Pembangunan
Ekonomi Berbasis Inovasi
Rokhmin
Dahuri ; Ketua DPP PDI Perjuangan
|
KOMPAS,
02 Juni 2014
INDONESIA memiliki modal dasar
terlengkap menjadi bangsa yang sejahtera dan berdaulat. Dengan penduduk 250
juta, bonus demografi, kekayaan alam, dan posisi geoekonomi di pusat
perdagangan global, seharusnya Indonesia sudah masuk negara maju.
Namun, sudah 69 tahun merdeka,
Indonesia masih saja masuk negara berkembang (GNP per kapita 5.000 dollar AS)
dengan angka pengangguran dan kemiskinan tinggi, dan daya saing ekonomi
rendah. Tingkat kemajuan dan kemakmuran Indonesia hanya peringkat ke-6 di
ASEAN di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Yang lebih mencemaskan, struktur
ekonomi Indonesia sangat bergantung pada eksploitasi SDA yang miskin
hilirisasi dan nilai tambah. Pertumbuhan ekonomi dalam sepuluh tahun terakhir
lebih dari 70 persen berasal dari konsumsi, ekspor komoditas mentah, aliran
masuk ”uang panas”, dan sektor non-tradable, seperti properti, hotel, mal,
dan jasa angkutan. Bahkan, Indonesia menjadi bangsa pengimpor pangan terbesar
dunia.
Strategi industrialisasi
Untuk keluar dari jebakan negara
berpendapatan menengah, kita harus membangun perekonomian berbasis industri
yang mampu memenuhi kebutuhan nasional ataupun ekspor secara berkelanjutan.
Barang dan jasa harus kompetitif yang berciri kualitas unggul, relatif murah,
produksi teratur, dan memenuhi kebutuhan pasar.
Dalam jangka pendek dan menengah
(1-5 tahun ke depan), kita mesti memperkuat dan mengembangkan baik perusahaan
nasional berskala besar maupun UMKM yang mampu: (1) menghasilkan barang dan
jasa yang kompetitif, (2) pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 8 persen per
tahun), (3) menyerap banyak tenaga kerja dengan pendapatan rata-rata 7.250
dollar AS (pendapatan minimal negara menengah atas), dan (4) tersebar di
seluruh wilayah NKRI.
Ini sangat mungkin kita
realisasikan dengan meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan nilai tambah
sektor pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, ESDM, serta pariwisata.
Kita juga harus merevitalisasi industri unggulan, seperti tekstil,
elektronik, otomotif, makanan dan minuman, serta industri kreatif agar lebih
berdaya saing.
Secara simultan hingga 25 tahun
ke depan, kita harus secara sistematis dan berkesinambungan
mentransformasikan struktur ekonomi nasional dengan menerapkan teknologi
mutakhir, skala ekonomi, dan manajemen sistem rantai suplai terpadu.
Hilirisasi sektor ESDM jangan lagi seperti sekarang, lebih dari 85 persen
pengelolaan migas dan pertambangan umum dikelola korporasi asing.
Dalam hal industrialisasi, kita
bisa belajar dari Korea Selatan. Negara yang tahun 1960-an kemakmurannya di
bawah Indonesia, sejak 1997 sudah menjadi negara industri maju yang makmur.
Negeri ginseng ini juga yang paling cepat bangkit dari krisis ekonomi Asia
1998 dan menjadi raksasa ekonomi dunia karena industri dasarnya kuat dan
berdaya saing.
SDM inovatif
Fakta empiris menunjukkan bahwa
bangsa-bangsa yang maju dan sejahtera, seperti yang tergabung dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and
Development), Singapura, dan Tiongkok adalah mereka yang memiliki daya
inovasi tinggi.
Saat ini, Indonesia tergolong
bangsa dengan daya inovasi rendah. Dari 142 negara yang disurvei tentang
kapasitas inovasi bangsa-bangsa (Global
Innovation Index), Indonesia di peringkat ke-85. Sementara Singapura
peringkat ke-8, Malaysia ke-32, Tiongkok ke-35, Thailand ke-57, Filipina
ke-65, dan Vietnam ke-76. Bangsa dengan kapasitas inovasi tertinggi diraih
Swiss, Swedia, Inggris, Belanda, dan AS (Cornell
University, INSEAD dan WIPO, 2013).
Inovasi berarti kemampuan suatu
bangsa untuk meningkatkan kinerja sektor-sektor ekonomi, mengembangkan
cara-cara baru dalam kegiatan ekonomi (existing
economic activities), dan mengembangkan sektor-sektor ekonomi baru yang
lebih produktif, efisien, dan berdaya saing secara berkelanjutan.
Contoh betapa pentingnya sinergi
inovasi adalah ihwal pesawat terbang produk IPTN. Secara teknologi, pesawat
terbang buatan IPTN tidak kalah dengan pesawat sejenis buatan Spanyol,
Kanada, dan Tiongkok. Namun, karena kita lemah di bidang jaringan pemasaran
dan manajemen, pesawat IPTN kalah bersaing.
Sistem pendidikan mesti dirombak
agar mampu menumbuh-kembangkan budaya inovasi, bukan sekadar menghafal
seperti sekarang. Pemerintah berkewajiban mengajak perusahaan swasta baik
nasional maupun internasional ”mengindustrikan” hasil-hasil penelitian dari
perguruan tinggi dan berbagai lembaga penelitian, dari skala laboratorium
menjadi produk komersial.
Kita harus membangun
klaster-klaster (hub) teknologi yang menampung segenap aktivitas perusahaan
berteknologi tinggi (high-tech)
berkelas dunia dan didukung beberapa perguruan tinggi nasional minimal di
barat, tengah, dan timur Indonesia.
Seperti halnya Silicon Valley di
California, AS; Biopolis di Singapura; Bangalore di India; dan Zhongguancun
Technology Center di Beijing, RRC. Anggaran riset harus ditingkatkan, dari hanya
0,1 persen PDB menjadi 3-4 persen PDB seperti negara maju (Erostat, 2012).
Dengan
melaksanakan peta jalan (roadmap)
pembangunan ekonomi berbasis inovasi seperti di atas, kita akan mampu
mengatasi permasalahan kronis bangsa, seperti pengangguran, kemiskinan,
kesenjangan kaya versus miskin, rentannya ketahanan pangan dan energi, serta
daya saing yang rendah. Targetnya, pada tahun 2019 status ekonomi kita
meningkat menjadi berpendapatan menengah atas (rata-rata GNP per kapita di
atas 7.250 dollar AS). ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar