Minggu, 15 Mei 2016

Senja Kala Ruang Sastra di Media?

Senja Kala Ruang Sastra di Media?

Ni Made Purnama Sari ;   Penyair, Bergiat di Komunitas Sahaja Bali
                                                         KOMPAS, 14 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Sejak akhir abad ke-19, hadirnya ruang-ruang sastra di media massa cetak Indonesia telah membuka kemungkinan interaksi yang unik antara penulis dan pembaca. Hubungan keduanya bukan sekadar berkreasi dan mengapresiasi, melainkan lebih jauh terbukti meregenerasi pengarang, yang muncul justru dari pengalaman mencermati karya-karya yang dimuat pada koran atau majalah. Kecenderungan ini pun menjadi tradisi yang-sebagaimana kita tahu-turut membentuk pergaulan kreatif dan karakter kesusastraan di negeri ini.

Maka, ketika arus perubahan digital mulai mengepung, kita lantas mencemaskan, setidak-tidaknya oleh publik sastra Indonesia, apakah mungkin suatu tradisi susastra ini, yang memang telah melahirkan sederetan nama-nama cerpenis, novelis, kritikus, serta penyair ternama kita, akan tetap bertahan?

Berikutnya berlanjut pada pertanyaan: mungkinkah ruang-ruang digital, termasuk media sosial di dalamnya, dengan segala kebebasan dan keterbukaan berekspresinya, mampu merekahkan tulisan-tulisan sastrawi yang bernas dan berkualitas sebagaimana selalu dijaga para redaktur media massa yang secara hati-hati mengurasi pemuatan karya para pengarang?

Diskusi "Senja Kala Ruang Sastra di Media" yang digelar di Gedung OLVEH, Jakarta (28 April), membedah masalah-masalah tersebut. Keempat pembicara, yaitu Agus Noor (sastrawan), Djenar Maesa Ayu (novelis), Putu Fajar Arcana (redaktur budaya Kompas, sastrawan), dan Triyanto Triwikromo (cerpenis dan penyair yang juga redaktur pelaksana harian Suara Merdeka), dalam argumentasi masing-masing sepakat bahwa ruang sastra di media telah berpengaruh signifikan bagi bersemainya budaya bersastra di Indonesia.

Sastra koran vs laman digital?

Tatkala peran media massa sebagai ruang berkarya sekaligus "patron" susastra terancam oleh tutupnya halaman prosa, puisi, ataupun esai-kritik, sebagian dari khalayak kita rupanya masih ragu-ragu memandang dunia digital sebagai wadah baru penciptaan. Alam media sosial dan internet dipandang terlalu memberikan "kemerdekaan", di mana seseorang dapat dengan mudah memuatkan cerita ataupun puisinya dalam aneka motivasi, meliputi di antaranya apa yang oleh Triyanto disebut sebagai sastra-selfie, yakni sastra cenderung asyik-asyik sendiri.

Triyanto mencermati bahwa seolah ada dikotomi antara media cetak dan digital. Pemuatan karya cetak dipandang mencerminkan kualitas, sementara postingan di media sosial, blog, atau situs media online hanyalah sebagai media berekspresi, yang nyaris tanpa kurasi. Dia menegaskan, perubahan menuju zaman digital tidaklah terelakkan. Pengarang, tambahnya, selaras dengan pendapat Djenar, harus berani masuk ke dalam dunia baru ini seraya secara kreatif memanfaatkan kemungkinan intertekstualitas tak tepermanai.

Pandangan Triyanto bukannya tanpa alasan. Berbeda dengan laman internet, frekuensi pemuatan karya di ruang sastra media massa memang terbatas. Terbit seminggu sekali dengan maksimal 52 edisi dalam setahun menimbulkan kompetisi tingkat tinggi. Tulisan yang berhasil lolos tak ayal dianggap sebagai kelas tersendiri, yang oleh Agus Noor dinilai sebagai semacam legitimasi kehadiran seseorang sebagai sastrawan-kendati Putu Fajar Arcana kemudian mengingatkan bahwa keberadaan ruang sastra di sebagian besar surat kabar setiap hari Minggu awalnya adalah memberikan nuansa berbeda dari pemberitaan koran yang menyampaikan fakta-fakta setiap harinya.

Ruang sastra di koran mulai dianggap serius justru akibat kian redupnya majalah-majalah yang memuat sastra dan budaya, sebut saja Poedjangga Baroe, Budaya, Prosa, termasuk Horison. "Apalagi ketika Kompas menerbitkan buku Cerpen Pilihan Kompas tahun 1992, sastra koran tidak bisa lagi dianggap sepele. Pertumbuhan dan perkembangan sastra dilihat dari koran-koran," tambah Fajar Arcana.

Jika penulis berebut laman pemuatan, maka ruang-ruang sastra di media belakangan berkompetisi dengan berita atau bahkan promosi iklan. Kepentingan finansial acap menjadi pertimbangan atas pengurangan halaman sastra, sebagaimana pengalaman Triyanto dalam mengelola harian Suara Merdeka. Dari yang semula bertujuan memberikan selingan mingguan, halaman sastra kemudian terancam ditiadakan lantaran tidak signifikan membuahkan iklan-yang membuat beberapa koran terpaksa bernegosiasi mengubah waktu terbit bagi kolom puisi ataupun prosa. Lainnya bahkan harus menutup halaman sastranya atau berhenti melanjutkan terbitan medianya sebagaimana yang terjadi pada Sinar Harapan belum lama kemarin.

Menyaksikan semua ini, senja kala ruang sastra di media massa sungguhkah memang seakan suatu keniscayaan: tradisi kepengarangan yang tergerus akibat perubahan di segala lini?

Masalah sastra

Ekspresi dan apresiasi atas kebahasaan, khususnya kesusastraan di media massa, belumlah panjang umurnya dan itu pun terjadi dalam konteks yang seolah patah-tumbuh hilang-berganti: dari satu surat kabar ke koran lain, dari sebuah majalah ke terbitan berikutnya. Keberadaan ruang-ruang sastra selama ini tidak berjalan berkesinambungan atau secara kontinu lagi konsisten memberikan ruang sastra demi menghargai capaian karya penulis-penulis kita, yang selama bertahun-tahun terus bersetia berkarya.

Baik Triyanto maupun Fajar Arcana sama-sama menegaskan kelangsungan ruang-ruang sastra di media sangat bergantung pada sosok-sosok sastrawan pengampunya, yang secara ideologis menumbuhkan semangat bersastra kepada lapis penerusnya atas nama kesadaran literasi. "Ruang sastra hampir tidak pernah menjadi keputusan sistemik dari sebuah penerbitan umum," ujar Fajar Arcana.

Peran utama ruang sastra di media dalam melestarikan budaya literasi memang tidak terbantahkan. Kehadirannya tetap perlu dipertahankan bukan semata atas pertimbangan kesejarahan ataupun tradisi interaksi penulis dan pembaca, melainkan lebih sebagai daya dukung sekaligus perjuangan bahwa sastra masih dipandang penting maknanya.

Dalam dunia kini yang menawarkan kemudahan secara segera, ringkas, dan hampir serba "instan", seyogianya media massa tetap tampil sebagai lembaga yang benar-benar menghargai intensitas kebahasaan dalam aneka wujud pengungkapannya, termasuk di dalamnya susastra. Apalagi kiranya semangat dan hakikat idealisme susastra dengan esensi media massa tidaklah berseberangan, sebagaimana pendapat Adinegoro sang pionir jurnalistik bahwa berita merupakan pernyataan antarmanusia yang dikabarkan seluas-luasnya demi aneka tujuan penting bagi masyarakat. Keduanya terbukti dapat saling menyempurnakan, seperti yang dicerminkan dalam penganugerahan Nobel Sastra 2015 kepada penulis perempuan Svetlana Alexievich atas karya-karyanya yang menuturkan kenyataan penuh empati, paduan antara jurnalisme dan sastrawi.

Selanjutnya, persoalan senja kala ruang-ruang sastra di media massa jangan hanya berhenti menjadi permasalahan publik sastra semata. Sebab, tentulah kita sama memahami bahwa upaya memuliakan bahasa melalui susastra sejalan pula dengan niatan kita dalam merawat nilai-nilai besar dan esensial, sebutlah kemanusiaan, kebangsaan, kebudayaan, atau bahkan keberpihakan kepada yang terpinggirkan-suatu hal yang senantiasa hidup penuh harap dalam diri setiap manusia, sebuah impian yang dipersembahkan menjadi karya, entah apa pun wujudnya. Sastra, dengan ekspresinya yang bebas, mencerminkan tradisi panjang Nusantara yang telah teruji, dan menyiratkan amanat hati nurani rakyat, adalah salah satunya. ●