Rabu, 04 Maret 2015

Mental Model Kepala Sekolah

Mental Model Kepala Sekolah

Ahmad Baedowi  ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 02 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                

MENTAL model ialah ciri yang harus melekat pada diri seorang pemimpin di lembaga pendidikan. Dalam pandangan Peter Senge (2003), mental model adalah sejenis disiplin yang merefleksikan kemampuan seseorang dalam mengembangkan persepsi dan kepedulian terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Dalam konteks sekolah, seorang kepala sekolah seharusnya memiliki mental model, mental untuk menjadi anutan, yang kuat dalam rangka mengajak para guru dan siswa untuk berbagi dan saling berterus terang tentang segala hal tanpa perlu takut dan tertekan. Seberapa banyak kita memiliki kepala sekolah yang menyadari arti penting mental model dalam organisasi sekolah?

Penelitian tentang efektivitas sekolah merupakan wilayah yang tumbuh dan berkembang pesat dalam dua dekade terakhir ini, baik di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris serta negara-negara berkembang.Beberapa temuan dari studi itu, misalnya, ditulis Reynolds et al, (1999) Improving Schools: Performance and Potential, yang menyebutkan pentingnya memperhatikan sikap dan gaya kepemimpinan sekolah yang efektif dan mudah di contoh para kepala sekolah di mana pun mereka berada.Delapan karakter Beberapa penelitian penting dalam pengembangan kepemimpinan sekolah berkualitas menyebutkan setidaknya ada delapan karakter dasar bagaimana effective school leader dapat tumbuh dan berkembang. Pertama, seorang kepala sekolah harus menyadari pentingnya menjaga visi dan misi sekolah yang dirumuskan secara bersama. 

Dalam banyak kasus, sekolah-sekolah di Indonesia jarang sekali melakukan praktik perumusan visi-misi sekolah secara bersama. Padahal, kemampuan kepala sekolah dalam memimpin dan menjaga visi, misi, dan tujuan sekolah sangat dibutuhkan dalam rangka mengakomodasi kebutuhan internal dan eksternal sekolah, sebuah kemampuan manajerial berkesinambungan yang selalu memperhatikan aspirasi `atas-bawah' seluruh stakeholder sekolah (Murphy and Louis, 1994).

Kedua, kemampuan mengembangkan partisipasi guru dan siswa. Peranan kepala sekolah sebagai seorang manajer sekaligus fasilitator harus mengemuka pada tahap ini. Indikasi kuat sebuah kepemimpinan sekolah yang efektif dapat tergambar dari seberapa besar partisipasi guru dalam menyemai proses pembentukan budaya sekolah yang positif bagi pengembangan bakat dan minat siswa, serta prinsip-prinsip share-leaders dibangun dengan penuh kepercayaan dan kesadaran (Teddlie and Stringfield, 1993).

Karakter ketiga yang patut dijadikan indikator kepemimpinan sekolah yang efektif ialah kepedulian kepala sekolah terhadap proses pengajaran. Paradigma tentang instructional leadership harus terus dikembangkan seiring dengan berkembangnya metodologi pengajaran yang inovatif dan menyenangkan. 

Karakter ketiga itu merupakan sepertiga indikator keberhasilan kepemimpinan sekolah yang efektif (Levine, 1990). Dalam praktiknya, adalah kewajiban dari kepala sekolah untuk secara rutin berkunjung ke kelas-kelas, memonitor sekaligus membimbing para guru dan siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Menjadi partner dalam sebuah proses pembelajaran kolaborasi ialah bukti lain dari sifat dan karakter kepala sekolah yang peduli pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas.

Direct monitoring ialah karakter keempat yang dibutuhkan seorang kepala sekolah. Kemampuan mengelola sumber informasi pembelajaran melalui personal monitoring merupakan kelengkapan manajerial sekolah berciri efektif. Bahasa birokrasi negeri ini menyebutnya dengan inspeksi mendadak (sidak), sebuah kemampuan mendeteksi persoalan secara natural yang disebut Peter and Waterman (1982) sebagai `management by wandering around'. Jika proses itu berlangsung efektif, dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut memiliki potensi untuk mengembangkan budaya sekolah yang positif.

Ciri kelima dari sekolah yang efektif ialah adanya kebijakan yang transparan dan terbuka dalam proses seleksi atau rekrutmen guru dan tenaga administratif sekolah. Jika proses seleksi memiliki standar baku dan metode yang terukur dan terencana dengan baik, dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut memiliki kesadaran yang sungguh-sungguh terhadap pentingnya standarisasi mutu guru dan sumber daya kependidikan sekolah yang baik. Dalam perspektif administrasi sekolah, prinsip-prinsip hands-on staffing juga diperlukan untuk melihat bagaimana tipologi monitoring dan supervisi kelas akan dijalankan, dukungan dinas pendidikan terhadap kemampuan mengajar guru dengan cara memberikan in-service training program dan sertifikasi, serta kemampuan mengelola konflik dan pembagian waktu belajar secara benar.

Fokus terhadap pentingnya proses dan capaian dalam bidang akademis juga memiliki korelasi yang signifikan terhadap kepemimpinan sekolah yang efektif. Meskipun ujian nasional saat ini sudah diubah, yakni sekolah bertanggung jawab untuk meluluskan para siswanya, bukan berarti seluruh orientasi akademis sekolah harus kehilangan arah. Tugas seorang pemimpin sekolah ialah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya budaya akademis sekolah yang sehat, membangun komitmen terhadap prinsip-prinsip belajar tuntas yang berpusat pada anak didik (mastery of central learning skills), serta membangun basis pengembangan kurikulum yang pro pada kemampuan bakat dan minat siswa yang beragam dan pluralis. Orientasi akademis seperti itulah yang merupakan karakter keenam dari tujuan kepemimpinan sekolah yang efektif.

Aspek atau karakter ketujuh ialah pentingnya menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan komunitas sekolah terhadap sekolahnya. Dalam praktiknya, proses ini mengharapkan seluruh sivitas akademika sekolah terlibat secara langsung dalam perumusan kebijakan sekolah, dari manajemen kelas hingga membangun hubungan baik dengan seluruh komunitas sekolah. Dari perspektif kepala sekolah, membangun rasa percaya diri komunitas sekolah dapat dimulai dengan mengawal integritas ruang belajar/kelas agar lebih variatif, inovatif, dan kaya akan metodologi pengajaran.

Karakter terakhir, kedelapan, ialah sistem monitoring dan evaluasi yang dipilih dan akan digunakan sekolah dalam rangka mengukur tingkat kemajuan siswa, guru, orangtua siswa, dan manajemen sekolah. Pada setiap jenjang, proses monitoring dan evaluasi memang bermuara pada hasil kerja siswa. Namun demikian, kepemimpinan sekolah yang efektif juga harus dapat merumuskan sistem monitoring dan evaluasi yang dapat mengukur tingkat kemampuan guru, partisipasi masyarakat dan manajemen sekolah sekaligus. Pada tahap ini, kita tampaknya masih harus menunggu kebijakan pemerintah yang pro pada kemampuan sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar