Minggu, 15 Mei 2016

Tiran Pembelajaran

Tiran Pembelajaran

Saifur Rohman ;   Pengajar Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta
                                                         KOMPAS, 14 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Siswa kelas IV SD, Daffa Faros Oktoviarto (10), mencegat setiap pengendara motor yang memanfaatkan trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Semarang, Jawa Tengah (20/4). Caranya dengan memalangkan sepedanya di trotoar ujung gang. Ketika mereka memaksa, Daffa menyatakan bahwa trotoar hanya untuk pejalan kaki.

Peristiwa ini memancing simpati publik. Ketika perilakunya bukan bagian dari program pembelajaran di sekolah, bukankah tindakan Daffa merupakan cermin keberanian bertindak benar? Berasal dari kurikulum apa sehingga perilaku itu muncul? Atau sebaliknya, bagaimana menumbuhkan kesadaran kritis bagi setiap individu dalam proses pembelajaran di Indonesia?

Cerdas kolektif

Dalam wawasan trisentra pendidikan Ki Hadjar Dewantara, sekolah bukan segalanya karena masih ada unsur keluarga dan lingkungan. Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan di sekolah merupakan proyek utama negara untuk mewujudkan tekad ”mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Maksudnya kecerdasan kolektif melampaui kecerdasan individu. Karena itu, betapa pun kuatnya prestasi akademis tiap individu sebagai tolok ukur keberhasilan di sebuah satuan pendidikan, pada akhirnya proyek pendidikan bangsa ini adalah mengembangan kecerdasan kolektif yang dapat diandalkan.

Ironisnya, pengembangan kecerdasan ini tidak menjadi bagian dari kebijakan-kebijakan pemerintah tentang tolok ukur pendidikan. Individu yang ”cerdas” sering kali luput dari proyek pendidikan pemerintah.

Maksudnya, bocah pencegat sepeda motor bukanlah siswa yang ”diunggulkan”. Bukan pula siswa yang ditunjuk menjadi wakil sekolah untuk olimpiade ilmu pengetahuan. Menurut guru-gurunya, dia adalah pribadi yang hiperaktif atau cenderung bandel. Jadi, pribadi tersebut tidak dapat memenuhi kurikulum masa kini tentang perilaku baik.

Suka atau tidak, Kurikulum 2013 yang didasarkan pada Peraturan Mendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tidak berbicara tentang kesadaran kritis tersebut. Revisi atas kurikulum itu pun sebetulnya tidak banyak membuahkan hasil. Sebaliknya, Permendikbud No 103/2014 tentang Pendidikan Dasar dan Menengah semakin meneguhkan aktivitas pembelajaran yang mengatasnamakan ”pendekatan ilmiah”. Seakan-akan segala aktivitas pembelajaran dapat dipecahkan.

Menilik lebih jauh, pendekatan ini dapat diringkas dengan cara melihat, bertanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Namun, bila dicermati lebih jauh, tidak sulit mengidentifikasi bahwa pendekatan tersebut merupakan penyederhanaan dari pola-pola rasionalitas masa pencerahan. Hal itu sekurang-kurangnya dapat dilihat dari upaya Rene Descartes meringkas rasionalitas itu melalui empat langkah, yakni meragukan, memilah, menyelesaikan, dan merefleksi.

Dalam pembelajaran, pemerintah berhasil membangun rasionalitas di dalam sekolah, tetapi gagal menghadapi realitas di luar pagar sekolah.

Kontradiksi kurikulum

Bila didudukkan dalam konteks lebih nyata, para siswa hadir dari situasi budaya yang lebih besar ketimbang kurikulum sekolah. Ketika situasi di luar sekolah adalah sejenis kurikulum, metode yang digunakan adalah metode kekuasaan. Lihatlah pilihan-pilihan hidup yang terbatas, media periklanan yang mengintimidasi, persoalan-persoalan hidup sehari-hari yang menempatkan individu dalam tekanan sulit. Karena itu, kontradiksi kultural dalam kurikulum ini menyisakan tiga tuntutan mendasar.

Pertama, di tengah situasi sosial yang makin pragmatis, kurikulum perlu mengambil inisiatif terdepan untuk membangkitkan kesadaran terhadap lingkungan sosial. Sebab, pada kenyataannya, proyek-proyek kebenaran publik tidak sulit dipahami oleh siswa sekolah. Kasus bocah mencegat pengendara motor memberikan contoh dari pelaksanaan proyek kebenaran.

Ada dua perspektif untuk menyederhanakan pemahaman. Yakni: (1) dalam perspektif teori atomisme logis kita tahu bahwa kebenaran mestinya dikonstruksi dari kesesuaian antara pernyataan yang diterima publik dan kenyataan yang dihadirkan. Kemudian (2) dalam perspektif praktis, kebenaran diperoleh dari kesesuaian pernyataan ”trotoar adalah bagi pejalan kaki” dan tindakan menghalangi siapa saja yang bukan pejalan kaki. Konteksnya, jalanan yang padat membuat para pengendara sepeda motor memanfaatkan trotoar laksana jalan raya. Guru dapat mengambil perspektif praktis sebagai media pembelajaran tentang tindakan yang utama.

Kedua, selama ini kita terbiasa dengan proyek pembenaran. Maksudnya, menghubungkan fakta-fakta yang dirangkum untuk kepentingan pribadi maupun kebiasaan pendidik. Mendidik bukan sekadar menunjukkan fakta-fakta yang diidentifikasi sebagai kesenjangan. Pendidikan perlu menumbuhkan keberanian bertindak untuk memecahkan persoalan di luar. Karena itu, tak sulit menyatakan, kita membutuhkan pendidikan yang mengasah keberanian, menciptakan mental kepemimpinan, dan merangsang adanya sikap terbuka.

Ketiga, pengetahuan spekulatif tentang karakter bangsa diabaikan. Sebab, karakter bangsa perlu pemikiran intuitif yang peka terhadap ketidakadilan. Pada kenyataannya, kesadaran kritis ini tumbuh dari kenyataan yang dialami individu dan diolah secara intensional untuk memihak pada kebenaran publik.

Setiap anak bisa saja melihat kemacetan di trotoar, tetapi tidak setiap anak memiliki kemauan bertindak. Ketika pengetahuan tidak menghasilkan sikap etis, kepekaan sosial diperlukan. Itulah kenapa sekolah bukanlah organisme sejenis Frankenstein yang hidup terpisah dengan masalah sosial di sekitarnya.

Pendek kata, kasus itu menguak kontradiksi kultural dari kurikulum kita selama ini. Bandel di sekolah, cerdas di luar. Pendekatan pembelajaran yang selama ini mengatasnamakan diri ”ilmiah” dan dikonstruksi sebagai satu-satunya cara mencapai kebenaran adalah satu bagian dari proyek pembenaran. Dan, bila ada bagian lain, itu adalah praktik dari tiran pembelajaran.