Sabtu, 28 Juni 2014

Siap Menang dan Siap Kalah

Siap Menang dan Siap Kalah

Sumaryoto Padmodiningrat  ;   Anggota DPR
SUARA MERDEKA, 26 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
"Ungkapan Prabowo perlu direalisasikan oleh semua pihak, terutama para kandidat dan pendukungnya, supaya siap menang sekaligus siap kalah"

’’PERTAHANAN terbaik adalah menyerang,’’ kata Tsun Tzu (544-496 SM). Barangkali terinspirasi oleh ajaran filsuf dan ahli strategi perang asal Tiongkok itulah maka dua calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, saling melancarkan serangan dalam tiga kali debat yang telah berlangsung.

Sebagai prajurit yang banyak bertugas di medan perang, semisal Timor Timur, kita tahu Prabowo adalah petarung. Begitu pun Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, dan hal itu ia buktikan dengan mengikuti tiga kali pemilihan kepala daerah (pilkada), yakni dua kali di Solo dalam perebutan kursi wali kota, dan sekali di Jakarta dalam perebutan kursi gubernur, dan menang.

Sebagai petarung, dalam benak keduanya tentu sudah tertanam ungkapan seperti tersurat dalam puisi Widji Thukul, penyair asal Solo yang sajak-sajaknya digandrungi Jokowi, namun di sisi lain penyair asal Solo itu menjadi korban penculikan pada 1997/1998 yang dituduhkan melibatkan Prabowo. Puisi itu yakni ”Hanya Ada Satu Kata: Lawan!” (Peringatan; 1996).

Saling serang tak hanya terjadi di arena debat dan kampanye tapi juga di kalangan pendukungnya melalui berbagai macam isu. Serangan terhadap Jokowi terutama menyangkut isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang kemudian tak terbukti. Adapun Prabowo, disangkutkan dengan isu penculikan aktivis prodemokrasi yang berakibat pada pemberhentiannya dari dinas militer.

Serangan demi serangan terjadi cukup keras dan sporadis, sampai-sampai beredar tabloid yang berisi fitnah dan menjelek-jelekkan Jokowi. Serangan yang menimpa Prabowo juga tak kalah keras, melalui keberedaran kopi surat pemecatannya oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Dalam konteks ini, para purnawirawan jenderal yang berada pada masing-masing kubu melakukan perang urat saraf. Buntut dari serangan-serangan ini adalah pelaporan oleh masing-masing kubu terhadap kubu lain kepada Bawaslu dan Mabes Polri.

Serangan demi serangan yang dilancarkan masing-masing kubu dan cenderung membabi-buta inilah yang menyebabkan Pilpres 2014 yang akan berlangsung 9 Juli nanti adalah pilpres terburuk sepanjang sejarah pilpres langsung digelar sejak 2004. Kedua kubu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Jokowi-Jusuf Kalla, berikut pendukungnya agaknya alpa bahwa selain mengajarkan strategi ”pertahanan terbaik adalah menyerang”, Tsun Tzu juga mengajarkan strategi lain, yakni ”memenangi seratus pertempuran bukanlah kesempurnaan tertinggi. Pasalnya, kesempurnaan tertinggi adalah meredam dan mengalahkan pasukan musuh tanpa harus bertempur.” Dengan kata lain, seperti diajarkan RM Sosrokartono (1877-1952), ’’nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake’’ (maju tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan martabat lawan).

Menghargai Pahlawan

Karena itu, dalam sisa waktu debat dan kampanye, sampai 5 Juli 2014, hendaknya para kandidat dan pendukungnya menggunakan kesempatan tersebut untuk memaparkan visi-misi dan program, tanpa perlu menjelekkan, menghina, apalagi memfitnah lawan. Silakan beradu argumen, bukan sentimen pribadi. Dengan beradu argumen, dan bila berdasarkan argumen itu kemudian seorang kandidat terpilih maka ibaratnya ia tak perlu berperang, tapi cukup melakukan langkah-langkah persuasif guna memengaruhi pihak lawan dan pendukungnya.

Hentikan politik Machiavellian yang menghalalkan segala cara, seperti menebarkan fitnah melalui tabloid yang oleh Dewan Pers disebut sebagai produk haram pers, dan biarkan proses hukum berjalan secara fair. Hentikan politik belah bambu (menginjak yang satu dan mengangkat yang lain) seperti dilakukan para purnawirawan jenderal di kedua kubu.

Jangan pula membuka kotak pandora yang sebenarnya tak perlu, seperti dilakukan Mahfud MD dengan mengatakan Bung Karno melanggar hak asasi manusia (HAM), meskipun kemudian pernyataan tersebut diklarifikasi. Sekali kotak pandora terbuka maka semua aib bangsa ini akan terbuka keluar sehingga ajaran leluhur mikul dhuwur mendhem jero akan terabaikan. Pun pepatah mengatakan, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

Jangan sampai hanya demi kepentingan politik praktis, dukung-mendukung capres sambil berharap nanti mendapat bagian ”kue” kekuasaan, lalu ajaran leluhur dan budaya adiluhung bangsa terabaikan. Janganlah para tokoh yang selama ini menyandang nama besar justru menurunkan derajatnya, justru oleh ucapan, sikap, atau tindakannya sendiri, atau mendegradasi integritasnya sendiri.

Seperti disampaikan Prabowo ketika deklarasi kampanye damai oleh KPU, para kandidat capres-cawapres adalah putra-putra terbaik bangsa sehingga siapa pun yang kelak terpilih harus dihormati dan diterima dengan legawa dan lapang dada. Ungkapan Prabowo perlu direalisasikan oleh semua pihak, terutama para kandidat dan pendukungnya, supaya siap menang sekaligus siap kalah. Pasalnya, dalam sebuah pertarungan, hanya ada satu yang akan keluar sebagai pemenang, dan sebagai petarung, kita yakin baik Prabowo maupun Jokowi sudah menyadari sehingga keduanya sudah siap mental bila nanti menang atau kalah. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar