soetandyo Wignyosoebroto, kesetiaan pada entitas-entitas lokal primordial sampai pada kompromi untuk tidak menyerukan kebenaran kepada kekuasaan atas dasar kesungkanan kolegialitas adalah awal dari sikap koruptif par excellence dari setiap intelektual. Mengingat justru dengan keberanian untuk mengungkapkan kritik-kritik sosial genuine terhadap korps kolega, entitas agama, suku, 

sampai pada semangat kebangsaan yang picik (berbeda dengan nasionalisme inklusif) atas nama nilai-nilai kemanusiaan itulah kristal bening kebenaran akan mengungkapkan dirinya. Amatirisme intelektual yang melintasi batas dari Profesor Soetandyo tampak jelas dalam orasi beliau saat menerima penghargaan Yap Thian Hiem Award pada 2011 ketika beliau menegaskan bahwa humanity! Perikemanusiaan! Adalah yang terutama harus dibela dan diperjuangkan melampaui perbedaan rasial, religi, jenis kelamin, kebangsaan, bahkan sexual preference. 

Demikian pula semangat kemanusiaan inilah yang menjadi prinsip yang diyakini Soekarno bahwa betapa pun tingginya semangat kebangsaan, namun asa perikemanusiaan yang adil dan beradab harus didahulukan mendahului asas persatuan Indonesia. Dimensi lain dari politik amatirisme intelektual dari Profesor Soetandyo tampak jelas disaksikan oleh kami para siswa dan anak didiknya. 

Pada saat tragedi Lumpur Lapindo mengaliri tanah, sawah, dan harta milik korban di daerah Porong Sidoarjo, teladan sikap dari Prof Soetandyo yang berani turut menyerukan bahwa ini kesalahan korporasi daripada berkompromi terhadap kekuasaan untuk ikut menyatakan bahwa tragedi tersebut bencana alam menjadi cambuk bagi kami para dosen muda untuk berpihak pada kebenaran. 

Tidak hanya itu, beliau bahkan mengajarkan sikap intelektual kepada kami dengan turut mengajar pendidikan hukum kritis kepada pengungsi Pasar Baru Porong agar mereka sadar hakhak mereka sebagai warga negara, sungguh sebuah sikap teladan yang langka di era komersialisasi dan komodifikasi intelektual. 

Intelektual Selebritas 

ApabilasikapspartanEdward Said untuk bicara benar pada kekuasaan dan mengungkapkan yang salah sebagai salah kepada publik ditempa dari kepahitan hidup sebagai warga Palestina di bawah pendudukan Israel, dalam perbincangan akrab dengan saya sikap patriotik humanis dari Profesor Soetandyo ini ditempa oleh semangat hidup dalam keluarga gerilya yang digembleng zaman era pergerakan nasional, dan terutama periode tahun 60-an di Amerika Serikat di era kebangkitan gerakan civil liberties dan new left ketika pada saat bersamaan beliau tengah mengambil studi di Universitas Winconsin. 

Zaman getir dan sukar kerapkali membentuk karakter manusia yang tegar dan tak mudah berkompromi dengan kekuasaan, namun tantangan saat ini lebih berat di era Indonesia post-authoritarian. Gejala politik transaksional yang tumbuh dan membiak di era demokrasi elitisme bersamaan dengan menjamurnya tayangan-tayangan media yang diracik untuk membingkai peristiwa politik layaknya sebuah drama opera sabun telah memproduksi intelektual selebritas yang merespons itu semua secara dangkal, tidak menggali pada dasar substansi kemanusiaan dan hikmah kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang ada. 

Seperti jauh-jauh hari diungkapkan oleh sosiolog Lewis Coser (1973) dalam The Intellectual as Celebrity, seorang intelektual seleb memiliki jangkauan audiens yang luas seperti intelektual publik, namun genre intelektual seleb ini kiprahnya kurang ditempa dalam kawah candradimuka komunitas akademik yang kuat serta tuntutan menyerukan kebenaran kepada kekuasaan. 

Akibat itu, kita menyaksikan bukan lahirnya kalangan intelektual, tapi sekadar komentator-komentator politik yang pandangannya tidak menghunjam pada relung-relung kedalaman analitis keilmuan dan tidak lebih berani daripada obrolan khalayak umum di kafe maupun warung kopi. Dalam kondisi demikian berbeda dengan intelektual, para komentator ini kerapkali bersikap kompromis terhadap kalangan elite politik demi kepentingan-kepentingan karier dan material atas nama tarikan gravitasi perputaran dunia politik yang telah menjadi industri tersendiri. 

Dalam renungan kritis atas apa yang terjadi saat ini, bukan berarti sikap karakter amatir dari sikap intelektual teladan Profesor Soetandyo harus menyepi dari hiruk-pikuk panggung media massa, namun justru saatnyalah pijar-pijar kecendekiawanan yang menjadi teladan sikap dari Profesor Soetandyo Wignyosoebroto yang hidup di rumah dinas dan jalan ke kampus dengan sepeda ontel semestinya lebih mewarnai dunia intelektual kita di panggung ruang publik agar mereka yang dipinggirkan tidak tersisihkan. Profesor Soetandyo Wignyosoebroto berpulanglah dengan tenang di dalam kasih Allah SWT ditemani oleh ilmu dan amalmu. ●  

Rabu, 04 September 2013

Mengenang Prof Soetandyo

Mengenang Prof Soetandyo
I Basis Susilo  Dekan FISIP Universitas Airlangga
KOMPAS, 04 September 2013


Judul obituari Kompas (3/9), ”Pembela Wong Cilik, Soetandyo Berpulang” menggambarkan secara tepat sosok Prof Soetandyo Wignjosoebroto yang wafat Senin (2/9).
Sebagai anggota Komnas HAM (1993-2002), guru besar tamu di beberapa universitas, narasumber sejumlah seminar dan lokakarya, penerima Yap Thiam Hien Award, Pak Tandyo memang berdedikasi, konsisten sebagai tokoh nasional dan guru yang memperjuangkan HAM.
Kami di FISIP Unair menganggap Pak Tandyo tak bisa dipisahkan dari FISIP Unair. Metaforanya: FISIP Unair adalah Pak Tandyo, Pak Tandyo adalah
FISIP Unair. Dalam beberapa rapat saya mengatakan Dekan FISIP Unair (sampai saat ini) adalah Pak Tandyo, saya (dan dekan- dekan lain) adalah penggantinya. Kami beruntung karena punya waktu lebih leluasa berinteraksi dan bekerja bersama dengan ”Pembela Wong Cilik” itu.
Bagi kami, Pak Tandyo pribadi menyenangkan. Dengan kami, dan teman-temannya yang lain, Pak Tandyo selalu bisa bercanda. Dari canda itu kami saling mengkritik, mengingatkan, dan belajar. Selama lebih dari tiga dasawarsa bersama Pak Tandyo, kami mengetahui Pak Tandyo tak hanya pembela wong cilik, tetapi juga humoris, rendah-hati, tak protokoler, benar-benar profesor, technology-savvy, lintas-generasi, pro-poor, pejuang pluralisme.
Sifat humoris dan low profile bisa dilihat dari contoh berikut. Suatu hari Pak Tandyo menunjukkan puluhan name tag dari berbagai seminar atau kepanitiaan, di dinding kamarnya. Lucunya, tak satu pun name tag itu benar mengeja nama atau gelarnya. Sambil ketawa Pak Tandyo menunjukkan itu sebagai hal yang lucu. Tak perlu dianggap serius. Pak Tandyo hampir tak pernah menuliskan sendiri sebutan Profesor atau Prof di depan namanya. Selalu hanya dua kata: Soetandyo Wignjosoebroto.
Pak Tandyo adalah profesor dalam arti profess sebagai guru besar dalam mendidik murid-muridnya. Pak Tandyo menghargai pendapat orang lain, termasuk kolega dan mahasiswanya. Hubungan dengan mahasiswa dibuat asimetris. Selain mengajar, Pak Tandyo sangat produktif menulis handouts dan buku. Pak Tandyo selalu memberi tahu mahasiswanya kalau tak bisa menepati janjinya karena ada tugas mendadak. Kendati sudah profesor, Pak Tandyo tak segan-segan menyatakan ia mendapat banyak masukan dan perspektif dari orang-orang sekelilingnya.
Pak Tandyo mengakui sendiri kearifan-kearifan justru sering dipelajari dari wacana, diskusi, tukar-menukar pikiran atau bahkan bantah-membantah dengan guru-gurunya, teman-temannya, dan mahasiswa-mahasiswanya. Pak Tandyo paling suka mengutip salah satu frase dari puisi The King and I yang berbunyi: ”... if you become a teacher, by the students you will be taught”.
Dedikasinya dalam mengajar dan mendidik secara konsisten tak terbatasi urusan birokrasi. Pak Tandyo orangnya fungsional, tak suka protokoler dan juga tak biasa jaim. Misalnya, menjelang berusia 65 tahun, kami membujuk Pak Tandyo supaya mengajukan permohonan perpanjangan usia pensiun. Sebagai guru besar, Pak Tandyo berhak dapat perpanjangan itu. Bujukan kami gagal karena Pak Tandyo tak bersedia menulis surat permohonan kepada menteri. Kami pun usul bagaimana kalau kami yang menuliskan, Pak Tandyo tinggal tanda tangan. Pak Tandyo malah tak mengejek kami, sambil berseloroh, ”Yang pensiun hanya pegawai negeri sipilnya bukan? Tugas keilmuan dan mengajar saya tak akan pernah mengenai pensiun.” Akhirnya, kami menyerah dan mengadakan acara bertajuk ”Pak Tandyo Copot Seragam”.
Memihak ke yang lemah
Keilmuan Pak Tandyo diabdikan jelas kepada pemihakan kepada yang miskin dan lemah. Kiprahnya sebagai tokoh nasional pembela wong cilik pernah dinyatakan pada pidato saat ”copot seragam” (pensiun) pada 1997. Ia menegaskan persoalan kearifan bukan persoalan pengetahuan, melainkan juga refleksi pemihakan aksiolofi kita, pemihakan intelektual kita. Kemampuan dan kearifan kita itu termanfaatkan untuk siapa? Katanya, pemihakan itu adalah kepada mereka yang terpuruk di lapis bawah. Untuk memperkuat kemampuan dan mempertajam kearifan itu, kita mesti tak terkotak-kotak dalam disiplin ilmu.
Soal perlunya multi- dan interdisiplin tampak ketika jadi dekan awal 1980-an, Pak Tandyo menempatkan ruang dosen tidak atas dasar keilmuan, tetapi atas sekumpulan disiplin ilmu. Dalam satu ruangan ada sarjana sosiologi, ilmu politik, hubungan internasional, antropologi, komunikasi, psikologi, hukum dan administrasi negara. Perspektif holistik dan pendekatan multidisiplin selalu ditekankan.
Kesadaran inter- dan multidisiplin ilmu itu bisa dipahami karena keilmuan dan karier Pak Tandyo juga tak monodisiplin. Pak Tandyo berlatar belakang ilmu hukum, tetapi sejak 1963 mempelajari administrasi negara saat mendapat beasiswa Fulbright-Hays di University of Michigan. Sepulang dari belajar di AS, Pak Tandyo malah mengembangkan sosiologi hukum yang waktu itu masih dianggap ”ilmu merah” oleh kebanyakan sarjana hukum. Pengalaman dirinya itu memperkuat keyakinannya akan keharusan perspektif holistik dan pendekatan multi- dan interdisiplin untuk menganalisis problem-problem sosial-politik.
Pak Tandyo bisa terbilang technology-savvy. Selalu cepat tanggap dan memanfaatkan setiap kemajuan teknologi. Sejak 1985, Pak Tandyo sudah pakai komputer Textwriter. Penelitian-penelitian yang kami lakukan sudah menggunakan Textwriter dengan floppy disks yang untuk mencetaknya dikoneksikan pada mesin ketik listrik. Ketika muncul komputer pribadi dengan program WS, Pak Tandyo selalu paling awal memiliki. Juga pager, ponsel, notebook, atau laptop.

Di usia 80-an tahun, Pak Tandyo masih aktif dengan Twitter, Facebook, dan blog sehingga punya banyak teman dan penggemar dari media sosial. Petuah dan kritik sosialnya muncul dari tangannya lewat media sosial itu. Dengan media sosial, Pak Tandyo berkomunikasi dan berdialog dengan teman lintas-generasi, selain karena sikap dasarnya yang mau belajar dari siapa saja dan dari mana saja. Teknologi modern itu, katanya, dijadikan line of action atau sarana dan bagian dari proses saling mendidik dan saling belajar terus-menerus. ●  

Selasa, 03 September 2013

Pak Tandyo, the Last Samurai

Pak Tandyo, the Last Samurai
Bagong Suyanto  Dosen Sosiologi FISIP Unair
JAWA POS, 03 September 2013


KEMARIN, 2 September 2013, pukul 07.00 telah berpulang salah seorang tokoh dan pakar sosiologi hukum: Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA. Meski saya sudah menduga, tetap saja kepergian Pak Tandyo terasa mengejutkan. Secara fisik, guru besar kelahiran 1932 itu sebetulnya tampak sehat dan masih berjalan dengan langkah-langkah yang panjang. 

Sehari-hari bergaul di kantor dan sering bepergian bersama dia, nyaris tidak ada makanan yang ditolak. Pak Tandyo betah duduk berlama-lama di rumah makan, di warung, atau di mana pun sembari mencicipi aneka makanan dan minum es cao, es dawet, atau apa pun yang penting harus es. Setiap kali makan, Pak Tandyo selalu minum es.

Ketika saya menemani Pak Tandyo melakukan penelitian di Negeri Johor dan seminar di Kuala Lumpur awal 2012, yang selalu dicari Pak Tandyo adalah durian goreng. Meski, sebelumnya makan sea food dan kambing guling di Hotel Istana yang megah di daerah Bukit Bintang. Bau durian goreng, rupanya, jauh lebih menggoda daripada ingat nasihat dokternya. Encik Yusri, kepala Majlis Keselamatan Negeri Johor, alumnus FISIP Unair, yang mengundang kami, bahkan secara khusus memesan dan menggorengkan durian untuk Pak Tandyo ketika kami diundang makan malam di rumahnya.

''Apakah Pak Tandyo tidak takut diabetes, stroke, atau kelebihan kolestrol?'' Pak Tandyo biasanya hanya tertawa dan mengatakan, ''Yang penting BNI.'' Yang dimaksud Pak Tandyo adalah ''Batasi, Nikmati, dan Imbangi''. Entah untuk menghibur diri sendiri atau menutupi kegemarannya makan, Pak Tandyo selalu mengatakan, yang penting dalam hidup adalah bagaimana kita membatasi apa yang kita makan, menikmati apa yang tersedia. Tetapi, jangan lupa imbangi dengan kegiatan lain agar apa yang kita makan tidak berkembang menjadi sumber penyakit.

Berbincang dengan Pak Tandyo biasanya hanya sesekali mendiskusikan hal-hal yang akademis. Lebih banyak hanya perbicangan ringan yang tidak tentu arah, yang penting menyenangkan. Pak Tandyo anti mempergunjingkan orang lain, apalagi teman atau kolega sendiri. Setiap kali saya dan teman-teman lain yang muda-muda mempergunjingkan perilaku orang lain di kantor yang dianggap aneh dan menjengkelkan, Pak Tandyo biasanya hanya tersenyum tanpa menimpali.

Membuka telinga dan menjadi pendengar yang baik adalah salah satu sifat Pak Tandyo. Kalaupun Pak Tandyo berkomentar, biasanya filosofis dan penuh metafora. ''Orang itu jangan seperti ayam. Kalau ada rezeki, pasti kemruyuk rebutan antarteman sendiri dan kalau perlu saling patuk. Jadi dosen ya jangan hanya berkiprah di kandang sendiri, tetapi harus mampu membangun reputasi ke lingkungan luar.'' Pak Tandyo juga mengingatkan, ''(Bahkan) babi itu kalau ada makanan pasti dimakan bersama, tanpa harus saling sikut seperti politikus...'' kata Pak Tandyo. 

Cara Pak Tandyo berhubungan dan menghargai orang lain, terutama cara Pak Tandyo berbicara yang tidak pernah membedakan-bedakan siapa lawan bicaranya, sesungguhnya merupakan sebuah teladan hidup yang kuat. Pak Tandyo adalah sosok yang tidak membutuhkan penghormatan tata krama yang rumit. Berbincang dengan Pak Tandyo biasanya berlangsung lepas, penuh kelakar, dan sesekali saling ejek -tanpa harus direcoki kekhawatiran apakah yang kita lakukan melanggar tata krama atau tidak.

Di kampus, di gedung FISIP Unair, untuk mencari Pak Tandyo apakah sudah hadir atau belum, sangat mudah. Lihatlah di lantai bawah, di depan ruang perlengkapan, apakah di sana ada sepeda butut yang di depannya ada keranjang yang sudah berkarat. Pak Tandyo, meski di rumahnya ada mobil, setiap hari berangkat ke kampus selalu menunggangi kendaraan kesayangannya yang butut itu. 

Sebagian orang memang mengatakan Pak Tandyo pelit. Tetapi, saya lebih suka mengatakan bahwa yang dilakukan Pak Tandyo itu adalah bentuk kesederhanaan dan sikap hemat. Nasi kucing - sebutan untuk nasi bungkus seharga Rp 2.500 yang dijual di sepanjang jalan di depan kampus Unair -- merupakan salah satu menu sarapan pagi Pak Tandyo yang dibeli ketika berangkat ke kampus FISIP Unair.

Mantan anggota Komnas HAM yang pernah memperoleh Yap Thiam Hien Award 2011 itu juga memiliki jiwa petualang. Ketika teman-teman di Departemen Sosiologi FISIP Unair berlibur bersama, mereka memilih ke Makau, Hongkong, Shenzhen, Singapura, Malaysia, dan lain-lain yang menyenangkan. Tapi, Pak Tandyo usul, ''Bagaimana kalau sesekali kita pergi liburan ke Vietnam, melihat sarang tikus bekas tentara Vietkong?''

Ketika dulu kuliah di Amerika, saat liburan dan teman-temannya dari Indonesia memilih pulang kampung, Pak Tandyo bercerita, uang tabungannya dari sisa beasiswa malah digunakan untuk pergi ke Mesir, merangkak di makam kuno untuk melihat-lihat dalamnya piramida. Jika ke Australia, Pak Tandyo juga lebih senang pergi ke Darwin, mencari menu makanan daging kanguru atau daging buaya!

Sejak memasuki usia ke-81, jika naik tangga ke lantai dua, Pak Tandyo kadang mengeluh tempurung lututnya agak sakit dan kaku. Tetapi, ketika sudah sampai di mejanya dan kemudian membuka laptop, Pak Tandyo akan betah mengetik dan mengetik mulai 08.00 hingga 14.00 - sebuah stamina fisik dan pikir yang luar biasa. Saya sendiri, dalam hati, sering adu stamina dengan Pak Tandyo. Ikut mengetik berjam-jam, menulis artikel, bahan ajar, mengerjakan laporan penelitian atau membuat buku, dan lain-lain. 

Saya ingat ungkapan Pak Tandyo, ''Jadi doktor atau profesor jangan seperti pohon pisang, sekali berbuah kemudian mati. Jadi profesor, tetapi tidak pernah membuat buku, ibaratnya adalah kesatria Jepang yang tidak memiliki semangat samurai.'' Pak Tandyo, bagi saya, adalah The Last Samurai. ●