Minggu, 26 Juni 2016

S A E N I

S A E N I

Sarlito Wirawan Sarwono ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
                                                   KORAN SINDO, 19 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Saeni adalah seorang pedagang nasi yang sudah bertahun-tahun membuka warung di Kota Serang dan selama itu dia selalu tetap berjualan dalam bulan-bulan puasa, walaupun ia selalu menutup pintu dan tirai-tirai jendela warung agar tidak terlihat dari luar.

Tetapi nahas, buat Saeni di bulan Ramadan 1437H/2016 ini, tiba-tiba warung nasinya kena sweeping Satpol PP. Bukan hanya warungnya ditutup paksa, tetapi juga seluruh dagangannya dirampas. Entah mau dikemanakan makanan hasil rampasan itu. Dibuang haram (mubazir), dimakan juga haram (puasa), dibungkus buat berbuka puasa juga haram (hasil rampasan). Yang jelas, Saeni hanya bisa menangisi nasibnya. Sementara di airport Soekarno-Hatta, yang masih dalam Provinsi Banten juga, restoran, kafe, dan franchise tetap buka tanpa ada yang mengganggu. Untungnya, kasus Saeni masuk TV.

Begitu masuk TV, banyak yang nonton. Beberapa netizen tergerak untuk mengorganisir pengumpulan dana dari para netizen lainnya dan berita tentang Saeni pun tersebar secara viral yang akhirnya menghasilkan uang sumbangan sejumlah Rp256.000.000. Jumlah yang sangat banyak, sekalipun buat ukuran seorang Profesor Sarlito. Tapi itu belum semuanya, Presiden Jokowi pun menyumbang Rp10.000.000. Wow ! Bukan main.

Bukan hanya karena jumlah uangnya, tetapi karena perhatian seorang presiden terhadap seorang rakyat jelita (karena Saeni perempuan mestinya dipanggil ”jelita”, bukan ”jelata”), menunjukkan betapa bangsa ini mulai peduli terhadap kezaliman dan ketidakadilan, walaupun atas nama agama. Setelah nama Presiden disebut- sebut di TV (walaupun Jokowi sendiri tidak pernah muncul memberi sumbangan), barulah Wali Kota Serang H. Tubagus Haerul Jaman, B.Sc., S.E. tampil di TV, minta maaf dan menyatakan anak buahnya (Satpol PP) salah prosedur, dan oknum yang bersalah akan ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Bosan! Jawaban standar kuno yang diulang-ulang terus. Satpol PP adalah aparat pemerintah daerah, bukan preman berjubah. Jadi, mereka hanya melaksanakan perintah. Siapa yang memberi perintah itulah yang harus diberi pelajaran.

Memang benar. Tuhan itu intoleran. Dia tidak mau ada orang yang menduakan dirinya. Karena itu, dua kalimat pertama dari 10 perintah Tuhan yang dibawa Nabi Musa AS berbunyi ”Saya adalah Tuhanmu” dan ”Kalian tidak boleh menuhankan yang lain selain diri saya”. Dalam Islam, kalimat pertama dari kalimat syahadat adalah ”Saya bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah”.

Semua orang yang beriman percaya bahwa Tuhan itu tunggal dan tidak ada duanya, itu harga mati. Tetapi manusia sering lupa bahwa walaupun Tuhan hanya satu, cara orang menyembahnya berbeda-beda. Almarhum petinju Mohamad Ali pernah menyatakansepertiini,” Kitasemuapunya Tuhan yang sama. Sungai, danau, kolam, jeram, dan laut, semua punya nama berbedabeda, tetapi semua berisi air. Begitu juga agama, punya nama yang berbeda-beda, tetapi semua berisi tentang kebenaran, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk dan waktu.

Tidak masalah apakah Anda seorang muslim, Kristen atau Yahudi, kalau Anda percaya pada Tuhan, Anda harus percaya bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga. Kalau Anda cinta Tuhan, tidak bisa Anda hanya mencintai sebagian saja dari umat-Nya”. Nah, kita (manusia) inilah yang tidak bisa memisahkan mana yang agama dan mana yang Tuhan. Ustad Prof Dr Quraisy Sihab, dalam salah satu tausiah sahurnya di TV (yang selalu saya ikuti setiap malam), menganalogikan Allah sebagai tujuan kita, sedangkan agama adalah sebagai penunjuk jalan ke tujuan akhir itu.

Seandainya kita sedang dalam perjalanan, misalnya dari Bogor mau ke Jakarta, maka Jakarta adalah tujuan kita, sedangkan rambu-rambu di sepanjang jalan adalah penunjuk jalan agar kita tidak tersesat. Tetapi untuk ke Jakarta, sekarang kita bisa memilih jalan lewat Cibinong atau lewat Parung atau melalui Jagorawi.

Pilihan-pilihan itu ada ciri khasnya masing-masing. Kalau kita lewat Parung misalnya, kita tidak bisa melampai kecepatan maksimum 60km per jam, karena jalannya yang macet, tetapi kalau di Jagorawi kita mengendara dengan kecepatan 60 km, kita bisa dimarahi pengendara yang lain. Tetapi jalur mana pun yang dipilih, tujuannya tetap Jakarta, bukan mau ngetem atau menginap di jalan.

Sayangnya sekarang orang tidak bisa membedakan mana yang agama (petunjuk jalan dan mana yang Tuhan (tujuan). Ketika agama menyuruh berpuasa, semua orang juga harus puasa, tidak ada yang boleh tidak puasa, walaupun sedang sakit, haid, musafir, maupun sudah uzur atau masih balita. Karena itulah warung Mpok Saeni harus tutup, demi agama. Atau, di kampung kami tidak boleh ada rumah warga (walaupun rumah sendiri) digunakan untuk upacara kebaktian agama lain, tetapi kalau untuk tahlilan agama sendiri boleh.

Pelajar putri sekolah negeri tiap hari Jumat harus memakai rok panjang (termasuk yang nonmuslim). Dan seterusnya masih banyak lagi. Semua ini memang menjalankan apa yang disebutkan oleh agama, tetapi, ingat, agama itu bukan Tuhan. Tujuan kita beragama adalah Tuhan, Allah itu sendiri.

Maka kalau kita berhenti pada agama saja, atau berhenti pada petunjuk jalan saja, kita belum sampai tujuan. Dan kalau kita merasa bahwa agama itu sama dengan Tuhan, kita sudah memberhalakan agama, tidak lagi mengesakan Tuhan. Audhubillahimindzalik.