Kamis, 09 Juni 2016

Ruang Kerja

Ruang Kerja

Samuel Mulia ;   Penlis Kolom PARODI Kompas Minggu
                                                         KOMPAS, 05 Mei 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Seorang penerima tamu di sebuah gedung perkantoran terlihat ogah-ogahan menyambut saya di depan meja penerima tamu. Tetapi, bahasa tubuhnya itu mendadak berubah menjadi begitu santun dengan senyum tersungging di bibirnya ketika saya menyebut sebuah lantai.

Lantai yang saya sebutkan itu adalah lantai di mana salah seorang konglomerat di negeri ini dan pemilik gedung itu berkantor.

Kulkas

Tanpa basa-basi, penerima tamu menyilakan saya melalui jalur pribadi, saya tak perlu menyerahkan KTP seperti biasanya. Para petugas satpam yang mengantar saya ke pintu lift yang khusus diperuntukkan untuk pemiliknya itu juga berlaku sungguh santun.

Tetapi, saya merasakan sebuah itikad baik yang dibuat-dibuat. Keramahan yang diajari, bukan yang dari dalam hati. Keramahan yang diciptakan dari rasa takut. Dalam waktu sekian detik, saya tiba di lantai yang tampaknya menakutkan untuk semua pegawai itu.

Bahkan saat saya menanyakan di mana lokasi kamar kecil, sikap pegawai di lantai itu juga tak bedanya dengan penerima tamu dan pak satpam. Saya sampai merasa bahwa saya juga harus buang air kecil dengan hati-hati dan dengan rasa takut.

Ruang tunggu itu luas, dengan kemampuan menghitung saya yang gitu deh, ruang tunggu itu kira-kira lebih luas dari tempat tinggal saya. Suasananya "dingin" seperti di dalam kulkas, senyap dan terasa sangat menghakimi. Ruangan itu seperti punya mulut dan bersuara, aku kaya dan kamu miskin.

Itu kali pertama saya merasa bahwa tidak hanya lidah manusia saja yang tak bertulang, tetapi interior sebuah ruangan dan perniknya saja bisa sama kejamnya dengan lidah tak bertulang itu. Saya tak berdaya melawan megah dan dinginnya suasana.

Membayangkan seperti apa manusia yang memiliki dan memilih interior yang menghakimi itu, yang membuat semua karyawan tampak ketakutan dan melahirkan kesopanan yang dibuat-buat. Maka, sambil menunggu giliran menghadap, saya mulai bertanya.

Tentu kepada diri saya sendiri. Takut kalau bertanya sama tembok atau lukisan yang ada di dinding, nanti keduanya menghinakan saya. Saya ini sudah dihina sama manusia, ya... masa masih mau dihina sama tembok dan lukisan juga.

Raja KW1

Saya bertanya karena saya penasaran. Bukan masalah selera yang saya tanyakan, melainkan lebih pada memilih sebuah rancangan yang hasilnya bukan malah membuat orang yang datang betah, tetapi berdecak sambil keder setengah mati.

Apakah interior sebuah rumah atau kantor atau gedung secara langsung mencerminkan pemiliknya yang sesungguhnya memang pongah? Atau malah mencerminkan kurangnya wibawa dan kepercayaan diri, dan menggunakan interior semacam itu untuk mendongkrak?

Apakah pagar yang megah seperti sebuah pagar istana, rumah yang berhektar luasnya, ruang rapat dengan meja panjang seperti meja makan para raja-raja, lampu kristal menggantung, tangga raksasa seperti dalam dongeng, merupakan sebuah cermin bahwa kondisi jiwa pemiliknya haus akan semua itu?

Haus menunjukkan kekayaan, haus diekspos di berbagai media, haus menjadi raja, tetapi tak bisa jadi raja. Haus menjadi bangsawan, tetapi darahnya bukan biru, dan mendadak biru karena usahanya yang melejit sehingga terlihat macam orang kaya baru.

Atau sebaliknya, yang dipertontonkan itu sebuah hasil dari kehidupan spiritual yang mengagumkan? Sehingga kemewahan yang dingin dan menakutkan itu secara ironis adalah sebuah cermin kehidupan spiritual yang patut dijadikan contoh?

Apakah ruang mewah itu juga sebagai sebuah alat menunjukkan kepada rekan bisnis, calon rekan bisnis, bahwa kalau mereka bekerja sama, mereka ada di tangan yang mapan? Jadi, bangunan dan interior di dalamnya dimanfaatkan sebagai alat bantu meyakinkan manusia lain. Kalaupun demikian, apakah perlu sampai menakutkan dan begitu dinginnya?

Apakah mampu membuat orang keder itu adalah cara meyakinkan yang baru? Sepulang dari kunjungan penuh kekederan itu, untuk pertama kalinya saya tidak iri. Saya tidak iri untuk memiliki kantor dengan interior macam istana raja.

Saya tak iri untuk menunjukkan wibawa atau meningkatkan kepercayaan diri melalui jalan menjadi raja KW1 atau bangsawan berdarah merah. Saya berniat kalau suatu hari saya bisa koaya roaya, interior ruang kerja saya bisa jadi terbuat dari material yang berkualitas, tetapi itu bukan yang terpenting. Yang nomor satu adalah hasil dari rancangan ruang itu harus mampu membuat siapa pun yang datang merasa betah.

Sebuah gedung dengan interiornya yang mampu melahirkan keterikatan emosi yang baik dan tidak melahirkan kekederan. Seperti saya keder untuk buang air kecil di lantai yang saya sebutkan di atas.

Saya harus melalui satu pintu, dan setelah melalui pintu itu, saya masih dihadapkan dengan tiga pintu yang harus saya tebak, yang manakah yang benar untuk tempat pembuangan air yang katanya seni itu.

Saya ingin memiliki karyawan yang tidak pura-pura ramah dan yang tidak menghiasi hari-hari mereka di kantor saya dengan senyum mereka yang lahir karena diperintahkan dan lahir dari sebuah rasa takut. ●