Menilai
Pidato Pertama Presiden Jokowi
Shohib Masykur ; Alumnus The Indonesian President’s
Speechwriting Course, Georgetown University, Amerika Serikat; Saat ini sedang
mengambil program Master of Science in Foreign Service di kampus yang sama
|
DETIKNEWS,
21 Oktober 2014
Usai dilantik sebagai Presiden RI ke-7, Jokowi menyampaikan pidato
pertamanya (Baca: Ini Pidato Lengkap Jokowi). Konon naskah pidato tersebut
disiapkan oleh tim pakar yang beranggotakan 11 orang ahli dari berbagai
bidang. Tulisan ini akan mengulas pidato Jokowi dari segi teknik penulisan
pidato.
Lebih
singkat lebih baik
Kelebihan utama pidato Jokowi adalah durasinya yang singkat. Secara
umum, pidato yang singkat lebih baik ketimbang pidato yang panjang. Pidato
panjang bukan saja membuat pendengarnya bosan, melainkan juga mengaburkan
pesan yang ingin disampaikan.
Dalam public speaking, jamak
diketahui bahwa kemampuan rata-rata audiens untuk mempertahankan konsentrasi
adalah 20 menit. Di atas itu, audiens mulai melamun atau memikirkan hal-hal
lain. Selain itu, memori audiens tidak cukup kuat untuk menangkap terlalu
banyak pesan lisan. Karenanya, semakin singkat suatu pidato, semakin melekat
pesannya di ingatan pendengar.
Hal itu sering tidak disadari oleh para penulis maupun penyampai
pidato. Mereka beranggapan pidato yang pendek kurang mengesankan sehingga
cenderung menyusun pidato yang panjang. Anggapan itu muncul karena mereka terjebak
pada perspektif subyek (penulis dan penyampai pidato) yang ingin menyampaikan
banyak hal. Mereka abai untuk melihatnya dari perspektif obyek (pendengar)
yang secara umum cepat bosan dalam mendengarkan.
Namun tampaknya Jokowi menyadari hal tersebut. Ditambah lagi, pada
dasarnya Jokowi memang tidak gemar banyak bicara. Dalam setiap kesempatan
tampil di depan publik, kata-katanya selalu cekak aos, tidak bertele-tele.
Makanya, alih-alih 45 menit sebagaimana direncanakan semula (Baca: Jokowi
Hanya Minta 7 Menit), Jokowi hanya minta waktu 7 menit.
Angka 7 itu barangkali bagian dari kebiasaannya menggunakan simbol.
Sebagai Presiden RI ke-7, dia ingin pidato pertamanya selama 7 menit. Jokowi
memang kerap menggunakan simbol: baju kotak-kotak, pelantikan di kawasan
kumuh, penerimaan mandat pencapresan di rumah Si Pitung, pidato kemenangan di
kapal, salam dua/tiga jari, dan semacamnya.
Namun alih-alih 7 menit, pada akhirnya Jokowi berpidato selama 11
menit, atau 4 menit lebih lama dari yang direncanakan. Ada beberapa
kemungkinan mengapa hal itu terjadi. Pertama, penulis pidatonya kurang tepat
dalam memperhitungkan tempo bicara Jokowi. Kecepatan rata-rata orang
berpidato adalah 120 kata per menit. Dengan demikian, jika ingin menyampaikan
pidato 7 menit, naskah yang dipersiapkan kurang lebih 840 kata.
Pidato Jokowi sendiri terdiri dari sekitar 840 kata, sehingga secara
teori sebenarnya sudah tepat. Namun perlu dicatat bahwa kecepatan bicara
setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang nyaman bicara lambat, ada juga yang
nyaman bicara cepat. Adalah menjadi tugas penulis pidato untuk memperkirakan
secara akurat tempo yang cocok sesuai dengan zona nyaman penyampai pidato.
Rupanya tempo Jokowi berada di bawah rata-rata sehingga pidato yang
sedianya 7 menit itu harus dibawakan lebih lama. Dari situ dapat disimpulkan
bahwa tempo Jokowi adalah sekitar 76 kata per menit (hal yang perlu dicatat
oleh siapapun penulis pidato Presiden Jokowi ke depan).
Kemungkinan kedua adalah adanya perbedaan antara latihan dengan pidato sungguhan.
Pada saat latihan, barangkali timnya telah mengukur secara cermat tempo
pidato Jokowi. Namun pada saat pidato sungguhan, Jokowi membawakannya secara
lebih lambat.
Hal semacam itu memang biasa terjadi mengingat latihan dan pidato
sungguhan dibawakan dalam suasana yang sangat berbeda. Berdiri di atas
panggung disaksikan puluhan juta pasang mata tentunya lain dengan berdiri di
ruangan disaksikan oleh segelintir orang. Sedikit banyak tempo pidatonya akan
terpengaruh karena adanya faktor gugup. Belum lagi jika tepuk tangan audiens
membuat pidato harus berhenti beberapa kali selama beberapa saat.
Kemungkinan ketiga, tentu saja, adalah Jokowi memutuskan untuk
memperpanjang pidatonya melebihi 7 menit. Tapi mengingat kegandrungan Jokowi
pada simbol, kemungkinan terakhir ini sepertinya lebih kecil ketimbang
kemungkinan pertama atau kedua.
Lebih
dari sekadar pidato, Jokowi berkomunikasi
Dua paragraf di bawah ini menyiratkan banyak hal.
Pemerintahan
yang saya pimpin akan bekerja untuk memastikan setiap rakyat di seluruh
pelosok tanah air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan. Saya juga
mengajak seluruh lembaga Negara untuk bekerja dengan semangat yang sama dalam
menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Saya yakin, Negara ini akan
semakin kuat dan berwibawa jika semua lembaga negara bekerja memanggul mandat
yang telah diberikan oleh Konstitusi.
Kepada
para nelayan, para buruh, para petani, para pedagang bakso, para pedagang
asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI, pengusaha dan kalangan profesional,
saya menyerukan untuk bekerja keras, bahu membahu, bergotong rotong. Karena,
inilah momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama, untuk
bekerja…bekerja…dan bekerja.
Jokowi tidak hanya berpidato. Lebih dari itu, dia berkomunikasi. Dia berbicara
dengan rakyat, orang-orang yang dipimpinnya. Dalam bahasa Bung Karno, tokoh
yang juga dia rujuk dalam pidatonya, Jokowi berusaha untuk menjadi
“penyambung lidah rakyat.” Karenanya, dia menyapa rakyatnya: nelayan, buruh,
petani, pedagang bakso, pedagang asongan, sopir, akademisi, guru, TNI, POLRI,
pengusaha dan kalangan profesional. Dia mengajak dan menyerukan.
Jokowi memulainya dengan nelayan, sesuai dengan visi maritim yang ingin
dia wujudkan. Lalu dia lanjutkan dengan menyebut profesi-profesi “wong cilik”
yang selama ini menjadi prioritas kebijakannya: buruh, petani, pedagang
asongan. Barulah di belakang dia menyebut pengusaha dan kalangan profesional.
Pilihan urutan yang kelihatannya sepele itu sesungguhnya menunjukkan
sisi ideologis Jokowi: bahwa, meskipun dia berasal dari kalangan pengusaha,
dia tetap menempatkan “wong cilik” sebagai prioritas dalam kebijakannya. Dan
dia ingin “wong cilik” itu menjadi subyek yang berdikari, subyek yang turut
serta bekerja keras bahu membahu bersama pemerintah dalam membangun
Indonesia.
Bagi Jokowi, “wong cilik” itulah yang menjadi sumber kekuatan utama
Indonesia untuk bisa maju, sehingga mereka perlu disebut di depan. Namun
“wong cilik” itu butuh kepemimpinan dan keteladanan. Di sanalah peran negara.
Karena itu, terlebih dulu dia menyerukan kepada seluruh jajaran pemerintahan
yang dia pimpin untuk bekerja keras guna “memastikan setiap rakyat di seluruh
pelosok tanah air merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan.” Dengan adanya
keteladanan pemerintah, Jokowi yakin rakyat akan lebih terpacu untuk bekerja
keras. Kolaborasi apik antara pemerintah dan rakyat itu kunci untuk membangun
Indonesia yang “berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan
berkepribadian dalam kebudayaan” sehingga dapat “hadir di antara
bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan martabat, dengan harga diri.”
“No
great speech without great policy”
Seringkali kita mendengar pidato panjang lebar, namun hanya beberapa
menit setelah selesai kita tidak ingat lagi apa inti dari pidato yang baru
saja kita dengar. Penyebabnya bisa jadi karena kita tidak memperhatikan
secara seksama. Namun, sangat mungkin pula hal itu lantaran pidatonya sendiri
tidak mengandung pesan yang kuat.
Peggy Noonan, penulis pidato Pressiden AS Ronald Reagan yang legendaris,
pernah mengatakan: “there is no great
speech without great policy.” Dalam konteks ini, maka pidato Jokowi telah
menyentuh aspek paling mendasar dari sebuah pidato: great policy. Pesan yang dia sampaikan jelas dan lugas: visi
maritim Indonesia.
Kita harus bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mengembalikan
Indonesia sebagai negara maritim. Samudra, laut, selat dan teluk adalah masa
depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi
samudra, memunggungi selat dan teluk. Kini saatnya kita mengembalikan
semuanya sehingga Jalesveva Jayamahe, di Laut justru kita jaya, sebagai
semboyan nenek moyang kita di masa lalu, bisa kembali membahana.
Visi maritim itu tidak hanya berhenti pada tataran kebijakan, tetapi
sampai pada mentalitas dan menjadi bagian dari revolusi mental yang ingin dia
galakkan. Bagi Jokowi, negara maritim bukan hanya negara yang terdiri dari
laut dan kepulauan, melainkan juga negara yang penduduknya memiliki jiwa
cakrawati samudera, “jiwa pelaut yang
berani mengarungi gelombang dan hempasan ombak yang menggulung.”
Kebijakan dan mentalitas maritim itu pada gilirannya akan membentuk
identitas Indonesia sebagai bangsa maritim. Maka, saat menyebut Indonesia
dalam konteks hubungan luar negeri, Jokowi secara spesifik menyebut Indonesia
“sebagai negara kepulauan.”
Saya
ingin menegaskan, di bawah pemerintahan saya, Indonesia sebagai negara
demokrasi terbesar ketiga dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sebagai
negara kepulauan, dan sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, akan terus
menjalankan politik luar negeri bebas-aktif, yang diabdikan untuk kepentingan
nasional, dan ikut serta dalam menciptakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dibandingkan identitas sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dengan
penduduk Muslim terbesar di dunia dan sebagai negara terbesar di Asia
Tenggara, identitas sebagai negara kepulauan selama ini memang kurang
mengemuka dalam pembicaraan mengenai Indonesia di dunia internasional. Dalam
hubungan luar negeri, ekonomi, dan pertahanan, cara pandang berbeda terhadap
identitas diri itu penting artinya karena akan memengaruhi berbagai kebijakan
yang diambil.
Modifikasi
bahasa untuk menekankan makna
Jika ditilik dari kebiasaannya, Jokowi bukan orang yang gemar berbicara
gaya sastra. Dia cenderung berbicara secara praktis tanpa bunga-bunga. Namun,
barangkali atas saran penulis pidatonya, dalam kesempatan tersebut Jokowi
melanggar kebiasaannya. Paragraf ini menarik disimak.
Sebagai
nakhoda yang dipercaya oleh rakyat, saya mengajak semua warga bangsa untuk
naik ke atas kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia
Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan
gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah
kehendak rakyat dan Konstitusi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
merestui upaya kita bersama.
Jokowi mengumpamakan dirinya sebagai nakhoda yang memimpin kapal besar
bernama Republik Indonesia. Selain keterhubungannya dengan visi negara
maritim, perumpamaan itu juga berfungsi untuk menghadirkan ke dalam imajinasi
pendengarnya visualisasi tentang Indonesia yang ingin dia wujudkan, yang dia
ibaratkan sebagai kapal yang memiliki layar kuat dan siap menghadapi badai
dan gelombang samudera.
Dalam penulisan pidato, teknik penggambaran semacam itu dikenal dengan
sebutan sensory imagery.
Efektivitasnya terletak pada pelibatan imaji pendengar yang dapat memantik
seluruh indra untuk bekerja. Perumpamaan itu mengajak pendengar untuk
membayangkan Indonesia bukan hanya sebagai sebuah konsep yang abstrak,
melainkan suatu entitas konkret yang dapat dideteksi oleh panca indra:
dilihat oleh mata (bentuk kapal), didengar oleh telinga (gemuruh badai),
dicium oleh hidung (bau lautan), dikecap oleh lidah (asinnya air laut), dan
dirasakan oleh kulit (dinginnya angin laut). Mencantolkan konsep abstrak
dengan obyek yang konkret membantu tersampaikannya pesan pidato kepada
pendengar sehingga lebih melekat dan berkesan. Visualisasi di paragraf itu
sejalan dengan visualisasi di paragraf lain:
Kita
telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudra, memunggungi selat
dan teluk.
Tentu saja yang Jokowi maksudkan bukan memunggungi secara harfiah,
melainkan mengabaikan. Dengan memunggungi, kita tidak bisa melihat sesuatu,
dan karenanya tidak bisa menghargai arti pentingnya. Kata “memunggungi”
efektif sebagai penyampai pesan karena imajinasi pendengar diajak untuk
melibatkan indra yang lain (mata) dan anggota tubuh yang lain (punggung,
bagian tubuh belakang). Setelah selama ini memunggungi samudera, rakyat
Indonesia diajak oleh Jokowi untuk tidak saja menengok kembali ke laut,
tetapi juga “naik ke atas kapal
Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya.”
Pengulangan kata “memunggungi” sebanyak tiga kali, dikenal dengan
sebutan anaphora, menambah
efektivitas kalimat itu. Ada sesuatu yang magis dengan angka tiga. Para
penulis pidato gemar mengulang kata atau frase sebanyak tiga kali. Mereka
menyebutnya the rule of three.
Namun terkadang mereka juga memodifikasinya menjadi empat atau lima. Dalam
penulisan pidato, efektivitas memang tidak selalu sejalan dengan efisiensi.
Hanya saja, penggunaan anaphora perlu dilakukan secara cermat. Jika
terlalu sering, anaphora bisa menjadi klise dan tidak menarik lagi. Daya
magisnya pun akan berkurang. Dan tampaknya Jokowi punya kecenderungan ke arah
sana. Beberapa di bawah ini adalah contohnya:
...inilah
momen sejarah bagi kita semua untuk bergerak bersama, untukbekerja…bekerja…
dan bekerja.
Kita
juga ingin hadir di antara bangsa-bangsa dengan kehormatan, dengan martabat,
dengan harga diri.
Oleh
sebab itu, bekerja, bekerja, dan bekerja adalah yang utama.
...
untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, Negara makmur,
negara damai, kita harus memiliki jiwa cakrawarti samudera.
Selain itu, Jokowi mengulang kalimat yang amat mirip secara berdekatan:
Ikut serta dalam menciptakan ketertiban
dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Terlepas dari pesan yang ingin disampaikan, pengulangan semacam itu
sebenarnya tidak perlu. Akan lebih baik jika dia memilih salah satu.
Bagaimanapun, secara keseluruhan pidato pertama tersebut menarik dan
berbobot.
Selamat
bertugas, Pak Jokowi (dan penulis pidatonya)! ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar