Rabu, 29 Juni 2016

Ketika Fantasi Berjaya: Brexit

Ketika Fantasi Berjaya: Brexit

Firman Noor ;   Peneliti LIPI; Dosen Ilmu Politik FISIP UI;
Saat Ini Bermukim di London, United Kingdom
                                                   KORAN SINDO, 27 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Hasil referendum menunjukkan keinginan mayoritas masyarakat Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (EU). Inilah hasil akhir setelah berminggu-minggu dua belah pihak, baik yang ingin tetap (remain) maupun meninggalkan (leave) EU, menyampaikan argumennya dalam kampanye yang kerap bersifat emosional.

Kemenangan tipis (51,9% versus 48,1%) dalam salah satu momen paling bersejarah di Inggris, tampak memperlihatkan bahwa tema-tema kampanye pihak leave cukup dapat diterima oleh masyarakat Inggris, terutama mereka yang berkarakter kelas menengah ke bawah. Sementara kampanye pihak remain tidak cukup meyakinkan meski ditopang oleh pendapat ahli dan politisi berkaliber nasional maupun internasional. Pihak remain dinilai cukup kedodoran dalam menanggapi argumen dan opsi-opsi praktis dan populis dari kubu leave.

Beberapa Fantasi

Dengan beberapa slogan seperti ”control ”, ”preserving democracy”, atau bahkan menyamakan hari kemenangan pilihan untuk leave setara dengan ”independence day”, pihak leave memberikan sebuah harapan baru dan alternatif kemungkinan yang tampak lebih cerah dan baik ketimbang terus menerus menjadi ”budak Brussel”, demikian kerap mereka menyebut nasib Inggris manakala tetap bergabung dalam EU.

Dalam hari-hari kampanye slogan yang menyelubungi fantasi itu cukup berhasil menghipnosis massa dan menarik pengikut. Dengan retorika yang kerap terasa membakar patriotisme, EU mampu dicitrakan sebagai institusi korup yang berisikan politisi asing yang tidak peduli dengan nasib rakyat Inggris kebanyakan. Para juru kampanye leave tidak segan membenturkan EU dengan demokrasi.

Bahwa EU adalah institusi asing elitis yang sesungguhnya membuat aturan bagi seluruh rakyat Inggris. Figur-figur artikulatif dari pihak leave, sebut saja Boris Johnson, Gisela Stuart, hingga sosok kontroversial Nigel Farage, mampu menyudutkan EU sebagai biang dari berbagai persoalan yang ada di masyarakat Inggris. Hingga semakin terkesankan bahwa wacana leave terlihat bukan pepesan kosong.

Selain masalah kemandirian, beberapa fantasi lain yang disampaikan pihak leave di antaranya yang terpenting adalah pemanfaatan dana sebesar 340 juta pounds per minggu yang diberikan pemerintah ke EU sebagai konsekuensi keanggotaan. Para propaganda leave terus berupaya meyakinkan bahwa dana sebesar itu milik rakyat dan dapat diambil alih untuk dimanfaatkan secara langsung oleh rakyat Inggris, termasuk untuk memperbaiki kualitas layanan National Health Service (NHS) dan sarana pendidikan.

Ide ini cukup mengena bagi kebanyakan masyarakat, yang langsung membayangkan demikian ”ruginya” menjadi bagian EU. Pihak leave juga cukup berhasil menyebarluaskan ide bahwa terobosan kerja sama ekonomi dengan berbagai pihak dibelahan dunia lain, termasuk China, Brasil, dan negara-negara potensial lain, dapat lebih terbuka dengan keluar dari pasar tunggal EU.

EU difantasikan sebagai penyebab dari terputusnya hubungan ekonomi yang produktif Inggris dengan berbagai negara potensial itu. Tidak itu saja, pasar tunggal EU, yang beranggotakan 28 negara, difantasikan sebagai sudah tidak menantang dan menguntungkan lagi. Karena itu, kini saatnya membuka diri kepada dunia dan meraih lebih banyak benefit darinya. Pihak leave akhirnya menyinggung pula persoalan bahwa EU telah gagal total dalam membuat Inggris lebih aman.

Difantasikan bahwa negara-negara EU, termasuk Prancis dan Belgia, adalah sarang dari kelompok-kelompok teroris yang akan mengancam Inggris. Juga persoalan imigran yang semakin membanjiri Inggris, yang dirasa makin membebankan negara. Fantasi bahwa imigran adalah pembawa masalah baru bagi Inggris, termasuk masalah sosial dan keamanan cukup diterima oleh para pendukungnya.

Fantasi yang Problematik

Fantasi? Ya, karena pada dasarnya pihak leave tidak pernah mendasarkan tema dan ide yang ditawarkan itu pada data-data yang konkret. Beberapa bahkan berdasarkan data yang kurang akurat atau disembunyikan. Memang sesungguhnya dua belah pihak, baik remain atau leave, tidak benar-benar memiliki data konkret tentang apa yang akan terjadi berikutnya.

Kebanyakan yang disampaikan selama kampanye adalah asumsi-asumsi yang kerap berlebihan, namun juga bersifat menakut-nakuti (scaremongering). Namun, setidaknya untuk pihak remain, dengan dukungan banyak ahli dalam bidang ekonomi, termasuk badan-badan internasional seperti IMF dan Bank Dunia, lebih punya sedikit kepastian bahwa ekonomi Inggris akan mengalami kemunduran jika meninggalkan EU.

Kemunduran ekonomi ini tentu saja akan berdampak pada kemampuan pemerintah menjaga kualitas layanan publik, termasuk NHS. Hal ini mudah saja dipahami karena dengan tidak bergabungnya lagi dalam pasar tunggal, berbagai macam hak dan fasilitas dicabut. Akibat itu, barangbarang akan menjadi jauh lebih mahal dan pemutusan hubungan kerja dengan perusahaanperusahaan yang berbasis di negara-negara EU akan meningkat.

Selain itu, efek lanjutnya adalah nilai tukar dolar kepada pounds akan segera menguat. Kenyataannya kemenangan leave langsung memicu lemahnya untuk pertama kali hampir tiga dekade terakhir. Berbagai hal ini saja akan dapat memicu resesi ekonomi yang serius bagi Inggris. Selain itu, beberapa kemudahan seperti akses mobilitas untuk tinggal di salah satu negara EU, hingga kemudahan mencari pekerjaan, juga akan hilang.

Urusan administrasi terkait imigrasi akan menjadi lebih berbelit. Liburan akan menjadi semakin mahal. Harga-harga barang jatuhnya menjadi harga barang impor. Proyek-proyek penelitian berskala besar di dunia pendidikan dan riset yang didanai EU juga akan dievaluasi lagi. Bukan tidak mungkin, beberapa penelitian penting berskala masa depan akan tidak lagi melibatkan para akademisi dan peneliti Inggris.

Beberapa kemudahan itulah sebenarnya harga dari keanggotaan yang berjumlah hingga ratusan miliar per minggu itu. Apakah Inggris juga akan lebih aman di luar EU? Hal yang pasti akses intelijen dan informasi seputar pengendalian keamanan yang selama ini disebarluaskan di antara anggota EU akan tidak lagi dimiliki oleh Inggris.

Dan, mengingat bahwa kasus-kasus teroris banyak melibatkan warga negara sendiri (dalam negeri), potensi ancaman keamanan tidak dapat dianggap berkurang dengan keluarnya dari EU. Namun, seolah meremehkan berbagaihalyangbersifat kemunduran tersebut, mayoritas masyarakat Inggris memang bersedia mempertaruhkan nasibnya kepada fantasi, sebagaimana yang ditawarkan oleh kubu leave.

Meski demikian, referendum yang membelah masyarakat dan pemerintah ini juga memberikan pelajaran bahwa hampir separuh masyarakat Inggris sesungguhnya tidak percaya pada fantasi yang digembar-gemborkan pihak leave. Hal mana terlihat dari perbedaan jumlah pro dan kontra yang hanya sekitar 1,3 juta dari 46,5 juta warga yang berhak memilih. Namun, kedua, memang EU selama ini diterima setengah hati oleh mayoritas masyarakat Inggris.

Hubungan benci, tapi rindu ini berujung pada kesimpulan bahwa EU dirasakan kurang bermanfaat lagi bagi Inggris dan pemerintah gagal membuktikan bahwa keterlibatan Inggris di dalam EU tidak sekadar menjadi partisipan yang berperan pinggiran tanpa daya. Selamat merayakan ”Hari Kemerdekaan” bagi (setengah) rakyat Inggris.