Minggu, 26 Juni 2016

Interkoneksitas Ilmu Pengetahuan

Interkoneksitas Ilmu Pengetahuan

Komaruddin Hidayat ;   Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
                                                   KORAN SINDO, 17 Juni 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Yang namanya universitas itu merupakan sarana dan upaya sistematis untuk mendekati dan memahami universum bagi komunitas intelektual kampus.  Orang yang tamat jenjang tertinggi setelah studi di universitas, diharapkan mengenal realitas hidup yang universal dan diharapkan mampu menyumbangkan pemikiran untuk memecahkan problem sosial yang muncul. Makanya titelnya PhD, Philosphy of Doctor. Ini tidak mesti berarti doktor filsafat, namun diharapkan mampu melihat dan berpikir filosofis universal terhadap realitas hidup dan kehidupan.

Untuk memasuki pintu universum itu maka dibukalah berbagai pintu fakultas, lalu dalam fakultas dirinci lagi menjadi program studi atau departemen. Masalahnya, fakultas itu sering kali berubah peran, dari pintu gerbang menjadi kamar tertutup yang memenjarakan mahasiswanya sehingga terkurung tidak mampu melihat dan mengapresiasi ilmu yang berkembang di fakultas lain.

Padahal ilmu itu bekerja saling berhubungan dan memerlukan yang lain, sebagaimana realitas hidup yang kompleks dan saling terkait. Ini juga tecermin dalam realitas semesta yang elemenelemennya saling terhubung. Ketertutupan fakultas dan program studi itu semakin rapat ketika muncul revolusi industri yang memesan pada universitas untuk menyediakan dan memasok tenaga kerja dengan skill yang spesifik guna memenuhi tuntutan kerja di pabrik. Maka muncul istilah link and macth.

Belajar ilmu itu mesti yang memiliki keterkaitan langsung dengan peluang pekerjaan yang disediakan oleh dunia industri. Yang namanya sarjana, lalu berperan bagaikan sekrup bagi mesin industri yang sekarang perannya mulai digantikan robot. Salahkah konsep di atas? Tentu saja tidak salah.

Dalam masyarakat industri memang sangat dirasakan adanya kebutuhan tenaga kerja yang memiliki keahlian spesifik. Turunan dari konsep ini maka tataran di bawahnya muncul SMK, sekolah menengah kejuruan. Tidak mengherankan makanya di Barat beredar candaan, jika ingin jadi orang kaya jangan mengambil program doktor. Doktor itu tidak cocok untuk bekerja mengejar kekayaan. Cukup MBA untuk memasuki sebuah usaha yang menjanjikan secara ekonomi.

Doktor itu pada awalnya memang dimaksudkan sebagai komunitas ilmuwan yang mencintai riset, memberikan kritik dan pencerahan pada komunitas praktisi dan politisi. Makanya titelnya PhD. Mereka mengembangkan tradisi berpikir filosofis agar mendapatkan wisdom dan memberikan rambu-rambu atau tanda zaman pada masyarakat.

Doktor itu diharapkan mampu membaca dan mengembangkan interkoneksitas keilmuan yang tumbuh dalam berbagai fakultas. Interkoneksitas ilmu itu analog dengan jejaring sosial, jejaring alam, bahwa variabel yang satu memengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal ini juga mirip dengan kerja otak. Tak ada yang linier tapi susunan saraf otak itu sangat lembut dan jumlahnya miliaran saling berkaitan.

Yang juga menarik, interkoneksitas ilmu, saraf otak dan realitas sosial sangat mirip dengan metode Alquran. Berbeda dari logika buku ilmiah yang linier, ayat-ayat Alquran itu bagaikan lingkaran. Ayat yang satu menjelaskan yang lain. Makanya mempelajari Alquran memerlukan metode tersendiri. Kadang terkesan diulang-ulang, padahal konteksnya berbeda. Ini yang membuat Alquran tak pernah habis dipelajari.

Memasuki era informasi ini, semakin terasa kita dituntut untuk bisa menghubungkan ilmu yang satu dengan yang lain. Kalau tidak maka akan kebingungan dibanjiri informasi yang kadang sampah dan tidak logis. Dengan mengetahui prinsip-prinsip dasar disiplin ilmu, kita akan terkondisikan berpikir interdisipliner sehingga bisa memahami universum relatif utuh.

Bukan terkurung oleh sekat fakultas. Semua ilmu itu mestinya bisa dipahami oleh orang lain atau lintas fakultas terutama menyangkut kontribusinya terhadap masalah kemanusiaan dan kenegaraan.