Sabtu, 25 Juni 2016

Teman Ahok dan Amerikanisasi Politik Indonesia

Teman Ahok dan Amerikanisasi Politik Indonesia

Ericssen ;   Pemerhati Politik Amerika, Politik Indonesia, dan Politik Elektoral
                                                         KOMPAS, 21 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

“Teman Ahok” bisa dikatakan adalah sebuah fenomena baru di kancah perpolitikan tanah air. Kemunculan sebuah “gerakan relawan” yang mendukung seorang kandidat pemilu secara eksplisit belum pernah terjadi sebelumnya.

Jika dibandingkan dan dikaji lebih dalam, sebenarnya gerakan Teman Ahok bukanlah sesuatu yang baru di ilmu politik khususnya jika kita menghubungkannya dengan Politik Amerika Serikat (AS).

Apakah sebuah kebetulan atau tidak, gerakan yang tercatat Minggu (19/6/2016) telah berhasil mengumpulkan 1 juta KTP ini memiliki kemiripan dengan Political Action Committee (PAC).

Apakah PAC itu?

Di dunia perpolitikan negeri Paman Sam, PAC yang memiliki sejarah panjang ini secara sederhana didefinisikan sebagai sebuah komite politik yang bebas dibentuk siapapun, mulai dari pebisnis, serikat buruh, perusahaan lobi atau kandidat yang akan bertarung. Kalau di Indonesia, dapat dikategorikan sebagai tim sukses kampanye.

Tujuan pembentukan PAC umumnya ada dua yaitu memenangkan kandidat yang didukung dan mendukung isu-isu politik tertentu. PAC dapat menggalang dana dari pihak manapun dan kemudian memberikannya kepada kandidat yang didukung.

Selain PAC, ada juga komite politik lain yang paling menonjol dan mendominasi pemilu presiden AS tahun ini yaitu Super PAC. Ada dua hal krusial yang membedakan PAC dan Super PAC .

Pertama adalah jumlah dana yang dapat digalang dan dialirkan. PAC dibatasi hanya bisa menggalang dan memberikan kepada kandidat masing-masing maksimum 5000 dolar Amerika Serikat.

Di tengah semakin mahalnya ongkos politik, Super PAC menjadi senjata ampuh capres AS yang bertanding. Alasannya karena tidak ada batasan jumlah dana yang dapat digalang dan kemudian diberikan.

Di pilpres 2016, salah satu Super PAC Capres Demokrat Hillary Clinton yang bernama “Priorities USA Action” kebanjiran dukungan fulus dari pengusaha maupun tokoh-tokoh ternama di negeri adidaya itu.

Perbedaan kedua adalah perihal independensi dengan kandidat yang didukung. PAC dapat memberi langsung ke rekening kandidat dan berkoordinasi langsung dengan tim kampanye untuk membahas strategi politik.

Sebaliknya, Super PAC bersifat independen dan dilarang memberikan kontribusi langsung dalam bentuk apapun ke kandidat. Super PAC dapat menyatakan dukungan secara terbuka ke kandidat yang didukung.

Fulus yang terkumpul dipakai biasanya untuk memasang iklan politik di televisi, radio, dan surat kabar guna mempromosikan kandidat dan menyerang lawan politik.

Abu-abu

Namun independensi ini semakin lama semakin abu-abu. Kolom editorial New York Times yang dirilis beberapa waktu lalu menuliskan bahwa Super PAC perlahan mulai mengambilalih fungsi kampanye seperti pengangkatan tim sukses, pemasangan iklan politik, penyelenggaraan kampanye akbar, dll. Sebelumnya, fungsi ini dijalankan oleh tim kampanye bentukan kandidat.

Jadi apakah Teman Ahok dikategorikan sebagai PAC atau Super PAC?

Secara harafiah gerakan relawan ini tidak termasuk kategori manapun karena PAC maupun Super PAC tidak mengumpulkan KTP atau di AS disebut signatures untuk meloloskan kandidat yang didukung.

Satu hal juga, Teman Ahok tidaklah melakukan penggalangan dana dalam rangka mendukung kampanye Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Seperti yang mereka nyatakan, gerakan relawan ini hanya menggalang dana dalam bentuk penjualan merchandise, tidak lebih untuk mendukung biaya operasional mereka.

Namun jika kita melakukan komparasi, satu hal yang tidak terbantahkan adalah Teman Ahok secara terbuka menyatakan dukungan ke kandidat tertentu seperti fungsi kampanye politik yang dilakukan oleh PAC maupun Super PAC.

Teman Ahok secara aktif mempromosikan Basuki baik secara lapangan maupun siber melalui social media mereka yang sangat aktif.

Tidak ketinggalan, poin krusial lain yang mirip adalah masalah independensi Teman Ahok yang masih menjadi isu kontroversial walau kedua belah pihak telah menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada “koordinasi” antara Graha Pejaten dan Balaikota.

Layaknya seperti Super PAC, terlihat ada warna abu-abu mengenai hubungan antara gerakan relawan dan Gubernur DKI sendiri.

Sebenarnya keabu-abuan ini disebabkan karena fenomena ini adalah sesuatu yang baru di tanah air. Di Amerika, PAC dan Super PAC yang sudah beraktivitas sebelum tahap kampanye resmi, memiliki regulasi yang jelas.

Selain itu, electoral campaign finance atau peraturan penggalangan dana kampanye juga terbukukan dengan baik prosedurnya.

Sementara itu, di Indonesia belum ada regulasi yang mengatur bagaimanakah tahapan pra-kampanye sebelum pendaftaran calon mengenai apa yang boleh dan tidak boleh terutama dalam hal penggalangan dana.

Jadi jika ditanya kembali, apakah Teman Ahok adalah PAC, Super PAC atau tim sukses kampanye Ahok?  Jawabannya adalah abu-abu.

Kegiatan yang dilakukan sangatlah menyerupai tim sukses, namun karena belum adanya peraturan yang jelas, maka bisa dikatakan Teman Ahok adalah PAC maupun Super PAC yang masih malu-malu dan berhati-hati menjalankan aktivitasnya.

Layak disambut

Jika dipikirkan lebih dalam, kemunculan PAC atau Super PAC ala Indonesia ini sebenarnya layak disambut. Adanya sebuah gerakan relawan yang bersifat politik adalah fenomena sehat di demokrasi Indonesia yang masih muda ini.

Gerakan ataupun komite politik ini bisa menjadi alternatif ruang bagi rakyat untuk ikut berpartisipasi politik. Alangkah baiknya gerakan pra-kampanye seperti ini dapat diatur dalam sebuah regulasi resmi terutama perihal penggalangan dana.

Di tengah semakin meningkatnya ongkos politik tanah air, sumbangan yang diberikan masyarakat dalam bentuk pembelian merchandise merupakan bentuk partisipasi politik yang sangatlah positif.

Apakah kelak ingin meniru PAC yang dapat mengalirkan langsung dana ke kandidat atau Super PAC yang bersifat independen, biarlah pihak berwenang yang menentukan.

Poin terakhir yang juga tidak kalah krusial adalah hubungan Teman Ahok dan partai politik yang sedang menjadi isu panas.

Di Amerika , kemunculan PAC dan Super PAC tidak memicu terjadinya perdebatan mengenai deparpolisasi. Yang ada, partai dan komite politik ini saling bahu-membahu untuk mengejar target kemenangan yang diincar. Umumnya PAC maupun Super PAC akan berkonsentrasi dalam memperkenalkan kandidat ke masyarakat dan pemasangan iklan politik untuk “menghajar” lawan politik yang dihadapi.

Partai Demokrat maupun Partai Republik sendiri memiliki keterbatasan dalam hal perekrutan tenaga kampanye dan jumlah dana yang dapat diterima. Kehadiran komite politik ini sangatlah membantu partai untuk menjalankan kampanye politik yang memerlukan energi dan biaya yang besar.

Dalam rilis Minggu sore, (19/6/2016), Teman Ahok dalam salah satu poinnya menyatakan “ siap bekerjasama dengan seluruh pihak dengan satu syarat, yaitu memiliki tujuan yang sama. Dengan relawan-relawan lain, dengan partai-partai politik, selama semuanya mendukung Ahok tanpa syarat dan hutang politik.

"Teman Ahok bukan relawan anti partai politik. Gerakan seperti Teman Ahok justru untuk memperlihatkan aspirasi warga kepada parpol, dan kami bersyukur hari ini sudah ada beberapa Parpol yang menjawab aspirasi tersebut,” tulis rilis tersebut.

Apakah Super PAC ala Indonesia bernama Teman Ahok ini akan lebih jelas fungsinya dan membentuk “grand coalition” dengan partai politik seperti di AS? Waktulah yang akan menjawabnya.

Sebagai penutup, penulis ingin mengakhiri dengan menyentil sedikit bahwa partai politik memang dipenuhi segudang cerita negatif. Namun jika kita hanya melihat sisi negatif partai maka tidak akan pernah ada founding fathers.

Bangsa ini bahkan mungkin tidak akan pernah dilahirkan sebagai Indonesia jika pada 4 Juli 1927 Bung Karno tidak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yg menempuh perjuangan politik merebut kemerdekaan.