Selasa, 31 Maret 2015

Antara Lee Kuan Yew dan Olga

Antara Lee Kuan Yew dan Olga

Sumiati Anastasia  ;  Kolumnis dan Muslimah di Balikpapan
JAWA POS, 30 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

SAAT negeri tetangga kita, Singapura, tengah berkabung atas mangkatnya Lee Kuan Yew dalam usia 91 tahun (wafat Senin, 23/3), komedian Indonesia Olga Syahputra meninggal pada Jumat (27/3) di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura setelah setahun dirawat. Dia disebut menderita meningitis. Pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983, itu terkenal dengan gaya kemayu, kocak, dan sifat lugu yang membuatnya dicintai banyak penggemar.

Antara dua sosok itu boleh jadi tidak bisa dibandingkan. Sebab, yang satu adalah politikus kelas dunia, yang lain komedian. Keduanya juga pasti tidak memiliki hubungan apa-apa. Namun, keduanya adalah sama-sama manusia sehingga kematian mereka juga bisa sama-sama jadi trending topic di media sosial. Juga, banyak yang kehilangan karena keduanya sama-sama menorehkan tinta emas ketika semasa hidup.

Lee mampu membangun dan membuat Singapura yang miskin dan kecil jadi negara maju yang diperhitungkan dan disegani di dunia. Olga juga berangkat dari kelas bawah yang merangkak hingga sampai puncak di jagat hiburan Indonesia. Olga selalu menyisihkan sebagian honornya untuk kaum papa. Jelas, itu lebih mulia daripada kelakuan banyak koruptor Indonesia yang justru membuat kehidupan wong cilik kian menderita. Korupsi juga membuat Indonesia tidak bisa maju seperti Singapura. Jangan lupa, Lee, sebelum jadi perdana menteri (1950–1990), adalah advokat lulusan Cambridge University yang telah menanamkan disiplin dan penegakan hukum yang tidak pilih kasih. Para koruptor takut. Dan, rendahnya korupsi membuat derajat Singapura bisa terangkat sebagai negara maju dan sejahtera.

Jadi, dua sosok itu sungguh telah berjasa. Dan, jasa itulah yang selalu dikenang ketika mereka sudah meninggal. Pepatah Jawa mengingatkan ''urip mung mampir ngombe'' (hidup hanya sekadar singgah minum). Ini menunjukkan betapa fana dan kecilnya manusia, serta betapa singkatnya perjalanan manusia di dunia ini.

Dan manusia, apa pun derajatnya, entah penguasa negara atau rakyat jelata, entah kuning atau cokelat, tak bakal lolos dari kematian.

Sayangnya, sejak dulu hingga kini, kematian masih menjadi sumber teka-teki penuh misteri. Para raja Mesir, Babilonia, atau kaisar China kuno malah, sesuai tradisi, memaksa ''mengajak'' istri dan segenap pengawal dan dayang-dayang ketika mereka meninggal. Artinya, pada hari pemakaman, orang atau hewan kesayangan yang masih hidup ikut dikubur hidup-hidup bersama si mati. Sebab, ada keyakinan, itu dilakukan agar si mati tidak kesepian di alam kematian.

Yang unik, salah satu sub-etnis Indian di Kanada malah menggelar pesta besar-besaran ketika ada keluarga yang meninggal. Sebaliknya, ketika ada anak yang baru lahir, digelar pesta perkabungan. Jadi, itu menjadi kebalikan dengan kebiasaan kebanyakan manusia dewasa ini.

Namun, pada intinya, manusia modern dewasa ini mencoba melupakan kematian. Simak saja, ketika ada orang lain meninggal, banyak orang merasa kematiannya sendiri masih lama. Tak heran, ketika mengantar jenazah ke kuburan, banyak orang berpikir bahwa dirinya tak akan mungkin meninggal dalam waktu dekat.

Islam mengajarkan bahwa yang mati adalah jasad manusia saja, sedangkan rohnya mengembara dalam perjalanan abadi. Seperti disebutkan dalam dalam Surat Al A'raaf ayat 172, roh manusia menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berakhir.

Namun, di tengah semangat zaman yang menuhankan uang sehingga korupsi menjadi kebiasaan, orang sering lupa akan ke mana selanjutnya setelah jasad mereka menua dan tiada.

Malah yang konyol, seperti dikatakan Gus Mus, para koruptor kita kerap kali mencoba menyuap Tuhan dengan memutihkan hasil korupsi dengan mengambil sebagian uang korupsi untuk karya-karya amal dan kemanusiaan. Misalnya, membangun masjid, menyantuni anak yatim, atau pergi haji ke Arab Saudi bagi yang muslim. Atau, mengunjungi tempat lahir dan wafat Yesus di Israel bagi yang nasrani.

Dengan modus operandi seperti itu, para koruptor berharap, bila meninggal kelak, mereka bisa dihindarkan dari siksa kubur. Inilah konyolnya para koruptor Indonesia, seolah Tuhan bisa disuap.

Dalam psikologi agama, perilaku para koruptor seperti itu sebenarnya hanya upaya melarikan diri dari permasalahan. Sebab, dengan cara seperti itu, mereka bisa merasa tenteram. Tentu ketenteraman yang palsu.

Menurut para guru kebajikan seperti Al Ghazali, hanya ada satu resep untuk mendapatkan ketenteraman hidup, yakni membelakangi dunia. Selama masih ada dunia di tangan kita, kekotoran hati dan kegelisahan akan tetap ada. Ibarat mustahil mandi madu tanpa dikerumuni lalat atau semut.

Jadi, mumpung masih diberi waktu, mari kita mengumpulkan bekal berarti untuk perjalanan abadi. Mari belajar dari Lee atau Olga yang sudah berjasa mengentas sesama yang kurang beruntung sesuai kapasitas masing-masing. Dan, peduli pada yang lemah di tengah berlimpahnya harta adalah investasi abadi yang tak akan mengecewakan (Surat Al Ma'un 107:1–7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar