Selasa, 24 Maret 2015

Fenomena Ahok

Fenomena Ahok

Pongki Pamungkas  ;  Penulis Buku The Answer is Love
KORAN TEMPO, 23 Maret 2015

                                                                                                                                     
                                                                                                                                                           

Di suatu media cetak, Agustus 2014, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang pada saat itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, menceritakan satu anekdot. Cerita itu untuk menggambarkan posisinya dalam penertiban Pasar Tanah Abang Jakarta.

Ia bercerita, “Seorang nenek jatuh ke laut dari kapal yang dijubeli penumpang. Kagak ada yang mau nolong. Tahu-tahu ada pemuda yang nyebur ke air. Dia kelihatan kaget dan panik, tapi berhasil menyelamatkan si nenek. Penumpang sorak-sorak, memuji si pemuda. Bukannya bangga, si pemuda malah marah-marah, “Tadi siapa yang mendorong saya ke laut?” Sambil terbahak, Ahok berkata, “Nah, saya seperti pemuda itu. Telanjur kecemplung di Tanah Abang.”

Kisah di atas adalah gambaran bahwa, dalam kiprahnya sebagai pejabat, ia bertindak karena “terdesak” oleh keadaan yang mendorongnya demikian. Ia tak punya keinginan pribadi untuk “menjadi pahlawan” sebagaimana anekdot di atas. Ia bukan termasuk orang-orang dalam sindiran William Randolph ini (penguasa lahan Virginia abad ke-17), “Politikus adalah orang-orang yang akan melakukan apa pun untuk mempertahankan posisinya, termasuk melakukan hal-hal yang patriotik.”

Ahok selalu bersikap nothing to lose. Kita bisa melihat fakta-faktanya. Ia mundur dari Gerindra, partai yang mengusungnya menjadi Wakil Gubernur DKI. Ia mundur gara-gara memiliki perbedaan prinsip aturan pemilihan kepala daerah yang diwacanakan, salah satunya oleh Gerindra, untuk tidak dipilih langsung oleh rakyat.

Sementara di sisi lain, gaya Ahok dalam berkomunikasi adalah suatu gaya yang sama sekali tak dianjurkan dalam budaya bangsa kita ini. Berbicara blakblakan saja sebetulnya juga bukan hal yang biasa kita rasakan sebagai bangsa Timur yang penuh dengan tradisi ewuh-pakewuh. Apalagi kemudian memaki dan mencerca orang-orang lain dengan predikat-predikat yang negatif: maling, perampok, bandit, plus kata-kata lain yang tak layak keluar dari mulut seorang pejabat negara.

Gaya berkomunikasinya cenderung konfrontatif. Bukan persuasif. Karena ingin menegakkan kebenaran, basa-basi sebagai warna kesantunan, bukanlah gaya yang dipilihnya. Ia selalu straight to the point, main tembak langsung. Bila lawan bicara atau pihak yang dihadapinya tidak siap dengan kebenaran faktual, atau memiliki agenda-agenda terselubung yang manipulatif, pasti akan sangat jengah. Akan langsung mati gaya!

Ahok tampaknya menyadari benar pepatah kuno ini dengan segenap risikonya, “Mulutmu harimaumu”. Tutur katanya sering kali membuat banyak orang merah kuping dan marah. Wajar bila mereka merespons dengan keinginan mengubah diri menjadi harimau. Mereka bernafsu untuk menggigit Ahok, dan Ahok tampak siap meladeni ancaman harimau itu.

Ahok dalam konteks teori-teori kepemimpinan, bukanlah seorang pemimpin yang ideal. Thomas Jefferson memiliki pandangan soal pemimpin dalam konteks ini, “Dalam soal gaya, selayaknya pemimpin berenang secara luwes sesuai dengan gelombang air. Dalam soal prinsip, pemimpin harus tegak kokoh bagai batu karang.” Ahok adalah pemimpin yang seperti batu karang. Kokoh dengan pendiriannya. Tapi yang tidak menjadikannya sebagai seorang pemimpin ideal, gaya Ahok sama sekali tidak luwes. Ia bukan orang yang senang dengan prinsip menang-menang (win-win), khususnya terhadap hal-hal yang ia yakini kebenarannya.

Tampaknya ia memiliki karakter sebagaimana ucapan Martin Luther King Jr. ini, “Tempat yang paling panas di neraka disiapkan bagi orang-orang yang mengambil sikap netral dalam masa berlangsungnya konflik moral.” Ia ingin selalu mengambil sikap, suatu posisi (stand-point) yang jelas, hitam atau putih.

Ahok dalam dunia politik Indonesia saat ini, yang cenderung bernuansa negatif, bisa disebut, ia bukan seorang pemain politik. Ia bukan politikus. Niccolo Machiavelli mengatakan, “Politik tak ada hubungannya dengan moral.” Dalam kasus Ahok, ia sangat menjunjung tinggi aspek moral. Yang paling utama baginya adalah integritas, sebagai bagian dari aspek moral itu.

Ahok seorang pemimpin yang bernyali besar, sesuai dengan pandangan ini, “‘Keselamatan adalah hal utama’ (safety first) telah menjadi moto ras manusia selama jutaan tahun. Tapi sesungguhnya itu bukan moto seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin sejati harus berani menghadapi bahaya. Ia harus mengambil risiko dan celaan, bagian terberat dari badai,” kata Herbert N. Crasson, seorang jurnalis terkemuka dari Kanada yang meninggal pada 1951.

Di luar pelbagai aspek karakter di atas, dari aspek kompetensi terlihat pula Ahok pada dasarnya bukanlah politikus, sesuai dengan wajah kualitas politik hari ini. Mohon maaf, kalimat ini tampaknya benar, meskipun menyedihkan, “Dalam politik, kebodohan bukanlah suatu rintangan (handicap),” kata Napoleon Bonaparte. Wajah kualitas kancah perpolitikan saat ini tak bisa dimungkiri, banyak dihiasi para pemain politik yang jauh dari pintar (saya tak bernyali untuk mengatakan, kebanyakan para politikus kita adalah orang-orang bodoh). Sedangkan Ahok diakui oleh sebagian besar masyarakat sebagai seorang pejabat tinggi yang pintar.

Dengan segala keunggulan karakter dan kompetensi Ahok di atas, disertai kelemahan parah Ahok dalam berkomunikasi, survei dari LSI menunjukkan, 65 persen warga DKI mendukung Ahok dalam posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pelbagai langkah Ahok sebagai Gubernur didukung oleh mayoritas masyarakat. Sebagai contoh, 97,2 persen suara masyarakat menyetujui langkah Ahok melaporkan dana siluman di APBD ke KPK (majalah Tempo, 16-22 Maret 2015).

Tampaknya, masyarakat kita telah memilih, biarlah soal gaya, soal kesantunan dalam bertutur-kata dikesampingkan, paling tidak untuk sementara waktu. Dengan harapan besar, semoga Ahok akan mengubah gayanya untuk lebih santun, lebih pas dalam kultur bangsa ini. Sedangkan integritas adalah persoalan yang lebih penting. Integritas, dalam kasus kepemimpinan Ahok, perlu didahulukan daripada kesantunan. Substansi lebih penting daripada format. Tampaknya masyarakat menyadari benar, tak ada kesempurnaan di dunia ini. Tak ada manusia sempurna (nobody perfect). Tak ada pemimpin yang sempurna. Ahok bukan pemimpin sempurna. Dan masyarakat menerima. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar